
Migo yang melihat Kirana meringis kesakitan memegangi kakinya langsung bergegas lari tanpa menghiraukan orang-orang yang meneriakinya agar tak mendekati ke Pantai.
Permukaan bibir Migo terangkat menampakkan senyum saat mendengar suara air dari arah belakangnya, ternyata masih ada orang yang baik hati untuk menyelamatkan kekasihnya yang menahan sakit.
Migo meraih pinggang ramping Kirana di bantu dengan dua orang laki-laki yang membantunya, membantu tubuh Kirana agar menepi agak jauh dari pesisir pantai. Bertepatan juga gelombang ombak besar tersebut menyapu habis barang yang masih di tinggalkan di pesisiran membawanya ke tengah laut.
Semua orang yang menyaksikan itu menghela nafasnya lega karena tidak ada korban jiwa yang terbawa gelombang ombak besar tersebut. Namun tidak dengan salah satu orang dari ribuan orang yang berkumpul, sosok misterius memakai baju serba hitam, topi di kepalanya menutupi wajahnya yang berdecak kesal.
"Halo nona, rencana yang pertama saya jalankan gagal total, kekasihmu tadi langsung menolong gadis tersebut di bantu juga dengan beberapa pengunjung."
"..."
"Maaf nona, baik. Saya akan menunggu perintah nona dari sana kembali, saya akan terus pantau mereka dari kejauhan."
Bibir pink yang kini sudah berubah menjadi pucat masih diam seribu bahasa tak mengeluarkan suaranya, Kirana masih syok, pikiran entah berkeliaran kemana.
"Sayang? Hey?" Migo menggoyangkan bahu kekasihnya pelan untuk menyadarkan lamunan Kirana, sungguh tatapan kosong dari mata indah kekasihnya membuatnya khawatir.
Kirana masih diam tak merespon, tangan besar Migo meraup permukaan wajah Kirana agar menatap wajahnya. "Hey? Are you okay? Jangan membuat ku khawatir"
Kedua mata Kirana perlahan mulai berembun, bibirnya bergetar menahan Osaka tangis yang akan pecah. Migo menarik tubuh Kirana membenamkan nya di dada bidangnya.
"Udah tidak apa, sekarang kamu udah ada di sisi aku."
Tangisan Kirana pecah, bahunya bergetar dengan Isak tangis yang semakin terdengar. Migo dengan sabar mengusap punggung tersebut untuk menenangkan Kirana.
"A-aku kira, tadi akhir dari hidup ku, aku kira juga aku udah terbawa gelombang ombak itu... hiks... aku kir.."
"Udah jangan di lanjutin lagi, aku gak suka kamu berbicara seperti itu." Migo melerai pelukannya, tangannya mengusap sisa air yang berada di pipi Kirana sambil tersenyum mengejek, "Wajah kamu kok kayak zombie ya sekarang, lihat tuh maskara nya merosot bebas."
Kirana tak terima mendengar ejekan yang terlontar dari mulut Migo, bukannya menenangkan nya, ini malah mengejeknya dengan sikap tengil Migo yang menyebalkan.
"Jadi aku kayak zombie, hem?" tanya Kirana berkacak pinggang menghapus kasar sisa air matanya yang tersisa, yang katanya sudah mencampur dengan maskara.
"Lahh i-ya, kan aku mengungkapkan apa yang aku lihat sayang, hehehe." kata Migo menampilkan cengiran menyebalkan nya sebelum lari terbirit-birit menghindari amukan Kirana.
"INDOMIE SIALAN! MAU LARI KEMANA HAH!"
...****...
Suara ketukan pintu di luar ruangannya mengalihkan pendengaran Kenan sedang mendengarkan ocehan Kania di sebarang sambungan telpon sambil memeriksa berkas di meja miliknya.
"Sudah dulu sayang, nanti aku hubungi lagi oke? Selamat siang cintanya Kenan, love you!"
Kenan kembali menyimpan ponsel milikinya di saku celana. Suara ketukan pintu dari luar semakin keras, kenapa Leo mengetuk pintu se keras itu? Sungguh tak biasanya.
"Masuk!" tegas Kenan, raut wajah Kenan menjadi datar melihat siapa orang yang masuk kedalam ruangannya.
Muak. Itulah pancaran sorot mata Kenan kepada wanita yang bernama Shevina, dia sempat tak habis pikir dulu pernah berpacaran dengan wanita ular di depannya. Bukan hanya sebuah pacaran belaka, Kenan sempat akan menikahinya.
"Sayang... kok kamu ngomongnya gitu sih." kata Shevina dengan suara yang di buat se-menggoda mungkin, sambil berjalan berlenggak-lenggok mendekati Kenan.
"Diam di tempat mu!"
Shevina tak menghiraukan bentakan Kenan, tangannya dengan berani bergelayut manja di tangan kekar Kenan, dengan sengaja menggesekkan dada montoknya ke tangan tersebut.
Wajah Kenan merah padam, bukan karena menahan gairah dengan gesekan beda bulat tersebut, melainkan menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun.
"Jangan berani menyentuh tanganku jal**g sialan!" teriak Kenan, menyentak kasar tangah menjijikan Shevina.
Shevina tersenyum licik. "Kau akan menjadi milikku lagi sayang, selamanya. Kau tak boleh bahagia selain bersama dengan ku!"
Kenan duduk di ujung meja bersidakap dada, matanya menatap penampilan wanita di depannya dari kaki sampai ujung kepalanya sambil tersenyum devil mengerikan.
"Silahkan jika kau bisa!" Kenan berjalan mendekati tubuh Shevina mencondongkan tubuhnya, Shevina bersorak dalam hati, dia yakin Kenan masih mencintainya.
"Maka hidupmu akan hancur di tanganku hanya menghitung menit saja." bisik Kenan sangatlah mengerikan membuat bulu kuduk Shevina berdiri.
"Apa kekasih mu tahu soal masalalu mu itu?" tanya Shevina tersenyum licik, membuat langka kaki Kenan terhenti, membalikan tubuhnya menatap tajam Shevina.
"Kau tak berhak mencampuri urusan ku! jangan pernah kau bicara sembarangan di depannya!"
"Jadi benar dugaan ku? Hahaha... kayaknya seru kalau aku memberitahunya. pasti reaksi kekecewaan pacar kesayangan mu itu seru, saat tahu kebenarannya. Mungkin dia akan meninggalkan mu." kata Shevina tersenyum licik, "Tapi tak apa sayang, kau masih mempunyai ku kalau dia meninggalkan mu nanti."
Bilang saja Shevina sudah gila sekarang. Dia tak benar-benar mencintai Kenan sekarang, dia hanya ingin hartanya saja. Akibat sakit hatinya duku saat Kenan memutuskan hubungannya secara tiba-tiba membuat Shevina menutup matanya rapat-rapat untuk membalaskan dendamnya.
Kenan tak boleh bahagia, dia harus merasakan sakit hatinya yang dulu dia rasakan saat saat di tinggalkan begitu saja tanpa memperdulikan perasaannya.
"Jika kau berani silahkan. Sebelum kau menjalankan rencana ular mu itu, saya akan pastikan kau akan mati terlebih dahulu!" kata Kenan datang, kembali terduduk di meja kebesarannya. Walaupun bibir Kenan seolah-olah tenang tidak dengan hatinya, dia merasakan kegusaran kalau ucapan Shevina benar terjadi.
Pintu ruangan terbuka, Leo datang bersama kedua satpam yang menunduk sopan dengan tangan bergetar takut melihat tatapan elang Kenan.
"Maaf tuan kita kecolongan tak melihat nona Shevina masuk."
"Kalian seret dia keluar dari ruangan saya sekarang. Sebelum kesabaran saya habis!" kata Kenan dingin.
Kedua satpam itu mengangguk patuh akan memegang tangan Shevina, namun langsung di tepis kasar. "Huh.. saya bisa keluar sendiri! Minggir!"
Sial, si kuman itu sudah mati, tapi masih aja ada penghalang untuk mendapatkan Kenan! pokonya aku akan mengambil Kenan kembali walaupun dengan cara kasar sekali pun.
Bersambung...
Jangan lupa kasih dukungannya terus dengan like dan komen positifnya dari kalian.....