
Hari ini, bertepatan hari dimana Keinara sudah di nyatakan boleh pulang, dengan tada kutip harus banyak istirahat. Namun, kesenangan hati Kania yang melihat anaknya sudah sehat dan boleh pulang, tidak dengan raut wajahnya sekarang.
Kania menatap sendu Keinara yang kini habis selesai di mandikan oleh Mama Khanza. Hati kecil Kania sakit, saat tadi mendapatkan penolakan dari sang anak saat Kania akan memandikan Kei.
Bukan hanya itu saja. Kania merasa, sedari tadi Kei bangun dari tidurnya, Kei seperti mengacuhkannya. Saat Kei berteriak ingin pipis tadi pagi, Kei mengabaikan ajakannya untuk mengantar, Kei malahan minta di antar oleh sang Oma.
"Kei, sayang. Mau Bunda bantu untuk memakai baju?" tanya Kania lembut, mendekati Kei yang tengah duduk di pangkuan Mama Khanza sedang di kasih minyak telon dan bedak bayi.
Kei menatap sejenak wajah cantik Kania, menggelengkan kepalanya pelan. Kania yang mendapatkan penolakan kembali, menghela nafasnya pelan. Pikiran mungilnya berpikir keras mengingat-ingat kesalahan, yang membuat anaknya mengacuhkannya.
"Udah, kamu beresin semua bajunya Kei ya sayang. Biar, Mama aja ini yang pakai kan Kei baju, tanggung juga." kata Mama Khanza melontarkan senyum manisnya, membuat Kania mengangguk patuh, terpaksa mengiyakan.
Kania sedang fokus melipat baju Kei memadukan nya kedalam tas ransel untuk baju kotor tersebut, sesekali juga bibirnya menerbitkan senyum melihat Kei tertawa lepas saat Mama Khanza menciumi wajah gembul Kei.
Suara decitan pintu terbuka, mengalihkan tatapannya Kania. Kania menerbitkan senyuman manisnya kembali, melihat sang kekasih sudah kembali setelah mengurus administrasi.
"Mas, gimana udah mengurus semua pembayarannya?" tanya Kania mengangkat tas ransel yang sudah di isi baju kotor Kei, untuk di simpan di sofa singgel.
"Heem."
Sebuah deheman singkat, Kenan berikan kepada Kania. Membuat Kania terdiam beberapa saat, menatap wajah sang kekasih yang terlihat datar tanpa ekspresi menatapnya sekilas.
Kenapa lagi ini, ya tuhan?
"Ayah! Ayah! Kecini cepetan!" pekik Kei girang, dengan senyuman yang tak luntur dari bibir mungil Kei.
Mimik wajah Kenan, langsung berubah menjadi hangat, menatap wajah sang anak yang terlihat kegirangan, dengan mudah, Kenan mengangkat tubuh mungil yang berada di pangkuan sang mamah dalam gendongannya.
"Putri kesayangannya Ayah kok senang banget si hari ini? Kasih tahu Ayah dong, apa si yang membuat Kei senang, hem?" kata Kenan, menarik gemas hidung mungil Kei.
Kei tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. "Hehe, Kei cengeng banget-banget Ayah, kalena Kei udah bica pulang. Kei nda cuka di cini, bau banget obat, menganggu banget hidung na Kei"
"Oh ya? Bagus dong. Ini berkat Kei, udah jadi anak pintar mau minum obat." kata Kenan mengusap gemas pipi tumpah Kei yang sedikit memerah.
"Sudah-sudah, katanya Kei mau pulang, kok dari tadi nyerocos terus si?" lerai Mama Khanza, memotong celetukan sang cucu yang berembet kemana-mana.
Kei cekikikan, melihat wajah Omanya yang terlihat kesal. Kei menyodorkan kedua tangannya, minta di gendong.
"Oh, jadi cucu cantiknya Oma ini mau di gendong, hem?" kata Mama Khanza mengecup setiap inci wajah mungil Kei, membuat Kei tertawa kegelian.
Sementara, Kania yang hanya menjadi penonton ketiganya, tersebut miris dalam hati. Dia bersa tersisihkan, tak di anggap keberadaan dari tadi.
Aku salah, terlalu berharap lebih.
"Hey, sayang. Ayok kita pulang!" kata Mama Khanza, membuyarkan lamunan Kania.
Kania mengangguk pelan, mengikuti langkah Kenan dan Mama Khanza dari belakang, tatapnya menatap sendu punggung tegap Kenan dan wajah Kei yang tertutup rambut calon mertuanya.
Maafkan aku sayang, aku terpaksa melakukan semua ini, agar rencananya berhasil.
Kei yang mencuri-curi pandang dari rambut Omanya yang menghalanginya, mengintip wajah sendu sang Bunda yang tengah menunduk.
Maapin Kei, ya Buna. Kei di pakca cama Ayah buat diemin Buna. Kata na bial lencana nya belhasil. Kei, sebenalnya bingung lencana yang Ayah bilang itu apa. Tapi kata Ayah, nanti akan buat Buna ceneng. Maapin Kei ya Buna cekali lagi.
"Pokonya kalau, nanti Buna malah cama Kei, gala-gala lencana nya Ayah. Kei bakalan malah cebulan sama Ayah." gumam Kei pelan masih bisa di dengar oleh Mama Khanza.
...๐๐๐๐๐๐๐...
Kini, Kania tengah duduk melamun di meja makan sambil mengaduk-aduk teh manis di depannya. Pikirannya melayang kembali memikirkan sikap Kenan yang kembali dingin kepadanya. Apa dirinya mempunyai kesalahan? Tetapi, apa itu? Kania merasa hubungannya bersama Kenan, baik-baik saja.
Sebuah dering ponsel miliknya, mengadakan ada pesan masuk mengalihkan arah tatapan Kania. Matanya berbinar bahagia melihat nama sang kekasih yang mengirimnya pesan.
"Maaf sayang, tadi aku mengabaikan mu. Aku lagi pusing dengan kerjaan ku yang numpuk akhir-akhir ini. Gimana, kalau sebagai gantinya permintaan maaf ku, kita dinner romantis nanti malam. Aku akan mengirimkan tempat nya nanti. Maaf sekali lagi, aku gak bisa jemput kamu, kita bertemu di sana saja. I love you."
Isi pesan Kenan membuat Kania senyum-senyum sendiri. Hatinya bahagia, ternyata Kenan mendiami karena hanya masalah pekerjaan, bukan karena hal yang lainnya Kania takutkan.
Tetapi, raut wajahnya kembali murung, mengingat sikap Kei yang mengabaikannya tadi pagi.
"Bestii Lo dimana!" teriak Kirana tak kalah seperti toa mencari.
Kania memutar bola matanya malas, melihat kedua sahabatnya sudah berada di depannya sedang cengegesan tak jelas. Terus, buat apa keduanya teriak-teriak tidak jelas, kalau tahu keberadaannya di mana.
"Terus, paedahnya kalian teriak itu apa? Udah tau, gue di sini juga!" ketus Kania, kesal karena karena kedua sahabatnya telah merusak acara melow nya dengan pekikan toa yang langsung pecah begitu saja.
"Hehe, kan kita takutnya, Lo gak denger." kata Kirana mencoba membela.
Keysa duduk di kursi sebrang Kania, menyerobot teh manis yang Kania pegang begitu saja, menyeruputnya tanpa dosa.
"Ah segarnya!"
"Anjrit, kenapa Lo embat minuman gue dodol. Bisa kan, buat sendiri." kesal Kania, menatap nyalang sahabatnya yang tanpa dosa menyodorkan kembali sisa teh manis yang hanya setetes.
"Elah pelit banget Lo, sama bestiii sendiri juga. Iya gak Kir?" kata Keysa mencari pembelaan, Kirana yang namanya di sebut, menganggukkan kepalanya bingung, dia sedang fokus memakan keripik kaca di toples.
"Eh Kan, malam nanti, kita jalan bertiga yok? Kapan lagi coba?" ajak Keysa merubah wajahnya menjadi serius.
"Gue gak bisa, kalo malam nanti." jawab Kania, membuat Kirana yang fokus dengan keripik menolehkan kepalanya.
"Gak asik lo, masak gak bisa si? Kita jarang banget jalan loh, kita selalu sibuk dengan kehidupan kita masing-masing."
"Maaf. Gue malam nanti beneran gak bisa, gue mau makan sama Kenan, dia mau ..."
"Gue merasa kehilangan sifat Lo yang dulu, Kan. Gue kecewa sama lo. Dimana kalo kita mau jalan, Lo pasti selalu ada waktu. Tapi, sekarang? Lo lebih penting kan jalan sama pacar Lo itu kan? Di bandingin kita." sinis Keysa, menatap tak percaya sahabatnya.
"Key, bukan gitu maksud gue. Gue ..."
"Udah deh Kan, kita emang gak berarti lagi di hidup Lo. Gue juga kecewa sama lo, lo berubah Kania, gue berasa gak kenal lo!" kata Kirana sinis, berlalu begitu saja dari meja makan tersebut.
Kania bingung, dia tak bermaksud untuk menolak ajakan kedua sahabatnya. Jika Kania tak datang nanti malam, Kenan pasti bakalan kecewa. Tetapi, keadaan sahabatnya? Kania harus menjelaskan maksudnya, agar tidak salah paham.
"Key!" panggil Kania, melihat Keysa akan pergi juga.
"Gue kecewa sama lo. Gue Kehilangan Kania yang dulu. Kania yang selalu pentingin kedua sahabatnya, bukan kayak sekarang. Gue muak liat wajah Lo. Sekarang, dan selamanya!" kata Keysa, menusuk tepat di hati Kania.
Kedua mata Kania sudah berkaca-kaca, Kania tidak bermaksud membuat kedua sahabatnya kecewa, jika Kania tahu respon keduanya akan seperti sekarang. Mungkin, lebih baik Kania batalkan saja dinner bersama Kenan.
"Key! Gue minta maaf!" lirih Kania.
Bersambung ...
Author gantung dulu aja ah. Besok lanjut lagi. Eh jangan lupa, bawa hadiah ya kalean, buat kado ulang tahun Kania nanti. Ntar undangannya nyusul, pokoknya dateng ya, author tunggu๐.
Seperti biasa, like dan komennya sebagai jejak.
Kasih taburan bunga, dan vote nya juga๐ฅบ.
See you ... Sampai bertemu lagi dengan Author ketjeh ini di next Chapter ๐คธ๐คธ.
*
"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.
"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.
Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.
"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.
"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.
Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.