
"KENAN AJI BAGASKARA!"
Teriakan melengking Mama Khanza yang sangat dahsyat mampu membuat Kenan langsung terperanjat bangun. Mama Khanza langsung menjewer telinga Kenan gemas.
"Anak nakal! nih rasain." kesal Mama Khanza, tangannya menarik kesal telinga Kenan sampai terlihat merah.
Kenan yang masih mengumpulkan nyawanya memekik tertahan, "Sialan! Berani sekali kau menarik telinga ku, Lepaskan bang**t!"
Kenan tak tahu saja Mama Khanza sudah sangat emosi sekarang. Wajahnya sudah merah padam dengan deru nafas yang naik turun menahan emosi yang akan meledak, "Sudah berani mengumpat Mama sendiri hemm?"
Kenan menajamkan pendengarannya, kenapa suaranya seperti Mamanya? Dengan was-was Kenan menatap ke asal suara. Sial! Kenapa dirinya tak tahu Mama macan nya datang.
"Ehehe... ada Mama, gimana kanjeng ratu sehat?"kata Kenan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Tamatlah riwayat ku sekarang! lihat saja pelototan matanya pasti Mama macan lagi ngamok besar ini!
Mama Khanza melepaskan tangannya yang menarik kuping Kenan, kini beralih menggetok kesal kepala sang anak, "Jangan so manis deh! Bagus ya... udah punya pacar gak bilang sama Mama. Mau di coret dari KK kamu hah?"
"Nggak gitu Mama macan, ups..."Kenan langsung menutup mulutnya rapat rapat, kenapa bibirnya selalu terpeleset si kalau berdekatan dengan Mamanya ini.
Leo yang dari tadi hanya menyimak di ambang pintu yang menahan tawanya melihat wajah Kenan yang sudah pias pasi. Selamat menikmati amukan macan yang sebenarnya kawan!
Mama Khanza berkacak pinggang menatap Kenan garang, "Kalau Mama, Mama macan, berarti kamu anaknya macan dong? sorry ye bro gue gak punya anak macan tuh. Anak gue cuman satu Leo"
Kania yang masih tertidur pulas melenguh dengan mata yang perlahan terbuka saat telinganya mendengar sayup sayup suara keributan yang menggangu tidur nya.
"Calon anak mantu... aduh udah bangun? maaf ya ke ganggu sama teriakannya anak nya macan itu, dia mah emang gitu sayang mulutnya kek toa. Gak bisa diem kali belum olahraga bibir." kata Mama Khanza langsung memeluk tubuh Kania yang sedang duduk masih mengumpulkan nyawanya bingung.
Astaga kelakuan Mama macan gue kenapa gitu amat ya? Seneng banget kayaknya nuduh anaknya, huh dasar emak-emak suka memutar balikan fakta.
"Ya ampun sayang, kok wajah kamu cantik banget si? spil scincernya dong say..."
Hah?
Kania diam dengan keterkejutannya, siapa wanita Paruh Baya di depannya ini?
Bukan Mama saya itu! tuh
"Kamu kenapa sayang diam terus dari tadi? Pasti kamu tertekan kan sama anak nakal itu? kamu gak bahagia? Udah nanti Mama kenalin kamu sama anaknya temen Mama yang kece parah dari pada sana yang ono mukanya buluk"
Kenan melotot tak terima, dia mendekati Kania yang masih diam syok memeluknya erat, "Enggak ya Ma, Kania punya Kenan! Mama gak boleh rekomendasiin cowok sama Kania."
"Dia tertekan kayaknya sama kamu, feeling seorang ibu gak akan salah. Mama kasian aja Kania yang cantik ini punya pacar buluk kayak kamu!"Ketus Mama Khanza.
Leo menatap jengah pertengkaran Ibu dan Anak di depannya, "Hentikan pertengkaran kalian. Mama gak kasihan sama keadaan Kania?"
Mama Khanza cengegesan tak jelas, Mama Khanza menatap sengit Kenan sambil menarik lembut tangan Kania agar terlepas dari pelukan Kenan.
"Calon anak mantu, maaf ya pasti kamu dari tadi bingung. Perkenalkan Mama, Mamanya anak nakal itu dan Leo."
Kania tersenyum kikuk, "Maaf Tante Kania gak tahu. Eh iya aku Kania pacarnya Kenan."
Kania mengangguk canggung, dalam hati Kania sekarang menggerutu kesal, kenapa Kenan tak memberitahunya kalau camer nya akan datang. Kan kalau tahu dia pasti akan dandan secantik mungkin, lah ini udah mah bangun tidur pasti wajahnya buluk.
"Sayang kamu cuci muka dulu gih..." kata Kenan lembut mengusap sayang surai rambut Kania.
Heleh so manis banget anak gue.
"Kamu hutang penjelasan sama aku ya!"Bisik Kania, menatap tajam Kenan yang hanya bisa mengangguk pasrah.
Kania mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum ramah ke arah Mama Khanza, "Kania ke kamar mandi dulu ya, Ma."
Mama Khanza menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum manis. Setelah kania masuk kedalam kamar mandi, Mama Khanza kembali menatap tajam Kenan.
"Mama perlu bicara berdua sama kamu Kenan!" kata Mama Khanza berlalu ke luar kamar tersebut.
"Aku balik lagi ke ruangan ku Mam." pamit Leo keluar dari sana, dia peka Mamanya pasti akan membicarakan hal penting yang dia tak perlu tahu itu apa.
Mama Khanza mendudukkan dirinya di sofa singel, tatapannya berubah menjadi serius sekarang, "Kenan apa kamu benar-benar mencintai Kania? Mama tak mau kamu menyakiti hatinya kalau hanya bermain main."
"Ken sangat mencintainya Ma, lebih dari apapun."
"Lekas lah untuk menikahinya nak, jangan menunda niat kebaikan gak baik." kata Mama Khanza.
"Ken tahu itu, tapi..." jawab Kenan menjeda katanya dengan memelankan kata terakhir.
"Apa kamu belum menceritakan semua kehidupan mu kepadanya?" tebak Mama Khanza.
Kenan mengangguk pelan, Mama Khanza menghela nafasnya pelan.
"Ceritakan lah nak, jangan terus menundanya sebelum semuanya terlambat akibat keraguan mu itu yang pada akhirnya akan membuat mu menyesal!"
"Belajar terbukalah Ken kepada pasangan mu, karena itu kunci sebuah hubungan untuk menghindari sebuah pertengkaran yang bisa membuat sebuah hubungan hancur, dan yang paling penting memudahkan hadirnya sikap saling mengerti."
Kenan diam membisu. Semua yang di katana Mamanya benar adanya, namun dirinya masih di lema sekarang, apa dia siap untuk kehilangan Kania?
Hatinya belum siap untuk itu, Dia tak akan pernah rela Kania pergi dari kehidupannya, dia tak rela itu. Tetapi bagaimana kalau Kania mengetahui fakta tersebut dari orang lain? Arghhh dia bingung sekarang.
"Aku belum siap Ma, aku takut apa yang aku pikirkan benar-benar terjadi." lirih Kenan.
"Kamu pikirkan kedepannya Ken, kamu sudah dewasa. Lebih baik dia tahu dari mulut kamu sendiri dari pada dari orang lain."
Kenan bangkit dari duduknya, kakinya melangkah mendekati jendela sambil menghela nafasnya kasar. "Aku tahu itu, aku akan memikirkan nya"
Bersambung...
Like dan komennya ya bestiii, eh iya jangan jadi pembaca gelap ya hehe, lebih enak terang loh😭🤣