TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 77



Mobil taksi yang Kania tumpangi berhenti di depan butik dua tingkat yang terlihat sangat ramai di kunjungi oleh pelanggan. Kania buru-buru turun dari taksi takut Mama mertuanya sudah ada.


Kania bernafas lega, karena dia tidak melihat tanda-tanda mama mertuanya ada di depan butik.


"Kania, sayang!!"


Kania yang merasa dirinya di panggil mengalihkan tatapannya mencari ke sumber suara, wajahnya tersenyum masam melihat Mama Khanza sudah berada di lantai atas melambaikan tangannya dengan wanita yang terlihat asing di samping Mama Khanza.


"Mampus gue, keduluan sama camer," gumam Kania, dengan tangan melambai ke arah Khanza.


"Sini, sayang. Di luar panas, loh!" teriak Mama Khanza.


Kania mengangguk cepat, dengan lari super nya Kania masuk dan naik eskalator menuju lantai atas menghampiri Mama Khanza.


Setelah sampai di lantai atas, Kania mencari mama Khanza sambil mencari keberadaan mama Khanza ke setiap penjuru butik yang super luas.


Suara teriakan yang memanggil namanya, membuat Kania langsung berjalan menghampiri Mama Khanza yang melambaikan tangannya sambil tersenyum manis.


Kania tersenyum kikuk menyalimi mama Khanza sopan. "Maaf mam sudah membuat menunggu Kania. Tadi macet banget."


Khanza mengangguk paham, tangannya menggenggam lembut tangan Kania sambil menatap wanita yang sebaya dengan dirinya.


"Oh iya, Mey. Kenalin, ini Kania calon mantuku yang sempat aku ceritakan tadi."


Kania tersenyum hangat, menyalimi wanita yang bernama Meyra tersebut.


"Halo Tante, salam kenal aku Kania."


"Nama Tante Meyra. Ternyata kamu aslinya cantik banget ya, kan. Lebih yang calon mertua mu ceritakan." kagum Tante Mey.


Kania yang menerima pujian tersebut, sudah malu-malu tai guguk. Akhirnya ada juga yang sadar kalo gue cantik nya minta ampun, kecuali tu dua curut yang buta kalo gue cantik.


"Hehe, Tante bisa aja. Tante malahan terlihat masih cantik banget di umur Tante yang sudah bersuami dan mempunyai anak. Aku sampai minder," kata Kania tersenyum sopan, walaupun di hatinya berbunga-bunga.


(Dia mah biasa, merendah untuk meroket, ceilehhh😏)


"Udah-udah, nanti aja kita ngobrol-ngobrol nya. Kita lihat gaun pengantin nya dulu," kata Khanza menengahi aksi saling muji menantu dan juga teman sohibnya.


"Lah iya sampai lupa. Yuk ikut aku ke sini, aku sudah siapkan gaun rancangan terbaruku yang belum aku jual belikan, bahkan aku belum launching gaun ini."


Kania menatap kagum gaun simpel namun kelihatan mewah yang Tante Mey tunjukan.


"Gimana sayang, kamu suka tidak? gaun yang Mama request kan modelnya ke Tante Mey?" tanya Mama Khanza.


Kania mengangguk, "Suka Mam, suka banget malahan!"


"Yaudah, biar mempersingkat waktu, kamu cobain bajunya ya, sayang." kata Tante Mey, "Yuk, biar Tante tunjukkan ruangan ganti nya."


Setelah baju yang dirinya coba fiks, Kania dan Mama Khanza langsung pamit pulang ke Tante Meyra.


Mama Khanza yang terburu-buru akan ada arisan bersama grup sosialita nya, pamit pulang duluan setelah menyuruh Kenan untuk menjemput Kania.


Walaupun Kania sempat menolak bisa menggunakan taksi online, tapi mama Khanza tetap kekeh agar Kania di jemput oleh Kenan, katanya dirinya takut terjadi apa-apa.


Kania memutuskan untuk menunggu jemputan dari Kenan di restoran sebrang yang tak jauh dari butik sambil mengisi perutnya yang sudah berbunyi minta di isi.


Setelah makanan yang dirinya pesan sudah datang, Kania menyantap nasi goreng seafood dengan lahap.


Suara pecahan gelas kaca jus miliknya, yang masih penuh belum di minum sedikitpun jatuh oleh seseorang yang tersungkur di lantai.


Kania menggebrak meja keras, membuat atensi pengunjung yang sedang makan di restoran itu langsung menatap ke meja Kania.


"Lo, kalo jalan pake mata dong! Buta Lo? Sama gelas yang segede gitu?" kata Kania meluap-luap, bukanya kenapa, sayang woy itu jus belum dirinya minum secuil pun.


(Noh kan gais, sama jus aja sayang, apalagi sama babang Kenan. jiahhhh)


Wanita yang duduk di lantai bangun sambil meringis pelan, dia berkacak pinggang tidak terima Kania maki di depan umum.


Kania menatap sinis wanita di depannya yang dandannya mirip wanita di lampu merah, ngeri coy bibirnya merah kek udah makan darah bayi.


"Maaf ya tante. Bukan masalah harga. Tapi itu mubajir, ngerti gak sih?"


"Cih, alasan. Kamu butuh uang ganti rugi kan? berapa?" tanya wanita itu mengambil sesuatu dari tas miliknya. "Nih buat lo. Cukup kan?"


Lemparan uang ratusan ribu ke muka Kania, membuat Kania sudah siap-siap mengeluarkan tanduknya.


Huh!!


"Ondel-ondel si**an! Nih rasain!" teriak Kania, tangannya menjambak kesal rambut wanita yang berani menurunkan harga dirinya.


Orang-orang yang melihat kejadian itu, tidak ada satu orangpun yang melerai, mereka malah asik menonton saja.


Hanya dengan suara tegas dan dingin seseorang menghentikan aksi jambak-jambakan Kania dengan wanita itu.


"Ada apa ini?"


Kania meneguk ludahnya kasar, mati sudah hidupnya. Itu kan suara Kenan, kenapa Kenan bisa tahu dirinya ada di sini?


"Hehe, anu- ituu..."


Ucapaan Kania terhenti mendapat tatapan tajam Kenan yang menyeramkan, sumpah ingin sekali Kania mencolok mata Kenan yang sok serem sekarang, padalah emang beneran ngeri.


Wanita itu menatap tajam Kania sambil membenarkan rambutnya yang berantakan. "Wanita gila itu yang tiba-tiba menjambak saya. Saya tidak terima, saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum."


"Saya juga akan mengadu ke pemilik restoran ini, kebetulan dia adalah pacar saya."


Kenan bersidakap dada santai, matanya meneliti penampilan wanita yang sedikit berantakan di depannya. "Yakin kau pacar dari pemilik restoran ini?"


Wanita tersebut menggangguk cepat, membuat Kenan tersenyum sinis.


"Jika anda tahu, pemilik restoran ini sedang mengurung di penjara akibat pencemaran nama baik, apa anda tidak pernah membaca berita?"


Wanita itu kelabakan sendiri, sial! dirinya gagal membodohi orang.


"Jadi benar apa anda pacar dari duda tua Bangka yang di penjara itu?" tanya Kenan terkekeh sinis.


Wanita itu tidak menjawab, wajahnya sudah memerah malu. Dia langsung pergi begitu saja dari sana, membuat Kania tersenyum penuh kemenangan.


Kekehan Kania terhenti merasakan ada seseorang yang menatapnya, Kania menggaruk tengkuknya yang tak gatal melihat tatapan datar Kenan.


"Hehe, vis!"


Kenan menghela nafasnya pelan, dirinya tidak habis pikir bisa jatuh cinta bahkan tidak bisa jauh-jauh atau bahasa gaulnya sekarang adalah bucin kepada wanita bar-bar di depannya yang selalu membuat ulah entah di mana pun itu.


"Pulang."


Kenan meninggalkan kerumunan pengunjung yang di perbuat kerusuhan calon istri ajaibnya buat.


Kania kicep, buru-buru mengeluarkan uang dari dompet menyimpannya di meja yang di duduki.


"Astaghfirullah inces di tinggal." Kania mengelus dadanya sabar sambil terus berlari kecil menyusul langkah Kenan yang terlihat akan keluar dari restoran.


Kania mendengus kesal, sudah di tinggal begitu saja, di tinggal pula masuk mobil. Suara klakson yang Kenan tekan pun, membuat Kania semakin kesal.


"Iya, iya! Bentar! Gak sabaran banget sih!"


Bersambung....


Anyyoung, maaf kelamaan up author hehe. Ada yang kangen gak nih, dengan kemunculan author?


Chap selanjutnya insyaallah besok up lagiii!! Tinggalkan terus jejak dengan like, komen yang positifnya, kasih hadiah yang banyak dan vote nya yaa, biar author semakin semangat update.