
Mata bulat Kania, menatap tajam penuh permusuhan Leo yang tengah mengobrol serius di depan pintu. Kania menandai akan menyeleding Leo, sekertaris menyebalkan Kenan itu
"Kau sudah urus wanita jal**g itu?" tanya Kenan datar.
"Sudah. Saya sudah beri dia hadiah sedikit. Apa tuan mau menambahnya?" tanya Leo datar, memasukan tangganya ke saku celananya.
Anjir. Apa cuman perasaan gue aja kali ya? Kok jadi dingin benget ni ruangan. Apa jangan-jangan ada pergelutan setan ya?
(Pergelutan setan dingin noh Kan, di depan pintu😁)
"Tidak. Saya tak sudi, tangan saya mengenai kulit ja**ng itu seujung kuku pun. Kau urus saja dia." jawab Kenan datar, dia tak sudi tangan sucinya ternodai wanita menjijikkan itu. Tangannya hanya boleh di pegang oleh Kania seorang.
"Kalau bisa, buang saja dia ke pulau terpencil yang tidak ada penduduk. Biarkan saja dia mati kelaparan."
Leo mengangguk patuh. "Baik Tuan. Akan saya laksanakan. Tetapi, sebelum itu. Saya masih ingin bermain-main dengannya."
Kenan mengangkat bahunya acuh, dia tidak perduli. Kalaupun Leo akan menghabisinya di ruangan rahasia itu sekalipun.
"Saya tidak perduli. Kau bebas memegangi tubuhnya dengan puas, jika ingin menyetubuhinya juga tak apa." kata Kenan tanpa beban, sambil berjalan menuju Kania yang tengah berbaring di sebelah Kei yang masih tertidur pulas.
Cup
"Beda dengan tangan Saya. Tangan Saya hanya untuk Kania ku. Tidak akan aku biarkan orang lain memeganginya. Jika kau? Masih tak laku juga, jadi bebas mau pegang siapapun itu."
Wajah Kania sudah bersemu merah mendengar ucapan Kenan, Kania berasa sangat istimewa di kehidupan Kenan. Tetapi, tidak dengan Leo. Wajahnya sangatlah datar menatap kedua sejoli yang di mabuk asmara.
Sial! Lihat saja nanti, Saya pasti akan mendapatkan wanitaku itu.
"Eh iya, kau pulang lah. Mampir ke kantor terlebih dahulu untuk menyimpan itu berkas yang sudah saya periksa tadi tolong bawa, dan simpan di meja kerja saya."
Raut wajah Leo semakin tak enak, wajahnya semakin datar menatap malas Kenan yang dengan seenaknya memerintah nya. Apa dirinya tak punya perasaan, tubuhnya sangat lelah dengan semua pekerjaan Bos menyebalkan akhir-akhir ini yang harus dirinya kerjakan.
Kania yang bersandar di dada bidang Kenan, berusaha menahan tawanya yang akan meledak, melihat ekspresi masam Leo. Wajahnya kek nahan berak ajrottt. Wajahnya terpaksa banget, jalanin perintahnya pacar gue coba. Bwahaha dia jadi babu.
"Ada apa dengan wajah kau? Kau tak terima Saya suruh?"
"Tidak. Saya sangat ikhlas. Gak ada gunanya juga saya di sini, hanya melihat kebucinan anda yang sangat membosankan." kata Leo datar menekan semua perkataannya.
Dengan perasaan dongkol dan kesal, Leo berlalu begitu saja keluar ruangan, tanpa memperdulikan tawa pecah kedua pasangan menyebalkan yang sudah berani mengejeknya.
Dia tak suka di remehkan. Lihat saja nanti kalau saya punya kekasih. Saya akan pamerkan ke mereka!
(Jangan jilat ludah sendiri kang kutub, dulu katanya punya kekasih itu repot. Semua cewek sama aja. Jangan kira Author lupa ya, pen di getok heh pake pantat panci yang udah item?😏)
Keadaan loby rumah sakit yang terlihat agak rame, kemunculan Kenan yang dengan gaya cool nya memainkan ponsel di tangannya, membuat para kaum wanita memujinya secara terang-terangan.
Leo muak. Dia tidak suka kebisingan. Para kaum hawa menyorakinya hanya karena paras tampannya. Dasar wanita gatel. Kayak baru liat Pria tampan saja. Cih membosankan.
Langkah Leo terhenti saat indra penciumannya mencium aroma parfum yang sangat familiar untuknya. Dengan cepat, tangannya menahan langkah wanita tersebut. Membuat langkah wanita tersebut terhenti.
"Tunggu!"
Keysa dengan malas membalikkan tubuhnya, kenapa masih bisa ketahuan oleh Leo, padahal Keysa sudah menundukkan kepalanya dalam saat melewati Leo.
"Apaan sih! Lepasin gak! Gue buru-buru!" sentak Keysa, berusaha melepaskan genggaman erat tangan Leo.
Bukannya melepaskan, Leo semakin menguatkan genggaman tersebut. Mengapa dari lubuk hatinya yang paling dalam, Leo tidak menyukai sifat memberontak Keysa, bahkan sifat acuh Keysa sekarang.
"Diam! Jika tak ingin tangan mu terluka." tegas Leo menahan amarahnya agar tidak meledak.
Keysa menyentak kesal melepaskan tangannya dari genggaman Leo. "Lo maunya apa sih? Jangan pernah usik lagi kehidupan gue! Bukannya Lo seneng gue sekarang gak usik kehidupan Lo kan, terus kenapa Lo masih gangguin hidup gue. Nyesel?"
"Jangan banyak tingkah. Kau masih terikat kontrak bersama saya, berarti Saya masih berhak mencampuri urusan kau!" tekan Leo berusaha mengelak apa yang Keysa ucapkan.
"Ck, yaudah. Ada urusan apa Lo halangi jalan gue?" tanya Keysa tak mau berdebat, dia takut tergoda kembali dengan wajah Leo yang semakin hari, semakin menggoda imannya saja. Kalau Keysa tak mengingat hatinya pernah di hancurkan begitu saja, mungkin Keysa bakal kebablasan.
Leo diam tak bergeming menatap dalam sorotan mata Keysa yang menatap malas. Kemana tatapan binar dan memujanya dulu setiap melihatnya? Apa benar Keysa sudah berhasil melupakan nya?
Jika benar, apa secepat itu, dia melupakan perasaannya pada saya? Tetapi kenapa saya merasa kehilangan sifat Keysa yang dulu. Kenapa saya merindukan tatapan ke-kaguman Keysa menatap saya, bukan sekarang.
"Malah diem lagi. Udah deh kalau Lo gak ada perlu sama gue, gue duluan." kata Keysa memutar matanya malas.
"Kau kesini sama siapa?" tanya Leo memasukan tangannya ke saku celana.
"Kenapa Lo jadi kepo sih! Terus apa manfaatnya gue bilang sama Lo. Lo siapa nya gue heh?"
Leo mantap datar Keysa, entah mengapa dirinya tak menyukai celetukan kesal yang Keysa ucapkan. "Saya sudah bisa menebaknya. Kau di antar sama Pria yang ngaku-ngaku menunggu wanita yang berarti dalam hidupnya kan?"
Cih. Leo mengetahui kebenarannya, kalau mereka tidak memiliki hubungan spesial sama sekali. Leo dengan niat nya menanyakan di grup karyawan kantor.
Bahkan Leo sempat mengeluarkan kontak Bian agar tak mengintip pembicaraan tentang kedekatan Bian bersama Keysa, dan jawaban mereka kalau mereka dekat baru 2 hari yang lalu, dan tidak ada tumor malau mereka punya hubungan spesial.
"Itu Lo tahu kan? Kenapa harus tanya lagi sama gue?" kata Keysa, mulai kesal dengan tingkah tidak jelas Leo.
"Saya gak suka kau berdekatan dengan dia."
Keysa menaikan satu aslinya, dia tertawa sinis. "Tidak suka? Lantas apa hubungannya sama anda, tuan Leo yang terhormat. Anda jangan plin-plan deh. Saya sudah menuruti perintah anda buat menjauhi anda, saya sudah lapang dada menerima penolakan anda dulu."
"Tetapi kenapa anda sekarang menjadi berbalik menjadi saya dulu? Termakan omongan sendiri? Heh. Jangan mempermainkan perasaan saya pak, setelah saya mulai melupakan anda, kenapa anda dengan seenaknya datang kembali ke kehidupan saya."
"Jangan campuri lagi urusan saya. Seharusnya anda malu, anda sendiri yang menyuruh saya untuk menjauhi dan tidak mencampuri urusan anda."
Sakit. Mengapa hati Keysa teras sakit kembali, mengingat kejadian itu. Keysa memalingkan wajahnya berjalan meninggalkan Leo yang terdiam seribu bahasa di tempatnya.
Langkah Keysa terhenti sejenak, ekor matanya lirik tubuh Leo yang masih terdiam tak bergeming. "Tolong jangan ganggu saya lagi. Sudah cukup sakit hati yang anda berikan dulu, jangan menambahkan nya lagi."
Bersambung ...
Maaf ya gais baru bisa up hari ini. Kasih terus dukungannya pokoknya dengan like komen. Hadiah yang banyak dan vote nya jangan lupa ya hehe ...
Sambil nunggu kelanjutannya cerita TRIPLE 'K', mampir juga yuk kecerita yang tak kalah seru juga. Cus kepoin ...
*
Terlahir sebagai putri seorang ningrat, terbiasa dengan aturan yang begitu ketat membuatnya susah didekati kaum Adam.
Terpaksa menikah karena perjodohan, tetapi sebelum pernikahan terjadi sang mempelai pria justru meninggal karena hal mistik.
Konon karena ia adalah perempuan spesial dengan sebutan "Bahu Laweyan". Akankah ia mampu bertahan di atas kutukan yang tidak pernah ia minta?