
Acasha tidak kaget mendapati selera Iyan amat merakyat mengingat penampilan Iyan terkesan sederhana maka berbeda empat orang lainnya yang benda tak penting harganya sudah selangit.
"Lo suka, kan?" tanya lyan menyadari gerakan Acasha terhenti menyedokkan es doger ke mulut.
Acasha berkedip linglung setelah di pikir-pikir menghabiskan waktu bersama Iyan tidak lah buruk. Setengah harian ini dia di manjakan oleh jajanan pinggir jalanan yang sejujurnya Acasha rindukan.
"Suka, makasih. Ayah." Acasha tersenyum manis seraya mendekatkan sendok ke mulut Iyan yang langsung Iyan sambut.
"Kalau Kallen liat pasti iri." Iyan terkikik geli.
Acasha tak acuh cowok berkacamata bulat tersebut mulai menyombokkan diri. Matanya mengitari sekitar pada kumpulan gerobak berjejer, Iyan bilang mereka kini berada di pinggiran kota.
"Ayah."
"Ya?"
"Kenapa Ayah benci sama aku?" Acasha berharap Iyan mengerti siapa yang dia maksud.
lyan menepuk puncak kepala Acacha yang tertutupi topi bundar merah muda. "Silver emang gitu, hatinya beku ke orang yang masih baru. Nanti pas udah cair gue yakin Silver bakal berubah." Iyan merasa terganggu raut wajah sedih Acasha untuk pertama kalinya Iyan lihat.
Iyan tidak tahu saja Acasha bersandiwara, dia cuma sedikit lelah menghadapi Silver yang makin kurang ajar tinggal menunggu waktu, Acasha kelepasan mengambil benda tumpul setelahnya mendarat ke muka Silver.
Lalu, kembali dilempar ke jalanan. Tidak. Acasha ingin kehidupan keduanya sekarang, perjalanan hidupnya lebih baik daripada yang pertama. Jangan sampai kata hidup menyedihkan tersemat.
"Justru Silver diam-diam perhatian." Iyan mendadak tergelak sambil menunjuk tompel di pipi kiri kemudian turun ke bawah bibir ada tahi lalat palsu di sana. "Silver yang siapin, termasuk topi dan kacamata kotak lo."
Acasha melongo. Silver? Manusia galak itu mustahil membuang waktu yang berharga hanya karena benda keduanya pakai sebagai pendukung penyamaran. Acasha kurang percaya.
Iyan melihat kening Acasha berkerut dalam jadi gemas sontak mencubit pipi Acasha.
"Pipi lo udah tembem," ujarnya beralih menoel noel kulit wajah Acasha sembarangan.
Acasha tidak suka langsung menepis, sebelu jari-jari kotor Iyan bekas sisa sambal kacang batagor menempel di dagu Acasha. Iyan malah tersenyum lebar, berbeda jauh dengan Silver. Rasanya Acasha ingin memukul kepalanya sendiri agar berhenti membedakan sifat mereka.
"Aca!"
Baik Iyan dan Acasha kompak menoleh ke sumber suara. Sepasang anak berjalan menghampiri lengkap mulut komat-kamit.
"Kamu kok masih hidup?" Setidaknya itu Acasha dengar tepat sang anak laki-laki berdiri di hadapan Acasha.
"Jangan-jangan dia hantu. Bang Utan bilang kamu udah... mati. Kamu keras kepala menyembunyikan ... uang setoran, tapi kenapa hantu punya kaki." Dia berbicara berbelit dan tergagap, Acasha kesulitan memahami.
"Aku masih hidup, Aya. Ini Acasha bukan hantu." Acasha menyahut lembut sekali melompat, menarik tubuh Aya yang sepantaran ke pelukan.
Bersandiwara itu ternyata menyenangkan.
"Kak Yoyo, kangen." Acasha hendak menggapai lengan anak laki-laki bersama Aya, namun tindakannya lebih dulu dibalas kasar.
"Seharusnya kamu mati." Yoyo memandangi Acasha lekat tanpa perasaan bersalah telah memukul kencang tangan Acasha.
"Kenapa aku mati?" Acasha melotot galak.
Dasar bocil kurang ajar!
"Bang Utan pukul kepala kamu sampai berdarah-darah, katanya napas kamu hilang." Yoyo menjauhkan Aya dari Acasha, menyembunyikan Aya di balik punggungnya.
"Itu bualan, aku hidup. Kalian berdua harus berhenti menuruti si tua bangka jelek macam Bang Utan aliasnya orang utan." Di ingatan Acasha, Aya dan Yoyo adalah saudara.
Anak jalanan yang juga sering disiksa preman sama halnya Acasha kecil. Acasha paling muda dikelompok mereka dulu.
"Hei, kalian!" Iyan bertepuk tangan berhasil mengalihkan ketiga anak di bawah umur tersebut saling berpandangan sengit. Acasha tersentak hampir melupakan keberadaan Iyan. Acasha tak menolak di tarik mundur oleh Iyan kemudian.
"Minta maaf sama anak gue," kata Iyan usai meniup punggung tangan kanan Acasha yang memerah.
"Enggak mau!" Yoyo menggeleng kuat seolah-olah perintah Iyan dapat merusak harga dirinya, kesan arogan tampak di raut Yoyo yang sebenarnya tidak cocok dengan pakaian compang-camping.
"Ayah, Aca baik." Acasha menarik ujung kemeja İyan. "Kita pulang." Mereka berempat jadi pusat perhatian apalagi Yoyo sedikit pun tidak mengecilkan suaranya.
"Kamu sekarang beda terus punya Ayah," ucap Aya tiba-tiba.
Acasha melirik, belum sempat membuka mulut Iyan gerak cepat membungkam mulut Acasha dengan sisa roti di tangan.
"Kamu mau punya Ayah?" Iyan maju selangkah, bibirnya melengkung tipis.
Aya mengiyakan polos tak mengetahui sang kakak mulai memicing waswas.
"Sebelum itu hidup kalian perlu diperbaiki dulu lalu punya Ayah bahkan ada tambahan bisa kalian panggil Mama, tunggu minggu depan." Iyan mengangkat dagu, entah apa di benak Iyan kini. Acasha berharap bukan hal buruk.