TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 62



"Hola Kembaran nya Aunty, cepet sembuh ya. Biar kita bisa main dan hamburin duit Ayah kamu." kata Keysa mencolek hidung mungil Kei yang tengah terduduk di pangkuan Kania.


"Heh Lo, jangan mempengaruhi anak gue yang enggak-enggak ya!" sewot Kania, tak mau pikiran polos anaknya ternodai oleh sahabat seblengnya.


Kei terkekeh lucu, melihat perdebatan Bunda dengan Aunty kembarannya. "Iya, onty kembalan, nanti kita abicin uang na Ayah. Gapapa kan ya ayah?"


Kenan yang dari tadi menyimak para wanita di depannya, tersenyum terpaksa mengiyakan putri kesayangannya.


Mungut dimana Kania, bisa mendapatkan sahabat luknat sepertinya.


"Sono Lo pulang aja. Gak guna juga ada di sini, hus, hus..." Kania mendelik, menatap penuh permusuhan Keysa yang memasang wajah memelas berasa ternista, membuat Kania ingin mencakar wajah sahabatnya itu.


"Hiks ... keponakan kembaran, liat tuh, masa Aunty di usir si dari sini. Kan gak baik usir orang itu? Iya 'kan?"


Keysa memasang wajah pura-pura menangis semeyakinkan mungkin untuk mendapatkan dukungan dari Kei.


Kei yang seolah mengerti, menatap Bundanya penuh tanya. "Iya Buna. Kok, Buna usil onty kembalan na Kei? bukannya nda copan ya itu namanya, Buna?"


Senyum mengejek Keysa terbit habis-habisan menatap Kania yang terlihat gelagapan sendiri, bingung mau menjawab apa yang Kei tanyakan.


Sialan tub bocah. Awas aja dia, beraninya nyari dukungan ke anak gue.


Kania tersenyum hangat menatap Kei yang masih menatapnya polos. Tangannya dengan lembut mengusap surai rambut tersebut. "Kei sayang. Bukannya Bunda mau usir Aunty Keysa, tetapi sebelum Kei bangun tadi, Aunty Kirana suruh Aunty Keysa buat pulang cepat nak."


Kei mengangguk lucu mengerti, namun tak lama aslinya berkerut bingung mendengar nama yang baru saja Kei dengar, Kei merasa asing.


"Em, Aunty Kilana ciapa, Buna?"


"Temennya Bunda, Aunty nya Kei juga." jawab Kania.


Keysa yang merasa di abaikan, mengambil tas yang berada di atas meja kasar. Sambil menghentak-hentakan kakinya kesal berlalu dari ruangan tersebut.


"Buna, Aunty kembalan na Kei kenapa?" tanya Kei bingung melihat tingkah Keysa.


"Kakinya Aunty lagi keram sayang, jadi begitu. Udah jangan di pikirin, sekarang waktunya Kei minum obat okey?"


Kei menggeleng keras, menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya mungilnya tak mau minum obat. Dengan susah payah Kei turun dari pangkuan Kania, berlari menuju Kenan yang sedang fokus dengan ponsel miliknya.


"Kei nda mau minum obat, huaa!" pekik Kei, memeluk erat kaki Kenan menelusup kan wajahnya di antara kedua lutut Kenan yang tega duduk.


Kenan menyelipkan kedua tangannya di ketiak Kei, mengangkat tubuh mungil tersebut agar duduk di pangkuannya. Kenan tahu itu, Kei dari dulu tak suka yang namanya bau obat, entah itu berupa tablet atau yang cair.


Mencium bau obat sedikit saja, Kei pasti akan muntah. Mungkin juga, Kei menuruni kebiasaan Kenan yang susah meminum obat dari dulu.


"Mas ..."


Ucapan Kania terpotong dengan isyarat yang Kenan berikan untuk tidak berbicara terlebih dahulu. Tangan Kenan dengan sabar, mengusap punggung bergerak sang anak yang tengah menangis di cengkuk lehernya untuk menenangkan.


"Sutt, udah jangan nagis. Emangnya Kei nggak mau sembuh Hem?" tanya Kenan, mendapatkan gelengan dari kepala Kei di pundaknya.


"Terus, gimana Kei mau sembuh? Kalau Kei nggak mau minum obatnya? Kei emangnya mau buat Bunda sedih? Bunda sedih loh liat Kei gak mau minum obat kayak gini."


Bujukan Kenan berhasil membuat Kei mengurai pelukannya. Matanya kembali berkaca-kaca melihat tatapan sendu Kania. Kei tidak suka, liat Bundanya sedih, apalagi itu karenanya.


"Huaa! Kei mau minum obat na Buna. Hua!! Maapin Kei udah nakal, buat Buna cedih!"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Di mobil yang melaju pelan, Kirana sedang fokus dengan ponsel di genggamannya, untuk menghubungi kedua sahabatnya yang Kirana hampir lupa tak mengabarinya akhir-akhir ini.


Sorot matanya menyipit melihat tanggal yang berada di ponselnya ternyata tanggal 28 Januari, pikiran mungil Kirana berpikir keras untuk mengigat sesuatu yang dirinya lupa.


Ya sakam! Kirana baru ingat, berarti besok adalah ulang tahun Kania. Bagaimana ini, Kirana belum mempunyai hadiah. Untung saja Kirana mengingat itu, kalau tidak udah dicincang habis dia oleh Kirana.


Alihan matanya, teralih menatap ke luar jendela. Tidak sengaja juga, matanya melihat sebuah toko tas yang tak jauh dari tempatnya berada sekarang.


"Berhenti di toko tas itu dulu yang, aku mau beli sesuatu sebentar." kata Kirana, menyuruh Migo mengentikan mobilnya di sebuah toko tas depan yang lumayan terkenal di kota tersebut.


"Mau beli tas?" tanya Migo mengentikan mobilnya di parkiran toko tersebut.


"He'em buat kado ulang tahun nya Kania. Aku baru ingat, dia besok ulang tahun." kata Kirana tersenyum memperlihatkan giginya sambil berusaha membuka sabuk pengamannya.


"Kenapa? Susah lagi?" tanya Migo sambil terkekeh kecil, melihat Kirana yang kesusahan membuka sabuk pengaman itu. Dasar, masih aja sama, gak bisa buka beginian doang, kan gampang.


Keduanya masuk kedalam toko tas tersebut, sambil bergandengan tangan mesra. Kirana menutup telinganya rapat-rapat, mengabaikan bisikan orang-orang yang iri melihat kemesraan mereka.


Migo yang setia, terus mengikuti kemanapun langkah Kirana sedang memilih beberapa tas yang cocok buat sahabatnya. Migo ingat ada janji dengan sahabat SMA nya nanti malam, tangannya mengambil ponsel yang berada di saku celana. Tetapi, kenapa tak ada? Dompetnya pun Migo tak menemukannya.


"Sayang kamu lanjutin aja cari tas nya. Aku mau ambil dompet sama ponsel ku yang kayaknya ketinggalan di mobil, gak akan lama kok." kata Migo mendapat anggukan kecil dari Kirana yang masih fokus memilih tas.


Setelah Migo pergi, Kirana kembali memilih beberapa deretan tas di rak bertingkat tersebut. Kirana merasa tak ada tas yang cocok menurutnya, memutuskan untuk mencari ke lorong yang lain.


Sorot mata Kirana terhenti seketika, saat melihat sebuah tas yang sangat elegan tidak terlalu ribet modelnya. Kirana mendekati tas yang dituju untuk mengambilnya, saat akan mengambil tas tersebut, bersamaan juga dengan sebuah tangan yang memegang tas yang Kirana pegang.


Kirana mendongak ke arah asal tangan tersebut, alis Kania terangkat satu melihat wanita dengan pakaian minim tengah menatapnya sinis.


"Maaf ya mba, saya duluan yang memegang tas ini." kata Kirana sedikit menarik tas yang di genggam wanita asing tersebut.


Wanita itu tertawa sinis. "Haha, enak banget ya lo. Udah jelas gue yang dari tadi incer ini tas sebelum lo ambil."


"Lah, kagak bisa gitu ya. Siapa cepat dia yang dapat dong!" sewot Kirana tak terima, enak saja wanita ini ngaku-ngaku.


Wanita itu menatap sinis Kirana, matanya menelisik menilai penampilan Kirana dari bawah sampai atas. Cih, wanita seperti ini yang Migo sukai? Kenapa seleranya sangat rendahan sekali. Sangat jauh beda dengan ku.


"Kayaknya Lo senang banget ya, buat rebut barang yang gue suka. Bukan hanya tas ini, lo juga, udah rebut tunangan gue!"


Kirana menatap bingung wanita di depannya. Merebut? Tunangan? Apa maksud wanita di depannya? Kenal aja nggak, lah gimana ngerebutnya.


"Hah? Maaf ya mbak. Gue gak tahu Lo siapa, jadi gimana ceritanya gue rebut tunangan yang Lo tuduh tadi."


Wanita di depannya menyodorkan tangannya, sambil mengangkat wajahnya angkuh. "Kenalin, gue Belle. Calon tunangannya Migo!"


Deg


Kirana mengerjakan matanya, menatap tak percaya wanita di depannya sekarang adalah orang yang selama ini Kirana takuti kedatangannya. Bukan takut oleh orangnya, Kirana takut itu adalah awal kehancuran hubungannya bersama Migo.


"Kenapa kaget? Gue peringati Lo buat jauhi Migo, jika nggak, Lo bakal nyesel nanti. Gue sama Tante Friska gak akan biarin cewek miskin dan kegatelan kayak Lo, berhubungan sama calon tunangan gue."


"Gue gak akan main-main sama ucapan gue. Lo jauhi Migo jika Lo masih sayang sama nyawa Lo. Gue baik si, ngingetin Lo, sebelum terlalu jauh berhubungan sama Migo yang pada nantinya Lo bakalan di tolak mentah-mentah sama Tante Friska. Kasta kita gak sama, Lo hanya orang miskin yang numpang hidup sama Migo."


Setelah mengucapkan kata yang sangat menusuk hati Kirana, Belle berlaku begitu saja sambil menyenggol bahu Kirana yang diam seribu bahasa di tempatnya.


Semua ucapan Belle benar adanya, Kirana berasa tertampar mendengar sebuah kenyataan yang selama ini Kirana lupakan. Apa orang miskin sepertinya, tidak berhak mencintai Migo?


Kirana harus bagaimana sekarang? Menyerah dan menerima semua kenyataan, atau mempertahankan hubungan yang entah bagaimana akhirnya nanti.


Tepukan tangan seseorang di bahunya, menyadarkan lamunan Kirana. Wajah Migo terlihat bingung melihat ekspresi wajah Kirana yang berubah tidak seperti biasanya.


"Sayang ada apa? Maaf aku tadi menerima telpon dulu jadi lama. Emm ... apa ada sesuatu yang menganggu pikiran mu?" tanya Migo memastikan kekhawatiran nya, dia tahu Kirana tak baik-baik saja sekarang. Wajah ceria Kirana yang tak pernah luntur, kini tergantikan oleh tatapan kosong seperti cemas memikirkan sesuatu.


"Aku gak papa." jawab Kirana, dengan senyum terpaksa agar tak membuat kekasihnya curiga. "Ya udah, kita ke kasir untuk segera membayar. Aku sudah menemukan tas nya."


Kirana berjalan mendahului Migo yang mengikuti langkah Kirana sambil menatap punggung Kirana tak terbaca.


Tolong bantu aku Tuhan! Aku bingung sekarang.


Bersambung ...


Author come back, ayo kasih dukungan nya dung. Author udah panjangin Chap ini hehe...


Kasih terus dukungannya dengan like , komen nya ya😊. Kasih hadiah dan vote nya juga jangan lupa ya ... Dukungan kalian semangat Author buat terus lanjut update lohπŸ˜ŠπŸ™


*****


Kepoin juga yuk novel yang Author rekomendasiin, sambil nunggu next chapter berikutnya.


Burlb : laura seorang designer yang baru saja ditinggal mati calon suaminya 3 minggu sebelum pernikahan mereka. Tommy sang tunangan meninggal di arena balap mobil


Sepeninggal Tommy, Laura menyibukkan diri memimpin panti asuhab balita milik bibinya di Cimahi.


August seorang pilot yang baru saja salah langkah, dia main api sehingga pertunangannya dengan Julia harus putus menjelang 5 bulan pernikahan mereka. August bahkan sempat menikah dengan perempuan selingkuhannya namun tak bertahan 24 jam!


Akankah Julia kembali menerima August?


Atau August bisa mendapatkan Laura?


Bagaimana dengan Bastian, CEO yang mencintai Julia dan juga dokter Syahrul serta dokter Ilyas yang mengejar cinta Laura?


Ikuti cerita serunya di TELL LAURA I LOVE HER, yaa.