
"Sayang ada apa? Kok Migo teriak-teriak manggil nama kamu?"
Kania yang tengah menyuapi Keinara makan, mengerutkan dahinya saat indra pendengaran nya mendengar suara melengking Migo dari dalam rumah bertepatan Kenan yang menghampirinya ke taman belakang.
Kenan mengangkat bahunya acuh, duduk di gazebo sebelah sang anak yang tengah memainkan boneka barbie nya dengan kedua pipi gembul nya naik turun mengikuti kunyahan bubur yang berada di mulut mungilnya.
"Princess nya Ayah pinter banget si makannya, udah mau abis ya Buna?" kata Kenan mengusap lembut surai rambut Kei yang mendongakkan wajahnya lucu.
"Iya dong. Ciapa dulu, anak na Buna Kania! Hihii ..."
Kenan merubah raut wajahnya berpura-pura sedih. "Jadi cuman anaknya Buna nih? Bukan anaknya ayah dong."
Kei merasa bersalah melihat wajah sedih sang ayah, dengan susah payah tubuh mungilnya naik ke pangkuan Kenan, mendekap erat tubuh Kenan seolah menenangkan.
"Cup, cup, cup. Udah ya? Ayah jangan cedih lagi. Kei anak na Ayah Kenan ganteng kok."
Kenan terkekeh gemes, tidak bisa mengontrol bibirnya untuk mengecupi seluruh permukaan wajah Kei tak terlewatkan, tidak termasuk bagian bibir.
"Ahaha ... udah, ayah. Kei nyelah ini. Ndak kuat gelii huaa!!"
Kenan tak mengindahkan ucapan ampun sang anak, ia terus mengecupi wajah Kei sambil sesekali menggigit pipi gembul itu yang bergerak lucu saat dirinya kecup.
"Nggak mau, ini hukuman buat princess nakal ayah, nihh rasaian."
Kei tertawa lepas semakin kegelian oleh kelakuan sang ayah yang tak mau berhenti mengecupi wajahnya.
"Buna, tolong celamatin Kei! Wajah cantik na Kei mau abis di makan cama ayah huaa!! Ntar Acep yang nakcil Kei nda nakcil lagi karena Kei udah nda cantik!"
Kania menggelengkan kepalanya melihat sang kekasih yang begitu jail kepada anak perempuannya yang selalu akan aduan kepadanya.
Tapi tunggu, siapa Asep? Kenapa Kei berbicara seolah-olah mengerti tentang perasaan anak ABG yang menyukai laki-laki?
"Udah ayah, kasian anaknya di jailin terus. Sini Kei mau di pangkuan Buna lagi? Biar buburnya di abisin dulu." tanya Kania, mendapat anggukan cepat dari Kei takut ayahnya kembali menyerang wajah cantiknya.
"Huhh! Kei nda like cama ayah."
Kenan terkekeh geli melihat wajah kesal Kei yang sesekali meliriknya sambil melotot di sela suapan bubur yang Kania sodorkan.
"Eh Acep siapa cil?" tanya Kenan, baru mengingat ucapan Kei tadi.
"Bukan Acep ayah! Acep, Acep! Bilang gitu aja gak bica," kesal Kei bersidakap dada menatap nyalang Kenan, namun terlihat menggemaskan.
"Lah benarkan Acep? Kei kan bilang Acep barusan, kesalahan ayah di mana?"
"Asep Ken, maksud nya Kei. Gimana si, anaknya cadel juga, masih aja gak ngerti," lerai Kania menengahi agar pertengkaran gara-gara si Asep tidak berkepanjangan.
Kei mengangguk lucu, mengiyakan ucapan sang Buna yang benar. "Huum, ayah payah. Acep itu anak tetangga depan lumah oma yang celing bilang Kei cantik."
Semburat merah di pipi Kei yang menceritakan Asep yang sering menggodanya membuat Kania dan Kenan berusaha menahan tawa agar tidak pecah.
"Wah yang bener sayang? Asep itu gimana orangnya? Ganteng gak menurut kamu?" tanya Kania, membuat Kei berpikir keras sambil mengetuk ngetik jarinya di dagu.
"Ganteng ci ganteng, tapi Acep cuka ingucan di idungnya."
Kenan mati-matian menahan tawanya agar tak pecah. Dasar bocah prik, mau aja di gombalin sama anak bau kencur.
Anak gue baper cuman di bilang cantik dong? Sama anak masih bau kencur lagi.
...πππππππ...
"Sayang, kamu udah siap belum?" teriak Kenan dari sofa lantai bawah mulai jengkel menunggu sang kekasih yang masih belum juga turun dari tadi.
"Bentar! Ini lagi pakaikan Kei sepatu dulu!"
Kenan menghela nafasnya sabar, sudah hampir satu jam Kenan menunggu sang kekasih dandan dan mendandani Kei yang lamanya minta ampun, jika bukan kekasih sama anak sendiri, Kenan tak sudi menunggu lama seperti ini.
"Maaf sayang, lama."
Kania datang menuntun tangan mungil Kei dengan satu tangannya lagi memegang ransel perlengkapan Kei.
Wajah kesal Kenan pudar, ia merasa bersalah sekarang melihat Kania yang terlihat kerepotan membawa barang-barang sang anak sambil mengatur nafasnya yang naik turun. Kenan yakin Kania pasti buru-buru saat dirinya tadi berteriak.
"Maaf ya sayang, aku gak bantuin kamu buat bawa keperluan nya Kei," kata Kenan merasa bersalah merepotkan Kania.
"Udah gak papa. Sekalian latihan jadi istri dan Ibu siaga."
Kenan tersenyum bahagia, dia tak salah memilih pasangan seperti Kania. Kania wanita yang berbeda dengan wanita di luaran sana.
Saat wanita lain mengetahui status sang kekasih yang sudah menduda dan mempunyai anak satu, pasti mereka akan meninggalkan lelaki itu, tapi tidak dengan Kania.
Dia malah, menerima status dirinya tanpa keberatan sedikit pun. Bahkan, Kania menyayangi anaknya seperti anaknya sendiri, tanpa ada maksud di belakangnya.
"Ihh, ayah! Ayok belangkat. Kei udah nda cabal buat main ke pantai."
Pekikan cempreng Kei menyadarkan Kenan dari lamunannya, Kenan mengangkat tubuh mungil sang anak menuju mobil miliknya sambil menggandeng tangan Kania.
Kenan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dengan satu tangan ia mengendarai mobil tanpa takut karena satu tangannya lagi menggenggam lembut tangan Kania.
Kania tak mempersalahkan itu, toh jika dirinya protes bagaimanapun, Kenan akan kekeh dengan pendirian nya.
"Makasih udah datang di kehidupan ku, sayang." gumam Kenan menatap dalam wajah Kania yang menampilkan senyum manisnya sedang menjelaskan celotehan pertanyaan Kei yang menanyakan benda yang baru aja dia lihat.
"Itu bukan rumah sayang, itu namanya apartemen. Apartemen itu, kayak sebuah tempat tinggal tapi lebih kecil dari ukuran rumah, dan memiliki beberapa kamar yang banyak jadi bisa tinggi kayak gitu."
Kei mangut-mangut seolah mengerti dengan penjelasan yang Kania ucapkan.
Akhirnya mobil yang di kendarai Kenan berhenti di tepi jalan yang tak jauh dari pantai yang sangat sepi oleh pengunjung.
Keinara sudah tepar di gendongan Kania akibat kecapean menanyakan setiap apa yang menurutnya asing di matanya.
"Dasar bocil. Nyenyak banget gitu tidurnya."
Kenan tersenyum tipis melihat wajah damai Kei yang tak terganggu sama sekali dengan elusan di pipinya, malahan semakin nyetak kayaknya.
"Sayang nya Buna, bangun dulu yuk? Katanya mau main di pantai? Ini udah sampe loh sayang," kata Kania menepuk pelan pipi Kei, membuat sang empunya melenguh pelan sambil membuka matanya perlahan.
"Uda campe ya, Buna?"
Kania mengangguk sebagai jawaban sambil membetulkan letak tubuh Kei agar duduk tegap.
Kei merentangkan tangannya ingin di gendong oleh Kenan, Kenan langsung menyambutnya dengan senang mengalihkan tubuh mungil sang anak kedalam gendongan nya.
Kenan merengkuh pinggang Kania posesif dengan Kei di gendongannya. Kenan menurunkan tubuh mungil Kei di pinggiran pantai yang teduh, tepatnya fi bawah sebuah pohon.
"Bentar sayang, aku mau ambil dulu keperluan yang lainya."
Kania mengangguk kecil, kembali meneruskan kegiatannya sedang mengajarkan Kei menulis namanya di pasir oleh ranting.
Tidak lama, Kenan kembali membawa keperluan untuk mereka piknik di pinggir pantai itu, Kania yang melihat Kenan kerepotan membantu membawa kantung kresek cemilan.
Setelah karpet dengan beberapa makanan dan cemilan sudah tertata di atas karpet, Kei dengan antusias mengambil yupi kesukaan yang ada di keranjang kecil.
"Kei mau main air nggak sama ayah?" tanya Kenan, mengalihkan atensi Kei yang tengah makan yupi di pangkuan Kania.
"Mau ayahh!!!"
Kenan tersenyum misterius, tangannya dengan cepat menarik tangan Kania untuk berlari saat Kei sudah tidak di pangkuan sang kekasih.
"Kalau gitu, bisa gak kejar ayah, sama Buna dulu!!"
"Huaa!!! Ayah jangan bawa Buna na Kei! Ayok kaki cepetan lali na jangan lambat!" kata Kei berusaha lari sekencang mungkin, mengejar kedua orang tuannya yang berlari kecil.
"Yang ih, kasian itu Kei. Jail banget di sama anak sendiri," khawatir Kania melihat sang anak berlari se kuat mungkin, padahal dirinya hanya berlari kecil.
Ketiganya main kejar kejaran, emang dasarnya Kania orang nya nggak tegaan menghentikan langkahnya menghampiri sang anak dengan mata berkaca-kaca akan menumpahkan air mata.
Akibat kejadian itu, Kei merajuk kepada Kenan, Kei bahkan mendiamkan Kenan dan tidak membiarkan sang ayah mendekati Buna nya sedikitpun.
"Anak ayah yang cantik, pinjem bentar dong Buna nya, ya?"
Kei menatap garang Kenan sambil berkacak pinggang. "Nggak. Ayah nda boleh deket-deket sama Buna. Ntal ayah ambil Buna lagi."
Kenan tak kehabisan akal, saat Kei sedang fokus membuat rumah-rumahan dari pasir, Kenan menarik lembut tangan Kania agar menjauhi tempat Kei berada.
"Kamu apa-apaan si, gimana kalau Kei cari keberadaan aku."
Kenan menggeleng cepat, mendekap erat tubuh Kania takut kehilangan. Rencananya Kenan mengajak Kania ke pantai ingin romantis-romantisan tanpa di ganggu Kei.
Biasanya, jika mengajak anak ke pantai sang anak akan sibuk membangun rumah pasir tanpa menggangu kegiatan kedua orangtuanya.
Tapi sekarang, boro-boro mau manja-manja sama sang kekasih anaknya tidak melepaskan Buna nya.
"Kei ganggu banget sayang, 'kan aku mau berduaan sama kamu."
Kania memutar matanya malas, "Kalau gak mau di recokin anak, kenapa gak titipin Kei ke ibu sendiri. Bego di pelihara si."
Kenan menggaruk tengkuknya, kenapa dirinya gak kepikiran ya.
Kenan merapatkan tubuhnya dengan Kania, Kania sudah was-was jika Kenan sudah menatapnya dalam dan semakin mendekat kan wajahnya.
Cup
Baru saja bibir keduanya bersatu, pekikan Kei yang melengking menggagalkan olahraga bibir itu.
"Huaa! Ayah ngapain mau mam bibil na Bunaa!!"
Bersambung ...
Tinggalkan jejak nya seperti biasa. Dukungan kalian semangat author buat terus update.
*
βI Love You Alexander!β teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.
βApa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?β
βAlexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,β tekad Hanum.
Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.