
Sebuah mobil terlihat masuk kedalam pekarangan rumah yang terlihat megah. terlihat Kenan keluar dari mobil di ikuti Kania.
"Wah daebak rumahnya besar banget anjirr"Gumam Kania namun masih terdengar oleh Kenan yang di sebelahnya.
Kenan masuk kedalam rumah tersebut di ikuti oleh Kania di belakang nya dengan manik matanya terus menatap sekeliling rumah itu kagum.
"Assalamualaikum kang"Sapa Kenan sopan kepada seorang pria paruh baya di depannya.
"Waalaikumsalam. eh tuan Kenan sudah datang, hapunteun tuan kang Deden gak nyambut kedatangannya"Jawab kang Deden.
"Tidak apa kang, kalau begitu saya ke atas dulu kang. oh iya tolong bawa koper saya di bagasi mobil ya kang"Kata Kenan tersenyum tipis.
"Siap atu den, kalo gitu saya ke depan dulu tuan"Kata Kang Deden membungkuk sopan sebelum berlalu dari sana.
Kenan mengangguk sebagai jawaban, mata elangnya melirik Kania di belakangnya yang masih menatap sekeliling interior rumah.
"Kau sebaiknya istirahat lah, kita akan ke perusahaan mungkin esok hari"Kata Kenan sambil berlalu berjalan ke lantai atas.
"Siappp! eh iya kamar saya di mana tuan?"Teriak Kania.
"Di sebelah kamar ku"
Kania mengangguk, namun tiba tiba saja tenggorokan nya terasa kering, kakinya melangkah ke arah dapur terlebih dahulu untuk mengambil air.
Setelah tenggorokannya sudah terasa lebih enak, Kania memutuskan untuk naik ke atasnya untuk istirahat badannya terasa pegal dan matanya terasa lengket ingin tidur.
...πππππππ...
Kenan merenggangkan otot tubuhnya yang terasa remuk, kepalanya terasa berat menatap layar laptop di depannya. matanya melirik jam di dinding kamarnya.
Ternyata sudah jam delapan malam, Kenan menghela nafasnya pelan sambil menyimpan laptopnya di ranjang sebelahnya.
Kenan memutuskan untuk membersihkan diri badannya terasa lengket sejak tadi dirinya belum sempat istirahat bahkan tidur, dirinya langsung mengecek beberapa dokumen yang sempat belum beres.
Di lain tempat, tepatnya di arah dapur Kania sedang menyiapkan makanan malam, tangganya sedang bergerak mengocek masakan buatannya.
"Ya ampun non, ngapain masak? kan biar bi inem aja"Kata Bi inem datang dengan wajah khawatirnya di marahi Kenan.
"Tidak apa bi, bibi lebih baik duduk aja masakan aku juga udah mau beres. nanti bibi cobain ya masakannya takut gak enak hehe"Cengir Kania.
"Tapi non.."
"Udah deh bi diem sebelum aku gamuk ni lempar kulkas kali bibi bicara lagi"Gurau Kania seolah akan mengangkat Kulkas yang tidak jauh dari tempatnya.
Tidak lama masakan Kania sudah selesai, Kania memindahkan masakannya ke piring.
"Nah beres juga"Kata Kania tersenyum senang.
"Harum banget non masakannya, kayaknya enak banget"Kata Bi Inem.
"Hehe insyaallah deh bi, gak ngejanjiin"Kata Kania sambil mengambil udang saus Padang nya ke piring kosong.
"Coba deh bi enak gak? takutnya gak enak"Kata Kania menyodorkan piring yang di isinya barusan.
Bi Inem mencobanya, Kania menatap was was Bu Inem yang masih mengunyah masakan buatannya.
"Wah non inimah enak banget! bener deh Bi Inem no bohing, beh berasa makan di restoran bintang lima"Kata Bi Inem.
"Ah Bi Inem terlalu berlebihan, nih saya jadi mau kerasukan reog ngedenger pujian Bibi, bibi tanggung jawab"Dramatis Kania mendapat gelengan dari Bi Inem melihat ke barbar Kania.
"Non jangan kesurupan sekarang, nanti aja setelah Bi Inem udah hapal ayat kursi"Kekeh Bi Inem, membuat Kania terbahak mendengarnya.
Tawa keduanya terhenti saat mendengar deheman seseorang dari belakang. Kania cengegesan tidak jelas melihat tatapan tajam dari Kenan.
Bi Inem yang melihat majikannya, menunduk sopan setelah itu mengambil hasil masakan Kania untuk menyajikannya di meja makan.
Kini Kania sudah duduk di meja makan berhadapan dengan Kenan yang terus menatapnya tanpa berkedip membuat Kania gugup saja.
Kenapa kau tambah cantik saja Kania? bahkan malam ini kecantikan mu berkali kali lipat
"Emm.. tu..tuan sebaiknya kita mulai makan malamnya"Gugup Kania.
Setelah mendapat anggukan kecil dari Kenan, tangan mungil Kania mengambil nasi beserta lauk pauknya ke piring milikinya.
Namun dirinya merasa heran kenapa Kenan masih diam sambil menatapnya tajam?
"Tidak"
Kania mendengus kesal, terus kenapa masalahnya?
Kenapa dia tidak peka sih, saya kan mau dia yang mengambilkannya!
Kenan menatap kesal Kania yang masih diam, tangganya menunjuk piringnya yang kosong mengkode, Kania mengerutkan alisnya bingung.
"Ck apa sih gak ngerti gue!"Kesal Kania.
"Ambilkan saya makanan nya Kania!"Tekan Kenan tidak lupa dengan wajah menyebalkan nya itu.
Kania mendelik kesal. Kenapa gak bilang dari tadi sih, mempersulit hidup aja ni orang
Tangan Kania mengambilkan nasi menaruhnya di piring milik Kenan. "Lauknya mau apa?"
"Udang saus padang sama ayam goreng saja"
Setelah drama mengambil makanan, kini keduanya menyantap makanan tersebut dengan Hidmat. Kenan melahap makanan tersebut dengan lahap.
Sampai Kania melongo melihat Kenan yang kembali menambah makanan nya.
Gilee dia kek gak makan setahun, gak nyangka gue badan aja kekar tapi makannya melebihi kuli bangunan
Piring Kenan sudah bersih tanpa sisa nasi satupun, sungguh ini makanan terenak yang dirinya makan setalah masakan Maminya.
"Apa ini Bi Inem yang masak?"Tanya Kania.
"Nggak itu gue yang masak"Kata Kania acuh sambil mengambil piring kotor bekas Kenan dan miliknya ke dapur.
Tangan Kania tengah menyabuni piring kotor tersebut sambil bersenandung keras, tiba tiba tubuhnya menegang saat merasakan sebuah tangan melilit pinggang, bukan hanya itu saja Kania merasakan hembusan nafas seseorang mengenai lehernya.
Glukk
Kania dengan susah payah menelan salipannya.
"Kenapa kau mencuci piringnya hem? kan ada Bi Inem"Kata berat Kenan membuat Kania sekarang sudah sangat susah buat bernafas.
Kenan membalikan badan Kania, kini kedua mata tersebut saling menatap dalam. tangan Kenan terangkat menyingkirkan anak rambut Kania yang menutupi wajah cantik nya.
"Lain kali biar Bi Inem saja yang mencucinya, itu sudah menjadi tugasnya"Lembut Kenan, Kania dibuat terhipnotis sampai menganggukkan kepalanya sepontan.
Kenan tersenyum manis tangganya kembali mengusap kelapa Kania pelan. "Anak baik"
Sumpah Kania sekarang ingin menjerit mendapat perlakuan Kenan sekarang, bagaimana dirinya tidak baper kalau Kenan selalu bersikap manis seperti sekarang ini.
Kenan mendekatkan kepalanya ke telinga Kania. "Saya suka udang saus Padang buatan kamu, saya ingin kamu memasaknya setiap hari kebetulan itu makanan kesukaan saya"
Badan Kania seketika berdesir merasakan hembusan nafas di telinganya, bahkan jantungnya sedari tadi terus berdegup sangat kencang.
Kenan sudah berlalu dari hadapannya, namun Kania masih diam mematung mencerna kejadian yang beberapa detik yang lalu.
"Huaa! jantung gue gak aman sekarang, dasar kenebo kering si*lan gue beneran baper sekarang!"Pekik Kania sambil memegang kedua pipinya yang sudah memerah malu.
Bersambung
Halo para reader semuanya, sebelum nunggu kelanjutan Chapter TRIPLE'K mampir juga yok ke cerita novel teman ku yang tak kalah serunya
***
Ranty Amalia Widodo, yang Menikah dengan seorang superstar Ferrell Nugraha. Harus rela jika dirinya selalu di sembunyikan bahkan hanya di akui sebagai adik. Membuatnya bertekad tidak akan jatuh cinta pada suaminya.
Namun, sikap Ferrell yang menunjukkan cinta dibelakang layar. Membuatnya luluh cinta Ferrell bukanlah kepura-puraan. Cinta Ferrell tulus untuk Ranty. Namun, dalam kisah cinta mereka ada saja penghalang dan rintangan. Namun, mereka bisa Melawati nya hingga kehadiran putri tercinta mereka mampu melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka.
Sayangnya lagi-lagi cobaan datang, menerpa rumah tangga mereka. Hingga Ferrell harus terjebak pernikahan siri dengan sahabat sekligus cinta masa kecilnya.
Hingga akhirnya Ferrell dan Ranty harus terpisah
karena tragedi yang sangat memilukan
akankah Ferrell dan Ranty akan kembali bersama?