
"Sayang tolong carikan dasi aku yang warna biru tua!"Teriak Kenan dari dalam kamar.
Tidak ada jawaban. Kenan menyembulkan kepalanya melihat ke arah dapur mencari keberadaan Kania namun tidak ada.
Kemana Kania? tumben gak ada di dapur, apa masih di kamarnya ya?
Tangannya perlahan mendorong pintu membukanya ke dalam, manik matanya menelusuri setiap inci kamar namun tidak menemukan keberadaan sang kekasih.
Matanya terhenti di pintu balkon yang terbuka, benar saja Kania sedang melamun menatap hamparan jalan raya yang sudah padat walaupun masih pagi.
Kenan tersenyum menatap punggung Kania sambil tersenyum akan mendekap tubuh rampingnya yang membuat nya nyaman, tetapi langkah Kenan terhenti bersamaan dengan alisnya berkerut mendengar ucapan Kania.
"Kak Bian apa kabarnya ya sekarang? apa kakak di sana merindukan Kania? Kania rindu perhatian kakak dan lindungan yang kakak kasih"
Tangan Kenan terkepal kuat, matanya sudah memerah dengan nafasnya yang sudah naik turun. Bian? siapa pria itu, berani beraninya Kania memikirkan pria lain selain diriku!
Tanpa sepatah katapun Kenan meninggalkan balkon tersebut dengan amarah yang akan memuncak tanpa mendengar lanjutan kata Kania, Kenan butuh pelampiasan untuk meredakan amarahnya sekarang.
"Walaupun kak Bian bukan kakak kandung Kania Kania sangat merasakan ketulusan sayang kakak ke Kania sangat tulus"Monolog Kania menghela nafasnya kasar.
Suara gemercik air hujan bersama petir yang bersambaran merubah suasana malam di hati itu sangatlah mengerikan.
Seoarang anak perempuan menangis menutupi wajahnya di depan seorang wanita paruh baya yang tergeletak tak berdaya dengan bau anyir yang menyengat bercampur dengan air hujan.
"Tante! Tante bangun hiks... kenapa Tante diam saja hiks... ayo Tante bangun Kania takut hiks...."Isak seorang anak wanita yang tak lain adalah Kania.
Kania terisak menatap mata yang terpejam dengan darah yang mengalir dari kepala perempuan di depannya, Kania bingung sekarang harus berbuat apa anak yang berusia 13 tahun itu hanya bisa menangis terisak.
Bagaimana tidak takut, wanita di depannya ini yang menolongnya saat akan tertabrak oleh sebuah truk yang melaju dengan kencang.
Namun akibat wanita paruh baya di depannya mendorongnya Kania selamat. tetapi tidak dengan wanita paruh baya yang Kania tidak tahu siapa, dia yang tertabrak oleh truk yang jaraknya sangat dekat tidak sempat lari.
"Arghh ini semua salah Kania! Tante cantik gak mau bangun gara gara Kania, Tante ini keluar darah semuanya karena Kania! Keysa, Kirana... Kania takut hikss"Isak Kania pilu dengan air hujan yang semakin deras.
"Hey adik kamu kenapa?"Tanya seorang anak pria yang umurnya lebih tua darinya membawa payung.
Kania mendongak menatap anak pria tersebut dengan seorang wanita paruh baya di sebelahnya, mata Kania sembab dengan tubuh menggigilnya kedinginan.
"Ya ampun nak apa yang terjadi, papa! tolong bantu angkat ada orang kecelakaan!"Teriak wanita yang berada di samping anak pria tersebut meminta pertolongan ke suaminya yang berada di mobil.
Pria paruh baya berlari tanpa memperdulikan hujan yang masih turun deras untuk mengangkat tubuh wanita yang tak berdaya tersebut memasukkan nya ke mobil.
Kania terus menangis di dekapan anak pria tersebut sambil terus bergumam lirih. "Hiks.. kakak Kania takut, Tante itu ke tabrak mobil karena nolongin Kania"
Tangan anak pria tersebut dengan lembut mengusap rambut Kania. "Sut, udah ada kak Bian di sini oke? Kania aman sekarang".
"Ayah bisa lebih cepat lagi? adek Kania tubuhnya menggigil dan suhu tubuhnya demam tinggi!"
Setelah kejadian tersebut lah Kania sangat dekat dan menganggap Bian seperti kakak nya sendiri, dari kejadian itu juga Kania trauma dengan hujan dan petir.
Wanita tersebut tidak bisa terselamatkan saat sudah tiba di rumah sakit, Kania sempat terpuruk terus menyalah dirinya sendiri nya hanya dengan kasih sayang kedua sahabatnya dan ketulusan Bian terus menghibur Kania agar perlahan melupakan kejadian tersebut.
Kania tersentak saat merasakan sinar matahari menyilaukan matanya. "Astaga udah jam berapa ini?"
Kania masuk ke kamarnya panik membawa tas beserta memasukan dompet dan ponselnya ke dalam tas, Kania mencepol rambutnya asal sambil berlari keluar kamar menuju kamar Kenan.
Tidak ada yang menyaut, Kania mendorong pintu yang tidak terkunci mencari keberadaan Kenan, namun keadaan kamar kosong tidak ada orang.
Kania berjalan keluar apartemen tergesa gesa. "Kenan kenapa ya? apa ada meeting pagi kok gak biasanya kayak gini"
"Mana lagi ni taksi gak ada yang lewat!"Gerutu Kania matanya mencari kesana kemari mencari taksi yang lewat.
Akhirnya ada sebuah taksi yang lewat Kania langsung menghentikan nya. sepanjang perjalanan pikiran Kania tidak tenang terus memikirkan Kenan.
Setelah sampai di depan bangunan kantor Kania langsung keluar dari taksi tersebut berlari kecil masuk ke lobby perusahaan.
"Pagi kak Kania!"Sapa karyawan melihat Kania berlari melewati mereka menuju lift.
"Pagi!!"Teriak Kania masuk kedalam lift.
Sementara di ruangan Kenan, Kenan menatap tajam seorang wanita yang berpakaian cukup terbuka di depannya malas.
Moodnya sudah sangat buruk pagi ini, melihat wanita di depannya sedang menggoda nya sambil terus menurunkan belahan dadanya membuat Kenan muak ingin melempar nya.
"Cih, saya tidak akan tergoda kembali dengan tubuh ****** mu itu. saya bahkan tidak habis pikir bisa menyukaimu dulu!"Kata Kenan menatap tajam wanita di depannya.
"Saya kasih kesempatan kau pergi dari ruangan ku sekarang sebelum saya melemparkan kau ke bawah bahkan berbuat kasar padamu!"Teriak Kenan penuh emosi.
Seolah tak memperdulikan ancaman Kenan, wanita tersebut mendekati Kenan bahkan dengan beraninya bergelayut di tangan kekar tersebut sambil menempelkan dada sintalnya.
"Aku tidak perduli sayang, aku tahu kamu pasti masih mencintai ku bukan?"Kata wanita tersebut.
Nafas Kenan naik turun menahan emosinya yang akan meledak. "Kau! berani sekali memegang tangan ku!"
"Kau milik ku Kenan, selamanya hanya milik ku. aku tahu kau dulu hanya memenuhi permintaan nya kan untuk mencintai ku? kenapa kau tidak bisa melihat ku Kenan!! kenapa?"
"Hahaha sepertinya aku sia sia melenyapkan nya dengan menyiksanya secara perlahan, namun apa hasilnya apa! kau tidak pernah melihat ku? aku dari dulu mencintai mu sebelum kau kenal dengan ja**ng itu!"Teriak wanita itu.
Plak
"Jaga ucapan mu! kau tidak berhak untuk menghinanya, kau yang pantas mendapatkan julukan ******!"Teriak Kenan dengan kilatan mata penuh emosi.
Wanita tersebut tersenyum sinis, dengan cepat bibir wanita tersebut menempel di bibi Kenan melu**t nya kasar.
Belum sempat Kenan akan mendorong wanita tersebut pintu ruangan terbuka, Kania menutup mulutnya tak percaya melihat kejadian di depannya.
"Ma..mas?"
Bersambung....
Jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah nya ya...
Dukungan kalian semangatnya author buat terus update hehehe
Mampir yu ke cerita teman author yang gak kalah seru... yuk kepoin