
Acasha memasuki dapur luas itu dengan langkah hati-hati. Takut membangunkan penghuni rumah, sekedar jam tidur waktu istirahat paling lama bagi para pekerja Natapraja.
"Ay... ayah." Acasha menahan diri tidak berteriak. Menghampiri riang pria berumur tiga puluh tahun tersebut yang duduk di depan meja pantry.
Kelopak mata terbuka, menoleh dengan senyuman tipis. Kedua tangan sebelumnya di jadikan bantalan, kini terulur mengusap rambut hitam Acasha.
"Aku kira Ayah lembur."
"Batal lembur. Katanya seseorang nangis."
Acasha cemberut sambil mendudukkan diri di samping Luka. Tatapannya mengamati lekat-lekat Luka, ada yang janggal.
"Ayah, baik-baik aja, kan?" Acasha bertanya lirih. Luka diam, tidak menjawab apapun.
Keduanya berada dalam keheningan lama.
Acasha menelan ludah. Jika dulu Luka sering bermimpi buruk, tapi setelah Acasha memaafkannya Luka bilang tidak pernah mimpi buruk lagi. Itu pun Acasha menanyakan harus tidak menimbulkan kecurigaan.
Menduga semuanya sudah selesai begitu saja justru salah. Ternyata banyak tidak Acasha ketahui, hampir tiga tahun belakangan ini Luka berusaha menyakiti dirinya sendiri semakin parah.
Tak boleh ada benda tajam di letakkan sembarangan. Jangan memegang sesuatu yang dapat menghilangkan nyawa. Luka bahkan di biarkan tak menjadi penerus klan, kalau pun memang terjadi. Kemungkinan besar klan Natapraja berhenti di generasi kesembilan pada masa sekarang.
Luka mendengar, nyaris membunuh orang itu yang lancang mengatur keluarganya.
"Ayah...." Acasha mencengkeram lengan kiri Luka, ekspresi berubah serius. "Ayah harus bertahan. Ayah wajib hidup untuk delapan puluh tahun ke depan. Ayah pasti mau, kan. Lihat cucu-cucu Ayah!"
Luka tertawa.
"Jangan ngawur."
"Aku nggak bercanda."
Jelas sekali Acasha tampak menunggu jawaban.
"Gue gak yakin." Luka meneguk minuman sodanya kemudian, tanpa memandangi sang lawan bicara Luka meneruskan. "Pilar yang udah retak tinggal menunggu waktu runtuh."
Iris kelabu Luka menunjukkan kehampaan.
"Ibaratnya pilar itu nyawa gue, intinya cepat atau lambat gue bakal mati."
Bagaimana ini? Apa yang perlu Acasha lakukan agar Luka mencintai kehidupannya.
Acasha sungguhan tidak tahu, tiap Luka kambuh akan ada di mana Acasha merasa Bersalah. Namun, di sisi lain saat bersamaan lubuk hatinya malah puas.
Bukan kah dia terlihat jahat. Lamunan Acasha buyar oleh usapan Luka di rambutnya kembali.
"Кеnара?"
Acasha agak pucat, keringat dingin mulaimengalir di balik punggung dengan jantung berdebar tak nyaman.
"Kalau Narasea yang minta Ayah menghargai kehidupan... apa Ayah akan patuh? Lalu,
menganggap kata kematian itu sesuatu yang mengerikan," ujarnya pelan.
"Lo yang minta atau Narasea?" sahut Luka, mengetuk gemas puncak kepala Acasha dengan bibir menyunggingkan senyuman. Kebiasaan
Silver entah sejak kapan menular.
"Dua-duanya!" Acasha tanpa sadar meninggikan nada suara disusul bangkit dari bangku.
Luka menahan napas.
"Kakek dan Nenek bisa hilang akal terus-terusan ditampar kenyataan, lihat anaknya sendiri yang berusaha mati." Acasha mengusap wajah frustasi.
Pada akhirnya Acasha berlari keluar dapur
Meninggalkan Luka yang gagal mencegah, tangan Luka hendak meraih pergelangan Acasha menggantung di udara.
Ini selalu terjadi, jika mereka membahas tentang kematian.
*******
Acasha bertopang dagu sementara tangan lainnya memegangi kertas lusuh.
Kertas lusuh yang delapan tahun lalu diberikan Hazel.Bertemu Hazel, Acasha mulai memahami semuanya sedikit demi sedikit. Bahwasanya di masa lalu dia bernama Narasea.
Delapan bintang keberuntungan, kutukan, sosok yang paling menderita mau tak mau harus menerima akibatnya karena telah melakukan kesalahan fatal di masa itu.
"Hazel." Acasha memanggil dengan jari mengusap nama terakhir tertulis di kertas lusuh tersebut. "Kamu bilang kita akan bertemu lagi, bagaimana kalau aku mau kita bertemu sekarang. Aku butuh titik terang sebanyak-banyaknya."
Acasha menghela napas, entah kapan Hazel menemuinya dan Acasha masih tetap menunggu.
Ada kalanya Acasha ingin cepat-cepat mereka kembali bertatap muka.
"Atau aku harus mencari wanita yang kasih aku kartu tarot waktu itu. Dia juga bisa bantuin, kan?" Acasha berbalik.
Matanya mengitari sekitar kamar. Mengingat-ingat di mana meletakkan kartu tarot yang ternyata wanita itu memasukkan kartu ke dalam kantong plastik, bersama aksesoris Acasha beli beberapa tahun silam.
Ruangan pakaian! Acasha membatin, dengan terburu-buru menuju walk in closet. Tepatnya di lemari posisi laci bawah, Acasha menyimpannya.
"Dizelia." Acasha bergumam setelah menemukan kartu tarotnya. "Mungkin, kamu termasuk salah satu kunci utama selain Hazel."
*******
"Besok malam kita kumpul." Ucapan Luka yang tiba-tiba menghentikan gerakan Acasha berniat turun dari mobil.
Luka mengantarkan Acasha ke sekolah pagi ini, kejadian semalam tidak ada yang mengungkitnya diam-diam Acasha bernapas lega.
Acasha menengok semringah. "Ayah, serius? Kali ini manusia punya jam terbang itu ikutan, kan? Nanti kaya sebelumnya lagi janji palsu."
"Kita makan malam di luar. Kallen beneran datang," jawab Luka lempeng
Acasha mengangguk. Sepertinya suasana hati Luka sedang buruk, apapun alasannya Acasha harap tidak berdampak buruk.
"Kalau Kallen tetap nggak bisa kosongin jadwal aktor memuakkannya itu, gue dan yang lain sepakat lumpuhin kaki Kallen sementara."
"Jangan, dong. Aku bisa ngamuk." Acasha mengulurkan tangan, mendapati raut wajah kebingungan Luka. Acasha langsung terkekeh geli. "Harus banget, ya, Aca perjelas? Isyarat gini minta uang, Ayah."
Luka menggeleng.
Acasha cemberut.
"Dasar pelit." Cuma Acasha yang berani mengatai Luka.
"Kata Silver lo udah rampok kartunya."
"Oh, iya. Aku baru ingat." Acasha tergelak kaku usai memastikan Luka tidak melanjutkan pembicaraan Acasha keluar mobil.
"Semangat kerjanya. Sekalian cari calon Mama buat Aca!" Acasha mengacungkan dua jempol, penuh kesengajaan menekan empat kata terakhir.
Luka tampak tidak berminat menanggapi permintaan Acasha.
"Jangan macam-macam."
"Aku serius, Ayah. Soal calon Mama."
"Hati-hati sama Yasa."
Acasha terkesiap. Badannya setengah membungkuk di sisi mobil sontak semakin merapatkan diri, kepala Acasha sudah masuk ke dalam mobil yang kebetulan jendelanya terbuka. Luka melihat itu speechless.
"Ayah, kita semua udah sepakat untuk nggak mempermasalahkan strata siapapun, salah satunya teman aku." Acasha menjawab sedikit kesal.
Luka menyeringai samar. "Bukan itu maksud gue." Pandangan Luka lurus pada seorang remaja laki-laki bersandar di gerbang JHS. "Kita lihat sampai kapan dia menjaga topengnya..."
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕