TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 79



Leo kembali ke ruang tamu dengan wajah kesal, tak lupa juga dengan tangan kanannya menenteng paper bag makanan pesanannya.


Tapi entah pergi kemana wajah kesal yang pria kutub itu perlihatkan, kini malah berganti dengan wajah yang tersenyum lebar menuju sang pujaan hati yang tengah memainkan ponselnya di sofa ruang tamu.


Leo meletakkan paper bag di meja, mata tajamnya tidak lepas dari wajah Keysa yang sedang fokus dengan ponselnya. Bahkan dia tidak menyadari kehadirannya sama sekali saking asiknya dengan ponsel sialan itu.


Leo mengeram kesal, kegiatan apa yang membuat sang pujaan hatinya sampai mengabaikan dirinya seperti ini.


Kekesalan Leo tidak bisa di tahan lagi, saat bibir tipis wanitanya menampilkan senyum ke benda kotak yang rasanya ingin sekali Leo membanting benda tersebut.


"Kenapa kau mengacuhkan ku hem?" kata Leo sambil merebut benda kotak, terlihat wajah Keysa yang tidak terima dengan perlakuan Leo menggambil ponselnya begitu saja.


Keysa berdecak kesal. "Apaan sih! Balikin gak, ganggu banget!"


Leo menatap datar Kesya, dia tidak suka wanita di hadapannya membangkang oleh sikapnya, tangannya mencengkram erat ponsel yang berada di genggam menyalurkan emosinya yang tertahan.


Tanpa di duga Leo membanting keras ponsel di genggamannya sebelum pergi begitu saja meninggalkan Keysa yang menelan ludahnya melihat ponsel kesayangannya hancur di depan matanya sendiri.


Keysa memejamkan matanya untuk meredam emosinya yang ingin menendang wajah menyebalkan Leo yang secara tidak punya rasa bersalahnya pergi begitu saja. 'Kulkas berjalan edann!! Argggg pengen banget gue potong jadi dua tuh burungnyaa!!'


"Leooo edannn! Manusia gak punya hati, sumbangin aja sana hati Lo, gak berguna bangett! Aaaaa, pokoknya gue pengen cakar wajah loo!!" teriakan Keysa menggelegar siapa saja yang mendengarnya pasti akan mengiranya toa masjid.


"Diam sayang!"


Keysa kicep. Otaknya masih mencerna dua kata yang membuatnya membeku. Bahkan dirinya tidak menyadari jika Leo sudah duduk di sampingnya dengan membawa dua piring.


Leo tersenyum tipis melihat keterdiaman Keysa. Wanita nya sangat menggemaskan sekali, tadi saja berteriak seperti orang kesurupan, dan lihatlah sekarang, dengan wajah polos nya itu malah diam mematung.


"Jangan melamun sayang, nanti saya khilaf melihat wajah menggoda mu yang sangat menggemaskan saat melamun."


Bisikan Leo, membuat dunia Keysa kembali lagi. Matanya sudah menyorot tajam Leo yang tengah santai tanpa wajah bersalah nya membuka paper bag di meja.


"Kutub utara edannn!! Ponsel gue hancurr ba**st!" teriak Keysa dengan emosi di ubun-ubun, malah mendapatkan respon kekehan pelan di bibir pria menyebalkan di sampingnya.


"Jangan berbicara kasar sayang, saya tidak suka mendengarnya."


Tangan besar Leo tanpa permisi mengelus kepala Keysa dengan mimik muka yang masih merah padam. "Soal ponsel sialan itu biar saya ganti nanti, saya mampu jika kamu ingin sepuluh ponsel pun. Sekarang makan lah terlebih dahulu, biar saya sekalian suapi."


Sombong sekali pria kutub satu ini, ahhhh! ingin rasanya Keysa mencakar wajah yang sialnya tampan walaupun tanpa ekspresi di depannya ini.


"Gue ..."


Cup


"Jangan terus membantah sayang, saya tidak suka, atau saya akan berbuat lebih dari kecupan di sudut bibir manis mu. Tetapi, akan membuat mu mengerang keenakan di bawah Kungkungan ku."


Bisikan mengerikan Leo membuat tubuh Keysa meremang, bahkan nasib bibirnya sudah tak suci lagi akibat manusia kutub mesum menyebalkan.


...πŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺ...


Migo menatap jengah wanita yang bergelayut di lengan kanannya, kalau bukan karena keingintahuan nya akibat ucapan Kenan tempo lalu dia sangat tidak sudi berdekatan dengan wanita j***ng seperti Belle.


"Sayang, kita jalan-jalan yuk ke mall. Aku ingin membeli tas keluaran terbaru bulan ini," kata Belle dengan suara di lembut-lembutkan.


Migo menghela nafasnya kasar. Sial! Dia harus mengorbankan utangnya juga untuk nenek lampir di sebelahnya ini.


Baru saja Migo akan bicara, suara deringan ponsel milik Belle menghentikan gerakan bibir Migo. Wajah Belle yang tadinya tersenyum lebar, kini berganti tegang setelah melihat benda kotak tersebut.


Perubahan mimik wajah Belle pun dapat Migo lihat, Migo semakin penasaran karena layar yang baru saja Migo akan membaca siapa nama yang menelpon langsung ponsel tersebut di rapatkan di dada Belle.


"Sa-sayang sebentar, teman ku menelpon," kata Belle sedikit gugup sebelum dirinya pergi menjauh menuju dapur untuk mengangkat telpon yang entah dari siapa.


Migo sempat berkerut bingung melihat tingkah laku Belle yang menurutnya sangat mencurigakan. "Mencurigakan. Harus gue cari tahu."


Langkan pelan Migo mencari keberadaan Belle menuju arah dapur, langkah demi langkah Migo terus berendap-endap agar tidak menimbulkan bunyi sedikitpun.


Entah insting dari mana, Migo mengeluarkan ponselnya dan menyalakan perekam suara ponsel. Seolah dirinya mendapat firasat akan terjadi sesuatu.


"Belle mohon, beri Belle waktu satu Minggu lagi untuk merayu Migo, dan membujuk Tante Friska agar Belle dan Migo bisa menikah secepatnya."


"..."


"Iya Daddy tenang saja, setelah itu kita akan peras semua kekayaannya. Belle akan meminta semua aset beralih dengan namaku ke Tante Friska, dan aku akan membawa kabur semua hartanya."


Migo mengepalkan tangannya kuat, sungguh ia tidak menyangka akal bulus wanita yang selalu Mommy nya banggakan. Bahkan, sangat tidak dipercayai lagi Belle bersekongkol dengan ayahnya sendiri.


Migo buru-buru sedikit bersembunyi dari balik tembok saat Belle seperti sudah memutuskan sambungan telponnya, terlihat wanita itu menunduk dengan bahu bergetar entah apa sebabnya Migo tak tahu.


Migo tidak perduli, dia buru-buru kembali ke ruang tengah agar Belle tidak mencurigainya.


...πŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺ...


Kirana duduk melamun di meja pojok cafe yang tengah rami di kunjungi pengunjung, mungkin sebab sekarang kebetulan malam Minggu tempatnya para muda-mudi nongkrong bersama teman maupun pacarnya.


Mungkin malam minggu kini, orang-orang sedang bahagia jalan bersama pasangannya. Tetapi, tidak dengan Keysa sekarang. Ingatannya terus berputar-putar dengan pertemuan tidak sengaja bersama Migo dan Belle tadi siang.


Sangat lucu bukan? Dirinya yang memutuskan, tetapi durinya sekarang seperti orang yang paling tersakiti melihat kejadian tadi siang yang seharusnya wajar.


Tetapi mengapa, hatinya sangat tidak terima dengan semua itu? Keputusannya sudah benar bukan memutuskan orang yang kita sayang bahagia dengan orang lain?


Hah!


"Kalau aku tahu jatuh cinta serumit ini, aku lebih baik tidak mengenal apa yang namanya cinta itu," lirih Kirana menelungkup kan wajahnya di lipatan tangannya.


Seorang pria di belakang Kirana yang tidak sengaja mendengarkan suara lirihan Kirana tersenyum tipis. "Jatuh cinta itu wajar kalau mamanya patah hati, itu konsekuensinya jika menjalin sebuah komitmen. jika hubungan tersebut lancar tidak ada hambatannya kamu bersyukurlah, dan jika kamu mendapatkan kegagalan kamu harus semangat jangan bersedih, pasti bakal ada kebahagian suatu saat nanti."


Kirana mendongak, menatap pria yang tersenyum tipis duduk di depannya sekarang. Kata demi kata yang di ucapkan pria asing di depannya sekarang membuat Kirana terdiam meresapi kata demi kata tersebut.


"Jangan sedih hanya soal cinta, di setiap hubungan pasti ada rintangan yang harus di lalui. Tetapi jika kamu lelah, boleh kok menyerah terlebih dahulu. Ya, walaupun harus mengorbankan hubungan itu. Tetapi harus ingat, jika dia jodoh mu, pasti suatu saat nanti kalian akan bersatu kembali, dan jika bukan, terimalah. Mungkin Tuhan sudah mempersiapkan jodoh terbaik buat mu walaupun bukan dia."


Lanjutan ucapan panjang tersebut seakan-akan tertuju kepadanya semua. Tetapi, kenapa kebetulan sekali pria asing di depannya bisa mengetahui titik permasalahannya?


"Mengapa kamu bisa mengetahui permasalahan ku?" Lirih Kirana menunduk dalam.


Bibir pria asing tersebut terangkat, lagi dan lagi menampilkan senyum tipisnya. "Aku hanya menebaknya, mendengar ucapan mu tadi mengingatkan ku dengan adik ku yang patah hati akibat putus hubungan dengan kekasihnya karena orang tua si pria tidak menyetujuinya, dan ucapannya persis seperti mu tadi."


Kirana diam menunduk, bahkan beberapa menit keduanya diam tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali, hanya ada kebisingan orang-orang sekitar.


"Terimakasih ..."


Kirana menegakkan tubuhnya untuk menatap lebih jelas pria asing di depannya. "Terimakasih atas ucapan mu aku lebih tenang sekarang,"


Pria asing tersebut mengambil kopi yang Kirana pesan yang belum sempat dirinya minum, kini sudah di minum oleh pria asing di depannya.


"Tidak masalah, aku sudah biasa menasihati orang yang putus asa untuk hidup, atau kau mau bunuh diri juga?" kata pria asing didepannya dengan wajah super tengilnya.


Seketika wajah sendu Kirana berubah menjadi tatapan jengah dengan tingkah laku pria yang baru beberapa menit saja so bijak sekarang berubah menjadi pria tengil menyebalkan minus akhlak.


"Pria edan!"


Ucapan Kirana semakin membuat pria tersebut tertawa ngakak, bahkan kedua tangannya sudah memukul meja dengan tawa yang tidak berhenti persis wanita jika tertawa.


"Haha, perkenalkan nama ayke Gibran, bisa di panggil sayang atau ayank juga boleh," kata Gibran dengan nada alay nya, membuat Kirana yang mendengarnya ingin muntah.


"Plis deh, Lo tadi aja so bijak. Lah sekarang, muka Lo nyebelin banget minta di sleding!"


Bersambung ...