
"Dek, kakak mau pulang sekarang ya? Ada keperluan mendadak," perkataan Bian langsung menghentikan tangan Kania yang tengah menyuapi Kei makan.
"Loh? Kok gitu si? Gak sarapan disini dulu? Adek udah masak banyak loh kak," kata Kania sedikit kesal dengan kepergian sang kakak yang secara tiba-tiba.
Bian tersenyum simpul, mengacak-acak rambut Kania. "Lain kali aja ya sayang? Kakak takut di amuk macan betina soalnya. Mami chat minta di beliin martabak telor kesukaannya."
Kania mengangguk terpaksa, dia tak berhak menahan Bian. Kania mengerti jika sang kakak mempunyai kesibukan nya sendiri, bukan hanya dirinya.
"Buna? Kenapa wajah Buna cedih? uncle ganteng jahatin Buna ya?"
Perkataan polos Kei membuat semua orang yang mendengarnya merasa gemas, tetapi tidak dengan Kenan yang dari tadi sudah memasang wajah masamnya.
Kenan sudah sangat kesal dari pertama Bian menyentuh miliknya dengan embel-embel sebut sayang, dan yang kedua putri kesayangannya berani-beraninya menyebut pria buruk rupa di depannya tampan.
Dia tak terima kedua wanita kesayangannya berdekatan dengan Bian. Kalau tidak ada Kania di sana, sejak tadi, mungkin Kenan sudah mengajak duel Bian.
"Nggak dong. Masa uncle sakiti Bundanya Kei si," jawab Bian, mengusap lembut surai rambut Kei. "Uncle pulang dulu ya cantik. Jagain Bundanya inget."
Kei mengangkat tangannya, menghormat gemas. "Ciap uncle ganteng. Lakcanakan!"
Bian kembali melangsungkan kecupan ringan di kedua pipi Kei sebelum pulang.
"Salam buat Mama sama Papa kak!" teriak Kania mendapat acungan jempol dari Bian.
...πππππππ...
Migo perlahan membuka matanya, saat sinar matahari menganggu tidurnya. Dengan nyawa yang masih setengah sadar, tangannya meraba tubuhnya yang terasa dingin oleh AC ruangan.
Tunggu. Kenapa bajunya tidak ada di tubuhnya? Dan tangan siapa yang memeluk tubuhnya?
Kedua mata Migo membulat sempurna, melihat seoarang wanita yang sepertinya tidak menggunakan baju di dalam selimut putih tersebut.
"Siapa, kauu!!" teriak Migo bangun dari tidurnya menyentak tangan wanita tersebut. Hatinya tidak tenang sekarang melihat sebuah wanita yang sama tidak menggunakan busana, hanya setengah badan saja.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan malam kemarin?
Wanita yang terganggu tidurnya, bangun dengan wajah yang seperti tidak terjadi apa-apa.
"Belle!"
Teriak Migo tak percaya, ternyata wanita yang dari tadi tidur memeluknya adalah wanita yang selama ini Migo benci keberadaannya.
"Lo ngapain ada di sini, hah! Jawab gue wanita sialan!"
Belle berangsur takut melilit selimut berwana putih itu menutupi tubuhnya. "Hikss ... kamu jahat Migo, setelah malam kemarin kita lalui malam yang panjang membuat ku tidak berdaya, kenapa kamu memarahi ku sekarang."
Migo menjambak rambutnya frustasi. Dia berusaha mengingat kejadian malam kemarin. Kepalanya terasa sakit, Migo hanya mengingat potongan ingatan saat dirinya akan pergi dari bar itu. Hanya itu saja, dia tak mengingat kejadian apa-apa lagi.
"Diam jal**g sialan! Gue gak akan pernah sudi jamah tubuh Lo sedikitpun. Seujung kuku pun gue gak sudi!" bentak Migo tersulut emosinya.
Belle menangis terisak dengan air mata buayanya. "Hiks ... kamu ga-gak percaya? Malam kemarin udah jelas, jika kamu paksa aku buat membantu birahi kamu!"
Migo menatap tajam Belle penuh kebencian dari sorot matanya. "Diam! Lo pasti jebak gue kan? Gue gak mungkin sentuh ja**ng kayak lo!"
Belle tidak terima dengan ucapan Migo, dia melayangkan tamparan keras di pipi Migo membuat Migo memalingkan wajahnya ke samping.
"Setelah kejadian kemarin kamu paksa aku, kamu tega tuduh aku hah! Kamu tak ingat apapun Migo jika kamu lupa. Kamu terpengaruhi oleh alkohol."
"Aku nggak mau tahu! Kamu harus bertanggung jawab dengan semua perbuatan yang kamu buat. Aku takut hamil, aku sedang di masa subur."
Migo menjambak rambutnya frustasi. Kenapa semuanya menjadi kacau seperti ini? Niat ingin menenangkan diri setelah di putuskan oleh Kirana yang secara tiba-tiba, Migo malah mendapat bencana yang di luar dugaannya.
Migo mengambil kaos miliknya yang tergeletak di lantai tak jauh darinya berada. Setelah itu, Migo meninggalkan Belle begitu saja tanpa memperdulikan teriakan Belle yang terus memanggilnya.
"Akhirnya, selangkah lagi kamu akan menjadi milikku, Migo sayang. Ahaha ... kamu milikku sayang!!"
...πππππππ...
Kania yang sedang menata makan siang bersama sang asisten rumah tangga menatap bingung Keysa yang terlihat buru buru melihat cara meminum susu di gelas hingga tandas.
Tidak biasanya Keysa berpakaian rapi pagi-pagi, dia tahu kalau sahabat satunya ini orang yang sangat lengket dengan bantal. Apalagi hari ini adalah hari weekend, tidak biasanya seoarang Keysa si kebo bangun pagi.
"Mau kemana lo? Buru-buru amat?" tanya Kania, menghentikan tangan Keysa yang akan memasukan roti ke mulutnya.
"Mau jalan sama seseorang dung!"
Perkataan Keysa membuat Leo tersedak, Keysa yang melihat itu menaikan alisnya menatap remeh Leo yang menenggak air putih hingga tandas.
Sial! Dia mau jalan bersama siapa? Pagi-pagi buta seperti ini!
"Bener tuh!" kata Kania ikut menimpali, sambil duduk di kursi di antara Kenan dan Kei duduk.
"Elah, gue mau jalan sama Kak Bian juga. Kapan lagi coba gue jalan berdua sama dia," kata Keysa santai, mendapat tatapan tajam dari Leo yang merasa tak suka. "Aduh! Terakhir kapan ya? Udah lama banget."
Tangan Leo terkepal kuat di bawah meja, wajahnya semakin datar menatap Keysa yang bodo amat.
Keysa tersenyum penuh kemenangan melihat wajah merah padam Leo yang terlihat menahan amarahnya. Emangnya enak gue kerjain. Nyesel 'kan sekarang udah sia-siain gue!
Kania yang tadinya sedang fokus menyuapi sebuah bubur ke mulut mungil Kei, langsung menoleh ke arah Keysa.
"Lah, yang bener lo mau jalan sama kak Bian? Aaa ... gue mauu ikuttt!!!"
Kenan berdehem pelan, dia tak suka melihat wajah antusias sang kekasih hanya kerena pria buruk rupa seperti Bian.
"Sayang! Jangan mulai. Aku nggak suka!"
Sungguh aura menyeramkan Kenan membuat Kania menelan ludahnya kasar, dia kembali duduk sambil menyengir tanpa dosa.
Hadoh, nasib punya ayang yang cemburuan tingkat dewa ya gini.
"Jika sedang makan simpan dulu ponsel nya!"
Suara datar Leo menghentikan tangan Keysa yang sedang menanyakan keberadaan Bian. Keysa mendelik tak suka menatap balik mata elang Leo yang menusuk siapa saja yang melihatnya.
"Udah ahh, Kan. Gue pergi sekarang aja. Kak Bian udah nunggu di depan. Di sini panas, banyak setannya!" kata Keysa melirik sekilas Leo sambil menekan kata terakhir.
"Eh, Lo mau ikut gak, Kir? Sekalian refreshing."
"Nggak ah, males. Gue mau lanjutin maraton nonton dracin yang belum sempat gue tonton," jawab Kirana tersenyum manis.
Keysa mengangguk sebagai jawaban, dia melambaikan tangannya seperti artis sepanjang perjalanan ke arah ruang tamu kepada kedua sahabatnya.
Setelah acara sarapan pagi selesai, Kirana kembali ke kamarnya. Kirana merenung di dekat jendela yang terbuka yang langsung menampakan sebuah taman belakang rumah dengan suara burung yang bersahutan.
Kedua mata Kirana memejam sesaat, pikirannya kembali mengingat seorang Migo, yang lebih tepatnya mantan kekasihnya. Kirana semakin merasa bersalah, Migo sampai sekarang belum kembali. Apa ini semua karena kajian itu?
"Kamu dimana Migo? Tolong jangan membuat aku merasa sangat bersalah telah mengakhiri hubungan kita."
Dimana keberadaan Migo sekarang? Apa dia baik-baik saja?
Sebuah pertanyaan itu terus menghantui pikiran Kirana. Apa Migo menghubunginya? Eh, Kirana baru ingat jika ponselnya dari kemarin malam sedang di isi daya belum dirinya cek.
Kirana mengambil ponselnya yang sedang di charge, ternyata sudah penuh. Kirana mengaktifkan ponselnya. Layar ponselnya menampilkan layar beranda, bersamaan juga suara notifikasi yang lebih dari 5 kali berbunyi.
Alis Kirana mengerut melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal mengirim beberapa foto. Kirana dengan ragu menekan tombol pesan tersebut.
Deg
Hatinya berdetak kencang, melihat isi foto yang di kirim tersebut. Matanya memerah menandakan air mata yang akan tumpah. Hatinya berasa di tusuk beribu jarum melihat sebuah foto yang tak pernah Kirana duga.
Foto dimana tubuh setengah telanjang Migo yang tertutup selimut sedang memeluk mesra tubuh wanita yang Kirana sangat kenal.
"Kenapa sesakit ini tuhan?"
Kirana terduduk lemas di lantai dengan Isak tangis yang mewakili perasaan hatinya yang hancur berkeping-keping.
Kirana hancur! Dia kecewa, kecewa melihat mantan kekasihnya berpaling begitu cepat setelah dirinya putuskan.
Bersambung ...
Tinggalkan jejak kalian dengan like dan komentar positifnya, terimakasih βΊοΈ.
*
Blurb
Ismawati namanya usianya sudah menginjak 34 tahun namun belum juga menikah. Karena sebuah janji yang membuat Isma masih setia menunggu cinta pertamanya meski tak pernah ada kabar. Disaat dirinya mencoba mencintai pria lain, cinta pertamanya datang kembali.
Januari pernah kembali untuk menemui Isma cinta pertamanya. Namun kenyataanya wanita itu akan menikah dengan pria lain. Merasa hancur akhirnya dia pergi tanpa mencari kebenarannya dulu.
Kebenaran terungkap, Januari ingin meraih kembali cinta pertamanya. Namun dirinya ragu akankah Isma mau menerima keadaan fisiknya yang tak lagi sempurna?
Akankah cerita cinta mereka akan kembali bersatu di saat Isma mencoba mencintai pria lain?