
Di sofa singel yang tak jauh dari ranjang rumah sakit, kedua sorot mata Kenan tak mengalihkan tatapannya dari setiap pergerakan Kania yang terlihat sabar menepuk bahu sang anak yang tengah tertidur memeluk tubuh Kania.
Kenan terpana. Sifat keibuan Kania yang tak pernah Kenan lihat, kini dengan rasa sayang Kania menyayangi anaknya. Walaupun Kania belum lama berteman anaknya, Kenan dapat melihat curahan sayang tersebut.
Bukan menyayangi hanya karena Kania sudah mengetahui Kei adalah anak darinya, tidak. Kenan dapat melihat ketulusan itu, dari kecemasan Kania saat melihat Kei nangis meraung-raung tadi.
"Sayang..."
Kania menyimpan telunjuknya di bibir, menandakan Kenan agar mengecilkan suaranya. "Pelan kan suara mu tuan."
Kenan menghela nafasnya pelan, ternyata dugaannya salah. Kenan kira Kania sudah memaafkan. Huh ... dirinya harus menceritakan semuanya agar permasalahannya clear. Kenan tak bisa seperti ini, Kenan tak bisa berjauhan dengan sang kekasihnya.
Sudah cukup belakangan ini Kania menghindarinya, tidak dengan sekarang. Kenan harus menjelaskan semuanya.
Kenan berjalan mendekati Kania yang tengah berbaring bersama anaknya, Kenan mendekap hangat tubuh yang beberapa hari ini dia rindukan dari arah belakang.
"Sayang, tolong jangan hindari aku lagi. Cukup beberapa hari yang lalu. Aku tersiksa, aku tak bisa berjauhan dengan mu."
Kania berusaha melerai pelukan erat Kenan dari belakang tubuhnya. Apa Pria menyebalkan ini tak berpikir, jika pelukannya itu membuat Kei terusik menggeliat pelan.
"Lepaskan!" geram Kania pelan, berusaha tak mengeraskan suaranya.
"Ndak mau." jawab Kenan pelan sedikit merengek di cengkuk lehernya.
Kesabaran Kania habis, melihat pergerakan Kei yang semakin tak nyaman dengan dekapan erat Kenan di tubuhnya. Kania mengikut keras perut Kenan, membuatnya melenguh sakit.
"Arghhh ... ayang sakit." rengek Kenan memegangi perutnya, wajahnya terlihat menahan sakit sikutan maut Kania.
Kania memutar matanya malas. "Makannya kalau aku bilang lepas, ya lepas. Kamu gak nyadar? Pelukan kamu itu sangat erat sekali, membuat Kei yang berada di pelukan ku merasa terganggu!"
"Hehe ... maaf yang gak sadar aku. Saking rindu nya aku sama kamu, kamu tahu kan aku gak bisa jauh sama kamu."
Penjelasan Kenan membuat Kania malas, sudah berapa kali Kenan berbicara seperti itu. Kania dengan pelan menurunkan lengan mungil Kei yang melilit pinggangnya.
Berhasil. Kania bernafas lega bisa mengurai pelukan Kei tanpa menganggu acara tidurnya. Sedangkan Kenan tangah merajuk, dia bersidakap dada memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Kania.
Kenan tak suka di diamkan, apalagi di abaikan.
"Mau menjelaskan semuanya?" tanya Kania mengalihkan tatapan Kenan.
Kenan menatap sedu Kania, Kenan langsung menerjang tubuh Kania. Mendekapnya erat, takut kehilangan. Perjuangannya selama ini tak sia-sia yang menunggu Kania agar mau mendengar penjelasannya.
Asyikk, ayang bakalan gak marah lagi. Dan nanti bisa uwu-uwuan lagi dehh.
Kenan mengurai dekapannya, tangannya menarik lembut tangan Kania mengiringnya untuk duduk di sofa. Wajah Kenan telah berubah serius menatap dalam mata Kania yang tengah menatapnya balik.
Helaan nafas pelan Kenan, membuat Kania menyadari ketakutan di raut wajah kekasihnya. Di genggamnya tangan dingin Kenan untuk menenangkan.
"Jangan cemas. Aku sudah siap dengan semua kebenaran yang kamu ucapkan nanti."
Kenan masih diam, dia semakin menatap dalam wajah Kania yang tengah menatapnya dengan senyum manisnya.
"Keinara adalah anakku. Aku pernah menikah." Kenan mengeluarkan ucapannya dari keterdiaman nya dari tadi. "Maaf aku telah mengecewakan mu, dengan menyembunyikan statusku. Aku tidak bermaksud, tidak menghargai mu. Aku takut kamu akan meninggalkan ku, setelah tahu semuanya."
"Aku takut itu. Aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya padamu. Aku takut kamu tahu kebenarannya dari orang lain, tetapi itu benar terjadi. Aku telat, tadinya malam harinya sebelum kejadian sore itu, aku berencana untuk menceritakan nya padamu." Kenan menghela nafasnya pelan, menjeda ucapannya. "Tetapi, aku sudah terlambat."
Kenan semakin berprasangka buruk, hatinya mulai tak tenang melihat keterdiaman Kania. Apakah ketakutan nya selama ini akan benar-benar terjadi?
Ini adalah kesalahannya. Sifat pengecutnya yang tak bisa jujur dengan pasangan, hanya karena ketakutan semata. tidak sadar secara tak langsung, Kenan menghancurkan hubungannya.
"Keinara adalah putri kesayangannya ku, walaupun kehadirannya dulu adalah sebuah kecelakaan, tetapi aku sangat menyayanginya lebih dari apapun. Pernikahan ku dulu hanya batas sebuah perjodohan semata, aku dan mantan istri ku dulu tak saling mencintai. Namun pada suatu kejadian, aku melakukan kesalahan dan hadirlah Kei, putri kesayangannya ku."
"Tetapi, seiring berjalannya waktu, perasaan sayang tumbuh dari kami. Aku mulai luluh, melihat dia kesusahan beraktivitas dengan perut yang semakin besarnya, tetapi itu tak lama ..."
Kenan menjeda katanya, hatinya kembali sesak mengingat kejadian yang sudah lama dia berusaha lupa kan. Kania mengangkat kepalanya yang sempat menunduk, menatap manik mata sendu Kenan yang menyiratkan kesedihan.
Kania membawa tubuh kekar Kenan ke dekapan hangatnya, hati Kania sedikit sakit melihat kerapuhan Kenan sekarang. Kania semakin merasa bersalah telah mengabaikan Kenan, tanpa memperdulikan perasannya.
Kekasih macan apa dia. Bukannya menguatkan Kenan, dirinya malah hanya mementingkan perasaannya sendiri.
"Jangan di teruskan. Aku percaya, semua yang kamu ucapkan. Aku minta maaf, aku egois. Maafkan aku sayang." lirih Kania, tangannya mengusap lembut bahu bergetar Kenan.
Kania tahu Kenan sedang menangis dalam diamnya di cengkuk lehernya. Pendengaran nya sayup-sayup mendengar Isak tangis lirih, yang membuat hatinya sedikit sesak.
Apa aku boleh egois, merasa tak suka Kenan sedih seperti ini karena wanita lain selain aku?Walaupun, aku tahu itu hanyalah masa lalunya. Kenapa hati ini merasakan sesak?
Setelah mulai tenang, Kania mengurai pelukan tersebut. Matanya menatap lekat mata sendu Kenan yang berusaha menyembunyikan buliran air mata dari matanya.
"Kamu, gak akan ninggalin aku kan?" tanya Kenan pelan, menundukkan kepalanya sambil menautkan tangannya takut.
Kania tersenyum mengusap surai rambut hitam tebal milik Kenan, tangannya mengangkat dagu Kenan agar menatapnya. "Tidak akan. Aku tak masalah dengan seratus mu itu, aku tak perduli. Toh itu hanya masalalu mu bukan? Aku gak berhak marah, ini semuanya sudah takdir."
Kedua mata Kenan berkaca-kaca, dia terharu. Bibirnya terus mengecupi kedua tangan Kania. Kenan tak tahu harus bicara apa lagi sekarang.
"Udah dong, gak pegel apa itu bibir?" kata Kania, merasa gemas melihat tingkah laku Kenan.
Kenan menggeleng cepat, memeluk tangan Kania erat, membuat Kania tak bisa menyembunyikan tawanya yang merasa gemas melihat tingkah laku Kenan. Dasar Duda, Dugong.
"Aaa ... sayang, baby Kania banyak-banyak!" Teriak Kenan kegirangan, tanpa memperdulikan Kei yang tengah tertidur nyenyak.
"Jangan mulai lagi deh."
Kenan cengegesan tak jelas melihat tatapan tajam Kania. Bibirnya terus tersirat senyum yang tak luntur dari pandangan Kania.
"Apa wanita yang bernama Shevina itu, Mamanya Kei?" tanya Kania tiba-tiba.
Kenan diam sejenak. "Dia adalah mantan kekasihku..."
Ucapannya tergantung saat terdengar suara ketukan pintu. Kania mengumpatin orang yang tak tahu waktu, datang di waktu yang tepat.
Bersambung ...
Hola readers semuanya, author come back. Kaish terus dukungannya ya jangan bosan-bosan dengan like, komen nya. Kasih vote dan hadiahnya yang sebanyak-banyaknya juga agar Author semakin semangat buat up nya hehe...
Tunggu kelanjutan chap nya jam 9 nan ya, nanti author mungkin up Jang segitu. Tapi sambil nunggu Author up lagi, kepoin juga yuk ke cerita yang Author rekomendasiin ... cuss.
*
"Aku tidak pernah menyangka … jika sosok yang selama ini sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri ternyata memiliki perasaan cinta layaknya seorang pria kepada seorang wanita. Dia membuatku berada dalam situasi yang sulit—menjadi ibu tiri sekaligus sahabat dari putrinya sendiri. Aku harus bersandiwara dengan baik dalam belenggu benang kusut yang tidak pasti di mana ujungnya." Anne Malila.
"Sosok wanita di masa laluku hadir dalam dirimu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan yang sudah lama terkubur ketika melihatmu. Rasa ingin memiliki dan mencintai yang sempat hilang di masa lalu tidak akan aku ulang kembali. Aku harus memilikimu, Anne, karena kamu seperti inkarnasi ibumu di saat dia masih muda dulu." Rudianto Baskoro.