
Sebuah gedoran kaca yang lumayan kencang, mengganggu tidur Kirana yang menyelami alam mimpinya. Perlahan matanya terbuka menyesuaikan cahaya lampu ruangan. Kirana melihat ke samping, wajah damai Keysa yang tertidur nyenyak memeluk guling.
Suara gedoran kaca semakin terdengar jelas dan keras, di liriknya jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari. Hati Kirana bimbang, apa dirinya harus melihat untuk memastikan gedoran tersebut?
Ingin Kirana membangunkan Keysa untuk menemaninya melihat ke kaca kamar untuk memastikan,, tapi Kirana tak tega.
Kok, tiba-tiba gue merinding ya? Siapa coba yang gedor-gedor jam segini. Kurang kerjaan banget deh jadi orang. Ehh ... bagaimana kalau itu orang yang gak bener? Aduh, gimana dong, gue harus bawa sesuatu.
Manik mata Kirana menelusuri setiap inci kamar mencari barang yang bisa di gunakan buat jaga-jaga. Mata Kirana berbinar melihat sebuah kemoceng yang berada di atas rak buku.
Kirana berjalan dengan perlahan mendekat jendela, sambil memasang ancang-ancang waspada. Perlahan Kirana membuka gorden tersebut.
"Hiyakk!!" teriak Kirana, mengacungkan kemoceng tersebut, sambil memejamkan matanya.
Kirana membuka matanya ragu, Eh? Tidak ada siapapun di sana. Hanya saja ada sebuah kardus kecil yang di bungkus menyerupai kado.
"Kotak? Kotak apa itu?"
Kirana membuka jendela kaca, tangannya dengan gampang menggapai kotak dari luar jendela. Kirana dengan ragu membuka perlahan kotak yang berada di tangannya.
"Arghhh!!" teriak Kirana ketakutan, menjatuhkan kotak tersebut ke lantai setelah melihat isi di dalamnya.
Sebuah boneka persis seperti foto yang dikirim oleh nomor yang tidak di kenal tadi siang. Kini berada di tangan Kirana. Kirana ketakutan, ia berjongkok di pojok ruangan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Nggak! Aku gak mau mati!!"
Keysa yang terlelap pun, bangun tergesa-gesa mendengar teriakan Kirana yang sangat melengking.
"Kirana! Ya ampun, Lo kenapa kir?" panik Keysa, melompat turun dari ranjang saking terkejutnya.
"Key, hiks ..." Kirana langsung memeluk erat tubuh Keysa.
Keysa yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keadaan sahabatnya yang terlihat ketakutan.
"Lo Kenapa, Kir? Bilang sama gue, jangan buat gue takut!" kata Keysa berusaha melepaskan pelukan tersebut untuk memastikan keadaan Kirana. Tetapi bukan nya terlepas Kirana semakin mengeratkan pelukannya.
"Gue takut, Key! Gue takut!!" lirih Kirana dengan Isak tangis yang semakin kencang di bahu Keysa.
Tangan Keysa mengusap pelan bahu Kirana menenangkan, manik matanya tidak sengaja melihat sebuah kotak yang tak jauh dari tubuh nya sekarang.
Apa itu?
Kakinya berusaha menyenggol kotak di pinggir tembok jendela tersebut agar mendekat, mata bulat Keysa langsung membulat melihat isi kotak yang sudah berada di dekatnya.
"Bangsat! Siapa yang berani ngirim barang sampah ini!" pekik Keysa marah, melepaskan pelukannya begitu saja.
Kania mengambil kotak isi boneka yang di tusuk oleh jarum di penuhi darah dengan tulisan di bawah boneka tersebut, "Kamu bakal mati Kirana. Mati seperti boneka ini."
Tangannya mengambil sedikit warna merah pekat seperti darah itu untuk mencium baunya. Ternyata, dugaannya benar, ini bukan darah sungguhan, tidak ada bau anyir sama sekali. Itu hanya sebuah tinta merah yang entah di campur oleh apa yang membuat merahnya seperti darah sungguhan.
"Lo jangan takut, Kir. Ini bukan darah sungguhan." tenang Keysa mengusap lengan Kirana yang bersembunyi di belakang punggungnya.
"Tapi, gue takut itu bener terjadi Key!" lirih Kirana pelan.
Keysa membalikan tubuhnya, memegang pundak Kirana menatapnya serius. "Jangan takut. Jika Lo takut kayak gini, orang yang berani main-main sama Lo, akan seneng."
"Pokoknya, gue janji bakalan bantuin Lo cari tahu orang di balik semua ini. Gue gak akan biarin kejadian ini terulang lagi."
Kirana kembali memeluk tubuh Keysa erat, ia terharu mempunyai sahabat sebaik Keysa dan Kania. Sahabat yang selalu melindunginya dari bahaya apapun dan selalu membuatnya tersenyum.
Maaf key, gue gak bisa jujur kalo di balik ini semua adalah Belle. Gue takut Lo sama Kania kenapa-napa seperti ucapannya. Gue takut itu benar-benar terjadi, gue gak mau kalian celaka.
Sosok misterius dari balik tembok luar, tersenyum sinis melakukan sambungan Vidio call dengan seseorang.
"Ini belum seberapa Kirana. Kita lihat saja nanti, jika dalam jangka 2 hari Lo masih berani tidak menjauhi Migo ku. Aku tak akan segan-segan dengan ucapan ku itu!"
"Haha ... Dasar wanita miskin bodoh. Tante gak sabar buat menghabisi wanita miskin itu, sayang. Tante sudah sangat muak, melihat wajah so menderitanya."
...πππππππ...
Kirana duduk termenung di teras depan rumah, tatapnya terlihat kosong sambil mengaduk-aduk teh di tangganya. Pikirannya berkelana memikirkan hubungannya sekarang.
Kirana sudah memikirkan matang-matang kemarin malam, akan mengakhiri hubungan bersama Migo jika itu akan membuat Belle berhenti terus menerus mengusiknya.
Jika keputusannya untuk melepaskan Migo akan membuat keadaan berubah seperti semula, Kirana rela mengorbankan perasaannya agar tidak membahayakan orang tersayang nya.
Sebuah kecupan hangat di keningnya, membuat Kirana menoleh ke pelaku yang duduk di sebelahnya.
"Good morning sayang!"
Kirana tidak menjawab, ia kembali menatap lurus ke depan. Membuat Migo menatap Kirana bingung dengan tingkah yang menurutnya tidak seperti biasanya.
Kirana menghela nafasnya pelan, Bismilah! Gue bisa!
"Say ..."
"Aku mau kita putus." ucapan kata cepat Kirana membuat Migo diam, menatap wajah Kirana tak terbaca. "Aku mau hubungan kita cukup sampai di sini saja."
Migo terkekeh pelan, dia tahu pasti Kirana hanya membohongi nya. "Haha ... Kamu mah bercandanya kelewatan sayang!"
Kirana menatap datar Migo menggeleng pelan. "Aku tidak lagi bercanda. Aku serius."
"Haha ... udah dong yang, bercandanya gak lucu. Pasti ini cuman prank kan? Dimana kamera tersembunyi nya?" tanya Migo berusaha berfikir kalau ini cuman prank. Migo tak akan percaya begitu saja, dengan putusan Kirana yang secara tiba-tiba.
"Aku serius Migo. Aku mau kita putus!" teriak Kirana begitu saja, hatinya sesak mengucapakan kata yang tak ingin dia ucapkan sepanjang hidupnya.
Air mata Kirana tak bisa di bendung lagi untuk tidak mengalir. "Aku, hiks ... mau kita akhiri hubungan kita."
Migo berusaha tenang, dia masih tak bisa mempercayai kenyataan yang begitu cepat.
"Apa alasannya? Kenapa tiba-tiba?" tanya Migo.
"A-aku, sudah tak mencintaimu lagi maaf." jawab Kirana berlalu untuk masuk, Kirana butuh menumpahkan tangisan nya. Hatinya begitu sakit.
"Aku tak percaya!" tegas Migo, menghentikan langkah kaki Kirana.
"Aku tahu, kamu memutuskan ku hanya karena sebuah ancaman sialan itu bukan? Jawab aku!" teriak Migo penuh amarah menatap punggung Kirana yang tidak membalikan tubuhnya.
Maaf kan aku Migo, hiks ... aku terpaksa.
"Kamu takut hanya sebuah ancaman belaka seperti itu? Kamu tak mempercayai ku, untuk mencari tahu orang itu? Itu belum tentu benar Kirana!"
Kirana membalikan tubuhnya menatap tajam Migo, dia tak tahu bagaimana tertekan batin nya saat terus mendapat teroran yang Belle berikan. Dia tak tahu, dirinya tidak bisa tidur nyenyak memikirkan itu semua.
"Kau tidak mengerti! Aku sudah bilang, jika itu perbuatan calon tunangan mu! Lihat dirimu? Apa kau mempercayai ku?" teriak Kirana.
Migo terkekeh sinis. "Jangan mengalihkan pembicaraan, gue nggak akan menuduh orang jika tidak ada bukti. Jangan menyangkal deh, Lo kalo udah gak cinta sama gue, Okey. Gue terima."
"Ternyata Lo nggak bener-bener cinta sama gue. Yang gue harepin kita cari jalan keluarnya masalah ini bersama-sama, tapi gue salah. Gue kecewa sama lo."
Migo meninggalkan Kirana begitu saja menuju garasi, mengambil mobil kesayangannya meninggalkan kediaman Kenan dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Hiks ... maafin aku Migo. aku nggak tahu harus gimana, aku nggak mau orang di sekitar aku kenapa-napa, termasuk kamu juga. Aku sayang banget sama kamu." isak Kirana bersimpuh di teras dekat pintu masuk.
Hatinya sakit, sakit melihat orang yang dia sayang sekarang menatapnya penuh kekecewaan.
Bersambung ...
Selamat hari raya idul Adha semuanya bagi yang menjalankan ... Jangan lupa bagi daging kurbannya sebagian buat author π€
Jangan lupa buat kasih jejaknya dengan like dan komennya, ramaikan terus kolom komentarnya pokonya ya gengs.
Hadiah dan vote nya juga jangan lupa ...
Eh, iya. Tonton iklan nya juga ya, yang banyak.
*
Blubr:
21+
Menjadi penghangat ranjang lelaki beristri tega Retha lakukan demi mendapatkan uang. Hubungan yang awalnya sebatas saling membutuhkan lambat laun menumbuhkan cinta.
Ketika cinta mulai bersemi di antara mereka, istri Bara yang telah lama pergi tiba-tiba kembali. Apa yang akan Retha lakukan menyadari posisinya sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Bara dan Silvia?