The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 25~ Peliharaan Kallen



Di saat kedua orang itu sibuk dengan segala kegilaan, Acasha cuma terduduk bersila di lantai sambil mengangkat tangan melindungi matanya dari silau cahaya langit sore. Mau bernaung, tapi harus melewati orang-orang sibuk berkelahi itu.


"Pakai!" Seruan Silver di susul sesuatu yang berat menimpa wajah Acasha.


Acasha tertegun, hoodie hitam telah berpindah ke pelukan Acasha walaupun agak berbau anyir darah. Ternyata Silver peka, dengan tulus Acasha memberikan senyuman manis di balas Silver yang langsung memalingkan muka.


Lawan Luka yang tadinya hendak menendang punggung Luka, sekarang sudah pingsandalam keadaan kepala bocor. Di sana, Luka ngos-ngosan habis membenturkan Landi ke dinding dan berakhir menduduki perut Landi.


Silver memegangi revolver sebatas ancaman pada dua orang sisanya. Tidak sampai melubangi tubuh itu, wajah saja yang di lampiaskan karena Silver menonjok habis-habisan.


"Hm, dasar balita dugong aneh." Silver bergumam yang hanya di dengar Luka. Sudut mata Silver melirik ke arah sosok mungil sedang bertopang dagu, menonton dari jarak sedikit jauh.


Bibir Luka makin pucat dan matanya yang sayu melakukan hal serupa seperti Silver. "Aneh?" Luka memandangi Silver datar kemudian.


Menurut Luka ... Silver yang lebih aneh. Mengapa hoodie kesayangan Silver di berikan terhadap Acasha, sebenarnya Luka tidak masalah. Namun, mengingat hari-hari sebelumnya Silver sangat memusuhi Acasha membuat Luka jadi curiga oleh sikap baik Silver.


"Apapun isi pikiran lo itu, Ka. Gue harap lo enggak punya rencana untuk memenggal kepala gue." Silver tertawa kaku.


Silver bangkit. Menginjak lengan musuh yang


berbadan gempal hingga mengeluarkan bunyi.


"Lo bisa jalan, kan? Atau mau gue bantu?" Silver bertanya ragu. Ekspresi segan Silver gagal di tutupi. Silver menghormati Luka, cara bicara tampak berhati-hati kalau-kalau menyinggung dan sikap Silver detik ini, sekedar Acasha seorang melihatnya.


"Gendong Aca." Luka menggiring Acasha ke hadapan Silver yang sontak melotot.


"Mustahil. Tulang dugong bisa geser kalau gue yang bawa." Silver buru-buru menolak.


Acasha mendelik kesal. "Aca juga gak mau sama Ayah, badan Ayah bau busuk. Aca anti bau busuk!" Acasha mengungkapkan dengan suara khas kekanak-kanakannya.


"Eh, dugong. Hidung lo bermasalah kayaknya, tubuh gue ini bau wangi. Semua parfum yang gue punya mahal, paling murah seharga lima juta." Silver bersedekap arogan.


Rasanya Acasha ingin sekali mengeplak hidung


mancung Silver.


"Gue tau lo pernah mencari tutorial cara menggendong balita." Luka berkata dingin. "Berhenti berkelit, jalan duluan!" titahnya tegas


Di luar dugaan, respon Silver salah tingkah setelahnya. Luka mengerutkan kening tetapi tetap bungkam sedangkan Acasha syok, tangan Acasha sedari tadi terentang tahu-tahu sudah di sambut Silver.


*******


Siapa yang menyangka, tepat pintu lift terbuka. Acasha mendapati tiga orang berhari-hari tidak muncul batang hidungnya kini berdiri tegak kompak menunjukkan senyuman sekaligus raut wajah berseri-seri.


"Kepompong gue, kangen!"


"Ver, kok lo makin bongsor."


"Gue kaget pas tau lo kambuh lagi."


Luka acuh tak acuh ucapan khawatir Cleo tentangnya, justru langkah kaki Luka mendekati Kallen lalu berhenti tepat di depan Kallen, gerakan tenang Luka menarik Kallen agar menyingkir.


"Siapa dia?" tanya Luka agak ketus.


cokelatnya tergerai lurus.


"Lo bilang gue boleh main, kan?" Kallen mendongak, membalas tatapan intimidasi Luka. "Hewan peliharaan gue~ namanya Kalana. Umur tujuh belas tahun. Tinggal di panti asuhan, intinya Kalana sebatang kara," jelas Kallen.


"Dia korban pelelangan prostitusi!" imbuh Iyan kalem.


Kallen melirik tajam Iyan. "Gue udah pastikan Kalana bukan pengkhianat yang biasanya menyamar. Ngomong-ngomong... Kalana buta." Kallen mengangkat lembut dagu Kalana. "Kalana ini pemalu, suka nunduk." Kallen tertawa geli.


Acasha menyipitkan mata, mengamati serius tubuh itu terlihat jelas gemetaran. Acasha sadar Kalana baru selesai menangis lama.


Dasar Ayah sinting! Acasha membatin. Apa yang sudah di lakukan Kallen terhadap Kalana, Acasha yakin bukan lah hal baik.


Anggukan Luka detik selanjutnya membawa Kallen berseru girang, untungnya tidak ada yang merasa terganggu karena lantai tersebut sengaja di kosongkan oleh keluarga Natapraja.


"Acasha pantasnya sama gue." Iyan menarik paksa sang balita di dekapan Silver.


Namun, Silver malah menekan punggung rapuh Acasha entah sengaja atau tidak di saat Iyan semakin keras kepala.


"Stop, kalian bikin aku sakit!" Acasha berteriak kesal. Mengapa mereka harus rebutan di sisi lain Acasha agak ngeri sikap aneh Silver yang mendadak jinak. "Aku mau jalan sendiri." Bergerak brutal Acasha meminta turun.


Sesegera mungkin Silver menuruti ketika deheman pelan Luka sampai ke telingannya disusul Iyan yang mundur menjauh.


Acasha tersenyum lebar, berlari menghampiri Kallen lalu menerjang Kallen dengan sebuah pelukan.


"Makasih, Ayah. Berarti temen aku nambah satu... setelah Yasa sekarang Kak Kalana," tutur Acasha.


Kallen mengangguk "Oke, tapi jangan anggap Kalana sebagai temen lo, kepompong. Kalana itu hewan peliharaan kita." Kallen membelai rambut Acasha.


Pandangan Acasha berubah datar, pipi menempel di bahu Kallen dengan suara lugu Acasha berbisik. "Aku lebih percaya kalau Ayah yang buta, wujud Kak Kalana jelas manusia."


*******


Seragam serba kuning cerah yang sama-sama kotor tidak mempersulit kegiatan, berjanji dalam diri sendiri akan mengingat pengalaman menyenangan ini yaitu berada di belakang gedung sekolah.


Suasana hati Acasha awalnya buruk bagaikan tersapu angin kemudian usai Acasha mengetahui rahasia Yasa, katanya jam istirahat Yasa akan menyelinap ke kebun Cipta Jingga sekedar memetik semua jenis bunga.


"Kamu benar-benar pintar!" Acasha bertepuk tangan setiap mendengar penjelasan Yasa tentang bunga yang selalu di ambil Acasha.


"Kita gak bisa lama-lama di sini soalnya bahaya. Melly pasti udah sadar kalau aku hilang." Acasha menoleh ke pintu kawat perak yang terbuka setengah sambil meletakkan perlahan bunga berwarna-warni ke kantong kresek ditemukan Yasa.


"Tapi seragam kamu gimana?" Yasa bertanya polos.


Acasha termenung tak perlu menunggu lama ide cemerlang terlintas di kepala Acasha. "Bilang aja ke Melly aku habis jatuh terus kamu coba nolongin. Eh, ikutan jatuh." Acasha tergelak merasa bangga.


Yasa patuh, tawa Acasha tertular pada Yasa tanpa mengetahui di lain tempat ada beberapa orang yang menguping.


******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕