TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 70



"Ini makam mantan istriku, Mama kandung nya Keinara."


Kania diam seribu bahasa, otaknya masih mencerna ucapan Kenan. Jadi, jika gundukan tanah ini makam mantan istri Kenan, si Shevina itu siapa? Apa hubungannya dengan Kenan?


"Sayang, hey?"


Genggaman tangan lembut menyandarkan Kania, Kania menerbitkan senyum manisnya berjongkok mengikuti Kenan.


"Aku butuh penjelasan secara detail semuanya Ken, termasuk tentang shevi."


Kenan mengangguk sebagai jawaban, tatapannya kembali menatap sendu makam mendiang sang istri yang terawat tanpa ada rumput yang menumbuhi di sekitar makam.


"Halo se, bagaimana kabarmu? Tentu kamu di sana bahagia bukan? Maaf aku akhir-akhir ini jarang mengunjungi mu. Kamu tahu, anak kita sudah tumbuh menjadi anak yang cantik, dan menggemaskan."


"Pasti kamu bisa melihatnya dari sana bukan? Maaf juga, aku belum bisa jujur ke anak kita juga kamu sudah tak ada. Hati ku selalu sakit jika dia terus menanyakan Bundanya kemana, kamu tahu, aku selalu tak tega jika aku mengatakan kamu sudah tak ada."


Kenan menjeda katanya, merasakan dadanya terasa sesak menceritakan perasaan yang selama ini dia simpan rapat sendiri. Siapa orang tua yang tidak merasa sedih, jika seorang anak menanyakan ibunya kemana?


"Aku memang ayah yang egois Se, maafkan aku," lirih Kenan menunduk dalam.


Kania yang mendengar cerita Kenan, ikut terbawa suasana setiap lantunan kata Kenan yang menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Tangannya mengusap lembut bahu kekasihnya yang sedikit bergetar. Kania tahu jika Kenan sedang menangis dalam diam.


Kania memeluk tubuh Kenan sari samping, mencoba menenangkan Kenan, hatinya ikut sakit melihat Kenan sedang rapuh seperti sekarang ini.


"Aku selalu menjadi orang egois," lirih Kenan.


Kania menggeleng, mengelus lembut rambut hitam Kenan. "Nggak, jangan bilang begitu. Kamu orang yang hebat bisa menanggung semua beban yang sangat berat sendirian."


Kenan mengurai pelukannya, tangannya menggenggam lembut tangan Kania menyalurkan kehangatan di dinginnya sore hari.


"Aku kesini, bawa kekasih ku. Aku juga sekaligus mau minta ijin sama kamu mau mempersunting nya, Se. Kei terlalu kecil untuk menerima kenyataan kalau ibunya sudah tidak ada, dia masih butuh sosok figuran seoarang ibu."


"Kamu jangan khawatir, aku akan memberitahu keberadaan mu tak lama lagi. Aku sadar dia harus tahu keberadaan kamu sekarang."


Setelah mengucapkan apa yang Kenan tuju, dia mengirimkan doa bersama Kania untuk Seira, tidak lama-lama karena hari sudah semakin sore akan berganti malam, keduanya meninggalkan makam tersebut.


Kania menoleh ke belakang melihat gundukan tanah yang semakin jauh dari penglihatannya. Aku Kania, Se. Walaupun aku tak mengenal mu begitupun sebaliknya, aku berjanji akan menjaga anak mu dan menyayanginya tanpa membeda-bedakan nya nanti.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Migo memijat kepalanya yang sedikit pusing memikirkan permasalahan yang sudah dia buat dengan kecerobohannya bersama Belle, masalahnya bersama Kirana saja belum dirinya selesaikan datang lagi masalah baru.


"Arghhh!!"


Teriak Migo frustasi sambil keluar dari pintu lift yang terbuka, Migo berjalan dengan lesu ke pintu kamar apartemennya, ia butuh istirahat sebelum menyelesaikan permasalahan yang menimpanya.


Pintu apartemen terbuka, alis Migo sedikit terangkat mendengar suara televisi yang menyala dari arah ruang tamu.


Siapa yang menyalakan TV? Perasaan tidak ada orang satupun yang mengetahui password kamar apart selain ...


Migo berjalan tergesa masuk untuk memastikan pikirannya. Benar saja dugaannya, hanya Mommy nya yang mengetahui password kamar itu, Migo menatap malas Friska yang sedang menonton siaran TV sambil memakan cemilan santai.


"Kapan Mommy ke sini? Kenapa tidak memberitahu ku dulu?" kata Migo berusaha tenang.


Friska yang melihat keberadaan sang anak, langsung memeluk erat tubuh Migo bahagia tidak menjawab pertanyaan Migo sama sekali.


"Aduhh! Anak Mommy makin ganteng aja," seru Friska mendekap erat tubuh tegap Migo, hatinya sangat bahagia mendengar kabar jiga Belle berhasil dengan rencananya.


Bukan hanya itu saja, Friska bahagia saat mendengar kabar dari mata-mata yang mengawasi kediaman Kenan, jika anaknya sudah tidak ada hubungan lagi bersama wanita miskin.


"Mom belum menjawab pertanyaan Migo, loh."


Friska mengurai pelukannya, mengiring tubuh Migo agar duduk di sofa. Dengan wajah yang dibuat sedramatis mungkin, Friska menggenggam tangan sang anak penuh kesedihan.


"Kamu tahu sayang, Daddy mu kembali mengontrol perusahaan cabang meninggalkan Mon sendirian, 'kan dari pada Mon kesepian di sana, lebih baik Mommy susuk kamu ke sini."


Migo menyembunyikan kepalan tangannya, dia tahu jika tujuan sang ibu ke sini bukan hanya itu saja. Migo sudah bisa menebak jika Mommy dan Belle sedang merencanakan sesuatu, melihat kedatangan Belle yang tiba-tiba.


****!


Gue harus cari tahu tentang Cctv di kamar tersebut, sebelum Belle menghapusnya.


Migo berlalu begitu saja dari ruang tamu, menyambar jaket miliknya yang sempat dirinya simpan di sandaran sofa.


Teriakan Friska tidak sama sekali di gubris oleh Migo, pikirannya sekarang di penuhi oleh Cctv yang harus durinya segera dapatkan.


"Halo! Kamu di mana Belle?"


Friska langsung menghubungi nomor Belle, untuk memastikan jika dugaan nya tidak benar terjadi jika Belle masih ada di hotel tersebut.


"Aku lagi di jalan menuju apartemen."


"Putar balik lagi sekarang! Putar balik ke hotel itu Belle!" teriak Friska panik.


"Tante kenapa sih? Maen suruh putar baik aja, udah agak jauh juga ini dari hotel!"


Terdengar dengusan kesal dari sebrang sana, Friska semakin dibuat khawatir saja dengan kepergian sang anak yang begitu saja, setelah melamun tadi.


"Putar balik Belle! Migo pergi begitu saja barusan, tante khawatir jika dia balik lagi ke hotel itu untuk melihat Cctv di kamar itu."


Belle di sebrang sana membulat sempurna, dia sangat ceroboh sampai kelupaan untuk menghapus rekaman Cctv di kamar itu.


"Astaga! Oke Tante aku akan balik lagi ke sana sebelum Migo keduluan datang, jika bener dia akan kesana!"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Kedua pasang mata saling tatap menatap tajam sengit, Keysa yang tengah kesal dengan tingkah menyebalkan Leo yang dengan entengnya berucap jika hasil kerjanya salah, padalah ini sudah ke lima kalinya Keysa mengoreksi pekerjaannya.


"Mau lo apa sih! Gue dari tadi udah koreksi setiap lo bilang kurang tepat!"


Leo bersidakap dada, duduk bersandar di sofa menatapnya tajam dengan mimik wajah datar andalannya. "Memang itu semua salah, semua yang kau perbaiki tidak ada yang benar satupun."


Keysa berusaha sabar, menahan emosinya. Ingin sekali Keysa menyeleding wajah menyebalkan Leo dari tadi. Tapi, Keysa mengingat jika kontrak itu akan hangus dua hati lagi, dan Keysa bisa terbebas.


"Terus saya harus bagaimana, agar ini pekerjaan cepet selesai?"


Keysa penuh kesabaran, kenapa Leo tidak mengerjakannya sendiri, toh pasti dia lebih pintar dari pikiran minumnya.


"Saya tidak tahu! Itu urusan mu, saya hanya menunggu beresnya saja."


Leo keluar dari ruangan kerjanya begitu saja, meninggalkan Keysa yang mencak-mencak kesal dengan kelakuan menyebalkan Leo.


"Siyi tidik tihi! Iti irisin mi." ledek Keysa menye-menye ucapan Leo kesal. "Bos edann! Tapi gue sayang ... eh?"


Bersambung ...


Selalu tinggalkan jejaknya...


Ayuk dung kasih taburan bunga dan vote nya, sama tonton juga iklan di kolom hadiahnya ☺️.


Sambil nunggu up chap baru, kepoin yuk cerita yang Author rekomendasiin ...


*


Bulrb:


Sakit yang terdalam adalah yang tidak terlihat oleh mata. Bagai tombak transparan yang menusuk jantung. Namun, dapat dirasakan di dalam hati.


Elena harus terlibat pernikahan dengan pria asing yang ditemuinya di hutan pegunungan, walaupun pernikahannya diawali dari suatu kesalahpahaman, Merrik memperlakukan dia dengan baik. Namun, semua itu hanyalah kamuflase. Kepalsuan cinta Merrik membuatnya tidak mempercayai laki-laki lagi.


Kesalahanku adalah mencintaimu. Namun, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Akan kubawa rasa sakit ini seumur hidupku. Seandainya waktu bisa diputar, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalmu.


~Elena


Kau tidak akan pernah bisa lari dariku, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu karena ku yakin dilubuk hatimu masih mencintaiku.


~Merrik