
Seorang wanita cantik dengan dress selutut berjalan memasuki sebuah restoran yang terlihat sepi oleh pengunjung. Kania sempat mengerutkan alisnya bingung, sebelum kembali berjalan ke tempat resepsionis tak jauh dari pintu masuk.
Apa Kenan yang sudah mengosongkan restoran ini, kali ya?
"Maaf, mbak. Apa ini benar restoran xx?" tanya Kania memastikan, dia takut salah masuk restoran, melihat keadaannya tak ada pengunjung satupun.
"Benar nona, dengan nona Kania?" jawab resepsionis wanita tersenyum manis.
Kania mengangguk, resepsionis wanita tersebut memberi kode kepada teman wanita yang tak jauh dari sana untuk mendekat. Wanita tersebut tersenyum sopan membungkukkan tubuhnya.
"Selamat malam nona, mari saya antar anda." kata pelayan wanita itu.
Kania mengangguk canggung, mengikuti langkah pelayan wanita di depannya, ke tempat yang di tuju. Alis Kania mengerut, saat pelayanan wanita tersebut berhenti di sebuah meja dekat kolam.
Ternyata khayalan Kania terlalu tinggi. Dia pikir, Kenan akan mengajaknya dinner romantis, dengan kerlipan lilin yang menerangi, sebuah bunga berbentuk love melingkari meja yang nantinya mereka duduki, dan lantunan biola lagu romantis menyambutnya datang dan masih banyak lagi.
"Nona! Nona baik-baik saja?" tanya pelayan tersebut, menyadarkan Kania dari lamunannya.
Kania tersenyum tipis. "Eh, iya mbak, saya baik-baik saja."
Setelah pelayan wanita itu mengundurkan diri. Kania duduk termenung, di kesunyian malam di meja dekat kolam yang sepi tak ada pengunjung.
Dimana Kenan? Apa dia terjebak macet, ya?
Kania mulai bosan menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang sampai sekarang. Kenan tak seperti biasanya seperti ini, kekasihnya adalah orang yang selalu menghargai waktu.
Pelayan wanita yang sama, kembali mendekati tempat Kania duduk. "Maaf nona, jika orang yang anda tunggu masih lama, sebaiknya nona berpindah ke bagian resto di lantai atas. Soalnya, sebentar lagi di sini akan ada pengunjung yang sudah mem-booking tempat ini.
Kania tersenyum kecut, pikirannya kembali salah tentang kekasihnya. Aku pikir Kenan yang sudah mem-booking di bagian kolam restoran ini.
Hah ... Kania menghela nafasnya pelan sebelum berlalu mengikuti langkah pelayan tersebut yang menunjukkan tempat yang di tuju.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada pelayan yang sudah mengantarkan Kania ke depan pintu balkon yang tertutup rapat. Kania diam lama, menatap bingung pintu yang tertutup rapat di depannya.
Pikiran Kania di penuhi oleh pertanyaan yang mengganjal hatinya. Kenapa harus ke balkon restoran? Memangnya, di balkon yang tertutup rapat ada sebuah meja makan? Kania ragu.
Kania perlahan membuka pintu balkon tersebut. Wajah Kania semakin bingung, melihat keadaan balkon gelap gulita tidak ada pencahayaan lampu sedikitpun.
Kania memberanikan diri untuk masuk, dengan manik mata yang terus memperhatikan area sekitar bingung.
"Apaan si! Gak lucu banget ngeprank nya!" kesal Kania, berasa dirinya di permainan oleh sang kekasih. "Kenan tega banget bohongin gue! Gue udah dandan cantik gini coba!"
Kania berjalan menuju pintu dengan raut wajah kesal dan kecewanya. Hatinya kecewa, karena baru pertama kalinya Kenan membohongi dan mempermainkannya.
Namun, baru saja Kania mendekati pintu. Suara pintu di tutup dengan kencang, bertepatan lampu menyala dengan pekikan orang-orang.
Pritttt
"Happy birthday Kania!"
Kania menutup mulutnya tak percaya, matanya berkaca-kaca mendapatkan sebuah kejutan ulang tahun dari orang-orang yang tak pernah Kania duga, dirinya juga lupa kalau hati ini ulang tahunnya sendiri.
Kenan berjalan mendekatinya memegang kue ulang tahun di tangannya. "Happy birthday to you ... Happy birthday to you ... Happy birthday, happy birthday, happy birthday Kania!"
Kania tak bisa membendung lagi air mata bahagia yang turun begitu saja.
"Hey, jangan nangis sayang. Aku tidak suka itu." kata Kenan, mengusap lembut air mata yang berada di pipi Kania dengan satu tangannya.
Kania menubruk tubuh Kenan kencang, sampai-sampai kue di tangan Kenan yang hampir terjatuh, namun untungnya kedua sahabat Kania mengambilnya sigap dari tangan Kenan agar tak terjatuh.
So melow banget tu anak, gak tau keadaan aja. Kalau tu kue jatuh, rasain. Nanti jadina bukan potong kue, gue bakal potong kepala lo!
Kirana yang mengerti tatapan tajam Keysa, mengelus pundak sahabatnya seolah berkata. "Sabar, gitu-gitu juga besti kita."
"Maaf udah mendiamkan mu tadi pagi. Aku gak bermaksud, itu cuman rencananya aku doang." bisik Kenan mengelus punggung Kania yang bergetar.
"Hiks ... Kamu jahat, aku udah takut banget kalau kamu marah sama aku." jawab Kania terisak.
Kedua pasutri itu masih berpelukan, tanpa memperdulikan orang-orang yang sudah jengah melihat Keduanya.
"Udah malem woy! Malah peluk-pelukan. Inget kita masih di sini, bukan patung!" pekik Migo kesal, membuat kedua pasangan tersebut mengurai pelukannya dengan sorot mata Kenan yang menatap Migo tajam.
Keysa dan Kirana mendekati Kania dengan kue di tangan Keysa. "Tiup lilinnya Kan."
Kania mengangguk, meniup lilin berbentuk angka 24 bersama dengan Kenan. Tepuk tangan langsung terdengar setelah lilin padam.
"Yuhuu! makan-makan kita gaiss!" teriak Migo tak tahu malu, langsung mendapat tatapan elang oleh Leo yang anteng di sebelahnya.
"Memalukan!" ketus Leo meninggalkan Migo mendekati sang Papa yang sedang menggendong Kei.
Migo mengelus dadanya sabar, yang lagi-lagi ternista kan. Sabar, sabar ... Dia masih bocah jangan nafsuan pengen cekek.
"Makasih sayang, makasih untuk semuanya!" kata Kania tulus.
Kenan mengusap sayang surai rambut Kania. "Jangan bilang begitu. Aku bahagia, liat kamu bahagia. Selamat ulang tahun sayang!"
"Ekhem! Gak mau peluk kita juga nih!" sindir Keysa melihat sahabatnya kembali berpelukan seperti Teletubbies. "Beda ya Kir yang udah punya ayang mah! Lupa sama sahabat sendiri!"
Kania mengurai pelukannya, langsung menghamburkan pelukannya kepada kedua sahabat yang dia sayangi. Sahabat yang menemaninya sejak kecil, dari keadaan suka maupun duka.
Kania tak akan melupakan kebaikan kedua sahabatnya, kedua sahabatnya yang selama ini menemaninya untuk mencari uang dengan berjualan sana sini sampai akhirnya mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.
Kerasnya kehidupan. Kania pernah merasakannya dengan kedua sahabatnya. Bagaimana mencari pekerjaan sana sini, untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari.
Dulu, anak seusianya sedang asyik-asyiknya bermain, mereka berjualan untuk mencari uang.
"Nggak ya, gue gak akan lupa sama Lo pada. Kalian sahabat kesayangan gue, lebih dari apapun. Jangan bilang kayak gitu lagi gue gak suka!"
Keysa terkekeh pelan. "Canda kali Kan. Gue tahu Lo gak seperti itu. Dan maaf buat yang tadi sore jika perkataan gue buat hati Lo sakit."
"Iya Kan, maafin gue juga. Gue di suruh sama Kenan, sumpah. Iya gak Key?" kata Kirana membuat ketiganya mengurai pelukan tersebut.
Kania menatap tajam Kenan yang menatapnya tanpa dosa. "Hehe, maaf yang. Kan, itu rencananya agar berjalan dengan lancar.
"Em jadi yang aku nunggu di bawah deket kolam renang juga? ..."
Kenan menggangguk cepat, memeluk posessive pinggang Kania. Sambil mendaratkan kecupan hangat di kening. "Iya sayang, maaf udah buat kamu menunggu."
"Sayang, boleh kamu menutup matamu sebentar? Aku ingin memberikan sesuatu padamu." kata Kenan, mendapat anggukan dari Kania.
Kenan bersimpuh di depan Kania, sambil mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya. "Kamu boleh buka sekarang."
Manik mata Kania langsung membulat sempurna, tangannya menutup mulutnya kaget. Matanya kembali berkaca-kaca tak percaya.
"Wil you marry me?"
Kania tak bisa berkata apa-apa. Bibirnya terasa tak bisa mengucapkan kata. Hati Kania berbunga-bunga mendapatkan lamaran dadakan yang di berikan kekasihnya.
Kania bahagia. Tolong jangan bilang ini hanya mimpi belaka, namun jika ini hanya mimpi jangan bangunkan Kania. Tapi, ini benar. Kania bisa mendengar suara teriakan yang menyuruhnya mengucapkan 'Terima'.
"Yes, aku mau." jawab Kania, langsung membuat Kenan memeluk erat tubuh Kania.
"Bunaa! hiks ..." teriak Kei berlari mendekati Kania, Kei merasa sangat cemburu melihat Bunda nya di peluk terus Ayah nya dari tadi, itu tidak adil karena dirinya tak di ajak.
Kenan menatap sinis sang anak yang ingin di gendong oleh Kania. Dasar bocah. Ganggu aja, lagi serius tadi gue.
Kania melepaskan pelukannya, dengan sigap tangannya mengangkat tubuh mungil Kei yang terisak memeluknya erat.
"Kok kamu ikutan nangis si nak?" tanya Mama Khanza gemas.
"Iya, ya Ma. Yang di lamar siapa, yang nangis siapa." cibir Kenan dengan kekehan pelannya, yang membuat Kei semakin mengencangkan tangisannya.
"Buna. Ayah nakal, malahin dia cepetan! Kei nda cuka!" pekik Kei di balik cengkuk leher Kania.
Sontak pekikan Kei, langsung mengundang gelak tawa semua orang yang berada di sana. Kei yang merasa di tertawa kan, semakin memajukan bibirnya sambil bersidakap dada menatap garang mereka satu-persatu.
"Dasar bocah prik!" celutuk Migo langsung mendapat tatapan tajam semua orang.
Bersambung ...
Maaf ya gais kemarin gak bisa up. Baru bisa up sekarang.Terus pantengin ceritanya TRIPLE 'K' ya, jangan pernah bosen pokonya.
Jangan lupa juga, kasih jejaknya dengan like dan komennya walaupun satu kata. Dukungan kalian semangat author buat terus update.
Kasih taburan bunga yang banyak dan vote nya juga jangan lupa, heyyyš
*
Cuplikan bab
Mas Pras menarik tanganku, dan membawaku masuk ke dalam kamar. "Kamu itu apa-apaan sih, berdebat seperti itu dengan ibuku, Dek?"
"Mas, tapi ibu yang mulai. Ibu mengungkit uang itu lagi. Apa aku harus selalu diam? Apa selama ini aku kurang mengalah pada ibu?" ujarku dengan parau, rasanya untuk mengungkapkan kesesakan yang kurasa begitu sulit sekali. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku lelah menjalani situasi rumit ini.
Melihat air mataku, mas Pras mendekatiku dan mengusapnya. Dia tidak jadi memarahiku saat aku mengatakan semua isi hatiku. Dia harusnya paham betul apa yang sebenarnya aku rasakan. Sudah tidak pernah diberi nafkah tapi masih harus dirong-rong oleh keluarganya.