
Mata Migo menatap tajam mata Kenan yang kembali menatapnya datar di kursi kerjanya sambil bersilang angkuh. Decakan kesal keluar dari mulut Migo melihat sikap saudaranya yang menyembunyikan fakta yang sangat mengejutkan baginya.
"Kenapa Lo diem aja sih Ken dari dulu. Jadi maksud Lo dulu gue bakal tahu ini maksudnya?"
Map dengan semua informasi yang Migo kumpulkan akhir akhir ini di lempar kesal ke meja milik kenan
Kenan masih dengan wajah datarnya, bahkan matanya sama sekali tidak minat melirik map yang Migo lempar di depan matanya.
"Kau sudah dewasa Migo. Buktinya sekarang kau bisa mencari tahunya bukan, tanpa campur tangan saya?"
Migo menghela nafasnya sabar, sungguh ingin sekali tangannya melayangkan bogeman mentah ke wajah saudaranya yang berbicara begitu santainya tanpa beban.
"Ayolah Ken, kan jika Lo dari dulu bilang gue gak akan nyakitin hatinya Kirana," kata Migo memelas, sangat terlihat wajah penuh sesalnya.
"Bodoh!"
Kenan bangkit dari kursinya setelah mengucapkan satu kata yang membuat Migo tercengang di tempat. Perkataan yang keluar dari mulut nuklir saudaranya langsung membuat kena mental.
"Kau bisa kan memberitahu Kirana tentang misi secuil mu itu kepadanya tanpa harus putus begitu saja. Kau bisa bekerja sama dengannya untuk menyakinkan wanita jala** itu," ucapan yang Kenan lontarkan membuat Migo diam seribu bahasa. "Sekarang buktinya, gara-gara sikap bodoh mu wanita mu sendiri kan,.yang jadi korban kebodohan mu itu."
Migo diam, perkataan Kenan benar adanya. Kenapa dirinya tidak ada pikiran ke arah sana, tangannya terkepal erat mengingat wajah penuh kekecewaan sang pujaan hati di waktu dirinya memutuskan hubungan begitu saja.
Kenan menghela nafasnya pelan, melihat wajah penat Migo penuh penyesalan, ia sebenarnya terus mengawasi pergerakan Migo mencari informasi tentang wanita ja**ng pilihan tantenya.
Hanya saja Kenan ingin Migo berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa ikut campur tangannya. Bukan apa, Kenan hanya ingin Migo belajar lebih dewasa dalam menyikapi suatu permasalahan, walaupun dalam pengawasannya.
"Sudah lah, sekarang bukan saat nya menyesal. Tinggal satu langkah lagi kau menjalankan misi mu, kau mau membongkarnya besok malam bukan?"
Pertanyaan Kenan menjadi tanda tanya Migo, bagaimana Kenan tahu rencananya, apa jangan-jangan...
Kenan terkekeh pelan menebak isi pikiran Migo yang menatapnya penuh selidik. "Ya kau benar. Saya mengawasi pergerakan mu dalam mencari bukti-bukti secuil mu itu."
Migo berdecak kesal, sangat menyebalkan. Jika saudara temboknya mengawasinya tidak berfaedah akhir-akhir ini, kan bisa langsung memberi tahunya dari dulu.
Kenan lagi dan lagi kembali terkekeh penuh kepuasan melihat wajah nelangsa Migo. "Saya tunggu pertunjukan menakjubkan mu nanti. Semoga sukses."
Kenan menepuk pelan bahu Migo sebelum keluar begitu saja dari ruangan meninggalkan Migo sendiri di dalam sana.
Migo mengusap dadanya sabar. Sabar-sabar orang sabar istrinya dapat lima.
****
Lampu berkerlipan di setiap sudut sebuah outdoor gedung, lebih tepatnya di area bagian kolam renang. Sebuah pesta ulang tahun yang bisa dikatakan sangatlah megah, dekorasi nya pun tidak main-main.
Di sudut tempat dimana sudah ada kue ulang tahun yang begitu mewah, Migo menatap malas teman-teman mamanya yang terus datang dan cepika-cepiki layaknya wanita. Bahkan tak jarang, teman-teman mamanya menawarkan anak gadis mereka kepada Migo, kalau mamahnya tidak memelototinya Migo ingin pergi dari sana.
Apa semua wanita kalau bertemu harus rempong si? Hah sangat menyebalkan.
Dua pasangan yang baru saja datang membuat semua atensi para tamu undangan teralih ke pintu masuk. Semua bisik-bisik mulai terdengar, ada yang memuji ada juga yang nyinyir.
Kenan dengan aura bossy nya menggandeng tangan Kania mesra, dengan tubuh mungil Keinara yang anteng di tangan kekar kanan Kenan, menambah kesan hot Daddy yang CEO muda itu pancarkan.
Dari kedua pasangan itu pula, dari arah belakang yang tak kalah mencengangkan para tamu, seorang asisten perusahaan K'labcrop yang sangat kejam dengan sejuta tatapan intimidasi, bahkan banyak rumor yang mengatakan bahwa Leo gay kini tengah berjalan dengan seorang wanita cantik yang menambah kesan serasi keduanya.
Banyak yang bertanya-tanya dari tatapan para tamu keingin tahuan siapa wanita yang berada di pinggir Leo si asisten es salju yang anti akan wanita itu.
"Jangan dengarkan ucapan mereka, tenanglah sayang." bisik Leo lembut.
Kedua pasangan itu melangkah ke tempat Tante Friska berada, yang kini bukan hanya ada Friska dan Migo tapi sudah ada Belle yang berdiri apik di sebelah Migo dengan bergelayut di tangan pemuda itu.
"Selamat ulangan tahun Tante, maaf kita telat datang tadi Kei sedikit rewel." Kenan memberi senyum tipisnya sopan, saking tipisnya hanya dari dekat senyum itu bisa terlihat.
"Tak apa Ken, yang penting kamu datang di acara spesial Tante." Tante Friska mengalihkan tatapannya ke arah Kania, tatapnya yang tadinya ramah, kini berganti dengan tatapan sinis mengenal bahwa Kania teman wanita yang dirinya jauhkan dari sang putra.
Apaan sih tuh nenek lampir, kalau ini bukan acara pestanya, ingin ku hihh wajahnya pake balok kayu. Sumpah nyebelin banget.
Kenan yang menyadari Kania yang menahan geram, segera menggenggam lembut tangan Kania. Kenan buru-buru berpamitan untuk menikmati pesta ke Friska agar tidak terjadi hal-hal yang bisa mengacaukan rencana saudara tengilnya susun.
Kini yang tersisa hanya Leo yang berada di sana, Keysa tadi sempat ijin ke toilet karena kebelet pipis, sambil akan menunggu kedatang Kirana di pintu depan masuk ke aula kolam, takut Kirana nyasar.
Hari semakin malam, para tamu undangan semakin banyak. Acara demi acara telah bejalan, kini acara puncak yaitu pemotongan kue ulangtahun.
Tamu undangan bertepuk tangan saat Friska memotong kue ulangtahun di barengi oleh riuhnya tepuk tangan.
Friska tersenyum bahagia, kini suapan pertama akan ia berikan ke putra pertamanya, baru saja satu sendok kue akan masuk, keadaan di sana seketika hening saat tiba tiba lampu padam.
Namun para tamu teralih ke arah layar besar yang terang, di sana terlihat wanita yang terlihat jelas wajahnya, tengah bersetubuh dengan seorang priw paruh baya, walaupun keadaan badan keduanya telanjang tetapi di blur, tapi tidak menutup rasa syok semua para tamu.
Kini layar mati, namun teralih oleh suara percakapan kedua orang terdengar.
"Dasar ja***g si*l*n, mendekati anak dari cucu keluarga Bagaskara saja kau tidak bisa hah? Ku besarkan kau sampai sekarang ini untuk aku manfaatkan memeras kekayaan mereka!"
"Anak tidak berguna! Kalau bisa jual saja tubuh jala** mu itu ke anak dari si Friska itu. Dapat tugas gampang saja tidak becuss!!"
"Hiks, kenapa Papi menyuruh hanya kepadaku, kenapa tidak ke kak Cintya saja!"
Plak!
"Anak kurang ajar! Kakak mu, tak akan pernah aku permainkan. Kau yang seharusnya balas budi karena aku telah membesarkan mu selama ini. Kau hanya ku jadikan alat untuk membalas dendam ku pada si Friska, aku tidak sudi keluarga mereka bahagia setelah mencampakkan ku dulu!"
"Hikss, ta-tapi aku juga anak Papi."
"Diam! Cepat masuk ke kamar, dan pakailah baju seksi yang telah ku siapkan! Kau akan melayani nafsu ku, sebelum ku kirim kau ke Indonesia."
Lampu-lampu kembali menyala setelah layar monitor mati, kini Belle menunduk dalam menutupi rasa malunya, bahunya sudah bergetar menahan tangis melihat para tamu sekarang menatapnya jijik dan mencemoohnya secara terang-terangan.
Plak!
"Kurang ajar! Saya menyesal pernah ingin kau menjadi menantu ku! Ternyata kau anak dari Danu si pria gila itu. Enyah kau dari hadapan saya, jangan pernah kau berani-berani menunjukan wajah menjijikan kau di hadapan ku lagi! Pergi!!"
Wajah emosi dan kekecewaan kini terpancar dari wajah Friska, dia sudah salah langkah. Hampir saja putra pertamanya jatuh ke pelukan seorang ja**ng.
Belle yang sudah sangat malu pergi menerobos kerumunan dengan sorakan jijik para tamu. Dia sangat malu sekarang, entah mau di kemana kan wajahnya sekarang. Belle hanya terpaksa, terpaksa menuruti apa yang Papinya inginkan.
Kalau boleh milih, dia lebih baik menjadi orang biasa dengan keluarga harmonis, bukan menjadi orang yang bergelimang harta namun hanya anak yang di manfaatkan, bahkan tubuhnya sudah sangat kotor yang hanya menjadi puasan nafsu ayahnya sendiri.
Dan sekarang, apa yang dirinya pikirkan terjadi. Belle benci dirinya sendiri, benci semua yang ada pada tubuhnya.
Bersambung