
Kenan menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, pikirannya gelisah tak tenang memikirkan Kania. Kenapa Kania kalau sedang marah sekalu menghindar dari masalah seperti ini?
Dering ponsel miliknya mengalihkan atensi menyetirnya, Kenan memasang earphone ke telinga kanan nya untuk memudahkannya.
"Ya halo?"
"Ken! Kamu dimana? Cepat pulang ke rumah Mamah, Kei nangis gak mau berhenti terus memanggil kata 'Bunda' mana suhu tubuhnya agak pasar lagi." kata Mama Khanza panik di sebarang sana.
Arghhh!!
Kenan frustasi, dia harus kemana sekarang? Mencari sang kekasih? Apa menemui putri kesayangannya? Mereka adalah orang yang sangat berati di dalam hidupnya, Kenan tak bisa memilih salah satu dari mereka.
"Ken! Kenn!!"
"Aku akan ke sana sekarang Ma, tolong tenangkan Kei terlebih dahulu, Ken gak akan lama."
Kenan memutuskan untuk menemui putri kesayangannya dulu, biar mencari keberadaan Kania nanti dirinya akan menghubungi sahabat kekasihnya untuk menanyakan keberadaan yang sering Kania tempati saat menengadahkan dirinya.
Kalau dirinya mencari Kania entah tahu di dimana keberadaaannya akan membuang banyak waktu untuk menemui putri kesayangannya.
Mobil Kenan memasuki pekarangan rumah megah yang bertingkat tiga tersebut. Kenan keluar dari mobilnya berlari ke arah pintu rumah, kecemasannya semakin bertambah saat mendengar jeritan pilu anaknya yang begitu nyaring.
"Lepasinn!! Kei mau Bunaaa!! Hiks... tulunin Kei Oma, hiks..."
"Sayang!"
Kei mengalihkan tatapnya ke arah suara, dengan air matanya yang mengalir deras, Kei meronta ingin di turunkan dari gendongan Omanya melihat sang Ayah yang di rindukannya selama ini.
Kalo Oma tak dengelin kata na Kei, Kei akan bicala cama Ayah buat cali Buna na Kei!
"Ayah hiks ..." isak Kei berlari mendekati Kenan setelah lepas dari gendongan Oma Khanza.
Kenan mengulurkan tangannya untuk menggendong tubuh mungil sang anak, "Kei kenapa nangis hem? Kenapa belum bobok juga? Udah malem loh ini sayang. Coba bilang sama Ayah anak cantik ayah kenapa?"
Kei mengeratkan pelukannya, menelusup kan kepala mungilnya di cengkuk leher Kenan dengan tangis yang tak mau berhenti. Tangan besar Kenan dengan sabar mengusap punggung bergetar sang anak menenangkan.
Tangisan mulai mereda, Kei mendongakkan kepalanya menatap wajah Kenan yang menatapnya lembut, matanya kembali berkaca-kaca akan menangis mengingat sosok Bunda nya yang katanya akan menemuinya.
Lantas, sekarang sudah beberapa hari Bunda yang Kei rindukan tak menampakkan wajahnya sana sekali. Kei rindu pelukan hangat itu, kenapa Bundanya membohongi nya?
Kei masih sesegukan di pangkuan Kenan yang tengah duduk di sofa ruangan tamu, sesekali juga tangan mungilnya mengambil kaos yang di gunakan Kenan untuk mengusap ingusnya yang akan keluar, "A-ayahh, tenapa Buna bohongin Kei agi? Kata Buna, Buna kan temuin Kei Agi. tapi, campe cekalang Buna gak dateng-dateng."
Kenan mengangkat alisnya bingung, siapa yang Kei maksud dengan sebutan Bunda? Kalau dia, tak mungkin. Terus siapa yang anaknya maksud.
Mata tajamnya teralih menghadap Mama Khanza yang berada di sebrang sofa bersama Papa Bagas menuntun jawaban yang anaknya katakan.
"Kata Bibi, saat Kei hilang waktu itu, Kei ditemukan sama Wanita cantik yang menolongnya. Katanya Kei menyangka kalau wanita tersebut dia adalah 'Bundanya' karena salah mengartikan perkataan Mama kalau Bunda Kei itu Wanita cantik"
Kenan menghela nafasnya berat, matanya kembali menunduk menatap wajah menggemaskan sang anak yang masih di penuhi oleh air mata sambil sesegukan. Hatinya berasa tersayat setiap Kei terisak memilukan seperti ini.
Ini alasan Kenan jarang menemui anaknya, setiap melihat wajah polos Keinara, Kenan selalu teringat kepada seseorang. Wajah polos yang Kei perlihatkan membuat hatinya selalu sakit mengingat kejadian dia masa lalu.
Memang salah, Kenan lebih mementingkan perasaannya sendiri di bandingkan perasaan Kei yang sangat kesepian, rindu figuran seorang Ayah. Mungkin Kenan tak pantas di sebut seorang Ayah sekarang, dia tahu itu.
Maafkan Ayah sayang, Ayah belum menjadi Ayah yang baik buat mu nak. Maafkan Ayah.
"Ayahhhh!!"
"Kenapa sayang?" tanya Kenan, tangganya mengusap sayang surai rambut Kei.
"Ayah apa Kei nakal ya? campe Buna nda mahu temuin Kei lagi?" tanya Kei menunduk sedih
Kenan tersenyum manis, mengangkat dagu kecil Kei agak mengadahkan wajahnya, "Kenapa Kei bisa anggap Tante itu Bunda hem? Kan ayah sudah bilang ke Kei dulu, kalau Bunda itu udah ada di surga sayang."
Kei menggeleng cepat, Kei tak percaya. Dirinya yakin kalau Bunda nya itu, Bunda yang ada di taman yang menolongnya. Kenapa semua orang tak mempercayainya sama sekali?
"Nda!! Buna Kei belum ke sulgaa!! Kalian jahat nda pelcaya cama Kei. ote kalo Ayah nda mau bantu Kei buat cali kebeladaan Buna, bial Kei cendili yang cali!" pekik Kei turun dari pangkuan Kenan berlari ke luar rumah, pintu yang Kenan belum tutup memudahkan Kei berlari sambil menangis terisak.
"Sayang, Hey tunggu!!" teriak mereka panik melihat Kei berlari ke luar dengan keadaan hari sudah sangatlah larut.
...πππππππ...
Di meja pojok sebuah cafe dekat jendela, seorang wanita menatap lurus ke arah jalan raya yang tidak terlalu padat oleh pengendara, mungkin sudah sangat larut juga, pasti orang-orang sedang beristirahat di rumah.
Dering dari arah ponselnya tak di gubris sama sekali, sudah lebih dari puluhan kali ponselnya terus berdering Kania tak ada niatan untuk mengangkat nya. Dia butuh menenangkan pikirannya terlebih dahulu, dia butuh kesendirian.
Untung saja Cafe di sana buka sampai jam 12 malam, Kania tak perlu khawatir di usir oleh pegawai di sana dengan alasan akan menutup Cafe. Cafe yang dulu sering Kania mampiri untuk menenangkan pikiran.
Entahlah, Kania berasa akan sedikit lebih plong kalau sudah dari Cafe tersebut, beberapa pelayan di sana juga yang masih bekerja dulu, menyambutnya dirinya baik, tak pernah berubah selalu menjadikannya tamu spesial di Cafe tersebut.
Kegaduhan di depan Cafe mengalihkan atensi Kania, dirinya berusaha mengabaikan kegaduhan tersebut tak mau ikut campur urusan orang.
Namun kegaduhan tersebut masih terdengar, Kania mengeram kesal, ketenangannya mulai terganggu, dengan berjalan dongkol Kania mendekati arah suara kegaduhan tersebut.
"Ck, ada apa sih ribut mulu! Bukannya gue mau tenang, eh malah nambah pusing aja!" gerutu Kania menatap malas punggung orang-orang yang berkumpul.
Alis Kania terangkat, pendengaran nya sayup-sayup mendengar suara Isak tangis seseorang. Seketika jiwa kepo Kania meronta-ronta.
"Eh Cit, itu ada apa? Kok rame banget kayak lagi antri minyak murah aja." tanya Kania kepada pelayan yang Kania kenal.
"Haha ... mba bisa aja deh. Itu loh mba, ada seorang anak kecil yang ikut di belakang mobil yang mengirim bahan makanan buat restoran ini. Tapi yang membuat gaduh, anak kecil tersebut langsung menangis kejer saat melihat orang banyak yang mengerumuninya."
Kania mengangguk, namun dirinya semakin penasaran, apalagi Kania suka dengan anak kecil. Kania menerobos kumpulan orang-orang untuk melihat siapa anak kecil tersebut.
Entah naluri dari mana, Kania berjalan begitu saja mendekati ke anak perempuan yang berjongkok menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya sambil menangis terisak.
"Hey, sayang kenapa menangis? Udah ya cup, cup." kata Kania berjongkok menyamakan tinggi badannya, tangganya mengusap lembut punggung bergetar tersebut.
Deg
Anak perempuan itu mengangkat wajahnya untuk melihat wanita yang menenangkan nya, wajahnya berbinar bahagia. Bibir mungilnya tertarik menampilkan senyum manisnya, membuat Kania tertegun diam mematung.
"Buna na Kei!!"
Bersambung....
Halo semuanya, maaf gak author baru update sekarang, kemarin lagi sibuk di dunia nyata soalnya.
Satu Chapter dulu yak gaiss!!
Ntar kelanjutannya nyusulll ogheyyy
Babay sampai ketemu lagi di Chapter berikutnya dengan author cetar membahana ini, hiyakkkπ€Έπ€Έπ€£.