TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 51



Sebuah taksi berhenti di sebuah taman yang terlihat ramai oleh orang-orang yang mengajak anaknya main di sore hari.


Wajah Kania tersenyum bahagia, kedua bola matanya berbinar menatap banyaknya penjual jajanan yang di rindukannya selama ini.


Setelah pulang dari kampus, Kania menyempatkan untuk berkunjung ke sebuah taman yang tak jauh dari kediaman Kenan, dia ingin memborong semua jajanan yang sangat menggiurkan perut karetnya.


Kania kegirangan, dia berlari sambil lompat-lompat kecil seperti anak kecil membeli satu persatu jajanan tersebut, sampai dia tak sadar kalau di tangannya sekarang sudah di penuhi kantung kresek jajanan yang baru saja dia beli.


Kania menepuk dahinya memekik keras saat mengingat sesuatu yang belum dirinya beli. "Tuh kan lupa beli minum sama eskrim nya!"


Pekikan yang tak main main membuat beberapa orang di sana menatap Kania tajam, namun bersamaan juga Kania mendengar sura orang terjatuh dari arah belakang tubuhnya.


"Huaaa!! Kaki Kai tatitt! Huaa!"


Pekikan balita tersebut membuat Kania membalikan tubuhnya secara refleks, Kania menggaruk tengkuknya kikuk, apa suaranya se merdu itu sampai membuat balita menggemaskan di depannya jatuh.


Astaga, benar. Wajah balita perempuan yang di kepang dua di bawahnya sangatlah menggemaskan, pipi bulatnya dan hidung mungilnya sudah memerah dengan sesekali bibir mungilnya meniup goresan di lutut nya sambil kembali menangis.


"Gimana sih mba kok bengong, itu adek lucunya bantuin malah diem aja!"


Pekikan emak-emak jilid menyadarkan kekaguman Kania pada balita perempuan tersebut. Wajah Kania berubah khawatir menyamakan tinggi tubuhnya sambil meniup luka tersebut.


"Maaf ya sayang, Tante gak tahu ada kamu di belakang, makannya Tante teriak."


Tatapan balita perempuan itu teralihkan menatap wajah Kania dalam, sesekali mengerjapkan matanya lucu sambil memiringkan kepalanya. Kania tak tahan melihat ekspresi balita tersebut, ingin sekali Kania mengarunginya membawanya pulang.


Wajah Kania kebingungan sekarang, raut wajah balita wanita menggemaskan itu berubah sendu, mata bulatnya berair sambil berusaha bangun dari duduknya.


Setelah berhasil walaupun butuh perjuangan, balita wanita menggemaskan itu langsung meraup wajah Kania dengan tangan mungilnya.


"Unda!"


Hah?


Bunda maksudnya? tapi kapan gue di perkosa ya? perasaan belom deh, lah kanapa ni anak, kesambet apa ya?


Kania tersenyum kikuk, dia bingung harus menjawab apa sekarang, dia masih syok menatap lekat wajah balita tersebut yang kembali menangis.


"Bunda? Mana Bunda kamu sayang? Biar Tante anter yuk." ajak Kania mengelus lembut pipi bulat tersebut.


Tahu... tahu.. bulat, di goreng dadakan... lima ratusann.


"No. ni undanya Kei!" pekik balita tersebut yang mengakui namanya Kei.


Kania di buat kelimpungan sekarang, orang-orang mencibir Kania sekarang mereka mengira Kania ibu yang membuang anaknya. Dengan perasaan dongkol Kania mengangkat tubuh mungil Kei yang masih menangis histeris menjauhi keramaian.


Kania duduk di bangku taman di bagian pojok jauh dari orang-orang, tak lupa juga Kei masih di pangkuannya memeluk erat leher Kania erat takut kehilangan.


"Udah ya cup..cup.. anak cantik udah ya, nanti dadanya sesek loh." sabar Kania mengelus punggung mungil Kei yang masih bergetar.


Setelan Kei mulai tenang, Kania dengan sayang mengusap sisa air mata dan ingusnya dengan tisu yang dia bawa di tas miliknya. "Jadi kenapa Kei bisa tahu kalau Tante ini bunda kamu?"


Atogee, cuman gue cantik dia mengambil kesimpulan begitu mudahnya? Heran deh gue, segitu cantik kah wajah inces ini.


"Unda, ko engong cii? tenapa? bilang cama Kei." kata Kei meraup wajahnya kembali, bibir mungilnya mendaratkan kecupan hangat di pipi kanan Kania.


Huaa! Gemesin banget wajahnya, boleh di kresekin gak sii buat bawa pulang!


"Maaf sayang, Tante bukan bunda nya yang Kei maksud sayang. Tante masih kuliah loh belum nikah." jelas Kania memberi pengertian kepada Kei.


Kei langsung menggeleng cepat, memeluk erat leher Kania takut kehilangan. Dia tak suka itu, wanita di depannya sudah di cap menjadi Bundanya sekarang, dia yakin itu Bundanya yang selama ini dia cari, Bundanya cantik.


Seorang wania dengan wajah khawatirnya berjalan tergesa mendekati ke arah Kania berada. "Ya ampun nona Kei tenyata di sini! Bibi khawatir cari nona."


Kania menatap lekat wanita lebih tua darinya mencari kebohongan dari kekhawatiran wanita tersebut, walaupun dia tak tahu balita menggemaskan yang bernama Kei yang memanggilnya dengan 'Bunda' di bawa orang jahat.


"Ayok Nona Kei kita pulang, kasihan Oma tadi nangis saat Nona Kei hilang." kata Wanita tersebut yang Kania tebak pengasuh anak yang berada dalam gendongannya.


Usaha wanita tersebut gagal yang berusaha mengambil tubuh Kei dari gendongan Kania, Kei terus menangis terisak mengeratkan pelukannya.


"Em.. maaf Nona, sudah merepotkan anak majikan saya kepada anda." kata Wanita tersebut tak enak.


"Tak apa bi, tadi Kania membantu Kei terjatuh, eh malah gak mau lepas gini." kata Kania di akhiri kekehan kecil.


"Wah tidak biasanya Nona Kei bisa se-akrab ini dengan orang baru, Nona tahu Nona Kei adalah anak yang selalu takut dengan namanya orang lain, boro-boro berdekatan seperti ini."


Lah gimana gak nempel Romlah. Gue di sangka emak nya!


"Eh jadi ngobrol, em boleh Nona membantu membujuk Nona kecil? Omanya sangat khawatir." kata Wanita tersebut, membuat Kania menanggapinya dengan anggukan.


"Sayang, hey!" kata Kania membalikan tubuh Kei agar menghadap nya, terlihat pipi bulat tersebut di penuhi oleh cairan bening. argh... menggemaskan sekali.


"Kei sayang, ikut Bibi nya pulang ya? Kasian loh Omanya Kei khawatir, emang Kei gak kasihan liat Oma sedih bahkan nangis?" tanya Kania lembut, mendapat gelengan kecil dari Kei di sela sesegukan nya. "Nah kan Kei anak baik, ikut pulang ya sama Bibi?"


"Kei tan, masih angen cama unda." kata Kei dengan wajah sedihnya akan kehilangan, wajah Bibi yang dari tadi membulat tak percaya mendengar ucapan majikannya.


"Kan kita bisa ketemuan lagi, Bunda janji deh." Kania menyodorkan jari kelingkingnya, Kei dengan semangat langsung menautkan jarinya tersenyum senang.


"Yey, awas ya unda kalo bo'ong. ayok Bibi tak pulang!" semangat Kei menyodorkan tangannya minta di gendong.


"Sekali lagi saya berterimakasih Nona. Kalau begitu saya pamit." kata Bibi sopan.


Kania melambaikan tangannya membalas lambaian tangan balita mungil yang semakin jauh dari tatapannya, pikirannya di penuhi oleh banyak pertanyaan sekarang tentang Kei.


Kok gue jadi ngakak sendiri ya, belum nikah udah punya buntut aja yang manggil gue Bunda, beruntung banget gue, gak perlu sudah buat cetak debay sama Kenan. Astogee kok jadi ngelantur gini ya gue.


Bersambung....


Ayok gak jangan bosan buat kasih dukungannya, boleh kok yang mau siram bunga atau kopi, mumpung lagi pagi enak Lo enak berbagi kopi di hawa dingin kayak gini hehe🤭