
Kirana menangis terisak di dekapan hangat kedua sahabatnya. Dia sudah putus asa sekarang, dia butuh sandaran untuk mencurahkan isi hatinya, yaitu kedua sahabatnya.
"Apa gue udah salah langkah, Key, Kan? Gue bingung sekarang." kata Kirana semakin mengeraskan isak tangisnya
Kania mengusap bahu bergetar Kirana pelan. "Nggak. Udah Lo gak sendiri, masih ada kita di sisi Lo. Kita cari jalan keluarnya sama-sama, okey?"
"Bener kata Kania. Lo harus tenang dulu. Lo gak sepenuhnya salah disini, jangan berasa Lo yang paling salah karena telah putusin hubungan kalian." kata Keysa mengusap jejak air mata di pipi Kirana.
"Udah dong jangan sedih terus, kita ikutan sedih ya Key?" gurau Kania memasang wajah sedih nya membuat Kirana terkekeh pelan.
Kirana memegang tangan kedua sahabatnya, tersenyum tulus. "Makasih ya, kalian selalu mau dengerin curhatan gue. Pokoknya kalian sahabat terbaik gue!"
"Aaa ... pelukkk!" teriak Keysa merentangkan tangannya.
"Nggak. Lo belum mandi, masih bau dosa!" celetukan Kania menutup hidungnya membuat Keysa mendelik tak suka.
Suara ketukan pintu mengalihkan atensi ketiga sahabat yang berada di ruang tengah. Ketiga sahabat itu dengan refleks menatap ke arah pintu yang kebetulan tidak tertutup.
"Kak Bian!!" teriak Kania, berlari ke ambang pintu langsung menerjang tubuh Bian.
Bian terkekeh pelan melihat kelakuan Kania yang tak berubah dari dulu kalau bertemu dengannya, pasti selalu memeluk secara tiba-tiba.
"Nakal ya! Udah kakak bilang dari dulu, jangan langsung peluk adek! Gimana kalau kakak gak langsung nahan tubuh kamu tadi hem?"
Kania melepaskan pelukan, menyengir tanpa dosa. Wajahnya kembali masam, mengingat sang kakak tak datang di acara ulang tahunnya kemarin malam.
"Huh ... kak Bian kemana si kemarin malam? Sampek gak dateng ke acara ulangtahun nya Kania! Jahat bangett!"
Bian terkekeh gemas, mengelus surai rambut Kania yang tengah merajuk membuang wajahnya. "Maaf adek. Kakak kemarin malam ada pekerjaan kantor di perusahaan Papi yang harus kakak urus. Maaf ya sekali lagi."
Kania bersidakap dada, menatap penuh selidik wajah Bian mencari kebohongan dari mata itu. "Ishh!! Penting banget emang pekerjaan itu dari pada adiknya sendiri!"
Bian mengangguk. Melihat wajah sang adik yang semakin masam melihat responnya, Bian dengan cepat menyerahkan sebuah kado yang dari tadi di sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Udah dong jangan marah lagi, liat nih kakak bawa apa buat adek."
Bian mencolek pundak Kania membujuknya, Kania yang terlanjur marah tidak membalikan tubuhnya.
Sebel, deh! Masa lebih mentingin tuh pekerjaan dari pada adiknya sendiri!
"Yaudah kalo gak mau, kakak kasih Keysa atau Kirana aja, pasti mereka mau. Iya gak, nih buat kalian aja. Kania nya juga gak mau katanya!" goda Bian pura-pura melangkah ke sofa tempat Keysa dan Kirana duduk.
"Bener, tuh kak. Siniin aja kadonya. Jangan di kasih sama orang yang gak mau!" pancing Keysa, melihat mata Kania sedikit melirik ke arah Bian yang terus berjalan mendekati sofa.
"Aaa ... kak Bian mah jahat! Itu punya Kania!" teriak Kania berlari ke arah Bian langsung menggambil sebuah kado tersebut.
"Katanya gak mau!" sindir Bian melihat sang adik memeluk kado pemberian nya erat, takut di ambil kedua sahabatnya.
"Kan becanda! Bujuk kek, malah mau maen kasih aja!"
Bian semakin gemas saja melihat tingkah Kania. Bian menarik tangan sang adik mendekapnya erat sambil mengecup sekilas puncak kepala Kania sayang.
"Bilang aja mau dari tadi! malah so soan gengsi sih!"
Keysa menatap malas kedua kakak beradik yang tak tahu tempat saling bertukar rindu tanpa memperdulikan keberadaan nya dari tadi yang hanya menjadi penonton.
"Banyak drama banget deh tuh bocah prik! Iya ga Kir?" kata Keysa, menatap sekilas Kirana yang tengah bersandar di bahunya sambil memainkan game Pau di ponsel miliknya.
Kirana mengangguk sekilas bodo amat, menurutnya permainan di ponsel sahabatnya itu lebih menarik dari pada melihat drama yang sahabatnya bilang.
"Anjrit! Maemunah! Lo apain Pau gue pea!" teriak Keysa melihat Pau kesayangannya di dandani seperti Tante-tante girang.
Kedua sahabat itu berdebat berkepanjangan tanpa Kania perduli kan, namun pekikan seseorang yang sangat dirinya kenal mengalihkan atensi Kania yang bergelayut manja di tangan Bian.
"Bunaa! Hiks ... Buna ngapain peluk-pelukan cama cowok lain!"
Pekikan nyaring Kei langsung membuat Kania melepaskan pelukannya, bukan hanya kaget dengan pekikan sang anak, namun melihat tatapan tajam Kenan yang siap menerkam mangsanya berjalan menuruni tangga menggendong Kei.
"Sayang ... ternyata kamu udah bangun hem?" Kania mengambil alih tubuh Kei dari gendongan dengan tangan yang sedikit bergetar.
Sungguh tatapan Kenan saat ini membuat Kania salah tingkah sendiri, mata elangnya kembali memancar seperti belati tajam menatapnya penuh intimidasi.
Keysa dan Kirana yang sedang berdebat, langsung terhenti merasakan suhu ruang tamu berubah menjadi dingin dan sedikit mencengkram.
"Wihh, bestii! Bentar lagi bakalan ada perang dunia ke lima nih!" bisik Keysa.
"Asyikk, seru nih Key! Lo punya pop corn nggak? Buat temenin kita nonton perang." tanya Kirana antusias.
"Aduh! Nggak punya lagi! Gue gak punya cemilan satupun!"
Kei memeluk erat leher Kania, Kei takut sang Bunda di ambil orang lain. Bundanya hanya miliknya dan sang ayah, tetapi ayahnya pun hanya akan di bagi sedikit, sisanya sang Bunda hanya miliknya seorang titik.
"Kei udah mandi hem? Udah wangi gini, sama ayah ya mandinya?" tanya Kania mengecupi seluruh permukaan wajah Kei tak tersisa.
Kenan pun tak kalah dengan sang anaknya, dia sekarang sudah melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang kekasih posessive seperti ingin memperlihatkan kepada Bian kalau Kania hanya miliknya.
"Buna, om itu ciapa?"
Kania tersenyum hangat melihat wajah menggemaskan Kei yang menatapnya bingung.
"Dia namanya uncle Bian sayang, dia kakaknya Bunda!" jelas Kania.
"Kak Bian, kenalin ini Kei anak aku" ucapan Kania mendapatkan tatapan penuh tanya Bian yang bingung, kapan sang adik mempunyai anak? Menikah saja belum. "Eh maksudnya, anaknya Kenan."
"Ayok sayang! Kenalan sama uncle Bian!" ajak Kania, membuat Bian mengerti berjalan mendekat.
"Halo uncle Bian, pelkenalkan namanya Kei itu Keinala, uncle bica panggil Kei" kata Kei malu malu kucing berkenalan dengan Bian.
Bian tersenyum simpul, Bian sedikit membungkukkan tubuhnya, tangannya dengan reflek mengusap pipi gembul Kei yang akan tumpah yang bersemu merah malu.
"Halo keponakan uncle yang cantik, salam kenal ya?"
"Huaaa!! Buna Kei bapell! Uncle Bian wajah na ganteng banget!" pekik Kei tertahan menyembunyikan wajahnya di dada Kania.
Wajah Kenan semakin masam saja, mendengar pujian dari bibir manis sang anak untuk pria menyebalkan di depannya.
Cih wajah buluk kayak gitu di bilang ganteng! Wajah saya yang kemana-mana lebih sempurna dari padanya!
"Kau ada keperluan apa ke rumah saya?" tanya Kenan datar semakin mengeratkan pelukannya, membuat Kania sedikit meringis merasakan rengkuhan Kenan yang kencang di pinggangnya.
Bian menaikan alisnya satu, menatap jengah wajah Kenan yang terlihat menyebalkan. "Lah terserah saya lah, memangnya ada yang melarang buat saya menemui adik saya sendiri?"
Rengekan rewel Kei yang ingin makan membuat Kania dengan terpaksa meninggalkan kedua pria yang saling tatap menatap tajam.
"Cih! Kau hanya kakak angkatnya jika kau lupa. Saya hanya waspada, mungkin ini hanya trik sampah mu untuk mengambil tunangan ku bukan?" kata Kenan menatap sinis Bian. "Eh iya saya lupa memberitahu kau, jika saya telah melamarnya kemarin malam. Jadi kau jangan macam-macam. Jika tidak mau nyawa melayang!"
Ancaman Kenan tidak membuat Bian takut sedikitpun. Bian tidak menyangka sang adik mencintai pria angkuh dan dingin seperti Kenan. Apa sang adik di guna-guna?
"Saya tidak takut! Dan jika omongan yang kau ucapkan benar, apa masalahnya dengan kau?"
Bian terkekeh sinis meninggalkan Kenan sudah mengepalkan tangannya kuat dengan urat leher yang mengeras menahan amarah.
"Dia ada-ada saja. Mana mungkin saya mencintai adik saya sendiri. Dasar Pria gila yang di mabuk asmara!"
**
Suara lagu yang menggema dan suara riuh orang orang yang sedang berjoget ria dengan alunan lagu DJ meramaikan suasana sebuah bar.
Dari arah meja pojok bar, Migo terus menenggak wine di sebuah gelas di tangganya. Migo terus meracau berteriak tidak jelas sesekali juga menangis seperti orang gila.
Keadaan nya sudah kacau sekarang, wajahnya sudah teler dengan mata memerah menandakan mabuk berat.
"Kirana! Kenapa kamu memutuskan ku hah! Apa kurangnya aku!" teriak Migo menjambak rambutnya frustasi.
"Ahahaa ... Kirana sudah pergi dari kehidupan ku!"
"Kekasih ku sudah pergi meninggalkan ku sendiri, hiks ... dia meninggal ku sendiri. Aku tak rela dia meninggalkan ku begitu saja, hiks ..."
Tangisan Migo pecah, Migo berusaha bangun dari duduknya sambil berpegangan ke sandaran sofa. Tubuhnya sudah tidak bisa lagi berdiri tegak.
Baru saja dia akan melangkah, Migo sudah tak sadarkan diri. Seseorang yang mengawasi dari tadi tersenyum sinis mendekati tubuh Migo di bawah lantai.
"Kau milikku Migo sayang! Aku tidak akan membiarkan mu bersama wanita lain!"
Bersambung ...
Maaf ya semuanya, author kemarin gak sempat up, baru sekarang. Kemarin author gak enak badan di tambah ni pikiran gak bisa di ajak kompromi.
Jangan lupa kasih jejaknya ya dengan like dan komentar positifnya. Eh iya tonton juga iklan gratisnya di bagian hadiah nya ya...
Kasih taburan bunga dan vote nya juga yaa gais.. biar tambah semangat buat update 🥺🙏
*
Risma
Saat ku putuskan untuk berubah, rasanya mudah sekali. Hanya dengan mengenakan hijab panjang dan pakaian syar'i. Namun, ternyata salah, aku juga harus menata hati dan menahan diri.
Memasrahkan semua yang terjadi pada sang pemilik nyawa. Namun, aku tidak bisa berbesar hati. Melihat laki-laki yang telah mengusik hatiku terbaring tak berdaya. Sedangkan aku hanya bisa terdiam menunggu kabar baik yang entah kapan itu datangnya.
Namun, saat hati tak lagi berdaya, sedang raga meminta untuk tetap bertahan, bolehkah aku menyalahkan sang pemilik nyawa? Mampukah aku bertahan di tengah keputusasaan yang mendera?