TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 16



Hari semakin siang, perlahan mata tajam Kenan terbuka, Kenan memandang wajah menenangkan di depannya dari jarak sangat dekat. Kenan terkekeh pelan memikirkan tingkahnya yang terlihat bodoh kalau sudah berurusan dengan Kania.


Bahkan meeting tadi pagi sangat penting dengan Klain dari luar negri, dan untuk menjaga gadis di hadapannya ini bisa saja Bi Tuti kepala pelayan yang menjaganya. kenapa dirinya seolah tidak rela meninggalkan Kania sendiri tanpa se pengawasannya?


'Kenapa kau terus berada di pikiranku? saya sudah sangat yakin kalau saya menyukaimu Kania, tapi saya terlalu gengsi untuk mengungkapkannya'


Dibelainya pipi berisi Kania yang terasa lembut, tangannya perlahan turun kebawah ke area bibir ranum yang terlihat menggoda di mata Kenan.


Kenan mendekatkan wajahnya ke bibir ranum Kania, namun baru saja bibir tersebut akan menempel dering ponsel Kenan menghentikan aksinya


'Sial mengganggu saja!'


Kenan mengambil ponselnya kesal yang berada di atas naskah. tertera nama 'Leo' di layar tersebut "Apa? menganggu saja!"


"Maaf tuan"


"Sudahlah, ada apa kau menghubungi ku? apa ada masalah?"Kata Kenan sambil berjalan menjauhi ranjang menuju jendela.


"Itu tuan wanita itu berulah kembali, tadi dia kesini berteriak mencari tuan membuat seisi kantor heboh, bahkan saat satpam mengusirnya dia semakin menjadi dengan merusak barang barang yang ada di dekatnya"


"Bahkan sekarang dia masih ada di sini tuan"Lanjut Leo lirih


"Kenan! ingat aku akan tetap di sini sebelum kau datang!"Teriak wanita di sebrang sana


Kenan menghela nafasnya kasar. "Sudahlah saya akan segera ke sana, kau tau bukan sifat dia sangat keras kepala. pasti dia akan benar menungguku sebelum saya ke sana"


Kenan mematikan sambungan secara sepihak sambil menyimpan ponsel tersebut ke kantung celananya. Kenan berjalan mendekati ranjang, tepatnya berjongkok di depan wajah Kania yang masih terlelap tenang.


Tangannya terangkat mengusap lembut dahi Kania sambil tersenyum tipis. "Aku pergi dulu sebentar, kau cepat sembuh Kania saya khawatir melihat kau terbaring lemah seperti ini, hatiku resah seketika"


Ucapan Kenan tersebut di akhiri dengan kecupan hangat di dahi Kania sebelum dirinya berlalu keluar kamar.


Namun tanpa Kenan ketahui Kania terbangun saat tadi Kenan mengusap dahinya, Kania mati Matian menahan nafasnya saat Kenan melantunkan kata kata manisnya membuat jantungnya berdegup sangat kencang.


Kania bangun dari tidurnya bersandar di sandaran ranjang sambil memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.


"Hah? gu..gue gak salah denger kan barusan? huaaaaa!! ati Eneng meleyottt banggg, anjirr gue kayanya harus ke rumah sakit nih gue kayaknya sakit jantung hiks"Heboh Kania.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Keysa meregangkan tubuhnya yang terasa pegal saat pelajaran terkahir berakhir, namun tidak dengan Kirana dia malah menelungkup kan wajahnya di meja lesu.


"Anjirr ingin aing berkata kasar. dasar si Bu suk gak ngotak dia kasih tugas, sampe pinggang gue pegel"Oceh Keysa.


"Bener tuh, tapi kalo ada Kania pasti seru. biasanya dia kan yang selalu usulin si bu suk"Lirih Kirana.


"Udah kuy balik pen tidur gue ngantuk nih"Kata Fani menentang tasnya mendekati bangku Keysa dan Kirana.


"Dasar kebo, kan Lo tadi bilang mau jenguk Kania gimana sih lo"Delik Tina kesal.


"Elah kayak ga tau aja tuh anak matanya selalu lengket ke permen karek"Kata Keysa mendapat cengiran dari Fani.


"Udahlah ayo balik besok besok aja yak jenguknya? tapi ada baiknya Kania besok sehat sih"Kata Fani menggandeng tangan Tina keluar dari kelas mengikuti langkah Keysa dan Kirana.


"Serah Lo Faniwwww"Dengus Tina kesal.


Ke empatnya berjalan beriringan menuju tempat parkir, namun seketika mata Kirana membulat melihat keberadaan Migo yang bersandar di mobilnya tak jauh dari keberadaan nya.


Kisaran seketika langsung teringat dengan kejadian tadi pagi, dimana dirinya saling kejar kejaran masuk ke koridor kampus mengejar Migo yang membawa ikat rambutnya.


Namun naas Migo terlalu fokus melihat ke arah belakang tidak melihat ada tong sampah di depannya, dengan tidak elitnya dirinya nyungsep dengan kepalanya masuk kedalam tong sampah.


Migo yang tadinya di kagum kagumkan para kaum hawa dengan ketampanannya sekarang wajahnya sudah mengenaskan, semua orang yang melihatnya bahkan menahan tawanya agar tidak meledak.


Migo meringis malu, namun ada seseorang yang tertawa sangat kencang. ya dia Kirana melihat Migo nelangsa dirinya sangat bahagia. dari kejadian itulah membuat Migo sangat dendam kepada Kirana.


"Ajir key si Indomie belom pulang! gawat nih bisa habis gue sama masalah tadi pagi ngebuat dia jatuh di tong sampah!"Panik Kirana menggoyang goyangkan bahu Keysa.


Kirana heboh sendiri membuat Fani dan Tina bingung dengan tingkah sahabatnya.


"Fan, na, kita duluan pulang ye, ini gaswas tu dewattt antara hidup dan mati keselamatan gue. ayo keyy!"Teriak Kirana heboh membuat kedua sahabatnya menatap Kirana semakin bingung.


"Lo ken.."Omongan Tina terpotong dengan suara teriakan seseorang.


"Woy Lo mau lari kemana sukijem! sini lo"Teriak Migo.


Kirana langsung menarik tangan Keysa mengajaknya berlari. "Huaa!! Kania tolongin guee sumo ngamokkk! Key buruan lari yang kenceng"


"Woyy jangan lari lo!"Teriak Migo mengejar Kirana yang berlari menarik Keysa.


Wajah Keysa menatap masam Kirana yang terus menarik tangganya kesana kemari. Ya salam mereka yang punya masalah, lah Napa gue juga jadi korbannya seh


"Hua!! moster ngamokkk huaa!"Teriak Kirana masih terus berlari menarik Keysa mengelilingi erea parkiran.


Migo masih terus mengejarnya, bahkan mereka sudah menjadi pusat perhatian yang berada di sana.


"Berhenti sukijem Lo harus gue beri pelajaran! sini lo!"Teriak Migo murka terus mengejar Kirana berputar putar di area parkiran.


Terjadilah kejar kejaran anjing dan kucing di tambah saling teriak satu sama lain membuat kesan pelengkap perdebatan mereka.


Ajirr gue nyerah pusing ya Allah pala berbie, awas aja Lo nanti Kirana gue bejek bejek Lo sampe mampus, kesal gue lama lama sama ni anak


"Pusing gue lama lama liat mereka muter muter parkiran"Keluh Fani.


"Sama gue juga? tuh lagi Keysa ngenes banget nasibnya tubuhnya sampe terombang ambing di tarik Kiarana"Kata Tina menatap iba Keysa.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah megah bak sebuah istana seorang anak perempuan berumur 4 tahun terduduk di sebuah kursi taman sedang mengayunkan kakinya dengan wajahnya menunduk sendu.


"Tenapa Kei nda puna buna kaya yang ain?"


"Api ata Oma buna lagi cali uang uat beli oneka ama pelintes pelintesan na Kei, api napa buna nda alik alik tan Kei angen buna banak banak"Lirih Kei menatap kakinya yang menggantung dari kursi.


Dari arah belakang tak jauh Kei berada seorang wanita paruh baya mengusap air mata yang menetes keluar saat mendengar ucapan Kei membuat hatinya sesak serasa di tusuk ribuan jarum.


Wanita paruh baya itu tak tahan langsung menghampiri sang cucu langsung memeluk tubuh mungil itu. bahu mungil itu bergetar mendapat pelukan Omanya. Kei menangis terisak di pelukan Oma nya.


Oma Kei lebih tepatnya Khanza hanya bisa mengelus bahu bergetar cucunya sambil sesekali menghapus air matanya yang keluar dari kelopak matanya. sungguh hatinya sangat sakit mendengar isak tangis cucu tersayangnya.


"O..Oma tenapa buna lama banet ulang na? kan ayah uang na banak tenapa buna alus elja cali uang uat beli ainan?"Tanya Kei serak sambil mengusap air matanya yang tersisa di pipi gembul nya.


Khanza bungkam. dirinya bingung harus menjawab apa pertanyaan yang di lontarkan oleh Kei.Kei yang melihat Omanya diam memegang tangan Khanza.


"Oma.. Oma tenapa engong? Kei calah nomong ya oma? alo gitu Kei inta aaf oma"Lirih Kei menundukkan kepalanya merasa bersalah


Khanza berlutut menjajarkan tubuhnya sambil tersenyum paksa menatap Kai, tangannya terangkat mengusap lembut pipi gembul sang cucu. "Kei gak harus minta maaf ke Oma, kei tidak punya salah sama Oma harusnya Oma yang minta maaf sama Kei tidak menjawab ucapan Kei"


"Nda Kei di cini calah, Kei nda cabalan celalu elus anyain tentang buna ke Oma. alo engan Kei celalu nanya entang buna embuat Oma belcedih, Kei nda akan beltanya agi entang buna. Kei nda mau Oma belcedih"


"Kei cekalang akan telus beldoa cama aloh aja bial buna tepet pulang dali keldana bial Kei tepet ketemu buna oma"


Ucapan sang cucu membuat Khansa semakin terisak sungguh hatinya terasa sangat sakit anak sekecil Kei harus kehilangan piguran seorang ibu.


Tangan mungil Kei mengusap air mata yang berada di pipi Khanza. "Dah Oma nda oleh angis agi, Kei nda cuka liat Oma belcedih. udah cekalang ayo ita macuk ke alem dah mau magib"


Tangan mungil Kei menarik tangan Khanza masuk kedalam rumah dengan senyum manisnya tak luntur menatap sang Oma yang berjalan di sampingnya.


Kei cekalang nda akan celewet tanain buna ulang na tapan, cekalang Kei akan lajin beldoa cama aloh aja agar buna epat ulang, Kei uga akan beldoa cama aloh agak ayah celing celing ulang ke cini nda kelja telus di kantol. amin ya aloh.....


Bersambung