TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 55



"Buna na keii!!"


Tubuh Kania sedikit terhayung ke belakang mendapatkan perlukaan dadakan tersebut. Kei menggetarkan pelukannya takut kehilangan, di iringi juga isak tangis kembali membuat Kania kelimpungan.


"Hey, sayang kenapa nangis lagi? Udah, yaa ... kan Bunda udah ada di sini." kata Kania, tangannya mengusap lembut surai rambut Kei menegangkan.


Pasang mata yang melihat kejadian tersebut, tak segan-segan menatap sinis Kania. Ada juga ibu-ibu rempong yang mencibirnya secara terang-terangan, mereka mengira Kania seoarang Ibu yang menelantarkan anaknya sendiri dan bersenang-senang sendiri.


"Padahal sayang ya jeng, emang bener deh muka mah gak menjamin. Cantik si cantik, tapi nelantarin anak sendiri, mungkin dia punya sugar Deddy deh. Bikin anak nya aja senang eh udah lahir gak di perhatiin." kata seorang ibu penampilan gelamor dengan memakai perhiasan banyak.


"Bener tuh jeng. jangan-jangan dia suka celap-celup sembarang lagi. Ih amit-amit dehh!" saut teman ibu itu menatap sinis Kania.


Kania mendengus kesal, berani sekali si toko emas berjalan dengan temannya mencibirnya secara terang-terangan. Dasar emak-emak rempong, mulutnya ngebacot mulu sampe berbusa tanpa tahu kebenarannya.


"Maaf ya Tante toko emas berjalan, saya bukan orang yang Tante tuduhkan tadi." sinis Kania bangkit dari jongkoknya menatap nyalang ibu-ibu di depannya.


"Cih, dasar anak muda. Jangan banyak bergurau, pasti kan anak itu, anak haram mu bukan?" kata teman ibu di sebelahnya menatap remeh Kania.


"Ya pasti lah jeng, dia nya juga masih muda gitu. Pasti lah anak muda yang gak berpendidikan mah gitu, harga diri mereka di serahkan begitu saja ke lawan jenis dengan suka rela nya. Ya kalau sudah jadi anak, anaknya pasti di telantarkan kayak gini lah!" kata ibu toko emas berjalan memperkeruh keadaan. Kini orang-orang menatap jijik Kania yang memeluk tubuh Kainara.


Kania tersenyum sinis, memangnya dia akan kalah dengan ocehan tidak bermutu dari mulut bau jigong kedua wanita bau tanah di depannya, tidak semudah itu sayyy.


"Bacot banget lo berdua, mulut bau jigong juga."


Perkataan Kania membuat kedua Wanita tersebut tak terima, baru saja mereka akan mengeluarkan ocehannya Kania langsung memotongnya cepat.


"Apa mau bilang gak sopan sama yang tua? Gak nyadar udah bau tanah? Saya akan menghormati kalian, jika kalian juga menghormati saya. Bukannya rajin-rajin ibadah, malah nambah dosa dengan mulut bau jigong itu, menuduh orang tanpa mengetahui kebenarannya,"


"Memangnya kalian siapa? Berani berani mengomentari kehidupan saya? Kita tak saling kenal ya Bu. Lebih baik Ibu-ibu urusi urusan kalian masing-masing gak perlu komentari kehidupan saya. Jangan sok tau jadi orang deh!"


Wajah kedua Wanita tersebut merah padam menahan malu, kini orang-orang yang di sana beralih menatap sinis kedua Ibu-ibu tersebut.


"Berani kamu ya ..." teriak Ibu-ibu yang berbibir menor mengangkat tangannya akan menampar Kania.


"Stop! Oma menol jangan pelnah nampal muka Buna na Kei!" pekikan Kei nyaring membuat semua orang menahan tawanya mendengar celotehan Kei.


"Diam kamu. Jangan ikut campur urusan orang dewasa!" sinis Ibu-ibu ber-lipstik merah cabe menatap garang Kei.


"Ada apa ini? Siapa yang berani memarahi Putri kesayangannya ku!"


Suara dingin seseorang yang datang menghentikan perdebatan mereka, kini seketika suasana menjadi hening dan mencengkeram, tidak ada satu orangpun yang berani mengeluarkan suara. Semua orang bergidik ngeri melihat wajah datar yang Kenan pancarkan membuat mereka diam tak berkutik.


Anak? Hah jadi?


"Oh jadi kau ayah dari anak haram itu?" sinis Ibu toko emas berjalan memberanikan berbicara.


"Jaga bicara anda, jika tak ingin nyawa anda terancam nyonya!" herdik Kenan marah, dia tak suka anak kesayangannya di hina.


"Heleh, aku tak salah bicara ya. Pasti lah dia anak haram, liat aja itu wajah Mama terlihat masih muda"


Kenan menarik alisnya bingung, Mamanya? Siapa? Tadi saat datang Kenan tak melihat jelas wanita yang menggendong anaknya, dia terlalu marah melihat anak kesayangannya di bentak orang.


Manik mata tajamnya di alihkan ke arah sang anak yang sedang menangis sesegukan. Deg! Ka-kania? ada apa ini sebenarnya? Kenapa dia bisa berada di sini?


"A-ayahh, hiks ... Oma menol itu, hiks ... mau tampal wajah na Buna. Kei nda cuka itu, hua!!" teriak Kei histeris menangis, dia tak terima Bundanya di pukul orang. Bundanya tak boleh lecet sedikitpun, Kei akan sedih.


Bu-bunda?


Kenan mengambil alih tubuh mungil Kei yang menangis di gendongan Kania. Namun tidak dengan Kania dia masih diam dengan pikirannya sendiri mencoba mencerna semua kejadian yang baru saja terjadi yang begitu cepat.


"Saya tegaskan! Ini adalah Anak dan Istri saya. Saya menikah muda dengan Istri saya. Jadi dengan semua tuduhan yang nyonya ucapkan semuanya salah besar!" tegas Kenan menarik pinggang Kania memeluknya erat, dirinya mengetahui semua perdebatan antara kedua wanita paruh baya dengan wanita yang menggendong Putrinya, Kenan yang melihat kejadian tersebut dari arah belakang, tak mengetahui kalau wanita tersebut adalah kekasihnya yang dia cari.


Kedua Ibu-ibu tersebut pergi begitu saja dengan wajah merah padam menahan malunya, bersamaan juga dengan orang orang yang berteriak menghakimi keduanya sebelum bubar.


Kenan mantap dalam wajah datar Kania di sebelahnya, sebenarnya dirinya juga tidak terlalu paham dengan kejadian yang begitu cepat tadi. Jadi yang Kei sebut Bunda sambil menangis histeris itu yang di maksud kekasihnya sendiri? Tapi kenapa bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?


"A-ayahh, tubuh Kei dingin cekali." lirih Kei dengan tubuh yang bergetar hebat membuat keduanya panik melupakan pikiran mereka masing-masing.


"Astaghfirullah sayang, tubuh kamu panas banget. Ayo Ken kita harus bawa Kei ke rumah sakit sekarang juga!" teriak Kania panik saat tangannya menyentuh dari Kei. Dia tak boleh egois sekarang, memikirkan hubungannya dengan keadaan Kei yang tak baik-baik saja.


Kenan mengangguk, berlari kecil menuju tempat mobilnya berada di ikuti oleh Kania. Tubuh sang anak di pindahan ke dalam pangkuan Kania sebelum melesatkan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Kekhawatiran nya semakin bertambah saat melihat Kei tak sadarkan diri di dekapan Kania. Kania tak bisa menyembunyikan ketakutannya, dia berteriak agar Kenan menambah ke cepetan mobilnya dengan air mata yang tak bisa di bendung untuk tidak keluar.


Kei anak yang kuat, Bunda yakin Kei pasti gak akan kenapa-kenapa. Tolong jangan buat Bunda khawatir sayang.


Bersambung....


Holaaa, kembali lagi dengan Author cantek ini asekkk 🤣. Satu Chapter dulu ogheyyy, nanti nyusul lagi kelanjutan nya, entah itu siang nanti, atau besok hehe...


Terus pantengin terus ya gais jan bosan-bosan 🤭. Terus kasih dukungan nya juga dengan like, komen yang positif, eh iya kasih hadiah dan vote nya juga ogheyy.


Salam kasih dari Author 🥰❤️.