TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 78



Ekor mata Kenan melihat wajah Kania yang membuang muka ke arah jendela, Kania yang tidak pernah bisa diam, kini sepanjang perjalanan diam tidak bersuara karena masih kesal dengan kejadian beberapa menit yang lalu di restoran.


Hah


Kenan menginjak pedal gas menambah kecepatan mobilnya membuat Kania kaget melirik sekilas Kenan yang tengah fokus ke depan dengan kecepatan mobil yang lumayan kencang.


Namun tak lama, Kania mengangkat bahunya acuh, dia kembali fokus ke arah luar jendela. Dari pada melihat wajah Kenan yang membuat Kania kembali kesal.


Kenan menggaruk tengkuknya bingung, harus dengan cara apa dirinya membujuk sang kekasih agar tidak marah.


"Sayang, kamu marah sama aku gara-gara kejadian tadi?" tanya Kenan memberanikan diri bertanya, walaupun di dalam hatinya ketar-ketir.


Kania mendelik sekilas melihat Kenan yang sesekali mengalihkan tatapnya dari arah depan. "Pikir aja sendiri!"


Kenan kicep, dia kembali menggaruk tengkuknya yang tak gatal kebingungan untuk membujuk sang kekasih, harus dengan cara apa lagi jiga situasinya sekarang senggol bacok.


Apa calon istrinya sedang datang bulan?


Kenan memberanikan diri untuk melihat Kania, namun seketika Kenan langsung memalingkan wajahnya buru-buru melihat wajah garang Kania yang tengah menatapnya tajam seperti singa yang siap memangsa mangsaannya hidup-hidup.


Mobil yang Kenan kendarai memasuki pekarangan rumah yang asing bagi Kania, ingin menanyakan kepada Kenan kepenasaran nya namun kembali Kania urungkan mengingat dirinya sedang marahan.


Lamunan Kania buyar mendengar suara pintu yang terbuka, Kenan membuka pintu mobil untuknya dengan senyum manisnya.


Kania sempat terkesima dengan senyum itu, tapi tidak lama, Kania buru-buru tersadar. Kania keluar mobil memalingkan wajahnya pura-pura kesal menutupi wajah merah dengan degup jantung yang berdetak cepat tidak seperti biasanya.


Eh


Kania tersentak saat merasakan tangannya di gandeng mesra tiba-tiba oleh Kenan, kini Kania tidak bisa menyembunyikan lagi semburat merah di pipinya.


Ingin sekali sekarang Kania mengubur wajahnya dalam-dalam melirik pria di sampingnya tengah tersenyum penuh goda.


"Jangan kelamaan ngambeknya my wife, wajahmu bukannya menyeramkan, malah terlihat sangat menggoda di mata ku."


Kania terbelalak mendengar bisikan menyebalkan calon suaminya itu. 'Menyebalkan, si kenebo kering sudah berani menggoda ku sampai tak berkutik seperti ini'.


Kenan menggeleng pelan melihat kelakuan Kania yang terlihat masih saja bersemu jika ia goda, tangannya menarik lembut tangan Kania memasuki rumah megah tersebut.


Keadaan rumah terlihat sangat sepi. Tetapi saat keduanya berjalan mendekati taman belakang, sayup-sayup terdengar suara pekikan anak yang menangis.


"Mas, sebenarnya ini di rumah siapa si?" tanya Kania, menanyakan keingintahuannya dari tadi.


Kenan menoleh sekilas, "Ini rumah Mama, sayang." ia kembali menarik pelan pergelangan tangan Kania ke asal suara pekikan tersebut.


"Huaaaa! Eyang, Kei mau ketemu Buna aja, kepala Kei cakitt, pengen di peluk Buna sekalangg! Hiksss," teriak Mei meraung-raung di gendongan Mama Khanza.


Tanpa sadar Kania melepaskan genggaman tangan Kenan, ia berjalan tergesa mendekati sang anak yang menangis kencang di dalam gendongan Mama Khanza dekat kolam.


"Mama, Kei kenapa?" tanya Kania mendekat


Suara lembut, namun menyiratkan kekhawatiran membuat Kei menghentikan tangisannya, Mama Khanza pun menolehkan ke arah suara berasal.


"Bunaaaaa!!" pekik Kei, berontak ingin di turunkan dari gendongan Mama Khanza.


Kania yang paham jika Kei ingin kepadanya mendekati Mama Khanza mengambil alih tubuh mungil itu. Kei memeluk leher Kania erat, menyembunyikan wajah sembabnya di potongan leher Kania.


Kenan mengelus pelan bahu bergetar sang anak. "Kei kenapa Ma? Tidak biasanya dia menangis meraung-raung seperti tadi?"


"Kei demam Ken, dari tadi pas Mama pulang dari arisan, Kei udah nangis di gendongan bi surti. Mama mau suapi Kei makan sebelum minum obat, malah dia menangis mau sama Kania." jelas Mama Khanza menatap sendu punggung sang cucu.


Tangan Kania terangkat untuk mengecek dahi Keinara, ternyata benar suhu tubuh sang anak sangat lah panas. "Sayang, hey. Coba angkat dulu kepalanya, lihat Buna."


"Kei kenapa gak mau di suapi sama eyang, Hem? Kan kalau Kei makan, Kei bakal bisa sembuh. Kei mau sembuhkan nak?" kata Kania lembut, tangannya mengusap sisa air mata di pipi kemerahan itu pelan.


Keinara mengangguk polos, kepalanya menunduk takut Bunaa kesayangan marah karena dirinya tidak mau makan. "Maafin Kei, Buna."


Mata bulat itu memalingkan kepalanya ke arah Kenan, kedua tangannya terangkat menandakan ia ingin digendong oleh sang ayah.


"Uluh-uluhh, sini anak cantiknya ayah," Kenan mengambil alih tubuh mungil tersebut, Kei memeluk erat leher kenan, bahu mungil itu bergetar dengan isak lirih terdengar.


"Sayang, udah dong jangan nagis lagi. Tenggorokan nya sakit loh nanti," kata Kenan mengusap pelan bahu mungil bergetar itu.


"Ke-kei takut Buna malah, kalena Kei nda mau makan ayah, hikss ..."


Kenan terkekeh pelan, tangannya menarik pelan tangan Kania masuk kedalam rumah. Jika anaknya sudah menangis gini akan banyak drama lagi, dia juga mengerti keadaan Kania yang lemes kecapean tadi setelah feeting baju pernikahan.


Sementara Mama Khanza yang ditinggalkan di sana sendirian mendengus kesal, melihat punggung anak durhakim nya yang memasuki rumah.


"Dasar anak itu, mau di kutuk jadi garpu apa dia?"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Keysa menatap jengah Leo yang dari tadi menempeli tangannya, pria singa sama sekali tidak melepaskan pelukan erat di tangannya.


Keysa bergerak gelisah. Sungguh, perlakuan Leo saat ini tidak membuatnya nyaman. Ingin sekali tangannya menyentak kesal kepala Leo yang seenaknya bersandar nyaman di bahunya dari tadi mereka sampai di apartemen milik si Mr. Singa.


"Le, tolong jangan kayak gini. Gue gak nyaman."


Keysa melirik takut wajah Leo yang masih terpejam, bukanya melepaskan belitan tangannya dari pinggang ramping Keysa. Mata Keysa terbelalak sekarang, apa-apaan pria singa di depannya ini, dengan santai tanpa bebannya wajahnya menelusup ke potongan lehernya.


'Sabar Key, jangan nafsu sekarang. Tahan, kuatin iman lo.'


Suara bel apartemen berbunyi, namun tidak ada tanda-tanda Leo mengangkat wajahnya ataupun bangun dari posisinya sekarang, yang sangat membuat Keysa ketar-ketir sendiri menahan geli di lehernya oleh hembusan nafas pria menyebalkan di sampingnya.


"Le, bangun dulu. Ada tamu, buka dulu sana siapa tahu penting!" kesal Keysa, dan berhasil Leo menegakkan tubuhnya dengan decakan kesal di mulutnya.


Wajahnya kini sudah kembali menjadi datar tanpa ekspresi menuju ke arah pintu. Namun tidak dengan hatinya, kini ia sangat dongkol karena kegiatannya bersama Keysa terganggu.


Pintu apartemen terbuka, Leo menatap datar pria di depan yang sudah keringat dingin ngeri melihat tatapan tajam yang Leo layangkan.


'Sial! Pengantar makanan sialan, kenapa harus datang pas saya sedang modus dengan pujaan hati saya'


"Em, i-ini tuan pesanan anda," kata pria itu gugup, ia merasa sangat terminasi oleh tatapan tajam itu.


Tanpa mengucapkan kata Leo mengambil pesanan nya dari tangan pria yang telah mengganggu waktu berharga nya.


"Pria menyebalkan! Akan ku beri bintang satu, karena kau telah mengganggu waktu berharga saya," Leo hanya mengucapkan kata menusuknya sebelum menutup pintu apartemen begitu saja, meninggalkan pria yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal memikirkan kesalahannya.


"Dimana letak kesalahan gue ya? Jika dia merasa terganggu, kenapa pesan makanan dengan waktu yang telah di setujui coba. Dasar manusia aneh!"


Bersambung ....


Hallo semuanya, gimana istirahat nya author satu bulan ada yang rindu gak nih sama cerita Triple'k'?


Maaf banget author baru bisa upp, hehe. Pokonya love sekarung buat yang masih sabar sampai saat ini nungguin cerita akuπŸ₯°.


See you next chapter πŸ‘‹


Othor kasih hadiah foto Keinara lagi senyummin reader nya, yang setia nunggu cerita kegemasannya, hehehe.