
Sepanjang perjalanan pulang, arah tatapan Kirana menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya kembali memikirkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal, untuk menjauh Migo dengan ancaman akan membunuhnya.
Kirana takut, dia harus bagaimana sekarang? Melepaskan Migo begitu saja? Kirana belum siap untuk kehilangan sosok yang ia cintai.
Lamunan Kirana dari tadi, tak luput dari tatapan Migo yang sedang menyetir. Dia tahu, kalau kekasihnya tidak sedang baik-baik saja. Migo menepikan mobilnya di bahu jalan untuk menanyakan keadaan kekasihnya yang membuatnya takut terjadi sesuatu.
"Hey?" tepukan lembut di tangannya menyadarkan lamunan Kirana.
"Kamu kenapa? Ada masalah? Jujur sama aku, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari aku." tanya Migo, menggenggam lembut kedua tangan Kirana yang terasa dingin.
Kirana tak menjawab, dia malah menerjang tubuh Migo secara tiba-tiba, mendekap erat tubuh kekar tersebut. Kirana menangis terisak menumpahkan kesedihannya. Ia bukan wanita tegar yang orang lain lihat, dia wanita rapuh dan ingin di lindungi oleh orang terdekatnya.
Bolehkan Kirana lemah sekarang? Inilah sifat asli Kirana, wanita lemah yang menutupinya dengan keceriaan di wajahnya kepada orang-orang, hanya kepada kedua sahabatnya lah Kirana memperlihatkan sifat lemahnya.
Tangan Migo terus mengelus sayang surai rambut Kirana, menenangkan. Hatinya sedikit tersentil mendengar isak tangis kekasihnya yang begitu menyayat hatinya.
Walaupun di benaknya di penuhi oleh berbagai pertanyaan, melihat keadaan kekasihnya sekarang, Migo memilih diam agar Kirana sedikit tenang.
Suara isak tangis di cengkuk lehernya semakin melemah, Migo perlahan mengurai pelukannya. Tangganya mengusap pelan sisa air yang berada di pipi Kirana.
"Ada apa? Cerita sama aku." kata Migo menatap dalam wajah Kirana yang tengah menunduk, sambil memelintir ujung bajunya.
Migo mengangkat dagu Kirana, agar menyapanya. "Tatap aku sayang, coba cerita, kamu sebenarnya kenapa? Jangan membuat ku khawatir."
Kirana meraih ponsel di dalam tas nya, menyerahkan secara ragu kepada Migo yang tengah kebingungan. Migo melihat layar ponsel kekasihnya, matanya membulat sempurna melihat sebuah isi pesan ancaman kepada kekasihnya.
Rahang Migo mengeras, satu tangan mengepal kuat menahan amarahnya yang akan meledak. Siapapun orang itu, Migo tak akan melepaskan nya begitu saja.
Berani sekali orang ini membuat kekasih ku ketakutan. Siapapun kau, berani bermain-main dengan ku, tidak akan pernah lepas begitu saja. Akan ku cari kau, meski ke ujung dunia.
Migo mengeram marah, terlihat ponsel milik Kirana sudah di genggamnya erat. "Sialan! Berani sekali dia membuat kekasih ku menangis!"
"Kenapa kamu baru memberi tahukan sekarang! Ini bukan lagi main-main Kirana!" sentak Migo kelepasan, membuat Kirana kembali terisak pelan mendengar bentakan tersebut.
Kirana tak suka di bentak. Melihat wajah Miho yang terlihat menyeramkan ketika marah, membaut Kirana takut.
"Maaf." cicit Migo pelan, menarik tubuh kekasihnya kedalam pelukan hangatnya. Sungguh, Migo tidak bermaksud membentak Kirana, Migo terlalu menghawatirkan keadaan sang kekasih.
Migo terus mengelus pundak bergetar Kirana, sambil terus membisikan kata penenang dan jaya maaf. Namun, ponsel Kirana yang masih di genggaman Migo kembali berdering, menandakan ada pesan masuk.
Pancaran mata Migo yang kembali memerah, mengontrol amarahnya melihat pesan yang kembali di kirimkan oleh nomor tak di kenal tersebut.
Kini, bukan sebuah pesan ketikan. Tetapi, sebuah foto boneka berlumuran darah yang di penuhi tusukan, dengan sebuah tulisan dari darah di lantai tepat di bawah boneka itu, bertulisan, "Matilah Kirana. Kau akan mati mengenaskan seperti boneka ini."
Migo segera menghapus foto tersebut agar tidak di lihat Kirana nantinya, dia takut mental Kirana akan down, setelah melihat foto tersebut.
Migo mencoba untuk menghubungi nomor misteri tersebut, namun sialnya, nomor tersebut sudah tak aktif. Sial!
Kirana mengurai pelukannya, menatap lekat wajah Migo yang sedang menahan amarah, terlihat dari pancaran mata Migo yang terdapat kilatan merah.
"Kamu tenang saja, okey? Aku yang akan menyelidiki orang yang berani meneror mu."
Kirana menunduk dalam, mengangkat wajahnya ragu menatap Migo yang sedang fokus dengan ponsel miliknya. Kirana ragu untuk memberi tahu Migo, jika di balik semua ini Kirana mencurigai Belle, yang katanya tunangan kekasihnya sendiri.
"Emm, sayang ..."
Migo mengalihkan tatapnya menatap Kirana yang memanggilnya. "Iya?"
"Em, kalau aku bilang, aku tahu siapa orang di balik ini semua, apa kamu akan mempercayai ku?" tanya Kirana ragu-ragu.
"Kenapa tidak? Bagus kalau kamu tahu orangnya, semakin cepat buat aku mencari bajingan itu!" jawab Migo menahan amarahnya.
"Belle. Dia Belle calon tunangan mu, yang di balik semua ini."
Migo mengerutkan alisnya bingung. "Belle? Tak mungkin sayang, dia berada di negara B."
...πππππππ...
Keysa tengah menunggu seseorang di teras depan mansion milik Kenan, sambil terus melirik arloji di tangannya. Penampilan simpel Keysa, yang hanya memaki celana kulot di padu-padankan dengan jaket lepis, menambah kesan cantik saja Keysa di malam ini.
Tak lama, terlihat motor sport berhenti tepat di depan Keysa. Pemuda berperawakan tegap dari balik jaket hitamnya, membuka helm di kepalanya sambil turun dari motor.
"Ish ... Kemana dulu si Kak! Key udah nunggu dari tadi tau!" kesal Keysa, menunggu kedatangan Bian yang tak kunjung datang dari tadi.
"Maaf princess. Tadi di jalan macet, untung aja Kakak bawa motor, bisa selap-selip. Coba kalo pakai mobil tadi, mungkin udah kejebak macet, gak bisa maju." jelas Bian menatap wajah manis Keysa. Bian terpesona melihat penampilan Keysa malam ini, walaupun Keysa memakai pakaian santai, namun di mata Bian, Keysa terlihat begitu sangat cantik.
"Udan deh, jangan segitu nya kali liatin nya. Ayo jalan keburu malem kak Bian." kata Keysa menatap jengah Pria di depannya hanya cengegesan tak jelas.
Bian memakai helm nya kembali sambil naik ke motor kesayangannya, di ikuti Keysa naik di jok belakang setelah memakai helm dengan aman.
Brum ... Brum ...
"Pegangan, Key!" kata Bian, sedikit berteriak agar suaranya terdengar.
Keysa mengangguk, menyimpan tangannya di pundak Bian. Bian di dalam helm tersebut miring, dengan sengaja Bian menancapkan gas tiba-tiba, membuat Keysa langsung memeluk pinggang Bian erat.
Perlakuan keduanya, tak luput dari tatapan tajam seseorang dari lantai atas di sebuah balkon kamar seseorang. Leo mengeram pelan, mengepal tangannya erat.
"Sialan!"
...πππππππ...
Bian menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata rata, Bian sengaja agar Keysa terus memeluk pinggangnya. Dia tak memperdulikan pekikan Keysa yang melengking tepat di telinga kanan yang tertutup helm.
Bisa membayangkan bukan, kalau suara merdu Keysa seindah apa? Telinga Bian yang masih terhalang helm miliknya saja, masih terdengar melengking pekikan Keysa.
"Key! Kita, akan mencari kado buat Kania di mana?" teriak Bian.
"Huaa! Hah apa Kak? cari gado-gado? Kan kita rencananya dari awal mau cari kado buat Kirana kak! Kenapa jadi ke makanan si?" teriak Kania melengking.
Bian mengelus dadanya sabar, ini baru sekali Keysa menyalah artikan ucapannya. Lihat saja, apa yang Keysa dengar setelah dirinya bicara sekarang.
"Bukan cari gado-gado cintaku. Mau cari kado buat Kania di mana, kita!"
Keysa sedikit menarik helm, agar telinganya sedikit mendengar dengan jelas pekikan Bian. "Hah? Ih kak Bian, buat apa Goda-goda Kania dengan cinta sekarang. Kan Kania nya gak ada, gimana si! Inget tujuan kita mau apa!"
Bian menghela nafasnya pelan, benar bukan dugaan nya malah makin ngaco. Kenapa wanita seketika menjadi budeg, saat naik motor. Pasti saja selalu ada kata 'Hah?' kalau sedang ngobrol.
"Astwhkakbsjnekk!" teriak tak jelas, langsung mendapat tabokan keras yang Keysa layangan ke pundaknya.
"Bilang dong dari tadi, mau cari kadonya kemana gitu! Kita ke mall aja, pasti di sana banyak barang yang bisa di pilih!" teriak Keysa, membuat Bian gedeg bukan kepalang.
Dasar wanita. Kita teriak ga jelas aja bisa ngartiin tu ucapan, lah pas kita ngomong yang bener, malah kemana aja tuh jawabannya. Hadoh, kayaknya Bian lama-lama depresott dehhπ.
Bersambung ...
Tinggalkan jejak kalian, dengan like dan komentar nya yaπ. Mungkin Author Update lagi nanti siang, pantengin terus ya cerita receh nya Author π€.
Kasih terus dukungannya ya dengan kasih taburan bunga yang banyak, biar wangi cerita Author, yang mau kasih secangkir kopi juga boleh, boleh banget malahan. Jika berbaik hati juga kasih Vote nya juga ya ...
*
Adriano D'Angelo tak pernah menyangka bahwa Tuhan memberinya kesempatan kedua. Setelah ditembak oleh wanita yang sangat dia cintai kemudian dibuang ke laut, Adriano terdampar dan berhasil diselamatkan oleh seorang gadis bernama Olivia hingga pulih seperti sediakala. Adriano bertekad untuk melanjutkan hidup serta menutup kisah kelam masa lalunya, dengan tak lagi menginjakan kaki di Italia. Akan tetapi, siapa sangka jika dirinya dipertemukan lagi dengan wanita yang telah membuatnya celaka. Dia kembali terjebak dalam pusaran cinta yang ternyata tak mampu untuk disingkirkannya terhadap wanita yang tak lain adalah Florecita Mia.
Akankah Adriano kembali mengejar Mia, atau memilih Olivia yang telah berjasa baginya?