TRIPLE 'K'

TRIPLE 'K'
Chapter 41



Seorang pria mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menerobos hujan yang begitu lebat dengan petir yang bersambaran.


Ponsel milik pria tersebut berdering dari dalam sakunya, pria tersebut memasang earphone ke telinganya agar tidak membahayakan diri.


"Iya ma?"


"Kamu masih di mana Bian? apa sudah di jalan pulang nak? hujan nya sangat lebat kamu jangan terlalu ngebut bahaya"


"Iya ma, aku tahu. pasti jalanan licin"


Mata Bian membulat sempurna saat melihat tubuh seoarang wanita sedang berjongkok di tengah jalan tak jauh dari mobilnya melaju, untung saja Bian sempat menginjak rem mobilnya telat sedikit saja mobil bagian depannya akan mengenai orang tersebut.


"Astaga untung saja nggak kena!"Lega Bian.


"Nak apa yang terjadi? kamu baik baik saja kan?"


"Aku baik baik saja ma, sudah dulu ya ma"Kata Bian memutusakan sambungan telpon.


Bian mengambil payung yang berada di jok belakang untuk melihat wanita di depan mobilnya sekarang, perlahan Bian mendekati wanita yang sedang meringkuk menutup telinganya rapat rapat memunggunginya.


Apakah itu bukan modus perampokan yang sedang terjadi sekarang kan? Bian menepis pikiran buruknya melihat tubuh menggigil wanita di depannya.


"Mba? hey, kenapa di tengah jalan?"Tanya Bian menunduk menatap punggung bergetar tersebut.


Wanita tersebut membalikan tubuhnya perlahan sambil mendongakkan wajahnya menatap Bian.


Deg


"Kania? aku tidak salah orang kan?"Syok Bian menatap tak percaya.


"Kak Bian.."Lirih Kania sebelum tubuhnya tidak sadarkan diri.


"Adekk!!"Teriak Bian melemparkan payung yang menutupinya begitu saja.


Bian mengangkat tubuh dingin Kania ke dalam mobilnya, raut wajahnya tak bisa menutupi kekhawatiran nya sekarang.


"Kakak mohon kamu bertahan dek!"Kata Bian terus menggenggam tangan dingin Kania sepanjang perjalanan.


Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata menembus hujan yang semakin deras. mobil Bian memasuki pekarangan rumah mewah, Bian mengangkat tubuh Kania memasuki rumah sambil berteriak panaik.


"Ma! Pa! tolong hubungi dokter sekarang juga!"Teriak Bian melewati kedua orangtuanya yang berada di ruang tamu menuju kamarnya yang di lantai atas.


Mama Lita dan juga Papa Andra menyusul anaknya ke lantai atas untuk memastikan apa yang terjadi, Mama lita beserta Papa Andra mematung saat melihat wajah wanita yang mereka rindukan sedang terbaring lemah di ranjang.


"Nak? itu..."


"Iya Ma itu adek Kania, cepat hubungi dokter sekarang tubuhnya sangat dingin. Bian gak mau adek kenapa napa"Kata Bian cepat terus menyelimuti tubuh Kania dengan selimut tebal.


Tubuh Kania menggigil dengan bibirnya terus bergumam tak jelas. "Kak Bian, Kania rindu kakak"


"Kakak di sini sayang... sutt adek tenang ya?"Kata Bian menggenggam lembut tangan Kania dengan satu tangannya lagi mengusap sayang surai rambut tersebut.


"Nak sebaiknya kita keluar dulu, buat mama gantikan baju Kania yang basah"Kata Papa Andra


"Benar nak, agar tubuh Kania tambah hangat"Kata Mama Lita lembut mengusap rambut Bian.


Bian mengangguk terpaksa, walaupun dia masih tak rela melepaskan tangan lemah Kania. "Baiklah ma, tapi jangan lama lama ya?"


Mama Lita terkekeh pelan. "Iya anak mama yang paling ganteng. udah sana kamu keluar sama Papa kamu. eh iya ambilkan baju mama yang ada di lemari putih ya?"


Bian mengangguk pelan sebelum keluar dari kamar tersebut bersama sang Papa yang menatapnya tajam.


"Kamu hutang penjelasan sama ayah Bian!"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Kenan berlari memasuki mansion dengan wajah kusutnya, tujuan nya sekarang adalah menemui Leo untuk melacak keberadaan sang kekasih sekarang.


"Leo!"Teriak Kenan.


"Saya di sini tuan!"Kata Leo cepat dari ruang tamu saat melihat Kenan akan naik ke lantai atas.


"Kau pasti menyuruh ku untuk melacak keberadaan nya dengan gelang itu kan?"Tanya Leo mengeri maksud sodaranya.


Leo mengambil laptop yang berada di meja, tangannya mengotak ngantik laptop tersebut untuk melacak gelang yang di pasang alat pelacak.


"Hiks key, ini salah gue kalau aja gue gak ngomong gitu pasti ka..Kania gak akan pergi. gue khawatir mana di luar hujan petir, key pasti Kania ketakutan di sana sendirian!"Kata Kirana di dalam dekapan Keysa.


"Gue juga khawatir sama dia Ki, kita berdoa aja semoga Kania baik baik aja!"


"Maksud perkataan kau tadi ala Kirana? tolong jelaskan serinci mungkin!"Tegas Kenan menatap tajam kedua gadis di depannya.


Bukannya berhenti menangis Kirana malah semakin sesegukan, Keysa yang tak tega menceritakan kejadian di cafe tadi yang Kirana sempat cerita kan.


Keysa juga menceritakan siapa itu Bian agar tidak membuat Kenan sekilas hanya sebagian kalau Kania sudah menganggap Bian kakak kandungnya dan sangat menyayangi Bian walaupun bukan kakak kandungnya.


Tetapi tidak dengan yang lainnya, Keysa merasa terlalu lancang untuk itu, yang lainnya Keysa menyerahkan Kania sendiri yang akan memberikan nya kepada Kenan suatu saat nanti.


Kenan diam seribu bahasa saat mendengar cerita tersebut, dia merutuki dirinya sendiri yang sudah menyimpulkan sesuatu tanpa mempertanyakan kebenaran nya.


Kau memang pria sangat bodoh Kenan! di saat Kania butuh sandaran sedang dalam kesedihannya kau malah menambah kesedihan itu. maafkan aku sayang


"Nah ketemu!"Kata Leo membuyarkan lamunan Kenan.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Perlahan kedua matanya yang tertutup rapat tersebut terbuka secara perlahan, Kania milihat seoarang pria di depannya yang tampak masih remang remang.


"Sayang ada yang sakit? bilang sama kakak yang mana?"Tanya Bian penuh kasih sayang.


Kania menatap tak percaya, kalau ini hanya mimpi tolong Kania tidak ingin bangun dari mimpi ini.


"Hey adek kenapa? haus? bentar kakak ambil dulu ya"Tanya Bian mengelus lembut pipi Kania.


Kania percaya ini bukan hanya mimpi semata saat tangan hangat yang selama ini dia rindukan menyentuh pipinya, air matanya tak bisa di bendung lagi agar tidak keluar.


Tubuhnya langsung menubruk ke dalam dekapan hangat Bian yang akan bangkit dari duduknya, Kania menangis sejadi jadinya di dalam dekapan tersebut.


"Kakak, Kania sangat merindukan kakak hiks..."


Bian dengan sayang mengusap bahu Kania yang bergetar menegangkan. "Kakak juga sayang, bahkan kak Bian lebih merindukan adek Kakak ini"


"Kenapa Kakak gak cari Kania hiks"Isak Kania.


"Kakak dulu udah cari adek kemanapun, tetapi kakak gak menemukan keberadaan adek"


Kania melerai pelukannya menatap wajah Bian dengan mata kaca kacanya. "Hiks.. itu ju..ga salah adek, waktu itu adek, Keysa sama Kirana di usir sama ibu kos karena udah tempo waktu gak bayar, kita waktu ini memutuskan buat ke kota xxx untuk memulai kehidupan dari awal"


"Kenapa kamu gak ke rumah Kakak hem? kan kakak udah bilang rumah itu terbuka buat kamu!"


Kania menunduk dalam. "Maaf, adek gak mau repotin kak Bian terus"


Bian menghela nafasnya kasar menarik kembali tubuh Kania agar kembali ke dekapan nya. "Sudahlah itu sudah terjadi, walaupun kakak marah juga gak akan balikin semuanya. yang paling penting sekarang kamu udah ada sini"


Kania semakin mengeratkan pelukannya, dia merasa sangat bersalah sekarang telah meninggalkan kakak kesayangannya begitu saja tanpa pamit.


Keduanya larut dalam dekapan hangat tersebut saling melepas kerinduan yang sangat membuncah beberapa tahun tidak bertemu.


Namun pintu kamar yang di buka dengan kencang membuat keduanya melerai pelukan tersebut melihat ke arah pintu yang terbuka.


"Sayang!!"


Bersambung


Hai kakakΒ² semua... jangan jadi pembaca diam diam ya hehe... gak susah Lo buat pencet tombol like nya, jangan lupa juga kasih komentar walaupun satu kata. dukungan kalian semangat buat aku update πŸ₯°


Mampir juga ke novel di bawah ini yukk...