
Acasha tidak mengerti mengapa pipinya harus basah saat mendengar ratusan tahun lalu dan memaafkan kesalahan mereka, yang pasti hatinya sangat sakit setelahnya.
"Ratusan... tahun lalu?" Kening Acasha berkerut dalam sambil mengusap cepat air mata menetes di pipi kiri. "Maksud Anda nama Acasha Siavani juga reinkarnasi di kehidupan saya di masa lampau dan itu ratusan tahun lalu. Dasar pemikiran gila! Mana mungkin!" Acasha tanpa sadar berteriak.
Tentu saja Acasha tak percaya. Namun, lubuk
hati Acasha justru diam-diam sebaliknya.
Ada yang mengetahui jika dia bukan berasal di dimensi ini sungguh membuat Acasha tercengang lain halnya informasi baru dia dengar barusan justru mengantarkan Acasha ketakutan.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Apa salahku?" Wanita itu menyahut lirih, ekspresi wajah tampak kaget sekaligus tidak berdaya usai didamprat sang lawan bicara.
Acasha termenung, keadaan bibir bungkam Acasha memandangi lengannya di genggam.
"Tepatnya enam ratus tahun yang lalu, di masa itu orang-orang menyebut mereka delapan bintang keberuntungan."
Acasha terbahak sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau pun memang benar, siapa yang Anda maksud dengan kata mereka? Termasuk saya,
kah?"
"Kamu percaya diri sekali."
Tatapan Acasha berubah datar. Sepertinya dia sudah dipermainkan, waktu terbuang sia-sia cuma sebatas pembicaraan konyol.
"Tolong, ini di bungkus." Acasha mendorong aksesoris pilihannya yang telah terpisah dengan yang lain sebelum itu Acasha lebih dulu mundur menjauh, menjaga jarak.
Wanita paruh baya tersebut mengangguk, disela memasukkan barang-barang tanaman hias dan pernak-pernik cangkang kerang laut dia kembali bersuara.
"Sayangnya delapan bintang keberuntungan itu terpecah belah menjadi dua kubu, mereka dulu saling menjaga sekaligus menyayangi tidak ada lagi... sedangkan sang pelaku yang membuat kekacauan tidak peduli. Tujuannya sudah tercapai, memiliki sepenuhnya perempuan itu." Dia tersenyum sambil mengulurkan kantong bening pada Acasha yang gesit Acasha terima.
Acasha balas tersenyum. "Terima kasih untuk dongeng menggelikannya, Bu. Jika kita bertemu lagi, tolong lanjutkan siapa tau saya akan membuatkan satu buah novel," kata Acasha mengejek lalu meletakkan dua ratus ribu ke meja.
Acasha berbalik badan, Silver pasti menunggu lama karena tenggat waktu sepuluh menit sudah lama terlewati.
"Narasea...."
"Ya?"
Acasha berkedip linglung. Napasnya tertahan sesaat, mengapa dia menoleh? Perasaan Acasha makin kacau mendapati wanita itu menyeringai tipis seraya bersedekap.
"Sekarang aku lebih suka menyebut mereka delapan daksa dan atma." Wanita itu beranjak, berjalan keluar stannya menuju Acasha yang berdiri kaku.
"Bukan lagi delapan bintang keberuntungan gelar itu adalah masa lalu, aku menganggapnya sebatas mitos. Mana ada keberuntungan jika di akhir hidup masing-masing dikutuk tiap reinkarnasi."
Bibir Acasha terkantup rapat. Hidungnya lagi-lagi terasa basah tanpa bercermin pun Acasha tahu bola matanya berkaca-kaca.
"Kamu sendiri yang mengakhiri hidupmu, kamu juga yang mengutuk mereka. Tapi lihat, kamu justru mengikuti reinkarnasi mereka." Mengusap rambut lurus Acasha, wanita itu meneruskan. "Jadi, apa kamu sudah memaafkan kesalahan mereka?" tanyanya.
Wanita itu menunjukkan isyarat mempersilahkan Acasha pergi kemudian. "Namaku Dizelia. Kamu harus memaafkan mereka termasuk si penyebab kekacauan, aku yakin di tiap reinkarnasi dia yang paling menderita," ujarnya pelan.
*******
"Muka lo udah kaya menanggung beban penduduk satu kota." Silver menundukkan diri di sebelah anak perempuan yang bersila di sofa sedang terdiam melamun.
Telapak tangan besar Silver menepuk-nepuk puncak kepala Acasha. "Kenapa? Jangan bikin gue khawatir, kalau yang lain tau apalagi Luka ujung-ujungnya gue pasti disalahin."
"Jauh-jauh dari Aca soalnya bau!" Acasha beringsut dengan mata melotot. "Kakek sama Nenek mana?" Rumah besar Silver sepi, dari tadi sore sampai menjelang jam delapan malam kini hanya segelintir pekerja Jenggala Acasha temui.
"Bisnis keluar kota. Setop, panggil orang tua gue Kakek-Nenek."
"Orang tua Ayah sama sekali gak keberatan dipanggil Kakek-Nenek."
"Dasar bocah dugong!"
Acasha menyandarkan punggung di sofa. "Ayah, Acasha cape. Boleh kan minta dipijit." Acasha menyelonjorkan kakinya.
Silver berdecak kesal meskipun begitu siapa
yang menduga Silver menuruti ucapan Acasha.
Acasha tertegun susah payah menahan bibirnya tetap lurus agaknya Acasha harus mengingat situasi langka ini.
"Ayah, ke mana yang lain? Satu hari nggak ketemu aku udah kangen." Acasha cemberut.
"Sibuk menumpuk kekayaan. Kalau gue beda leha-leha makin banyak harta." Sembari memijat kaki Acasha, dagu Silver terangkat angkuh.
"Untuk Kallen dan Kalana kayaknya sibuk rebahan di ranjang," sambung Silver di telinga Acasha malah terdengar ambigu.
Rasanya Acasha ingin sekali mengeplak mulut Silver, belum sempat terwujud padahal sebelah tangan Acasha telah siap melakukan. Bunyi derap langkah kaki menggema di ruang tengah mansion Silver, interiornya banyak kaca sebagai dinding lebih dulu menarik perhatian Acasha kemudian.
"Ck, bagaimana bisa kamu masukin gembel dekil di rumah aku, Silver sayang!" kata Grace, memandangi sinis Acasha.
"Rumah penyihir?" Acasha menimpali dengan kekehan geli. "Ini rumah Ayah, beberapa hari ke depan aku tinggal sama Ayah galak." Acasha senang hati memberitahu.
"Pergi dari hadapan gue sekarang!" Silver mengibaskan tangan, mengusir. Air muka Silver perlahan menggelap jika Grace keras kepala kemungkinan Silver akan benar-benar mengamuk.
Grace menatap kecewa Silver, jemari saling terkepal pada akhirnya Grace melengos pergi.
*******
Daksa: Tubuh
Atma: Jiwa
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕