
Cal...
Aku kembali bermimpi, kali ini bukan di ruangan dansa, melainkan di suatu tempat familiar. Istana Bougenville.
"Alena!" Pangeran tampan itu tersenyum saat melihatku. Ia segera menghampiriku dan mengecup bibirku untuk sesaat.
Aku bisa merasakan diriku yang sedang tertawa bahagia.
"Kemana saja kau?" Gumamnya sambil menguburkan kepalanya pada kumpulan rambutku. Aku tersenyum geli melihat tingkah lakunya.
"Aku tak kemana-mana. Aku terus berada disini, menunggumu sepanjang hari," jawabku sambil tersenyum manis.
Callum terdiam, dan tiba-tiba saja sudah memelukku sangat erat.
"Aku tidak tahu kenapa aku begitu merindukanmu..." Katanya lagi. "Setiap kali aku bangun pagi-pagi, kau selalu menghilang."
"Aku adalah Ratu Fae, Cal," kataku sambil tertawa. "Aku tak boleh bermalas-malasan."
"Ya ya," katanya tidak peduli.
"Humpf!" Lengannya sudah melingkar pada pinggangku. Kutataplah wajahnya lekat-lekat. Wajah yang kini bisa kulihat setiap hari.
"Rasanya seperti mimpi. Aku menjadi Raja Fae, dan kau adalah Ratuku," ucapnya sambil mengelus jemarinya pada pipiku.
"Kita akan hidup bahagia selamanya Cal." Aku kembali memeluknya dengan erat. Memeluk pria yang sangat kucintai. Pangeran yang kini telah dinobatkan menjadi Raja Fae.
Namun aku tidak melihatnya sebagai Fae yang paling berkuasa. Aku masih melihatnya sebagai Callum, pangeran muda yang pantas mendapat banyak cinta dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Pangeran yang kini telah menjadi milikku sepenuhnya.
***
Aku terkesiap dan kembali dibutakan oleh cahaya kuning milik seorang Fae Light. Tak lama cahaya itu menghilang saat pintu didobrak dari luar.
"Kau sudah bangun rupanya," kata Sang Ratu yang masih berwujud sebagai seorang manusia.
Tunggu dulu. Rasanya aku pernah mengalami kejadian ini. Tapi kapan?
Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba saja makhluk Egleans itu sudah muncul di hadapanku.
Saking kencangnya aku berteriak, tenggorokanku jadi serak dan akhirnya tidak ada lagi suara yang keluar.
Terdengar suara koyakan. Namun Egleans itu tidak sedang memakan sayap Fae, melainkan tubuhku yang sudah tidak berbentuk.
***
Apa aku berhak berbahagia? Apa aku berhak menjadi seorang Fae God?
Tidak. Setelah kupikir-pikir, tidak ada alasan bagiku untuk mendapatkannya. Aku tidak seharusnya hidup. Aku adalah mayat yang dibangkitkan, kemudian hidup dengan kekuatan dahsyat berkat ramuan Sang Ratu dan penguat Gardian.
Tanpa itu semua, aku bukan apa-apa. Bahkan aku tidak pantas menjadi Alena Sherman. Gadis yang semula tangguh, percaya diri dan pemberani itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah aku, mayat hidup yang tak berbentuk.
"Serang dia lagi." Itulah kalimat yang kudengar setiap kali aku terbangun dari kematianku. Aku tidak tahu sudah berapa kali Sang Ratu membangkitkanku. Yang kutahu adalah aku sangat menantikan hal itu, hal saat aku kembali memasuki alam mimpi.
Cal. Aku menitikkan air mata. Aku hanya bisa melihatmu lewat mimpiku yang tidak nyata. Apakah itu tidak apa-apa? Apa aku boleh berharap sekali saja, bahwa aku akan bertemu kembali denganmu?
Suara koyakan Egleans menjadi musikku, dan suara lembut Sang Ratu menjadi penenang tidurku. Dan kebahagiaanku saat ini hanyalah mimpiku yang selalu dipenuhi olehmu.
Kenapa Sang Ratu terus menerus menyiksaku seperti ini? Kenapa ia tidak membunuhku saja langsung? Kenapa aku harus selalu dibangkitkan?
Tolong. Kumohon. Hentikan ini semua.
Aku kembali meneteskan air mata. Kini, aku benar-benar telah mengetahui segalanya. Aku sudah memahami betul ramuan ajaib itu, dan mengetahui rahasia masa lalu Sang Ratu.
Immortal. Itu adalah kata yang cocok untuk mendeskripsikan diriku dan juga Sang Ratu. Kami tidak akan mati karena usia. Usia kami bahkan bisa lebih panjang dibanding Fae.
Aku tak ingin hidup seperti ini... Tubuhku kembali disiksa oleh Egleans. Bau amis darah serta keringatku bercampur jadi satu.
Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja? Aku hendak mengeluarkan suara dan bertanya kepada Sang Ratu, namun aku tak cukup kuat.
Sembari tidur terlentang, kepalaku tergeser ke samping. Air mata sampai membasahi tanah, dan aku tak lagi merasakan denyut nadi jantungku.
"Berhenti." Sang Ratu menjentikkan jarinya lagi, dan Egleans itu langsung berhenti memakan kakiku. "Kurasa sudah cukup main-mainnya."
Apa? Bermain-main? Hal apa lagi yang harus kutanggung setelah ini?
Sang Ratu berjongkok di dekatku. "Alena, tentu kau bertanya-tanya kenapa aku terus membangkitkanmu. Aku masih perlu suatu hal darimu."
"Hhh," lirihku dengan lemah sebagai balasannya.
Ia bangkit berdiri, dan tiba-tiba mengayunkan tangannya. Sontak Egleans itu langsung menurut dan mulai merobek sayapku.
Haha. Aku bahkan tak mampu lagi untuk berteriak. Mungkin aku mulai kebal dengan rasa sakit ini.
Egleans itu tiba-tiba berhenti menarik-narik sayapku.
"Katakanlah kepadaku, dimana belati dan kalung itu." Ia mengangkat daguku dengan kasar. "Atau aku akan kembali menyiksamu."
"Tidak tahu," jawabku dengan nada datar. Kemudian...
Sreeekk!! Aku kembali berteriak, sampai mengais tanah dengan tanganku sendiri.
"Jangan keras kepala, Alena," lanjutnya lagi sambil menggeleng-geleng. "Kau tahu aku bisa membunuhmu kapan saja. Aku bahkan sudah memberimu kesempatan untuk hidup."
Enak saja. Aku tak akan mengatakannya, karena aku tak mungkin memberinya benda penguat itu begitu saja. Aku juga tidak tahu dimana benda itu berada sekarang.
"Hem hem...baiklah." Saat melihatku yang hampir pingsan dan tidak dapat bergerak lagi, ia menyuruh hewan piaraannya untuk berhenti.
"Cari Sang Pangeran. Dan bawa dia kepadaku," perintahnya sebelum Egleans itu menghilang.