
Tepat pukul jam satu dini hari, Mig masuk kedalam mansion lesu sambil memijit keningnya yang terasa pusing. Keadaan sudah tidak di bilang rapi sekarang, wajah kusut dengan kancing kemeja yang sudah tidak beraturan.
Dahinya kembali berdenyut nyeri mengingat kejadian tadi sore saat dirinya melihat cctv ke hotel, dan dugaannya bener kalau itu hanya akal-akalan Belle tentang malam panas yang dirinya khayal.
Migo mengurungkan langkahnya saat akan naik ke lantai atas untuk beristirahat, tenggorokan serak terasa kering setelah menyelesaikan masalah gilanya bersama Belle tadi.
Sayup-sayup pendengarnya mendengar suara benda terjatuh dan pekikan wanita dari arah dapur yang terlihat gelap gulita.
Suara apa itu? Apa ada penyusup?
Migo berjalan mengendap-endap, tangannya mencari saklar lampu di pinggir pintu untuk menghidupkan nya.
Terlihat wanita dengan rambut di gerai yang memunggunginya tengah berjongkok sambil meringis kesakitan.
"Hey?"
Migo berjongkok melihat orang tersebut memastikan, matanya beradu tatap dengan mata hitam pekat Kirana yang terlihat sayu.
Tatapan keduanya tidak bertahan lama, saat Kirana berdehem pelan mengalihkan tatapannya.
"Em, maaf jika suara teriakan ku menggangu tengah malam."
Kirana segera bangun dengan susah payah, dia harus menghindari Migo bagaimanapun caranya. Kirana sudah tak mau berurusan dengan Migo sekarang.
Migo yang dari tadi hanya memperhatikan Kirana yang berusaha bangun terlihat kesusahan, mengalihkan tatapnya ke kaki kecil Kirana.
Terlihat kulit kaki Kirana melepuh dengan luka yang memerah. Panci yang tergeletak di pinggir kaki Kirana membuat Migo mengerti jika itu luka akibat tersiram air panas.
Eh?
Kirana tersentak kaget saat merasakan tubuhnya melayang, matanya menatap lekat wajah Migo dari bawah yang menatap lurus kedepan.
"Dasar ceroboh! Ngapain jam segini bangun merebus air panas? Bukannya tidur!" kata Migo seraya menurunkan tubuh Kirana di sofa ruang tamu, dia tanpa sadar mengkhawatirkan keadaan Kirana.
Kirana tak menjawab, dia menundukkan kepalanya dalam tak tahu harus menjawab apa.
Kirana mengangkat wajahnya saat mendengar gerakan Migo yang meninggalkan begitu saja di sana.
Aku kira kamu masih perduli sama aku. Ternyata foto itu benar tentang kenyataan bahwa kamu telah melupakan ku.
Sebuah tarikan pelan di kaki nya yang melepuh menyadarkan Kirana dari lamunannya. Kirana diam seribu bahasa, saat Migo dengan telaten mengoleskan salep ke luka tersebut.
Jika sikap kamu seperti ini, aku akan semakin merasa bersalah dengan diriku sendiri telah ninggalkan mu Migo.
"Jangan terlalu kepedean, gue khawatir sama Lo. Gue cuman baik hati bantu Lo sebagai wanita yang tengah kesakitan."
Setelah selesai, Migo menurunkan kaki Kirana dari pahanya secara perlahan agar tidak menyakiti Kirana.
"Makasih," cicit Kirana pelan.
Migo tidak menjawab, dia berlalu begitu saja meninggalkan Kirana. Ekor matanya curi curi pandang ke belakang melihat Kirana dengan susah payang bangkit dari sofa sambil berpegangan.
Bohong jika Migo tak khawatir melihat keadaan Kirana tadi, melihat kaki mulus milik Kirana melepuh, Migo sampai panik sendiri. Hanya saja, dirinya sembunyikan agar Kirana tidak tahu.
Walaupun susah, akhirnya Kirana bisa sampai di kamarnya, Kirana duduk di tepi rajang sambil menaikan kaki kanannya secara perlahan.
Bibir Kirana mengeluarkan ringisan pelan, merasakan ngilu di kulit kaki yang melepuh saat dirinya susah payah menaikan kakinya.
Keysa yang berada di alam mimpinya menggeliat pelan merasakan pergerakan di sebelah tangannya.
"Lo kenapa bangun jam segini?" tanya Keysa dengan mata menyipit setengah sadar, sambil menenggak tubuhnya.
"Gue tadi ..."
"Ya ampun Kirana! Kaki Lo kenapa bisa jadi gitu?" pekik Keysa menyerobot begitu saja, melihat luka melepuh kulit kaki sang sahabat.
"Kok bisa jadi gini sih Kir? Lo habis ngapain, hah?"
Kirana meringis pelan membenarkan duduknya. "Ke siram air panas tadi, saat gue mau pindahkan ke botol."
Keysa bergidik Geri melihat luka melepuh tersebut yang berwarna merah, pasti itu rasanya gilu-gulu gimana gitohhh.
"Ya Lo juga ngapain ogeb, pindah-pindahin air panas tu ke botol, gabut banget lo!"
Kirana meringis, tangannya kembali memegang perutnya yang terasa mules kembali. Dia sedang datang bulan, bukan tidak ada alasan Kirana merebus air panas dan memindahkan nya ke botol.
Biasanya, jika perutnya merasakan sakit seperti ini dengan air panas di dalam botol di simpan di perut yang sakit, tidak lama pasti akan hilang sakitnya.
"Gue lagi datang bulan Key, gue cuman mau redain sakit perut gue dengan air anget."
Keysa mendengus kesal, selalu saja Kirana tak membangunkannya saat butuh apa-apa kan jika sudah kejadian seperti sekarang, repot 'kan.
"Tunggu di sini. Gue gak lama!" kata Keysa berlalu dari kamar itu.
...πππππππ...
"Kenapa kamu semakin hari semakin cantik, aku bahkan tak rela rasanya memperlihatkan wajah cantik mu ini pada orang lain."
Ketiga kalinya Kania memutar bola matanya malas, saat mendengarkan kata manis Kenan yang entah ke berapa kalinya keluar dari mulut lelaki di depannya.
"Bucin banget pak?" ejek Kania berusaha turun dari pangkuan sang kekasih saat merasakan ada yang mengganjal di bawah sana. (Waduh apa tuh?π€«)
Kenan mengeratkan pelukannya, sambil menelusup kan wajahnya di cengkuk leher Kania yang terekspos karena sedang di ikat.
Hembusan nafas hangat yang menyapu kulit mulus Kania, membuat Kania meremang sambil menahan nafasnya.
"Diam sayang jangan banyak gerak, kamu semakin membangunkan dia."
Ucapan penuh makna tersebut membuat Kania bergidik ngeri sendiri membayangkan anu ... akhhh Kania sudah gila sekarang.
Kenan melerai rengkuhan tersebut, menatap dalam wajah Kania yang sedang menunduk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
Kenan terkekeh, mengangkat dagu Kania agar menatapnya, perlahan wajah Kenan mendekat sambil mengeringkan kepalanya dengan mata terpejam.
Baru saja bibir keduanya mau silaturahmi, suara pintu ruangan yang terbuka kasar menghentikan aktifitas keduanya, dengan buru-buru Kania turun dari pangkuan Kenan.
Sial!
Migo di ambang pintu cengegesan tak jelas menggaruk tengkuknya tak gatal melihat jadian yang dirinya jeda akibat kedatangannya.
"Hehehe, ganggu ya gue?"
"Ganggu banget Lo! Gue mau olahraga bubur juga, huh!" ketus Kania bersidakap dada keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan kedua pria.
Migo tanpa dosanya duduk di sofa ruangan tanpa menghiraukan tatapan elang Kenan yang mengikuti pergerakannya dari tadi.
"Biasa aja kali matanya bos, kalau tu mata loncat dari tempatnya mampus!" kata Migo keceplosan, bibirnya terpeleset sudah bercanda dengan harimau yang siap menerkam sekarang.
Migo mengangkat tangannya membentuk vis saat Kenan berjalan mendekatinya dengan wajah cosplay seperti malaikat maut.
Malaikat maut aja minder liat wajah si kenebo kering barusan. Hihhh ngerii.
"Apa tujuan kau kesini? Sampai merusak kegiatan saya tadi?" tanya Kenan datar, sambil menyandarkan punggung di sandaran sofa bersidakap dada.
Migo dengan susah payah menelan salipannya melihat aura Kenan yang tidak main-main sekarang.
"Gu-gue mau tanya sama Lo. Tentang kelanjutan hidup gue. Ini tuh menyangkut masa depan gue dan kerukunan hidup gu..."
"To the points aja. Jangan banyak bacot!" potong Kenan malas, mendengar cerocosan Migo yang tidak bermanfaat.
Migo merubah wajahnya menjadi serius sekarang. "Lo pasti udah tau kan tentang hubungan gue yang tandas sama Kirana?"
"Itu memang kesalahan terbesar gue udah gak percaya sama dia. Tapi, gue merasa janggal saat Kirana putusin gue begitu saja. Gue curiga dia di ancam seseorang, dan gue yakin itu adalah Belle."
"Dia ada di negara ini sekarang sama mommy gue. Gue yakin kejadian belakangan ini semuanya ada hubungannya sama keberadaan mereka sekarang, bahkan si Belle udah berani jebak gue kemarin!"
"Terus?"
Pernyataan enteng Kenan menaikan kekesalan Migo, dirinya sudah cerita panjang lebar hanya di jawab se enteng itu?
"Kau sudah dewasa Mig, cobalah cari kebenaran sebelum kau menyesal seperti sekarang."
"Ikutilah permainan mereka sekarang, bersandiwara lah buat mereka yakin jika kau sudah melupakan Kirana, jika ingin Kirana kembali ke pelukan mu."
Migo mengerutkan keningnya tak mengerti yang Kenan ucapakan. "Maksudnya?"
"Turuti saja ucapan ku. Aku sarankan sambil menjalankan rencana itu, perlahan kau gali informasi tentang wanita ja**ng itu. Kau pasti akan kesenangan setelah tahu semuanya nanti."
Kenan berlaku keluar ruangan meninggalkan Migo yang tengah mencerna semua ucapannya.
Mata Migo terbelalak kaget, saat pikirannya baru menyadari sesuatu dari setiap ucapan Kenan.
"Kenan! Jangan menghindar begitu aja Lo, setelah gue berpikir keras. Gue tahu Lo, tahu sesuatu tentang Belle! Oyy!!!"
Migo secepat kilat berlari keluar ruangan mengejar Kenan untuk mencari jawaban yang Kenan gosting begitu saja yang membuat Migo penasaran.
Dasar bocah tengik itu. Bukannya mencari tahu sendiri, malah ingin minta jawaban pada saya!
Bersambung ...
Halo semuanya, maaf ya baru bisa up sekarang, akhir-akhir ini aku sibuk banget di dunia nyata sampe gak bisa up. Maaf ya sekali lagi, yang nunggu up aku.
Tinggalkan jejak nya terus ya, dengan like dan komentarnya. Hadiah sama vote nya juga jangan lupa, eh iya sekarang bisa tonton iklan gratis loh di bagian hadiah, tambah tambah bonus buat author juga hehe...
*
Sambil nunggu kelanjutannya, mampir juga yuk ke cerita yang Author rekondasiin. Cus kepoin...