The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 11 ~ Dewa Kematian



Acasha meringis. Kasian sekali pantatnya yang tepos, Acasha terduduk meratapi nasib merasa selalu sial jika bersama Silver.


Uluran tangan Silver bahkan Acasha abaikan, lebih memilih telapak tangan halus Cleo yang berdiri di hadapan Acasha, berlari mendekat sebelumnya.


"Ada yang sakit kah?" tanyanya cemas sambil membolak-balikkan tubuh Acasha pelan. Acasha tertegun. Lidahnya kelu sebab bingung harus merespons bagaimana.


"Dia baik-baik aja, Le. Jangan lebay!" Suara bernada ketus itu memecah lamunan Acasha, bibir terkantup rapat Acasha membalas datar tatapan Silver yang berkacak pinggang.


"Kayaknya lo harus minta maaf. Berhenti bersikap kekanak-kanakan, ini bukan lo banget." Kening Cleo berkerut, mengamati Silver dari atas sampai bawah.


Silver hendak membantah sarkas langsung menjerit kesakitan, berbeda dengan Acashabdan Cleo telah menyadari keberadaan Luka dibelakang Silver, agak tidak menduga Luka akan memukul kepala Silver lewat kepalan tangan.


Cleo tersenyum samar Kallen dan Iyan melihatnya cekikikan.


Acasha melongo.


Reaksi Silver yang berjongkok sambil mengusap bekas perbuatan Luka hati-hati dapat Acasha bayangkan pukulan itu amat kuat, wajah Silver memerah. Semoga saja Silver tidak gegar otak.


"Kita pulang," ucap Luka. Acasha peka Luka meliriknya dengan cepat Acasha tersenyum lebar seraya merentangkan tangan.


Namun, Luka mengabaikan Acasha justru menyuruh Cleo menggendongnya. Luka berbalik, berjalan lebih dulu tak lagi menoleh apalagi terganggu karena menginjak tubuh orang-orang yang terkapar pingsan di lantai.


Acasha mengerjap... Perasaaan kesal bercampur malu menjadi satu.


*******


Seperti dejavu, bedanya tidak ada orang itu di ambang pintu apalagi kini tengah malam. Acasha melangkah hati-hati tujuannya adalah samping kamar Luka, ruangan luas yang katanya tempat bermain.


Pemilik rumah ini sungguhan menyiapkan semuanya ke hal remeh sekalipun.


Padahal Acasha tidak membutuhkan area bermain, tiap Melly mengigiring masuk sebisa mungkin Acasha menunjukkan ekspresi senang.


Tiba di dalam Acasha meraih gesit boneka yang ternyata tertinggal, jujur saja Acasha tak mampu terlelap tenang kalau tidak memeluk boneka beruang. Ini kebiasaan Acasha di kehidupan lalu hingga terbawa ke sekarang.


Boneka beruang pertama diberikan Kallen saat Kallen menyerahkan bonekanya tanpa sadar Acasha tersenyum lebar, berpikir detik itu pula kehidupan kedua tidak lah buruk.


Acasha berniat berjalan kembali, menuruni tangga harus batal. Sudut matanya menangkap sesuatu pintu kamar Luka separuh terbuka.


Tidak ada seorang pun. Acasha mendadak panik bagaimana kalau Luka diculik oleh musuh yang mau balas dendam karena kejadian tadi siang.


Sebentar.


Bukannya Luka dijuluki dewa kematian, hanya orang gila siap menyerahkan nyawa memasuki kediaman klan Natapraja.


"Apa?"


Acasha terperanjat refleks boneka tengah Acasha peluk di lempar ke sumber suara secara bersamaan tirai penutup pintu balkon itu tersibak.


Luka duduk di sana, salah satu bangku. Luka melirik gumbalan bulu lebih dulu jatuh ke lantai sebelum mengenai mukanya.


"Sini," titahnya.


Acasha menurut, tepat berdiri di samping Luka dan Luka hanya menggerakkan tangan kemudian yang mudah Acasha mengerti.


"Kenapa Ayah gak tidur?" Acasha bertanya polos setelah duduk manis di pangkuan Luka.


"Belum bisa." Luka menyahut datar mengusap rambut Acasha. "Rambut lo udah nggak kusut lagi."


Acasha mengangguk semangat. "Iya, ini berkat Melly... kulit aku juga udah gak kering." Serum dan lotion sebelum tidur Melly usapkan ke wajah dan seluruh kulit Acasha membuahkan hasil yang baik. Acasha berjanji akan berterima kasih nantinya.


"Menurut lo Silver pantasnya diapain?" Luka meletakkan batang rokok sedari tadi diantara jemari ke asbak dekat kaki, tidak berselera menghisap tembakau itu kembali.


"Ayah galak?" Acasha menoleh ke belakang, pura-pura gagal paham.


"Iya." Luka tersenyum tipis kali ini Luka sibuk menyingkirkan poni Acasha.


"Ayah galak bilang, Ayah mirip dewa kematian...." ucap Acasha lirih memandangi raut wajah Luka, tapi kenyataannya Luka tidak bereaksi apapun tampak tak tersinggung jauh dari bayangan Acasha. "Ayah, kenapa?" Acasha malah merasakan sorot kelabu Luka yang berbeda setelah memastikan baik-baik.


Luka mendongak sontak Acasha mengikuti arah pandang Luka yang menatap langit malam. Tidak ada satu pun menarik bagi Acasha dan Luka cuma berdiam lama tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Ayah." Acasha menguap, matanya mulai dilanda kantuk ingin ke kamar namun Luka memeluk tubuh Acasha sekarang.


"Selamat malam." Bergumam, Acasha mencari posisi nyaman menyadarkan kepalanya di dada Luka.