
Di halte bus yang tak jauh dari sebrang campus, Keysa sudah mencak-mencak menunggu kedatangan Kania yang sampai saat ini belum juga menampakkan batang hidungnya.
Katanya ingin mencari dompet yang jatuh di sekitar kelas, namun sampai sekarang Kania belum juga kembali.
Kadar kekesalan Keysa bertambah, satu teman sengkleknya jugapun belum kembali dari toilet lima menit yang lalu.
"Kania nyari dompetnya se abad lagi. Gak tau apa di sini sepi banget gak ada orang." Keysa terus menggerutu sambil mengotak-atik ponselnya menghubungi Kania. "Si Kirana lagi, tu anak nyangkut di mana dulu sih, elah. Mau jadi penunggu toilet apa? cuman buang gas alam doang lamanya minta ampun."
Wajah masam Keysa sangat ketara melihat layar ponsel yang menampilkan chat yang dia kirim kepada Kania ceklis dua abu tidak di baca.
Dosa gak si, umpatin besti sendiri? Kesel banget gue, berasa pengen mukbang manusia aja.
Keysa mendudukkan bokongnya di kursi halte, di rasa-rasa kakinya lumayan pegal dari tadi mencak-mencak menunggu kedua bestod laknatnya gak datang-datang.
Saat pandangan matanya sedang lurus ke depan, manik matanya tidak sengaja melihat orang yang berada di dalam mobil yang baru saja melintas di depannya.
Wait? Tunggu.
Keysa menegakkan tubuhnya tangannya mengucek kedua matanya memastikan mobil yang tidak asing menurutnya. Matanya membulat sempurna, ternyata itu mobil milik Migo.
Dan di dalam mobil tersebut, Keysa tidak hanya melihat Migo berkendara sendiri, dia melihat seorang wanita yang wajahnya tidak sempat ia lihat di kursi samping Migo.
"Wah, wah gak beres tu anak. Baru aja hubungannya isdet sama bestoddd gue udah jalan sama cewek lain aja."
Keysa mengalihkan matanya mencari cari keberadaan Kirana yang tak terlihat batang hidungnya sedikitpun.
"Gue susul aja kali ya, takutnya tu anak kenapa-napa, kan berabe."
Se kesal-kesalnya Keysa dia masih punya rasa khawatir di hatinya terhadap sahabatnya. Keysa berlari kecil menyebrangi jalan untuk kembali masuk ke arah depan campus nya.
Suara klakson nyaring di gendang telinganya membuat Keysa menghentikan langkahnya di tengah jalan saat sebuah mobil berwarna hitam keluaran terbaru berhenti di depannya.
Keysa mengusap dadanya yang berdebar kencang saking kagetnya. Untung Keysa tidak punya riwayat sakit jantung, kamu iya, sudah isdet di tengah jalan dia sekarang.
Keysa mendengus kesal, "Keluar lo! Bisa gak si bawa mobil! Gak liat apa ada bidadari mau nyebrang."
Keysa menendang kesal body mobil bagian, dia hampir jantungan dengan suara klakson yang nyaring.
Siapa si ni yang punya mobil! Ngeselin banget.
Keysa berkacak pinggang mendekati kaca mobil dengan emosi yang meluap luap. Tangannya dengan kasar menggedor kaca mobil yang terlihat hitam dari luar.
"Keluar lo! Bisa gak si Lo bawa mobil!"
Kaki Keysa mundur refleks menyadari orang yang ada di dalam akan membuka pintu mobil tersebut.
Kilatan kemarahan Keysa terus menatap tajam ke arah pria berkaca mata hitam yang keluar dari mobil sambil menunduk membenarkan rambutnya.
Omaygottt kece pasti ni cowok. Fiks kalo ganteng gue gak jadi ngamuk, gue langsung ajak dia kawin.
Keysa berbalik membenarkan tataan rambutnya yang berantakan, di dalam hati wanita itu sudah memekik heboh bertemu dengan pangeran yang dirinya dambakan tanpa tau siapa pria di belakangnya saat ini.
Ambil nafas key, buang, sekali lagi. Yu bisa yu ketemu pangeran nya.
Keysa mengembangkan senyumnya berbalik. Wajahnya seketika berubah, bibir yang menampakkan senyum kini terpaut rapat menatap kicep pria di depannya.
Kenapa harus si singa sii? Ancur sudah khayalan pangeran berkuda gue.
"Maaf membuat mu terkejut."
Hening. Keysa masih diam menelisik wajah tanpa ekspresi Leo yang sama menatapnya tak terbaca.
Aduh gue harus gimana? Apa gue kabor aja kali ya? Iya deh gue mending kabur aja dari si singa buas, perasaan gue udah gak enak.
Belum sempat Keysa membalikan tubuhnya akan lari, tangan kekar Leo sudah lebih dulu menahan pergelangan tangannya.
Bukan hanya cekalan saja, beberapa detik selanjutnya tangannya di tarik membuat wajahnya membentur dada bidang Leo yang terasa keras.
Deg
Detak jantung Keysa tidak normal, ritme nya bergerak cepat seketika merasakan tangan kekar tersebut memeluk erat pinggang nya dengan dagu Leo berada di atas kepalanya.
"Jangan tinggalkan saya lagi. Saya mohon jangan pergi dan hindari saya Key."
Ritme jantung Keysa semakin tak normal, bahkan ingin berbicara saja berasa berat. "Ke-kenapa?"
Bukanya jawab, Leo malah semakin mengeratkan pelukan melepaskan kerinduan nya. Ia sekarang berasa sedikit lega bisa melihat wajah Keysa lagi.
Tidak seperti malam kemarin, pikirannya sudah berkeliaran kemana-mana tentang Keysa yang tidak akan kembali lagi.
"I love you. From now on and forever"
Keysa melepaskan rengkuhan tersebut secara paksa, walaupun Leo sedikit tidak terima akan hal itu.
"Hah? Lo ngomong apa? Gue gak ngerti bahasa araringgis." jawab Keysa tanpa dosa, walaupun benar dirinya tidak mengerti hanya kata pertama yang sering Keysa dengar yang mengerti apa itu artinya.
Bagaimana Keysa bisa men-translate bahasa Inggris yang dulu pas masa sekolah membuatnya mabuk kepayang. Bahkan nilai Inggris nya dulu yang paling tinggi hanya mentok di nilai 50 saja, bayangkan besti.
Leo menghela nafasnya lelah, sebagus itu dirinya mengungkapkan kata-katanya menggunakan bahasa Inggris ternyata Keysa tidak mengerti sama sekali dengan artinya.
Untung saya mencintaimu gadis nakal.
"Huh, makanya jangan sok Inggris deh. Tinggal pake bahasa Indonesia juga apa susahnya," kata Keysa berdecak kesal, menutupi rasa malu di hatinya yang keceplosan tidak bisa bahasa Inggris di depan Leo.
Seharusnya gue bilang 'Yes' aja tadi. Kan jadinya malu.
"Inget ya sing-eh maksudnya Lo itu sebaiknya lestarikan budaya sendiri"
Leo kembali menghela nafasnya, mengingat jika gadis yang telah meluluhkan dan menerobos benteng di hatinya adalah gadis bawel yang tidak mau kalah.
"Oke, saya akan mengulanginya kembali. Tapi tidak ada pengulangan kata, dengarkan baik-baik." Entah kenapa Leo langsung gugup tidak seperti biasanya saat Keysa menatapnya lekat menunggu jawaban.
"Saya mencintaimu Keysa. Dari mulai sekarang dan selamanya."
Kirana keluar dari toilet wanita bernafas lega karena buang hajatnya sudah keluar berasa plong. Ia ke kaca di pinggir pintu keluar membenarkan tatanan rambut dan membilas wajahnya yang terasa gerah.
Kirana menepuk dahinya melupakan sahabat karibnya pasti sudah marah-marah tidak jelas menunggunya yang belum datang.
"Aduh sampe lupa lagi gue sama si medusa. Pasti tu anak udah kek kerasukan nungguin gue lama."
Setelah sudah mengoles sanscreen di wajahnya edisi terburu-buru. Kirana berlari kecil keluar dari toilet sambil melihat isi chat pesan dari Keysa yang lebih dari 30 pesan dan beberapa panggilan tak terjawab.
Mampus gue, pasti gue abis di cincang sama si medusa.
Kirana yang terburu-buru, saat akan memasukkan ponselnya kedalam tas bagian kecil di depan tak sengaja bertabrakan dengan seseorang di depannya yang terdengar mengaduh kesakitan.
Kirana terbelalak kaget seorang wanita dengan baju yang sangat minim terduduk di aspal berusaha bangun sambil meringis memegangi bokongnya.
Perasaan gue nabraknya gak kencang-kencang amat deh.
"Maaf tante, gue gak sengaja. Gue gak liat dan gak terlalu merhatiin jalan. Sekali lagi maaf ya tante."
Kirana mengulurkan tangannya, dengan simpati di hatinya ingin membantu wanita yang masih terduduk di aspal.
Wanita tersebut menyingkirkan tangan Kirana kasar, dengan perasaan kesalnya karena baju mahal yang baru dirinya beli sudah kotor.
"Saya tidak butuh bantuan mu, huh!" ketus wanita tersebut sambil melototkan matanya mengerikan, saking ngerinya Kirana sampai takut tu mata copot dari tepatnya.
"Saya tidak sudi di sentuh tangan penuh kuman mu itu."
Kirana yang dari tadi hanya diam tidak mau berdebat, kini sudah berkacak pinggang tidak terima menerima hinaan wanita yang bergaya kayak badut di depannya.
"Heh Tante. Jangan sembarangan ya, walaupun saya sudah eek tapi gue udah cebol kok, nihh cium wangin, nihh," kata Kirana kesal, menyodorkan tangan kirinya ke depan wajah wanita didepannya yang langsung menghindar sambil menutup hidung.
"Heh! Jangan dekati saya, wanita kuman. Jauhi tangan bau busuk mi itu, huekkk!!"
Kirana tersenyum smirk, dia semakin gencar mengerjai wanita ondel-ondel di depannya yang terlihat sangat jijik yang terus menghindar.
Salah siapa menghinanya seenak jidat, kalau dirinya lagi ingin melayani wanita girang di depannya, pasti Kirana sudah adu bacot tentang penampilan wanita di depannya yang sangatlah seksiihh.
"Ada apa ini?"
Migo?
Suara bariton seseorang menghentikan kegiatan keduanya, wanita yang seperti ondel-ondel tersebut langsung berlari ke arah Migo yang baru saja datang bergelayut di tangan Migo.
"Sayang aku di gangguin sama wanita kuman itu. Dia juga yang udah nabrak aku sampe jatoh." adu wanita itu yang tak lain Belle. "Liat nih sampe kotor gini baju yang baru kamu beli kemarin."
Kirana menatap tak terbaca kedua orang yang sedang berinteraksi di depannya, matanya tak lepas dari tangan milik Migo yang tengah mengelus surai rambut wanita yang dirinya tabrak.
"Sudah lah jangan berurusan sama orang yang tidak penting. Jangan berdebat hanya masalah sepele seperti itu. Biar soal pakaian mu, nanti aku belikan kembali." Tutur Migo lembut mengusap rambut Belle, tetapi lirik matanya tak urung mencuri-curi pandang ke arah Kirana yang tak bergeming di tempatnya.
"Beneran sayang?"
Migo mengangguk cepat, melihat ekspresi Kirana yang diam saja, Migo ingin melihat ekspresi Kirana lebih dari itu harapannya.
Cup
Migo mendaratkan kecupan di dahi Belle, jika Belle tengah tersenyum malu-malu mendapatkan kecupan dadakan, Migo melirik Kirana yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dari tadi Kirana berusaha menahan sesak di hatinya melihat orang yang dulu sangat berati di hidupnya kini bermesraan di depan matanya sendiri.
Hatinya hancur, hancur berkeping-keping melihat kecupan yang sangat jelas dirinya lihat jelas di hadapannya sendiri.
Kenapa Migo tidak menghargai perasaannya sama sekali? Memang dirinya bukan siapa-siapa nya sekarang, tetapi setidaknya jika ingin bermesraan dengan wanitanya tidak harus langsung di depannya.
Kedua matanya berembun, Kirana berlalu dari sana tanpa dirinya sadari dia malah kembali masuk ke area kampus tanpa mengingat tujuannya akan menemui sahabatnya yang sudah menunggunya.
Migo tersenyum kecut, menatap punggung yang semakin menjauh. Aku kira kamu bakalan cemburu yang seperti aku kira. Ternyata tidak, kamu sudah melupakan ku ternyata. Maaf sayang, tunggu aku kembali.
"Hey! Sayang?"
"Migo sayang!!"
Migo tersadar dari lamunannya, tidak ingin berlama-lama di sana dia menarik pelan tangan Belle menuju mobil milik wanita tersebut.
Belle yang menyadari sikap Migo yang sedikit berubah setelah bertemu wanita yang sempat berdebat dengannya sedikit curiga.
Apa dia wanita miskin itu? Aku harus mencari tahu nya. Dan jika itu benar aku akan semakin mudah menyingkirkan nya dengan tangan ku sendiri tanpa menyuruh orang lain yang aku bayar.
Bersambung ....
Hallo readers ada yang rindu gak sama kemunculan author? hehe. Maaf membuat kalian nunggu kelanjutan cerita TRIPLE 'K', Othor sibuk banget di dunia nyata gak sempet buat buka App Noveltoon.
Pokoknya pantengin terus kelanjutannya ya, author pasti tamatin kok ceritanya gak sampai di gantung tenang, ya walaupun ada sedikit kendala dalam author up.
Tunggu kelanjutan chapter selanjutnya ya, othor akan share nanti siang. See you...
*
Sambil nunggu chapter selanjutnya di publish, mampir juga ke novel yang Author rekomendasiin yuk!!
Zahra memutuskan untuk menikah dengan pria yang baru saja hadir di hidupnya, cinta pandangan pertama itulah yang dialaminya hingga Ia memutuskan hal penting tanpa tahu terlebih dahulu pria yang akan dijadikan sebagai imamnya.
Kebahagiaan dirasakan di awal pernikahannya, hingga semua hancur karena sebuah kecelakaan yang merenggut bayi yang ada di dalam kandungannya.
Zahra mengalami keguguran dan di hadapan pada kenyataan jika kesempatan untuk menjadi seorang ibu sangatlah kecil karena kecelakaan yang dialaminya.
Mampukah Zahra mengembalikan kehidupan rumah tangganya yang harmonis?
Akankah Zahra bisa merasakan menjadi seorang ibu?