TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 80



"Pria edan!"


Ucapan Kirana semakin membuat pria tersebut tertawa ngakak, bahkan kedua tangannya sudah memukul meja dengan tawa yang tidak berhenti persis wanita jika tertawa.


"Haha, perkenalkan nama ayke Gibran, bisa di panggil sayang atau ayank juga boleh," kata Gibran dengan nada alay nya, membuat Kirana yang mendengarnya ingin muntah.


"Plis deh, Lo tadi aja so bijak. Lah sekarang, muka Lo nyebelin banget minta di sleding!"


"Haha gue cuman bercanda. Kalo Lo sakit hati karena pria, Lo jangan keliatan lemah kek gini. Harusnya Lo buktiin ke dia Lo bisa lupain dia," kata Gibran, mengentikan tawanya. "Eh nama Lo siapa? kayanya kita gak jauh deh umurnya. kan, siapa tau ya kita jodohh gitu."


Kirana memutar matanya jengah melihat tatapan menggoda pria edan yang baru saja kenal beberapa detik yang lalu. "Gue Kirana. Tapi, maaf gue alergi cowok modelan kayak lo!"


"Macaa cihh? Mantan-mantan gue aja kele ..."


Getaran ponsel di saku celana Gibran menjeda ucapannya. Mata hitam pekat itu membulat sempurna saat melihat layar ponsel di depannya.


"Ehehe mangap bro, slow jangan ngamuk dulu! Lo dimana sekarang?" kata Gibran mengangkat sambungan telpon tersebut.


"...."


"Oh, Lo ke meja deket jendela nomor 14. Gue tunggu di sini." kata Gibran, mengakhiri sambungan telpon.


Gibran kicep melihat tatapan mematikan Kirana yang melotot tajam, dia melupakan sesuatu hal, kalo dirinya mengatakan ke temannya ke meja milik Kirana.


"Ehehe Vis, gue boleh kan ajak temen gue gabung? Ya, ya? Lo tenang aja dia bawa cewek nya juga kok, kalo Lo nanti gak nyambung pembicaraan kita," kata Gibran dengan wajah memelasnya, mau tak mau Kirana mengangguk terpaksa tidak mau berdebat dengan pria aneh di depannya ini.


Baru saja Kirana akan menjawab ucapan Gibran, suara dari belakang yang tak asing bagi pendengarnya menyapa pria yang beberapa menit dirinya kenal


"Maaf menunggu lama."


Debaran hati Kirana berpacu cukup kencang, suara yang dirinya hindari terdengar jelas di gendeng telinganya.


Kirana membalikan badannya untuk memastikan, mata teduhnya bersitatap dengan mata legam Migo yang tajam. Kirana terpaku, pergerakannya terasa kaku untuk hanya bergerak saja.


Namun suara cempreng wanita yang bergelayut manja di tangan kekar Migo menyadarkan keduanya dari saling tatap yang beberapa detik itu.


"Eh, ada mbak pelakor di sini," celetuk Belle tak tahu malunya, bibirnya tersenyum sinis melihat wajah Kirana yang tidak mengenakan.


Kirana memutar matanya jengah sambil tersenyum sinis, "Bukan nya ke balik ya? Nyonya Belle yang terhormat?"


Ucapan penuh penekanan yang di lontarkan Kirana membuat Belle naik pitam. Tetapi, cegahan tangan Migo yang tak mau memperkeruh suasana menghentikan Belle.


"Apa marah? Ngerasa ya? Hahaha Lo ambil aja dia. Gue gak butuh cowok pengecut, gue alergi cowok kayak gitu," kata Kirana melirik ke arah Migo dengan ekor matanya. sudut bibirnya kembali terkekeh pelan, dengan hati perihnya melihat mimik wajah Migo yang biasa saja tanpa ekspresi apapun.


Kirana mengeluarkan uang dan menyimpannya di meja tepat di pinggir gelas minuman yang dia pesan, dia tanpa mengucapkan sepatah katapun pergi meninggalkan ketiga manusia dengan pikirannya masing-masing.


"Lo kenal sama dia Mig?" tanya Gibran penuh tanya menatap bingung punggung Kirana yang semakin menjauh.


"Gue ..."


"Gak lah! Masa Migo kenal sama cewek gila kek dia, iya gak sayang?" sela Belle, membuat Migo lagi dan lagi harus menghela nafasnya kasar.


Lewat sudah pembahasan soal Kirana tadi, kedua pria bersahabat tersebut bercengkrama membahas masa-masa SMA mereka dulu, tanpa memperdulikan Belle yang tak jarang ngerengek, ini lah itu lah, pokoknya menguji kesabaran Migo dari tadi.


"Sayangg" rengekan Belle yang entah ke puluhan kali mungkin membuat Migo muak sendiri.


"Diam! Bisa gak sih, jangan mentang-mentang Lo pacar gue, gue diem."


...πŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺ...


Kania mengecup lembut dahi Kei yang beberapa menit baru saja menutup mata. Tangannya terangkat mengusap lembut dahi Kei yang sudah tidak sehangat tadi, jujur Kei saat sedang sakit sangatlah rewel.


Bahkan saat akan meminum obat pun harus membujuk rayu balita menggemaskan yang sedang terlelap tenang sekarang.


"Sayang!" suara bas dari arah pintu kamar mandi membuyarkan lamun Kania.


Bibirnya terangkat menampilkan senyum tipisnya melihat wajah segar Kenan yang baru saja selesai mandi, apa lagi penampilan Kenan sekarang sangat menggoda kalau tidak di perhatikan.


Rambut basah dengan hanya menggunakan celana pendek saja memperlihatkan perut kotak-kotak nya tanpa ada penghalang sedit pun.


"Terpesona Hem?" tanya Kenan mengagetkan, karena jaraknya sekarang wajahnya sangat dekat dengan sang kekasih.


Eh


Kania memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menyembunyikan wajah merona nya karena sudah tertangkap basah secara terang-terangan mengangumi tubuh sempurna milik Kenan.


Kenan terkekeh gemas, tangan lebarnya menarik dagu Kania agar menatapnya. Bibirnya tanpa ijin mengecup gemas hidung mungil Kania. "Tak apa sayang. Semua yang ada di badan ku milik mu seorang"


Wajah Kania semakin merona saja, dengan refleks tangannya melingkar erat di pinggang Kenan sambil menyembunyikan rona merah di pipinya yang semakin ketara di dada keras Kenan.


Sontak melihat tingkah menggemaskan wanita pujaannya Kenan tak bisa mengendalikan tawanya. Kania yang semakin kesal bertambah malu mencubit tak berperasaan pinggang Kenan yang terekspos, membuat si empunya memekik kesakitan.


"Makanya jadi orang jangan ngeselin! Inget ya mas, kita baru aja baikan. Emangnya, kamu mau aku marah lagi kayak tadi hah?" gerutu Kania menatap kesal wajah Kenan yang sudah mulai cemas.


"Sayang, yaudah maafin aku ya. Janji deh gak akan ngegoda kamu lagi, ya, ya." bujuk Kenan mengeluarkan jurus memelasnya.


Kania memutar matanya malas tanpa menghiraukan wajah Kenan, dia bangkit dari duduknya menuju pintu kamar.


"Sayang jangan pergi dong, gimana baju aku? kamu belum menyiapkannya." cegah Kenan cepat menarik tangan Kania, walaupun dirinya sedikit menciut melihat tatapan tajam kekasihnya yang lebih horor hantu penghuni pohon beringin.


"Ck kan mas udah gede! ambil sendiri dong!"


"Gede apanya sayang?" tanya Kenan dengan wajah polosnya, otaknya masih loading memikirkan kata ambigu dari ucapan Kania.


"Gedein tuh pikiran positifnya, pikiran mesum kok yang di gedein!"


Kenan masih diam, namun suara pintu tertutup perbuatan Kania menyadarkan keterdiaman Kenan yang dari tadi loading.


"Sayangg!! Kok ninggali aku gitu aja sihh! Kamu mah pilih kasih, ke Kei aja kamu perhatian banget, lah aku kamu cuekin!" teriak Kenan nyaring membuat Kei yang terlelap melenguh pelan.


"Diem mas, jangan teriak! Jangan manja deh udah tua juga! Awas aja kalau Kei keganggu gara-gara teriakan kamu aku bagi dua tuh masa depan kamu lalu di kasih ke ikan Koi nya papah!" teriakan Kania dari bawah membuat Kenan bergidik ngeri. Gawat ini jika si Gatot tidak ada, gak akan ada bibit unggul miliknya nanti.


Sementara Mama Khanza yang berada di dapur mengusap dadanya pelan mendengar teriakan anak dan juga menantunya yang sangat menyaring, Mama Khanza tak membayangkan bagaimana suara kedua anak dan menantunya jika di dengar dari arah dekat, dari jauh saja sekarang suaranya sangat nyaring melebihi toa mesjid.


Bersambung...