
Derap langkah kaki dari arah tangga mengalihkan atensi tatapan mereka yang menunggu di meja makan, penampilan Kenan yang sudah rapi dengan setelah jas kantornya dengan rambut hitamnya yang masih basah menambah nilai plus ketampanannya.
Cup. "Morning sayang!"
Kecupan hangat Kenan berikan ke kening Kania sebelum mendudukkan dirinya di kursi sebelah kekasihnya. Sesekali juga tangan miliknya mencubit gemas hidung Kania yang menurutnya penampilan Kania pagi ini sangatlah menggemaskan.
Keysa yang berada di sebrang kursi menatap jengah pasangan di depannya yang mengumbar kemesraan tak tahu tempat, berasa hidup hanya milik mereka berdua
Khem!
Deheman keras Keysa mengalihkan perhatian Kenan, "Maaf membuat kalian menunggu."
"Gapapa kok santai aja sama kita mah, iya gak pak?" kata Keysa menahan kekesalan, melirik Leo di sebelahnya sambil terus fokus menatap ponsel dengan mimik wajah datar.
Keysa mendengus kesal, apa ponsel itu lebih menarik dari wajahnya? Huh! Ingin sekali Keysa melempar ponsel menyebalkan tersebut ke menara Eiffel.
Kania menggelengkan kepalanya melihat ekspresi kesal yang Keysa perlihatkan. "Sabar besti memang kacang itu gurih, tapi kalau di kacangin itu beh perih nya gada obat."
Leo mengalihkan tatapnya sebentar, mengangkat bahunya acuh kembali memainkannya ponsel di tangannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Menurutnya bibir berharganya tak perlu berbicara hanya menjawab ocehan yang tak bermutu. Membuang waktu saja.
"Simpan dulu ponselnya, apa kau melupakan aturan saya saat sedang di meja makan?" tanya Kenan menatap dingin.
"Maaf, saya hanya memeriksa beberapa dokumen kerjasama kita dengan perusahaan yang berada di Negara D" kata Leo menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya, wajahnya terlihat semakin datar setelah mengecek kembali surat pengajuan dari Perusahaan tersebut.
Sial!
Kau tunggu saja pembalasan ku!
Kenan mengangguk pelan sebagai jawaban, arah tatapnya teralih menatap wajah cantik sang kekasih. "Baiklah, sebaiknya kita mulai sarapannya, biar tak terlalu siang."
Tangan Kania dengan cekatan mengambilkan nasi beserta lauk pauknya ke piring Kenan, tak lupa juga Kenan mengucapkan kata terimakasih kepada Kania.
Senyuman di bibir Keysa mengembang menatap wajah datar Leo yang belum mengambil sarapan, apa dia harus mencoba menawarkan bantuan untuk mengambilkannya?
Dia akan mencobanya, mungkin dengan perhatian kecil seperti ini Leo perlahan akan sedikit luluh, dia tak akan pernah menyerah memperjuangkan perasaannya terkecuali Leo yang menyuruhnya berhenti untuk mencintainya.
"Pak mau saya ambilkan juga? Mau sama apa?" tanya Keysa bangkit dari duduknya, tangannya mengambil nasi yang akan di pindahkan ke piring Leo.
"Tak perlu, saya masih punya tangan buat mengambilnya." jawab Leo menghentikan pergerakan tangan Keysa.
Sakit. Itulah yang Keysa rasakan mendapatkan tolakan dari bibir Leo. Apa tidak ada kesempatan buat Keysa memperjuangkan kan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini?
Keysa menarik senyuman manisnya menutupi kesedihannya. "Gak papa pak, siniin piring milik bapaknya."
"Kau tidak mendengar ucapan ku barusan hah! Saya bilang saya bisa mendiri. Kenapa terus memaksa? Kau jangan banyak tingkah Keysa, kau hanya asisten pribadi saya tak lebih. Sebaiknya jaga sikap kau!"
Jleb! Hati Keysa mendadak sesak, apa dirinya salah untuk menawarkan bantuan? Keysa merasa tertampar mendengar kenyataan yang Leo ucapkan, dia tak bisa mengelak ucapan tersebut memang benar adanya.
Apa dia terlalu lancang untuk mencintai Leo? kalau dia bisa memilih, Keysa tak akan menjatuhkan hatinya kepada Pria yang tak punya perasaan seperti Leo.
Ketika logika memaksaku untuk pergi, kenapa hati ini meminta untuk aku tetap di sini?
Keysa kembali duduk, dia memalingkan wajahnya menghapus air matanya yang akan terjatuh. Dia tak boleh cengeng! Dia harus siap dengan segala resiko seperti sekarang ini karena sudah berani mencintai atasnya sendiri.
Mata tajam Leo tak sengaja melihat Keysa yang mengusap air mata tersebut, Ucapan ku tak salah bukan? Dia harus mengingat siapa dirinya sekarang.
Keadaan di meja makan tersebut menjadi hening seketika, Kania bingung harus berbicara apa sekarang. Dia tahu itu kalau dari dulu sahabatnya mencinta sekertaris pacarnya.
Setelah sarapan pagi yang mencengkram tadi selesai, Kenan dan Kania sudah duluan ke perusahaan meninggalkan Leo dan Keysa yang berada di meja makan tersebut.
"Pak? Mau berangkat sekarang? Biar enggak terlalu panas kita mengontrol pembangunan hotel" kata Keysa memecahkan keheningan tersebut.
"Hem, baik kita berangkat sekarang."
Keysa mengangguk mengikuti langkah lebar Leo dari belakang, bibirnya tertarik menampilkan senyum girangnya menatap punggung lebar tersebut. Dia akan lebih semangat lagi sekarang buat meluluhkan hati Leo yang membeku itu.
Semangat Key, kamu pasti bisa!!
Mata tajam Leo menatap datar Keysa yang terbengong senyum sendiri di ambang pintu. "Cepat masuk! Jika tidak akan saya tinggalkan."
...πππππππ...
"Huaa!! Ampun sayang, aku gak sengaja sumpah deh!" teriak Migo berlari mengindari pukulan sapu yang Kirana layangkan.
"Sini kamu! enak aja gak sengaja, tadi kamu bilang jelas banget loh!" teriak Kirana, wajahnya sudah sangat merah antara marah dan menahan malu.
"Kan gak sengaja kelihatan yang sumpah! Cuman liat satu biji aja yang tertinggal!"
Kirana menatap nyalang Migo yang masih berlari ke sana kemari, tangannya memegang sapu erat menyulutkan emosinya.
Siapa yang tak malu dan marah coba, Migo yang seenaknya masuk kedalam kamar hotelnya tanpa permisi. Kirana yang mempunyai sifat pelupa dan ceroboh membiarkan ****** ******** tergeletak begitu saja di lantai kamar.
Dia tak memikirkan sang kekasih akan masuk kedalam kamarnya, dan akibat kecerobohannya itu Migo melihat penampakan yang sangat memalukan sepanjang hidupnya.
Sebuah ****** ***** berenda yang ada rambut si ehem yang tertinggal di sana, mana Migo mengangkat tinggi-tinggi benda keramatnya itu menatapnya menyelidik.
"Hu..huh.. capek banget anjrottt!" kata Migo sambil mengatur deru nafasnya yang tidak teratur.
Kirana tersenyum penuh arti, melangkah mendekati Migo yang sedang mengatur nafasnya. Migo yang melihat sang kekasih berjalan mendekatinya sambil senyuman yang tiba-tiba membuatnya was-was.
"Capek banget ya sayang? Sini deketan deh aku mau kasih kamu asupan nutrisi." kata Kirana menggerlingkan matanya menggoda.
Wajah Migo berbinar bahagia, dengan langkah semangat dirinya berjalan mendekati Kirana yang tersenyum manis.
"Asikkk! Aku mau! Ayo aku merem nih biar kamu leluasa gak malu-malu"
Kirana tersenyum misterius melihat Migo memejamkan kedua matanya tanpa di suruh. Hihihi... rasakan ini, kamu pasti akan menyukai hadiah pemberian yang aku kasih.
Kirana tersenyum licik semakin merapatkan tubuhnya, tangannya langsung meremas kencang si Otong Migo jauh dari ekspetasi yang Migo bayangkan.
"ARGHHH.... SAKIT BAN***T! GATOT GUE BERASA PUTUS!"
"SAYANG! AWAS SAJA YA NANTI, KAMU AKAN AKU KASIH PELAJARAN BIAR KAPOK. ARGHH GATOT YANG MALANG!"
Bersambung...
Author coma back, maaf ya baru bisa up satu Chapter. Mungkin nanti siang satu Chapter lagi nyusul hehe, kasih terus dukungannya ya besti!
Ya walaupun author sempat agak kecewa si, yang nge fav nya lumayan lah ya, tapi yang like gak smpe di atas 100 lohπ. Tapi tak apa, nggak ngurangin semangat author buat update kok.
Kasih terus dukungannya ya bestii, salam cinta dari author πβ€οΈ