TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 58



Keysa duduk termenung di gazebo pinggir kolam renang, pikirannya masih di penuhi oleh bayangan Leo, Pria yang susah untuk Keysa hapus dari memory nya begitu saja.


Satu tetes air mata kembali jatuh dari kelopak matanya, kenapa hatinya selalu sakit jika memikirkan tentang itu kembali? Dirinya tak boleh larut dalam kesedihan, dirinya pasti bisa bangkit kembali.


Keysa mengusap buliran air yang akan kembali jatuh. "Gue pasti bisa bangkit, ayok Keysa, Lo bukan Wanita lemah. Buktikan pada lelaki brengsek itu, kalau Lo bisa lupain dia!"


Bener. Keysa harus bangkit, dia bukan wanita lemah. Dia akan membuktikan itu semua, Pria di keluaran sana masih banyak, dia yakin masih banyak di luar sana yang pasti akan menyayanginya, dan tidak akan menyakiti hatinya.


Tepukan seseorang di bahu Keysa membuatnya terperanjat kaget, Keysa buru-buru menghapus jejak sisa air matanya agar tak terlihat oleh orang lain.


Keysa tersenyum menatap Kania yang duduk di sebelahnya, dengan jahil sahabatnya itu menyomot toples kacang yang di pegang Keysa.


"Lo kenapa malam-malam di sini? Dingin loh Key. Gak biasanya Lo menyendiri sambil ngelamun kayak tadi." kata Kania, memasukan kacang ke mulutnya.


"Hah, hehe ... gak papa kok. Gue pen ngadem aja, pusing sama pekerjaan akhir-akhir ini numpuk, pusing pala gue."


Kania mendelik, mengambil kembali kacang di dalam toples yang di pegang Keysa. "Kalo Lo gak mau capek, udah ambil saran gue yang dulu aja, ngepett bestiii. Tenang gue yang jaga lilin, Lo sama Kirana keliling."


"Dasar temen sedeg, gue santet Lo lama-lama." kesal Keysa menuding dahi Kania. "Eh iya, si Kirana kemana si? Gue perhatiin akhir-akhir ini tu anak sibuk bener."


Kania mengangkat bahunya acuh, dia tak perduli dengan sahabat sebleng nya satu lagi, toh pasti tu anak bakal balik lagi.


Keadaan menjadi hening, keduanya larut dalam pikirannya masing-masing. Pikiran keduanya sama, apa sekarang waktu yang tepat untuk bercerita kepada sahabatnya tentang masalahnya?


"Gue ..." kata keduanya bersamaan.


"Eh, Lo aja duluan." kata Keysa.


Kania menatap lekat wajah Keysa, namun tak lama dia menganggukkan kepalanya pelan. "Em oke, gue duluan yang ngomong. Tapi awas aja, Lo nanti harus ngomong juga sama gue."


Keysa mengangguk singkat, kini keduanya sudah duduk saling berhadapan. Kania menghela nafasnya pelan, entah dari mana dirinya akan bercerita, tetapi kalau dirinya belum menceritakan bebannya selama ini, Kania tak akan pernah lega.


"Gue ada sedikit masalah sama Kenan, gue gak tahu harus bagaimana menyikapinya. Dia sembunyikan sebuah rahasia besar yang membuat gue terkejut key, ...."


Kania menceritakan dari pertama permasalahannya, dari yang mengetahui Kenan sudah pernah menikah, bahkan sudah memiliki anak. Pertemukan pertama bersama Kei di taman pun Kania ceritakan tak terlewatkan sampai Kania mengetahui Kenan adalah Ayah dari anak yang Kania temukan itu.


Kania mengadu, mencurahkan semua isi hatinya kepada sang sahabat. Kania di lema sekarang, apa dirinya harus diam saja tanpa menyelesaikan masalahnya?


"Lo masih sama Kan, selalu menghindari masalah begitu saja." Keysa menghela nafasnya terlebih dahulu, di genggaman nya tangan Kania erat. "Gue tau Lo pengen tenangkan diri Lo dulu, tapu jangan terlalu berlarut-larut. Lo temuin Kenan, selesaikan masalah itu dengan kepala dingin."


"Lo dengerin dulu semua penjelasan Kenan. Dengan Lo menghindar kayak gini, apa itu bisa menyelesaikan masalah? Nggak Kan. Lo gak ngebayangin anak itu? Pasti dia sedih Lo gak jenguk dia selama ini."


"Jangan egois Kania. Pikirin juga Kenan, pasti dia punya alasan dengan semua itu. Jika Lo masih kekeh dengan tekad Lo yang pengen sendiri untuk nenangin diri, siap-siap aja Lo kehilangan orang yang ko sayang, Kan. Lo pikirin semua omongan gue Kania, gue gak mau sahabat gue nyesel nantinya."


Grep


Kania memeluk erat Keysa, Kania menangis sesegukan di sela pelukan tersebut. Semua yang di ucapkan sahabatnya benar, dirinya terlalu egois yang memikirkan perasaanya sendiri, tanpa memikirkan perasaan Kenan.


"Ma-makasih Key, makasih udah nasehatin gue. Kalau ga ada Lo, gue nggak tahu mau curhat sama siapa lagi, gue sayang Lo Key. Lo sahabat gue yang gak ada duanya!"


Keysa terkekeh pelan, tangganya menampar pelan punggung bergetar itu. "Gila Lo, untung si Kirana gak ada. Kalau ada pasti dia udah ngamuk ngedenger ucapan Lo tadi."


"Kalo gue curhat sama dia, bukannya dapet masukan yang bermanfaat. Mungkin dia bakalan mewek. Kayak gak tahu aja tu anak, gak bisa jadi partner buat curhat, selalu aja melenceng kemana-mana." dengus Kania mengurai pelukan, mengusap sisa air matanya kasar.


Bibir Kania terangkat tersenyum menatap Keysa yang masih terbahak. Makasih Key. Lo sama Kirana sahabat terbaik gue. Gue gak akan pernah lupa sama jasa kalian berdua. Gue sayang kalian berdua, lebih dari apapun itu.


"Eh iya, Lo tadi mau cerita apa?" tanya Kania, menghentikan tawa Keysa seketika.


Keysa terdiam sesaat, namun tak lama senyuman terbit dari bibir kecil tersebut. "Gue cuman mau bilang, nanti kalau duit gue abis, gue mau minta sama Lo"


"Dasar temen laknat!"


Maaf, Kan. Gue bohong. Mungkin suatu saat nanti gue akan cerita sama Lo yang sebenarnya.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Perlahan pemilik mata bulat yang terbaring di atas ranjang rumah sakit terbuka, matanya menatap setiap penjuru ruangan mencari seseorang yang selama ini dia tunggu dan rindukan.


Matanya berkaca-kaca, dia tak menemukan orang yang selalu dia tunggu kedatangannya. Semua orang membohonginya, katanya, Bundanya akan datang esok hari setelah dirinya tidur, tetapi apa? Bundanya tak datang.


"Hiks ... Hiks ... Ayah jahat! Ayah bo'ongin Kei agi hiks ..." isak tangis Kei yang lumayan kencang, menganggu Kenan yang tengah tertidur di sofa.


Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, Kenan menghampiri Kei, membawa tubuh mungil tersebut kedalam rengkuhan hangatnya.


"Kei kenapa hem? Ini masih pagi sayang. Kei bobo lagi oke?"


Kei berontak di dekapan tersebut. "Kei nda mau bobo agi Ayah! Kei mau Buna ... Kei mau Buna, hiks ... Ayah jahat, bo'ongin Kei telus!"


Sakit. Hati Kenan sakit mendengar tangis pilu anak kesayangannya, dirinya sudah bingung mau mengalihkan pertanyaan anaknya apa lagi saat Kei ingin menemui kekasihnya.


Ini semua adalah kesalahannya. Kalau dari dulu Kenan jujur kepada Kania, mungkin kejadian ini tak akan pernah terjadi. Kenan selalu menyalahkan dirinya, Kenan benci dengan dirinya sendiri. Dia hanya seorang pengecut.


"Kei mau temu sama Buna, hiks ... Ayah lepasin Kei, bial Kei yang cali Buna cendili!"


Kenan menggeleng keras, dia mengeratkan rengkuhan hangat tersebut, mengusap lembut bahu bergetar dengan isak tangis yang semakin keras.


"Sutt ... maafkan Ayah nak, Ayah belum menjadi ayah yang baik buat kamu. Tapi ayah janji akan bawa Bunda nya Kei kesini nanti siang, Ayah janji!"


"Ndak, pasti Ayah bo'ong-bo'ongin Kei agi. Huaa ... Buna! Buna di mana Kei kangen cama Bunaa, hiks ..." Kei semakin memberontak di dekapan tersebut.


Suara pintu terbuka sedikit mengalihkan tatapan Keinara, di sela punggung sang Ayah, Kei mengintip melihat ke arah pintu yang terbuka, walaupun pandangan Kei sedikit tak jelas oleh genangan air mata yang masih bergenang.


"Sayang! Kesayangannya Bunda, Bunda datang!"


Bersambung ...


Yuhuu Author come back lagiii ๐Ÿคธ๐Ÿคธ


Kasih dukungan nya terus, jann bosen dengan like, komen.


VOTE DAN KASIH HADIAHNYA WOYYY JAN LUPAA๐Ÿ˜Œ.


See you... sampai bertemu lagi dengan Author terketjehh iniii๐Ÿคธ๐Ÿคธ