
"Saya mencintaimu Keysa. Dari mulai sekarang dan selamanya."
Keysa terbengong di tempat, tubuhnya terasa kaku untuk di gerakan seolah-olah sendi di tubuhnya sudah tidak bisa bergerak lagi.
Tunggu. Apakah dirinya salah mendengar?
Seorang singa jantan yang sangat kaku dengan wajah tanpa ekspresi baru saja mengungkapkan perasaan kepadanya?
"Tolong beri saya kesempatan lagi Key, saya sangat menyesal telah menyakiti mu terus menerus karena ego saya yang sangat tinggi ini." kata Leo sungguh sungguh menatap lekat wajah Keysa yang masih diam. "Saya akui, saya pria yang bodoh telah menyia-nyiakan perasaan mu yang tulus."
Kenapa baru sekarang? Ingin sekali Keysa mengucapkan kata tersebut kepada Leo sekarang. Setelah hatinya berusaha melupakan sosok pria yang telah beberapa kali menyakiti hatinya.
Sekarang, setelah Keysa baru perlahan melupakan sosok Leo. Kini, pria di depannya muncul secara tiba-tiba yang menggoyahkan harinya kembali.
Leo menghela nafasnya pelan, keterdiaman Keysa sekarang membuat hatinya resah. Apa kesalahan fatalnya tidak bisa di maafkan? Tetapi, jika benar, Leo akan berjanji untuk mendapatkan Keysa. Keysa hanya miliknya.
Boleh di sebut Leo sangat egois sekarang, tapi itulah sifat pria berkedok singa jantan yang memiliki sifat teguh pada pendiriannya, dan jika memiliki keinginan Leo akan mengejarnya sampai dapat.
"Kamu tahu, dari kemarin malam saya mencari kamu kemana-mana. Tetapi hasilnya? Saya tidak menemukan mu, saya sangat khawatir. Saya sudah tidak bisa berpikir positif sejak itu, saya takut saya tidak bisa bertemu lagi dengan mu."
Leo berjongkok, berlutut di bawah Keysa menggenggam lembut kedua tangan mungil tersebut. Walaupun hatinya tersentil pelan melihat respon Keysa yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Saya mohon Key, kembali lah. Tolong maafkan semua kesalahan saya, kita mulai hubungan kita dari awal. Saya tidak tahu lagi, jika kamu tidak bersama saya Key."
Keysa mengadahkan kepalanya ke atas, menahan embun air yang akan turun begitu saja dari kelopak matanya.
"Jangan seperti ini Le, bangun." kata Keysa membantu agar Leo bangun dengan memegang kedua pundak Leo, tak bisa di bendung juga ternyata air mata yang dirinya tahan sudah turun entah sejak kapan.
Leo menggeleng, tangannya kini beralih memeluk erat kaki Keysa. Keysa yang tidak merasa enak oleh tingkah Leo yang menurutnya sudah sangat tidak wajar, ditambah dengan keadaan jalan yang mulai ramai membuatnya kurang enak melihat tatapan orang-orang.
"Leo! Bangun, jika ingin aku maafkan!" tegas Keysa, membuat Leo langsung bangkit dengan senyum merekahnya.
"Beneran Key? Kamu benar-benar telah memaafkan ku?" tanya Leo memastikan, dengan keadaan hati sangat kesenangan bukan kepalang.
Keysa tidak menjawab, tangannya dengan cepat menarik tangan besar Leo untuk masuk kedalam mobil. Sungguh, ingin sekali rasanya Keysa mencongkel tatapan orang-orang yang menatapnya sinis.
Kalo ada garpu udah gue colok tu mata mereka, ngeselin banget udah mah gak tahu permasalahannya apa, seenak nya ngatain gue cewek gak baik lagi.
...πππππππ...
Sorot mata Kania mencari ke sekeliling penjuru lantai kelas mencari dompet yang perkiraan nya jatuh di sana. Benar saja, di dekat kaki meja dari dua meja belakang Kania melihat dompet keramat nya.
Getaran di saku celananya, membuat Kania tersadar memasukkan dompetnya ke tas miliknya sebelum melihat siapa yang menelponnya.
Kania menepuk jidatnya pelan, melihat nama mama mertuanya di layar ponsel. Dia kelupaan jika sekarang dirinya akan melihat gaun pengantin bersama calon mertuanya.
"Aduh semoga saja, gue gak di pecat jadi calon mantu gara-gara penyakit lupa gue kambuh."
Kania dengan keberaniannya mengangkat ragu sambungan telpon tersebut, walaupun hatinya sudah cenat-cenut tidak baik-baik saja sekarang.
"Ha-halo ma?"
"Halo, sayang. Kamu masih di mana? Mama sekarang lagi di jalan menuju butik."
Ucapan kata lembut di sebrang sana membuat Kania bernafas lega. Untung saja, Mama mertuanya baik gak kebanyakan mama mertua di luar sana atau pun di novel-novel yang judesnya melebihi cabe dua kilo.
Selamett, selamet. Gue udah jantungan anjrottt dari tadi.
"Sayang? Halo, kamu masih di situ?"
Kania cengegesan tidak jelas, bahkan tak sadar hanya mengangguk seolah-olah nama mertuanya di sana tidak dalam sambungan telpon.
"Eh aduh, bego banget gue." guma Kania menepuk jidatnya, tanpa sadar dengan perkataannya.
"Hah? Iya kenapa sayang? Mama kurang denger di sini macet, bising sama klakson kendaraan."
Kania mengelus dadanya lega, untung saja Mama mertuanya tidak mendengar ucapan yang sangat sopan itu.
"Kania masih di campus mam, sekarang mau otw. Yaudah Mama hati-hati di jalannya ya, nanti kita ketemu di depan butik aja."
"Oke sayang."
Kania bernafas lega, akhirnya panggilan telepon selesai. Jika tidak, entah apa yang akan di keluarkan mulut seksoy nya.
Kania setengah berlari keluar dari kelasnya, mengejar waktu agar tidak keduluan oleh Mama mertuanya. Baru saja akan memasukan kembali ponselnya ke saku celana, ponselnya kembali bergetar.
Kedua mata Kania membola sempurna melihat puluhan panggilan tak terjawab dan pesan dari Keysa 15 menit yang lalu.
"Mampus gue. Si markonah bakalan ngamuk nih. Ahh masa bodo tentang tu curut, ntar gue tanganin. Urusan gue sekarang lebih penting antara hidup da mati!" Pekik Kania berlari sekencang-kencangnya keluar gerbang untuk segera mencari taksi yang lewat.
Bersambung....