
Tubuh Kania mondar-mandir tak jelas, dia ragu untuk membuka pintu kamar tersebut, takut Mama Khanza masih ada di sana, mau di taruh dimana wajahnya memperlihatkan penampilannya sekarang yang hanya memakai kemeja Kenan yang kebesaran dan celana pendek miliknya.
Kania berdecak kesal sekarang, kenapa Kenan tak dari dulu menyimpan beberapa bajunya di sini si, kan kalau sudah seperti sekarang jadi repot sendiri.
Perlahan Kania membuka sedikit pintu tersebut sambil menyembulkan kepalanya melihat ke adaan ruangan. Kania tak menemuka orang di luar, kemana perginya Kenan dan Mamanya?
"Sayang kamu lagi ngapain?"
Panggilan seseorang membuat tubuh Kania menegang, matanya perlahan melihat ke arah suara, ternyata Kenan bersama Mama Khanza sedang menatapnya penuh tanya.
Kania tersenyum kikuk, di tempat yang sama tak keluar dari balik pintu tersebut, "Hehe, nggak lagi ngapa-ngapain kok Mam"
"Terus kamu lagi ngapain sayang diem di situ? Kenapa gak keluar?" tanya Kenan berjalan mendekati Kania untuk memastikan.
"Gimana si kamu nyuruh aku buat mandi, tapi gak punya baju cewek buat aku pake!" geram Kania tertahan sambil berbisik.
Mata tajam Kenan mengerjap pelan, apa Kania tidak memakai sehelai benang pun di balik pintu tersebut? Kalau benar pasti itu si kembar sedang... ahh kenapa pikirannya akhir-akhir ini selalu berfantasi liar jika bersama Kania.
Pasti kalau saya melihatnya dia sangat seksi dan menggoda, aku tak sabar jadinya untuk menghalalkan nya.
Kenan menggelengkan kepalanya pelan untuk menghilangkan pikiran kotornya yang semakin liar membayangkan tubuh indah Kania yang ah... sangatlah menggoda pastinya.
"Gak usah aneh-aneh deh, aku pake kemeja kamu!" ketus Kania mengerti arah pikirannya sang kekasih.
"Mama bingung, kalian itu kenapa si?" tanya Mama Khanza.
"Itu Mam, Kania pake kemeja aku jadi dia malu katanya buat keluar" jawab Kenan tanpa dirinya sadari bencana akan menimpanya.
Kania menepuk dahinya capek, kenapa Kenan sangat polos sekali di depan Mamanya. Mulutnya itu loh kenapa seketika jadi ember? Dimana sikap berwibawa nya saat menjadi seorang CEO yang akuh?
Kini tak ada Kenan yang sombong berwajah datar menatap orang-orang. Kania memprediksi dari sikap Kenan yang berubah drastis saat ada Mama Khanza, Kenan mungkin anak Mama dengan topeng menjadi CEO berwajah datar dan angkuhnya tingkat dewa.
"Ya ampyun, pasti calon anak mantu Mama kedinginan ya sekarang?" tanya Mama Khanza sambil mendekati keduanya di depan pintu, dengan sengaja nya juga Mama Khanza menginjak kaki Kenan kencang agar menyingkir.
"Aduh, sini sayang gak usah malu sama Mama, seharusnya yang onoh tuh yang malu, gimana katanya laki tapi gak pengertian banget sama pasangannya sendiri!" kata Mama Khanza menuntun lembut Kania untuk duduk di sofa di ruangan itu.
Kania menatap prihatin Kenan yang masih di tempat yang sama sambil meringis memegangi kakinya yang berasa copot yang mendapatkan ijak-kan maut dari kanjeng Mami dengan hak tinggi yang sangat lancip itu, di jamin deh rasanya ah... mantap.
Berasa anak tiri saya di sini. Aneh deh anak kandung sendiri senang banget kayaknya di nistain.
"Kenapa masih diam di situ hah? Cepat sana belikan anak calon mantu Mama baju, gak pengertian banget jadi cowok! Gak mikir apa Kania pasti ke dingin-nan dengan baju seperti ini!"
Kenan mendelik sebal menatap wajah Mamanya yang sangatlah menyebalkan, ini yang membuat Kenan malas bertemu sama Mamanya pasti selalu di nistain, aneh deh.
"Sabar ken, sabar dia juga gitu-gitu Mama kandung sendiri." monolog Kenan berlalu keluar ruangan miliknya.
Sedangkan di dalam ruangan Kania berasa tak enak kepada kekasihnya sekarang, Mama Khanza yang mengerti raut wajah Kania menggenggam lembut tangan Kania.
"Tak apa sayang, dia sekali-kali harus di gituin biar lebih ngerti dalam kepeduliannya kepada pasangan."
"Udahlah lah, jangan pedulikan anak nakal itu. Ya kalau dia masih pintar bisa kan menyuruh Leo untuk membelikannya? Kita sampingkan masalah tu anak, sebaiknya kita ngobrol santai aja Mama ingin mengenal dekat mantu Mama ini" kata Mama Khanza tersenyum hangat.
Keduanya larut dalam pembahasan satu sama lain yang bertukar cerita. Kania pun tak merasa kecanggungan lagi sekarang, sifat Mama Khanza yang seprekuensi dengannya membuat Kania tak susah untuk dekat.
Kania bahkan sudah memperlihatkan kelakuan abstrak nya di depan Mama Khanza tanpa jaim. Kalau mereka sedang saling tawa bahagia tidak dengan Kenan, dia terus mengumpat kesal sepanjang perjalanan menuju butik yang tak jauh dari kantornya.
"Sial! Kenapa saya tidak menyuruh Leo saja yang membelikan nya!"
...πππππππ...
Di sebuah mall yang cukup terkenal di negara itu, Migo mengikuti langkah Kirana yang kesana-kemari mencari beberapa barang yang dia butuhkan tanpa melihat keadaan kedua tangan Migo yang penuh oleh paper bag belanjaan milik kanjeng ratu.
"Sayang, kamu gapapa kan aku titipin itu semua belanjaan nya? kalau berat kasih aku beberapa biar aku yang bawa" kata Kirana membalikan tubuhnya menatap Migo yang kelihatannya sedang kelelahan.
Migo melemparkan senyum terpaksanya, "Enggak ko, cuman segini mah gak berat kok."
Sumpah gak berat kalau kita gotong royong buat bawanya.
Kirana yang peka, mengambil beberapa tas belanjanya, "Biar sama-sama bawa"
Makin cintah deh gue kalau gini!
"Mau belanja lagi? Masih ada yang kurang?" tanya Migo menautkan jarinya agar saling menggenggam.
Kirana menggeleng pelan sambil tersenyum untuk meresponnya. Bukannya Kirana cewek matre kayak mantan-mantan Migo yang dulu kalau di ajak shopping ke mall akan membeli semua barang branded yang keluaran terbaru, Kirana malah memburu diskonan yang jauh dari ekspetasi Migo.
Menurut Kirana barang diskonan juga tak kalah bagus dari barang yang harganya fantastis. Iya fantastis, bisa membuat dompetnya ludes bahkan bisa masih kurang.
Barang yang mahal dengan yang murah pasti beda satu yaitu ada namanya, dan ya pasti kekuatan barangnya lebih bagus juga. Tetapi kalau yang harganya murah juga awet? kenapa tidak?
"Em enggak deh kayaknya udah cukup. Kita langsung pulang aja."
Migo mengangguk menuruti sang kekasih berjalan. Namun tanpa mereka ketahui dari jarak yang agak jauh, seorang pria misterius dengan baju serba hitam memperhatikan pergerakan mereka dari tadi.
"Laporan bos, mereka akan keluar dari mall" kata Pria misterius tersebut menghubungi seseorang.
"..."
"Baik, saya tunggu tugas selanjutnya Nona!"
Bersambung...
Jan lupa like, komen di setiap babnya...
Kasih hadiah dan vote nya juga hehe agar nambah semangatnya author buat update... and love you buat kalian semuanya dari author terketjehh ogheyyyπ€£π