TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 59



Keysa bernafas lega telah keluar dari dalam mobil yang sangat mencengkeram sepanjang perjalanannya, dia berjalan cepat masuk ke lobby perusahaan mendahului Leo yang menatapnya tak terbaca.


"Key!"


Langkah Keysa terhenti mendengar suara orang yang sangat familiar memanggilnya. Kenapa Pria yang selama ini mengacuhkannya harus menyapanya? Mau apa lagi dia? Apa belum puas menyakiti hatinya?


Keysa mengadahkan kepalanya ke atas, menahan air mata yang akan turun sebelum berbalik. Keysa sudah berusaha move on, dia mulai melupakan sosok Leo. Tapi, mengapa Leo yang selalu acuh kepadanya akhir-akhir ini, harus menyapanya di saat Keysa mulai melupakan keberadaannya.


"Em ... iya pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Keysa se-sopan mungkin, tak lupa juga senyum terpaksanya.


Sorot datar Leo menatap tak terbaca wajah menunduk Keysa, entah apa yang berada di pikiran Pria tersebut, membuat alisnya mengerut menatap intens wajah Keysa.


"Kau tak perlu lagi menemani saya makan saat makan siang nanti, itu terlihat lebih baik seharusnya dari dulu. Dan satu lagi, kau tak perlu repot memesankan makanan buat saya. Saya bisa sendiri yang memesannya."


Keysa mendelik, di dalam hatinya mengumpat serapahi Leo. Siapa juga yang mau makan bersama di ruangan seperti neraka itu? Apa tak terbalik, dulu dirinya sendiri malah yang selalu memaksa untuk di temani makan.


"Bukannya dulu anda sendiri ya yang menyuruh saya buat menemani makan, Tuan Leo yang terhormat!!" sinis Keysa, Dia tak terima mendengar ucapan tersebut.


Keysa harus bangkit. Dia akan buktikan sekarang, kalau seorang Keysa tak akan lemah, terpuruk hanya oleh cinta. Keysa akan buktikan itu, dia bersumpah akan membuat Leo menyesal se-menyesal mungkin telah menolak dirinya.


Awass aja Lo, gue gak akan diem aja sekarang. Lo liat aja nanti, setelah gue bertindak, Lo pasti gak akan berkutik dan Lo akan nyesel udah sia-siakan gue gitu aja.


Leo terdiam. Dia kalah talak dari Keysa, ini adakah yang pertama kali dalam hidupnya, ada seorang gadis yang bisa membuat Leo diam seri bahasa.


Leo menyeringai, bersidakap dada menatap remeh Keysa. "Jangan terlalu memaksakan untuk membenci saya. Saya tahu kamu masih mencintai saya."


Saya tahu itu. Kamu tak akan bisa dengan mudahnya melupakan saya.


"Jangan terlalu kepedean Pak. Saya memang dulu mencintai Bapak, saya tahu itu. Tapi tidak dengan sekarang. Setelah Bapak tak menghargai perasaan saya dulu, menurut Bapak saya Wanita bodoh yang akan mengulangi kesalahan saya dulu yang mencintai Pria brengsek tak tau di untung?" sinis Keysa tak terima, dia berasa di rendahan sekarang. Dia bukan Wanita yang akan mengemis-ngemis cinta seseorang yang telah menghancurkan hatinya.


Leo mengepalkan tangannya erat, rahangnya mengetat. Leo pergi begitu saja meninggalkan Keysa ke arah lift memencet lantai atas.


Keysa memalingkan wajahnya, bohong kalau dirinya tak sakit. Keysa boleh mulutnya berkata seperti tadi. Tapi, hatinya berkata lain. Bagaimana caranya Keysa dapat melupakan cepat sosok Leo, kalau mereka setiap hari bertemu.


Tetapi, Keysa menunggu satu Minggu yang akan datang nanti. Di mana nanti, perjanjian bersama Leo akan berakhir, dan Keysa akan bebas nantinya. Bisa melupakan sosok Leo selamanya.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Keysa meregangkan ototnya setelah sudah hampir dua jam duduk dengan beberapa berkas yang harusnya Leo periksa, malah Keysa yanh kerjakan nya. Sangat membagongkan bukan?


Suara derap langkah sepatu yang menuju ke arahnya, mengalihkan atensi Keysa yang akan mengambil beberapa berkas yang akan di berikan ke Leo.


Terlihat Leo meliriknya sekilas berjalan melewatinya begitu saja, ingin sekali Keysa menggeplak wajah menyebalkan itu sekali saja. Apa dia sengaja meninggalkannya begitu saja, terus ini semua berkas harus Keysa taro di ruangan neraka itu.


Setelah itu si kutub Utara itu akan memarahinya, karena tak sopan masuk kedalam ruangannya tanpa ijin seperti biasa. Astaga kenapa dirinya bisa menyukai, Pria sangat aneh seperti Leo.


"Pak! Pak! Oyy, ini semua berkas saya taro ya di ruangan Bapak!" teriak Keysa melihat pintu lift terbuka.


Tak ada respon sama sekali, Bodo amat lah! Gue masuk aja ke ruangannya, siapa suruh punya telinga gak di manfaatin.


Setelah menyimpan berkas tersebut sambil misuh-misuh, Keysa sudah berada di lantai dasar akan segera pulang. Setelah mendapat kabar dari Kania sedang di rumah sakit menjenguk anak yang katanya anaknya Kenan, Keysa memutuskan untuk mampir ke sana sekarang.


"Ih ... Kak Bian! Keysa kaget tahu!"


Bian terkekeh pelan mengacak rambut Keysa gemas. "Kak Bian gak jualan tahu, sayang!"


"Tau ah, Key pokoknya marah sama Kak Bian!" kata Key memalingkan wajahnya, tangannya sudah bersidakap dada tanpa menghiraukan celetukan Bian yang masih menggodanya.


"Yaudah, tadinya Kakak mau ajak Key buat beli Baso di tempat biasa, tapi gak jadi deh kalo gitu." celetuk Bian memanas-manasi Key, lihat saja pasti tak lama lagi Keysa bakalan merengek kepadanya. Bian tahu itu, kalau Key itu Wanita maniak bakso.


Bian tersenyum bangga, melihat Key berlari mengejarnya dengan wajah tergesa nya. Kan benar dugaan Bian, Keysa tak akan pernah berubah, dia masih suka dengan yang namanya bakso.


"Aaaa ... Kak Bian, Key gak jadi marahnya kok, ayo kita jadi beli baksonya!"


Sorot mata elang seseorang yang bersandar di mobil miliknya, menatap tak suka pemandangan yang tak jauh dari pandangannya.


Tangan Leo terkepal kuat melihat semua gerak gerik kedua manusia berbeda gender sedang bercanda. Walaupun Leo tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tetapi, Leo yang tanpa sadar, tidak menyukai wajah kesal Keysa kepada orang lain. Leo tidak suka itu, Keysa hanya boleh memperlihatkan kepada saja.


(Si Leo emang egois! Pen nampol juga author lama-lama. Gedegg deh, apa sih maunya dia. kabarin author pokonya, yang mau gebukin si Leo.)


Keysa berhasil mengejar langkah Bian, bertepatan juga Bian berhenti di tempat yang tak jauh Leo yang tengah menatapnya tajam.


"Sore, Tuan!" sapa Bian menundukkan kepalanya sopan.


Leo tak menjawab, wajahnya semakin datar menatap Leo dan Keysa secara bergantian. Leo bingung dengan perasaannya, kenapa hatinya sangat panas melihat kedekatan keduanya. Dirinya tak mungkin menyukai Keysa kan?


"Kenapa kau baru pulang? Bukannya karyawan sudah bubar beberapa menit yang lalu?" tanya Leo datar, memasukan tangannya ke kantung celana.


"Saya sedang menunggu, orang yang sangat berarti di hidup saya." kata Bian merangkul mesra bahu Keysa.


Bian sengaja. Saat akan menuju tempat pantry tadi siang, Bian tidak sengaja mendengarkan semua ucapan keduanya yang berada di lobby.


Anjirr, kesempatan nih!


Keysa bergelayut manja di tangan Bian, menyandarkan kepalanya di bahu tersebut. "Udah lah sayang, kita pergi aja dari sini. Gak penting juga ngurusin orang yang gak tahu diri, membuang waktu saja!"


Bian mengangguk, meninggalkan Leo begitu saja yang sedang menahan amarahnya yang akan meledak. Wajahnya sudah memerah padan dengan tangan yang terkepal kuat.


"Siall!!" umpat Leo, menendang tong sampah hingga penyok.


Apa dirinya sudah termakan omongannya sendiri? Apa ini karma untuknya, setelah selama ini menyakiti hati Keysa? Tetapi mengapa perasaan ini muncul sekarang? Mengapa tak dari dulu.


Bersambung ...


Author come back, maaf ya kalau chap ini agak tak nyambung. Tadinya author gak akan up, author lagi mager soalnya.


Kasih terus dukungannya pokoknya, jangan bosen ya...


Eh iya mana dung vote dan hadiahnya, selalu author pantai lohh 😁