
Kania duduk melamun di gazebo pinggir kolam, sorot mata Kania menatap lurus ke arah langit sore yang sudah berubah menjadi warna agak ke orange-an. Ingatannya kembali melayang ke kejadian tadi siang, saat dirinya baru saja keluar dari Perusahaan Kenan menuju ke jalan raya untuk mencari taksi.
Kania di landa kegelisahan sekarang, apa benar yang di ucapkan wanita yang sempat bertemu nya tadi? Apa dirinya harus percaya? Tapi kenyataannya Kenan belum pernah menceritakan masa lalunya ataupun tentang kehidupannya.
Bahkan, tentang Mama Khanza pun, Kania baru mengetahuinya kemarin. Kania semakin ragu, kini jalan satu satunya dirinya harus menanyakan langsung kepada kekasihnya agar Kania tak kepikiran terus menerus.
Kania mendengus kesal, mencari taksi yang belum saja muncul dari tadi, mana kakinya sudah pegal lagi. Ini semuanya karena Kenan, kalau ada rapat, kenapa membawanya ke kantor, kan kalau seperti ini repot.
Alis Kania terangkat melihat sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di depannya. Seseorang dari dalam mobil tersebut keluar dengan baju minim dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
Kania memutar matanya malas melihat wanita yang dirinya kenal mendekatinya. "Cih, gue kira siapa, eh ternyata Tante girang toh."
"Hehhh! Lo..."
"Apa? Emang bener kan? Ck, udah deh lo mau apa sekarang?" tanya Kania to the points tak mau bertele-tele dengan Shevina.
"Santai dong, gimana kita ke cafe di sebrang sana? Ada yang mau gue bicarakan sama lo."
Kania menatap malas objek di depannya, sebenarnya apa sih maunya Tante girang di depannya ini? Membuang waktu saja!
"Gue gak punya banyak waktu, sorry. Gue gak sudi ladenin cewek gatel yang kurang belaian kayak lo, mending gue pulang aja rebahan!" kata Kania membalikan tubuhnya, meninggalkan Shevina yang tersenyum sinis.
"Kau yakin Nona Kania yang terhormat? kau akan sangat menyesal jika tidak mendengar cerita ku, tentang sebuah kebenaran yang kekasihmu sembunyikan dari mu"
Kania menghentikan langkahnya, sebuah kebenaran? Apa itu? Kania membalikan tubuhnya menatap nyalang Shevina yang tersenyum sinis.
"Jangan membohongiku sheepi, dasar domba liar! Jika Lo bilang gitu cuman mau nahan gue, gue gak perduli."
Shevina tersenyum licik menatap punggung Kania yang menjauh. "Hahaha... dasar wanita bodoh, lo mau aja di bohongin sama si Kenan. Asal lo tau dia itu menyembunyikan sebuah rahasia besar dari lo, cuman gue yang tahu dan orang terdekat nya, bahkan lo yang kekasihnya pun tidak tahu rahasia besar tersebut."
"Lo gak tahu kan, kalau Kenan pernah menikah? Lo di kasih tahu gak tentang semua kebenaran itu? nggak kan? haha... mungkin lo hanya mainan Kenan, yang kalau gak butuh lagi, lo pasti dibuang."
Tubuh Kania seketika diam mematung, mencerna semua ucapan yang Shevina ucapkan. Apa itu benar? kalau bener kenapa Kenan menyembunyikan rahasia sebesar itu darinya? kenapa dirinya tak mengetahuinya? Apa dia tak se-berarti itukan di kehidupan Kenan?
Tidak. Kania tidak boleh berpikir negatif sebelum mengetahui kebenaran dari Kenan, dia tak bisa menerka-nerka sebuah kebenaran dengan satu pemikirannya.
"Terserah lo mau ngomong apa! Gue lebih percaya sama Kenan, di bandingin lo orang luar. Bisa aja kan lo ngarang cerita biar hubungan gue hancur sama Kenan, dan lo bisa rebut Kenan kembali." kata Kania berlalu, menghentikan taksi yang lewat.
"Kita lihat aja nanti, gue yakin lo bakalan nyesel gak percayai semua ucapan gue. Gue tunggu kehancuran lo itu, dan ya Kenan akan jatuh ke pelukan ku kembali, Hahaha ..."
Kania terperanjat saat merasakan sebuah lilitan tangan di perutnya, mencium aroma parfumnya saja, Kania dapat memungkinkan itu adalah Kenan.
Kenapa dia pulang cepat?
Kania tak menjawab, dia mengurai pelukan tersebut menatap lekat wajah kusut Kenan. Kania menghela nafasnya pelan duduk di pinggir kolam membuat Kenan mengernyit bingung dengan sikap Kania yang tidak seperti biasa.
"Ada apa? Ada masalah hem?" tanya Kenan duduk di sebelah Kania.
Kania mendongak menatap lekat wajah tampan Kenan, apa dirinya harus menanyakan soal itu? Dia ragu. "Emm ... Kamu gak ada niatan buat cerita kehidupan masalalu mu dulu? Kita sepasang kekasih loh, mungkin aku berhak mengetahui semua kehidupan kamu."
Deg
Kenapa Kania menanyakan hal itu? Apa dia sudah mengetahui tentang masa lalunya? Ah benar, pasti semua ini ada hubungannya dengan laporan Leo tadi, jika Shevina menemui Kania saat akan pulang.
Awas saja kau wanita sialan.
"Sayang ... apa benar kamu tadi bertemu dengan Shevina? Dia bicara apa saja sama kamu?" tanya Kenan mengalihkan pembicaraan.
Kania tersenyum kecut, Setidak mau aku mengetahui rahasia mu itu? Terus dirinya selama ini di anggap apa oleh Kenan? hanya untuk mempermainkan perasaan nya saja? Hahaha...
Kania kecewa. Bukankan sebuah hubungan itu harus adanya keterbukaan dengan pasangan? Ini apa? Dirinya saja tidak mengetahui sama sekali tentang kehidupan Kenan.
"Rasa sakit yang terburuk adalah ketika seseorang membuat kita merasa istimewa kemarin, dan membuat kita merasa tidak di inginkan hari ini" kata Kania tersenyum kecut, dia berlari masuk dalam rumah dengan sesak di hatinya.
Sial!
Kenan mengambil ponselnya kasar menghubungi Leo untuk memastikan sesuatu, kalau tebakannya benar, Kenan tak akan melepaskan nya begitu saja.
"Halo! Apa kau sudah menyelidiki Cctv-nya?"
"..."
"Sial! kau urus dia. Saya akan menyelesaikan masalah yang sudah dia buat."
Kenan mengepalkan tangannya erat, berani bermain-main dengannya berarti dia sudah tidak sayang dengan nyawanya sendiri. Kenan tak akan pernah membiarkan Shevina tenang setelah membuat keadaan menjadi kacau.
Tadinya Kenan akan menceritakan semua tentang kehidupan masalalu nya kepada Kania malam nanti, tetapi wanita sialan itu merusak semua rencana yang sudah dirinya buat.
Kini semua yang Mamanya ucapkan, benar terjadi. Arghhh... kenapa sekarang menjadi kacau seperti ini.
Bersambung....
***Maafkan author yang pelupa ya gaiss, kemarin lupa mau up siang. Hari ini satu Chapter dulu ya... Mungkin besok insyaallah Author update lagi 2 Chapter, tapi kalau enggak juga paling 1 Chapter.
Terus kasih dukungan ya readers, dukungan kalian semangat buat author update 🤗❤️***