
"Tunggu! Aku mau bicara sebentar."
Suara pria yang tak asing di telinga Kirana menghentikan langkahnya, bahkan tangan pria yang ia hindari dua hari ini mencekal tangannya erat.
"Sebentar aja, aku mohon." kata Migo pelan, saat Kirana tidak merespon sama sekali.
Kirana berusaha melepaskan genggaman tangan itu, sedikit kasar. "Ck, yaudah Lo mau ngomong apa? Cepetan."
Migo tidak menjawab, dia malah menarik pelan tangan Kirana. Kirana yang capek berontak namun hasilnya sia-sia dengan pasrah mengikuti langkah besar Migo entah kemana akan membawanya pergi.
"Lepasin!"
Kirana menyentak tangannya saat Migo berhenti di sebuah taman belakang campus yang sepi.
Mata Migo menatap sendu tangannya yang di sentak begitu saja, dimana perlakuan lembut sang kekasih dulu?
"Aku minta maaf!"
Sebuah kata maaf keluar dari bibir Migo yang sedari tadi hanya diam. Tujuannya mengajak Kirana ke sana adalah untuk meminta maaf atas masalah yang dimana hubungannya dulu kandas begitu saja akibat ketidak percayaan nya.
Migo ingin memperbaiki hubungannya, dia mengaku salah, dia ingin memulai semuanya dari awal kembali.
"Maaf? Untuk apa?" kata Kirana menaikan alisnya menatap penuh tanya.
"Atas ketidak percayaan ku dulu. Aku gak bisa lupain sayang aku sama kamu Ki. Aku sudah tahu semuanya, aku minta maaf. Kamu mau 'kan maafin aku? Kita mulai hubungan kita dari awal lagi."
Kirana diam. Ingin rasanya bibirnya mengucapkan 'Iya, aku mau memulai nya dari awal' tapi, dia tak bisa. Ancaman yang Belle berikan pasti tidak main-main yang terus berputar di pikirannya.
Maafkan aku Migo, aku pengecut. Aku gak bisa liat orang tersayang ku celaka gara-gara hubungan kita.
"Ki, Kirana?"
Kirana tersadar dari lamunannya, menatap lurus kearah lain. Mati-matian Kirana menahan sesak di dadanya yang semakin bergemuruh. Melihat tatapan penuh harap di mimik wajah Migo, ia semakin merasa bersalah.
"Aku sudah memaafkan mu, Mig ..."
Mimik wajah Migo seketika berseri, berbinar bahagia Kirana memaafkan kesalahannya. Namun, senyuman bahagia itu tidak lama saat Kirana melanjutkan perkataannya yang sempat terjeda.
"Tapi, maaf. Untuk memulainya dari awal, aku tidak bisa," kata Kirana pelan memalingkan wajahnya ke arah lain berusaha menahan air mata yang dari tadi ingin tumpah.
Migo menatap lekat wajah Kirana dari samping, dia tersenyum miris mengerti baik ucapan wanita di depannya.
Tapi, apakah kesalahannya begitu patal di mata Kirana? Membuat wanita yang ia banggakan dan rindukan akhir-akhir ini menjatuhkan harapan besarnya.
Migo menghela nafasnya pelan, berusaha tenang, walaupun keadaan hatinya tidak baik-baik saja menerimanya penolakan dari wanitanya. "Kasih aku satu alasan, agar aku bisa yakin dengan ucapan mu, Ki."
"Aku sudah tidak cinta sama kamu."
Deg
Kirana sudah tidak kuat, ia pergi begitu saja dari taman tersebut meninggalkan Migo yang masih diam mematung mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang nyeri menerima kata yang tidak ingin ia dengar di mulut itu.
Segitu benci kah kamu sama aku, Ki? Akibat kebodohan dan kecerobohan ku. Sampai kamu begitu mudahnya melupakan cinta kamu begitu saja.
...πππππππ...
Migo berjalan gontai masuk ke dalam apartemen miliknya. Wajah kusut tidak ada gairah hidup dengan gaya rambut acak-acakan tak beraturan.
Migo menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa ruang tamu, dengan melempar tas beserta jaketnya asal.
Kepalanya sedikit pening, ia pikir setelah meminta maaf kepada Kirana akan mengembalikan hubungannya seperti semula. Tetapi, itu tidak benar. Dia sekarang harus menerima kenyataan bahwa Kirana nya sudah pergi untuk selama-lamanya.
Suara ketukan hak sepatu di lantai mengalihkan lamunan Migo memikirkan sang pujaan hati, bertepatan juga suara yang tak asing di telinganya memanggil namanya.
"Migo sayang, kamu udah pulang? Aku udah nunggu lama dari tadi loh."
Wanita itu adalah Belle, dengan tidak sopan nya wanita itu duduk di ruang kosong sofa bersandar di pundak Migo sambil bergelayut manja di tangan tersebut.
Nafas Migo naik turun menahan amarahnya yang akan meledak, dia tak suka sepuh badannya di pegang oleh wanita menjijikan di selebnya. Migo sangat muak melihat wajah so imut tersebut.
"Lep ..."
Migo menggantung ucapannya, saat Ingatannya kembali mengingat ucapan Kenan beberapa hari yang lalu, "Berpura-pura lah berpihak kepada mereka, kau ikuti saja permainan mereka sambil gali semua kebenaran yang wanita ja**ng itu sembunyikan untuk barang bukti nantinya."
"Bel kamu udah lama nunggu aku?" tanya Migo lembut walaupun di hatinya menahan enek kepada wanita di pinggirnya.
Belle menegakkan tubuhnya, menatap tak percaya Migo yang berbicara lembut kepadanya, tidak seperti Biasanya selalu berbicara ketus dan menatapnya jijik.
"Sayang, kamu ..."
"Iya, aku sudah sadar jika kamu wanita sempurna di bandingkan kekasihku yang tidak ada apa-apanya dari kamu. Aku minta maaf dengan semua perbuatan ku dulu, kamu mau kan memaafkan ku?" Migo menggenggam kedua tangan Belle secara terpaksa agar menyakinkan acting nya.
Yang pastinya Lo gak ada apa-apanya dari Kirana ku ja**ng. Lo ibarat batu kerikil dari Kirana sebuah permata berlian berharga.
Kedua mata Belle berbinar bahagia, dengan kurang ajarnya dia mendekap tubuh Migo erat. "Sayang, tentu saja aku pasti akan memaafkan mu. Aku seneng jika kamu sudah sadar, jika dia hanya orang miskin yang memanfaatkan mu saja."
"Tentu saja, aku baru menyadarinya." kata Migo memaksakan senyumnya di balik punggung Belle, dengan tangan yang mengepal menahan amarahnya.
Belle tersenyum licik di balik punggung tegap Migo. Ahaha ... akhirnya tujuan ku tak akan lama lagi, untuk menguasai harta mereka.
...πππππππ...
Ketiga sahabat asik saling mendekap satu sama lain di depan pintu mansion, Kania sudah nangis kejer tidak rela melepaskan kedua sahabatnya dan berjauhan darinya.
Gitu-gitu juga Kania punya rasa sedih di tinggal sama orang yang sangat dia sayangi lebih dari siapapun.
"Key, Ki. Lo berdua mending tinggal di sini sama gue. Gue gak bisa jauh sama kalian, hua!! 'Kan Kenan juga gak keberatan kok."
Sepasang kedua sahabat itu tersenyum simpul, mengusap punggung Kania yang bergetar dan mengusap jejak air mata yang keluar dari kelopak mata Kania.
"Gue gak enak tinggal di sini terus kan, kontrak gue sama Leo udah habis dari kemarin." kata Keysa memberi pengertian.
"Gue juga sama. Gue udah gak punya hubungan lagi sama Migo, dan itu berarti gue gak pantes tinggal di sini, Kan." kata Kirana.
"Terus Lo pada mau tinggal di mana? Udah, lebih baik kalian tinggal di sini aja, gak papa. Kenan gak mempersalahkan nya kok, biar gue gak kesepian juga di sini," bujuk Kania, dia tak rela berjauhan dengan kedua sahabatnya. Kania tidak siap berpisah.
"Itu gimana nanti. Tapi, jika soal tinggal di sini, keputusan kita udah bulat, kita gak bisa."
Suara bariton yang tiba-tiba muncul mengalihkan ketiga sahabat yang sedang melow melihat ke arah suara.
"Jika kalian tidak mau tinggal di sini. Lebih baik kalian tinggal di apartemen saya yang sudah lama tidak saya tempati. Saya tidak menerima penolakan, saya tidak mau melihat kekasih saya cemas dengan kalian jika mencari kontrakan yang tidak menjamin keamanannya," kata Kenan melipat tangan kemeja putih dalam jas hitam yang menyampai di tangan satunya lagi.
Kania mengangguk cepat mengiyakan ucapan Kenan. "Nah bener. Lo berdua harus mau pokoknya, titik. Jika ngga, gue marah sama kalian."
Keysa dan Kirana saling tatap, dengan isyarat yang Keysa berikan keduanya mengangguk ragu membuat Kania tersenyum bahagia.
Sungguh Keysa dan Kirana yang tadinya tidak ingin merepotkan Kenan dengan cara keluar dari mansion itu, malah sama saja merepotkan Kenan dengan menempati apartemen miliknya.
Kenan mengambil sesuatu dari kantung celana. "Ini alamat tempat, dan kamar apartemen saya dan sudah komplit dengan kartu kunci apartemen saya. Untuk orang di apartemen akan saya hubungi, agar tidak bingung jika kalian datang menempati apartemen saya nantinya."
Keysa mengangguk ragu, mengambil apa yang Kenan sodorkan kepadanya sebelum masuk kedalam taksi yang dari tadi menunggu.
"Lo pada hati-hati ya, jika udah sampe langsung hubungi gue awas. Jangan lupain gue juga, awas aja Lo berdua, hiks ..." teriak Kania, melihat taksi yang keluar dari gerbang mansion, dengan kedua sahabatnya menyembul di jendela mobil menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangannya.
Kania menatap sendu mobil yang sudah tidak terlihat, Kenan yang mengerti merangkul pinggang Kania mesra.
"Kamu jangan sedih, 'kan masih bisa main ke sana, dan juga masih bisa ketemu di kampus ka ..."
Suara klakson mobil yang nyaring, bertepatan mobil hitam masuk ke pekarangan mansion.
"Dimana Keysa!" tegas Leo dengan nafas naik turun setelah keluar dari mobil menuntut jawaban kepada Kenan.
Leo yang di beritahu para anak buahnya jika Keysa akan keluar dari mansion langsung melesat menjalankan mobilnya kesetanan sepanjang perjalanan.
"Keysa? Mau apa kau? Apa gunanya saya memberi tahu kau, dia bukan siapa-siapa nya kau bukan?"
Skak mat dari Kenan membuat Leo bungkam.
"Gue gak perduli! Dimana Keysa sekarang!" teriak Leo frustasi, khawatir jika Keysa benar pergi.
Kania terkekeh sinis. "Setelah Lo sakiti hati sahabat gue, memangnya gue harus gitu kasih tau keberadaan Keysa sekarang di mana? Menyesal hem? Menyesal karena udah sakiti Keysa, sekarang? Di mana hati nurani Lo dulu pas Keysa hatinya hancur? Apa Lo perduli sama dia?"
Kania meluapkan isi hatinya menggebu-gebu. Ingin rasanya Kania menonjok wajah pria brengsek di depannya yang tengah menundukkan wajahnya dalam.
"Arghhhh!!!"
Leo masuk kedalam mobilnya tergesa-gesa, ia membelok mobil dengan satu kali belokan setelah itu menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan mansion dengan kecepatan di atas rata-rata.
Gue tahu Lo Le, kalo Lo udah punya rasa sama Keysa dari dulu. Tapi, karena ke gengsian Lo itu, membuat Lo terjerumus sendiri dengan ke gengsian Lo sekarang.
Bersambung ...
Huaa, maaf baru bisa up sekarang. Sumpah author sibuk banget di dunia nyata, selalu bentrok terus jika mau nulis. Tapi ini sepesial, author nulis agak panjangan buat kalian.π
Pokoknya tinggalkan jejak terus dnegan like dan komentar positifnya. Kasih dukungan juga author agar semakin semangat up dengan kasih hadiah dan vote nya.
See you..
*
JUDUL: KEMBALINYA SUAMIKU
NAPEN: SUSANTI 31
Β Salsa Natasya Anajani tidak pernah menyangka akan mendapat kejutan yang luar biasa di hari ulang tahun putra kecilnya. Suami yang telah lama tiada kini kembali lagi dengan versi yang berbeda, mungkin fisik dan ketampanan masih sama, tapi tidak dengan sikap dan cinta untuknya. Azka Afrizal Wijaya pulang dengan ingatan yang hilang sepenuhnya, bahkan dengan tega mempertanyakan status Salsa istrinya. "Apa benar dia anakku dan kau istriku? Apa kau punya bukti tentang itu?" Mampukah Salsa membuktikan statusnya pada Azka? Atau ia harus menjadi asing di mata suaminya sendiri?Β