
Hembusan nafas hangat di cengkuk leher dan lingkaran tangan kekar seseorang, membuat Kania sedikit kaget yang tengah telponnan bertukar kabar bersama kedua sahabatnya.
Bahkan dengan jahilnya, Kenan mendaratkan kecupan-kecupan basah di area jenjang lehernya, memberikan efek geli.
Kania mulai gusar, pergerakan kecupan Kenan yang semakin menjadi membuat Kania mulai tidak fokus berbincang dengan kedua sahabatnya.
"Udah dulu ya, gais. Good night kesayangannya gue, muahhh!"
Kania lebih baik mengakhiri sambungan telpon tersebut dari pada kedua sahabatnya mendengar suara laknat yang entah dirinya keceplosan.
"Ken, ih geli. Udah deh, jangan macam-macam nanti kebablasan."
Kania berhasil keluar dari rengkuhan tersebut, Kenan bahkan sudah mendengus kesal karena kegiatannya terganggu.
"Itu hukuman buat kamu. Aku keluar dari kamar mandi aja kamu gak menyadarinya, malah asik telponan!" kata Kenan bersidakap dada menatap nyalang Kania, bukannya menyeramkan, di mata Kania malah sangatlah lucu wajah marah sang kekasih.
"Hehe ... maaf keasikan cerita sama tuh dua curut, aku."
Kenan menarik gemas hidung Kania, dia tak bisa marah kepada sang kekasih. Kenan menarik tangan Kania untuk duduk di sofa panjang di pojok ruangan dekat rak tempat buku.
Tangannya memeluk posessive pinggang Kania, sambil bersandar nyaman di pundak Kania. Kedua matanya juga terpejam menikmati elusan tangan Kania di kepalanya yang sangat nyaman dan menenangkan.
"Peluk yang erat," titah Kenan, Kania menurutinya, namun menurutnya masih kurang. "Lebih erat lagi."
Kania hanya menurut, merengkuh hangat tubuh tegap Kenan sebelah tangan, karena tangan yang satunya terus mengelus rambut hitam pekat milik Kenan.
"Ayang bobok yuk, sambil pelukan. Aku kangen banget sama pelukan kamu. Akhir-akhir ini kamu selalu di rebut sama Kei, aku selalu gak kebagian terus," Gumam Kenan pelan, semakin mengeratkan pelukannya.
Kania terkekeh pelan, "Gak boleh gitu. Harus ngalah. Sama anak sendiri juga."
Kenan mendengus kesal tidak terima, dengan sekali dorongan, kini tubuh Kania sudah terjatuh di sofa dengan posisi tubuh Kenan berada di atasnya.
"Ken, ih. Bangun, kalo ada yang liat kita, mereka bisa salah paham."
Kenan tak mendengarkan pergerakan dan omelan Kania, ia malah semakin mempererat rengkuhan tersebut dengan menenggelamkan wajahnya di cengkuk leher Kania, mengirup rakus wangi khas sang kekasih yang membuatnya candu.
"Nggak sayang. Memangnya siapa yang berani masuk ke kamar ku, hem?" kata Kenan serak-serak basah membuat Kania menelan salipannya susah payah mendengar suara yang menurutnya sangat menggodah itu.
"Walaupun kita melakukan hal yang lebih dari ini, kita gak akan ketahuan sayang. Kamar aku kedap suara,"
Bisikan godaan Kenan membuat Kania bergidik ngeri membayangkan fantasi liarnya yang kemana-mana, tanpa sadar tangannya mendorong kasar tubuh Kenan membuatnya hampir terjatuh.
"Utututu, hampir jatuh ya? Kok gak sekalian jatuh aja sih, biar gak bisa jalan sekalian tu pantat cium lantai semoknya," cetus Kania, saling menatap penuh permusuhan.
"Apa? Berani sama gue? Udah ah, bye. Kanjeng ratu mau bobok cantik aja."
Kenan kelabakan sendiri, tangannya dengan cepat menarik tangan Kania. Mengakibatkan keduanya terjatuh di ranjang dengan posisi Kania di atas tubuh Kenan.
Tatapan keduanya terkunci, saling menatap lekat satu sama lain wajah yang jaraknya sangat dekat, saking dekatnya hembusan nafas keduanya saling tercium jelas.
"Nyaman banget, hem? Sampe, gak mau turun."
Kania terbelalak kaget, menyadari posisinya sekarang yang sangat intim. Belum juga Kania akan memberontak, tubunnya sudah di turunkan kepinggir sambil di rengkuh erat oleh Kenan.
"Ken, lepas ih. Aku mau tidur, udah malem ini, besok mau kuliah."
Kania terus membujuk sang kekasih agar melepaskannya, sungguh dirinya sangat takut jika Kenan kekeh untuk durinya tidur di sana.
Bukannya apa, hal yang tidak di inginkan jika dirinya tidur berdua di kamar tersebut, 'kan jika dua orang yang berbeda gender berduaan di ruangan, pasti yang ketiganya setan.
Siapa tau, Kenan kerasukan setan kamar mandi, dan ... ah, membayangkannya saja membuat Kania bergidik ngeri sendiri.
"Nggak mau. Kamu gak boleh tidur di kamar bawah. Kamu harus, tidur di sini temenin aku."
"Tap ..."
"Udah, sayang. Aku gak menerima penolakan sama sekali dari kamu. Jika terus beralasan, aku akan melakukan apa yang kamu banyangkan di otak kecil mu itu."
Kenan yang melihat wajah bengong Kania yang tengah menatapnya lekat, terkekeh pelan, jika dugaannya benar.
"Dasar bocah! Kamu pikir aku akan melakukan semuanya yang ada di pikiran mesum mu itu, hem?" Kenan mendorong pelan dahi Kania yang merasa gemas dengan tingkahnya.
Kania tak menjawab, ia malah cekikikan tak jelas menutupi rasa malunya.
"Udah tidur. Mama bilang, besok mau ajak mau shopping bareng, sekalian cari gaun pengantin," kaya Kenan, memeluk pinggang Kania erat sambil menelusup kan wajah Kania ke dada bidangnya.
Huh?
Kania menyembulkan kepalanya, tunggu. Mencari gaun penagtin? memangnya acara pernikahannya kapan?
"Cari gaun?" tanya Kania memastikan.
"Iya, kan pernikahan kita akan berlangsung dua Minggu lagi sayang. Kamu lupa, hem?"
Kania menggaruk pelipisnya mengingat-ingat kapan Kenan berbicara tentang seputar pernikahan, seingatnya pas Kenan melamarnya di hati ulangtahun, Kenan tak pernah membahas apapun tentang seputar pernikahan.
"Kamu belum bilang apapun sama aku deh, seingat aku."
Bibir Kenan tersenyum kikuk, saat menyadari kesalahannya yang belum memberitahukan tentang rencana pernikahan kepada sang kekasih.
Aduh sampe lupa lagi. Semoga saja, Kania tidak dalam masa datang tamunya. Jika itu benar terjadi, bisa-bisa saya di pecat jadi calon suaminya yang kelupaan memberitahukan acara pernikahan kepada calon istri.
Kania yang tadinya sedang berpikir keras berusaha mengingat ucapan Kenan, terpaksa menuruti permintaan sang kekasihnya yang menyuruhnya untuk tidur.
Kania masuk kedalam rengkuhan hangat Kenan, menelusup kan wajahnya di dada kokoh sang kekasih mencari kenyamanan.
...๐๐๐๐๐๐๐...
Di sebuah kamar yang minim pencahayaan, namun dapat terlihat samar-samar barang-barang yang berantakan berada di lantai menandakan keadaan kamar tersebut tidak baik-baik saja.
Seorang pria tertidur dengan posisi duduk dengan kepala di sandarkan di pinggir ranjang.
"Keysa, kembalilah," Gumam Leo setengah sadar nya.
Kedua mata tajam tersebut berhasil terbuka dengan sempurna, seluruh tubuhnya terasa pegal. Apalagi di bagian leher, berasa seakan patah saja.
Wajah yang penuh ketegasan, sekarang sudah berubah secara dramatis. Wajah Leo sudah sangat kusut, terlihat dari sorot matanya tidak ada semangat hidup sama sekali.
Yang terlihat sekarang adalah, guratan penyesalan yang amat dalam dari sorot mata Leo saat pikirannya kembali mengingat perlakuannya kepada Keysa, yang pada akhirnya sekarang wanita tersebut meninggalkan nya entah kemana.
Semalaman Leo mencari keberadaan Keysa kesana-kemari, mungkin Leo sudah mencari keberadaan Keysa ke seluruh penjuru kota di sana, tetapi pencarian nya semalaman tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Kamu di mana, Key? Kembalilah, saya mohon. Saya sangat menyesal telah menyia-nyiakan mu selama ini. Bahkan setelah saya menyadari rasa saya menyukaimu, saya masih gengsi untuk mengungkapnya"
Leo bergumam pelan, memandang lirih layar ponsel yang menampilkan foto Keysa yang tengah tersenyum manis.
Leo sudah mencari keberadaan Keysa kemanapun, namun Leo tidak menemukannya. Dia tahu, jika Kenan ada di balik semuanya.
"Saya harus segera bersiap, untuk menanyakan keberadaan Keysa pada Kenan!"
Setelah penampilan Leo sudah rapi seperti biasa, wajahnya juga sudah segar tidak seperti tadi saat baru bangun tidur.
Leo menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju mansion kediaman Kenan. Bahkan tak sedikit pengendara lain mengumpat mobil milik Leo yang secara ugal-ugalan menyelip sana sini.
Setelah sampai di pekarangan mansion, Leo berlari kecil masuk ke mansion. Tujuannya langsung menuju ke lantai atas, tepatnya ke tempat kerja Kenan.
Dia yakin Kenan pasti ada di sana, ia sudah tahu kebiasaan Kenan sebelum berangkat ke perusahaan, pria itu akan ke ruangan itu terlebih dahulu untuk mengecek fail yang akan di bahas di rapat nanti.
Tanpa permisi, Leo masuk kedalam ruangan kerja milik Kenan. Dugaannya tak pernah melenceng, Kenan sedang fokus ke layar laptop, tetap dirinya masih melihat Kenan sempat meliriknya dengan ekor matanya saat dirinya datang.
Baru saja Leo akan mengeluarkan suaranya, suara bariton yang terkesan dingin mendahuluinya.
"Ada apa kau kesini? Kenapa tidak langsung ke perusahaan?"
"Ken, saya tahu kau pasti tahu keberadaan Keysa di mana sekarang bukan?" kata Leo, langsung me dapat anggukan cepat dari Kenan.
"Yeah. Saya tahu dia di mana sekarang." kata Kenan, sambil terus fokus ke layar laptop tanpa tertarik menatap Leo yang sudah tersenyum mengembang. "Kau juga pasti tahu keberadaan Keysa di mana sekarang."
Kenan mendelik sebal, apakah efek sebuah cinta sangat berpengaruh bagi kecerdasan dan kewarasan seseorang?
Seorang Leo yang kesannya pria tak tersentuh yang namanya wanita, kini terlihat bodoh.
"Dia sedang berada di campus bukan? Kenapa kau jadi bodoh seperti ini, Le?" kata Kenan datar.
Tanpa sepatah katapun, Leo keluar begitu saja dari sana, sampai-sampai menutup pintu ruangan dengan kencang saking terburu-buru nya.
Kenan mendengus kesal, kenapa bawahnya sangat kurang ajar sekali? Tidak ada sopan santun sedikitpun terhadap atasannya.
Jika Kenan sudah tidak membutuhkan bantuan Leo, sudah di buang ke sungai Amazon saudara menyebalkan nya itu dari dulu.
Sangat mengerikan. Seorang Leo yang anti terhadap wanita, kini sekalinya menyukai wanita prilakunya sudah sangat bodoh.
Dasar bulol sekali dia. Belum memulai hubungan saja dia sudah terlihat seperti orang gila, apalagi nanti.
(Si Kenan mah gak sadar diri ya gais, dia sendiri yang lebih bucin totol, malah nuduh-nuduh orang lain. Gak sadar diri๐)
Bersambung ...
Anyyoung๐ค Ada yang kangen gak nih dengan kemunculan author wkwk. Maaf baru bisa up sekarang, lagi pusying sama matpel yang numpuk. Selalu bentrok jika mau up๐ฅบ.
Author usahakan akan sempatin up jika ada waktu luang. Tapi sekali lagi, makasih banyak buat kalian yang masih setia nungguin cerita receh author, udah mah ceritanya gak sebagus dan semenarik cerita para pames yang lain, author malah jarang up lagi ya hehe.
Terus kasih dukungannya ya gais. Salam hangat author Unopp ๐ค.
*
Mampir yuk kecerita yang author rekomendasiin. Cus kepoinnnn!!
Rayana Hasianna, tidak pernah menyangka rumah tangga yang sudah dibina selama 2 dua tahun, harus kandas di tangan pelakor yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Rayana tidak pernah menyangka kalau sore itu dia akan melihat ranjang yang selama ini menjadi milik pribadinya bersama suami, harus digantikan oleh, Lani, sahabatnya sendiri.
Bertekad ingin membalas dendam atau menyelamatkan rumah tangganya, Ray memilih pura-pura tidak mengetahui perbuatan mesum kedua orang yang sangat dia sayangi itu.
Bagaimana kisah Ray? akankah hati yang sudah hancur berkeping-keping bisa ditata kembali?
Akankah Ray berhasil mendapatkan cinta suaminya lagi, atau memang takdir berkata lain?
"Aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi tidak untuk melupakan, rasa sakit ini." - Rayana Hasianna.