The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 58 ~ Kekecewaan (a)



Silver mematung, pintu kamar kekasihnya yang terbuka sedikit kini mulai sebagian. Sesaat tatapannya berubah nanar, menyadari Ariyan di belakangnya akan tiba, Silver cepat-cepat kembali menutup pintu hingga salah satu di atas ranjang tersebut menoleh terkejut.


Narasea mengerjap, tangan Narasea gemetaran meraih selimut di sisi tubuhnya untuk menutupi tubuh tanpa busananya. Lalu, mendorong Lukara.


Dorongan itu membawa Lukara mundur agak jauh. Narasea turun, berjalan cepat menuju lemari. Gaun tidurnya robek di lantai, jika di lihat lekat-lekat raut wajahnya nampak tegang.


"Sepertinya kita ketahuan." Lukara tersenyum tipis sembari mengusap lengannya sendiri. "Kamu menggunakan kemampuanmu Sea, dan itu karena kedatangan Silver." Nada suara Lukara terdengar sinis.


Narasea tidak mengatakan apapun. Selimut yang membungkus tubuhnya dia jadikan sebagai tirai pemisah di depan pria tersebut, tentu saja tindakan Narasea membuat Lukara tersinggung.


"Aku sudah melihat semuanya." Buku jari Lukara mengepal kuat, netra biru tuanya teramat dingin. "Ambil, kan. Pakaianku di dekat kaki kamu, Sea!" Lukara memerintah penuh penekanan.


Narasea patuh, bukannya tenang justru Lukara semakin emosi, tangan Narasea yang terulur dengan wajah berpaling. Mengetahui tujuan perempuan itu yang ingin keluar kamar kemudian, Lukara tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.


Sekali tarikan, punggung Narasea seketika menempel kedua kalinya ke ranjang.


Lukara membungkuk.


"Jangan macam-macam bersama Silver, tidak ada yang lebih mencintaimu selain aku, Sea." Lukara membimbing paksa tangan Naraseamenyentuh dada kirinya. "Kamu dengar, kan. Debaran jantungku?" bisiknya.


Jemari Lukara yang lainnya meraba lembut tulang selangka Narasea.


"Sampai kapanpun tidak ada yang berubah meskipun kamu meminta pertolongan Silver. Asal kamu tau, selama ini kebaikan aku cuma kepura-puraan, aku perlu menyelidiki seberapa besar wadah energi kalian dan sesuai dugaan itu hanya pas-pasan..." Lukara mengungkapkan sembari menunduk, mengecup sejenak leher perempuan di bawahnya.


Tetap membuang muka. Narasea membalas ketus. "Menjauh." Narasea melirik singkat.


Lukara tertawa merdu. "Jika Silver menanyakan sesuatu, jawab dengan kejujuran. Dia bukan orang bodoh yang tidak sadar ikatan suci di antara kita berdua." Lukara berpesan tenang.


Narasea tidak melangkah pergi menuju pintu usai Lukara menciptakan jarak yang cukup agar Narasea segera mengejar Silver di luar sana, namun Narasea justru berbalik memunggungi Lukara kemudian.


Air muka Lukara gagal menutupi kebingungan. Belum sempat kembali menghampiri, suara Narasea lebih dulu sampai ke telinganya.


"Apa alasan kamu menjadi pengkhianat? Persahabatan kita berdelapan, selama puluhan tahun hancur." Narasea bertanya lirih, netra birunya mengingatkan oleh laut yang berdebur tenang, tetapi mengartikan kepedihan.


"Kamu mengetahui alasannya, Sea. Kalau kamu tidak ingin tersiksa lagi, terluka di mana-mana... atau Silver tidak perlu menyaksikan aku yang membuatmu menangis." Lukara membasahi bibir bawahnya, menatap dalam punggung Narasea. "Hancurkan cincin di jari manis kamu, aku selalu hilang akal melihatnya. Permintaanku itu saja."


Narasea berdiri kaku, sedikit merinding.


"Aku tidak bisa."


"Kamu terus menolak. Kamu bakal berakhir mati!"


"Sekedar mengingatkan, kematianku ada di tanganku sendiri."


"Kurang ajar!"


Lukara melesat cepat dan Narasea diam saja saat punggungnya beralih menghantam dinding dekat perapian.


"Kamu tidak berencana meninggalkan aku, kan?" Lukara mencekam leher Narasea.


Narasea terbatuk sekali. Dia mendongak, balas menatap Lukara. "Kamu berkhianat pada kami alasannya karena aku, padahal seharusnya kamu memahami, Lukara ...." Narasea sengaja menjeda, lalu memegang pergelangan tangan kiri sosok pria yang selama berbulan-bulan ini selalu menunjukkan raut wajah arogan.


Narasea hampir tidak dapat mengenali. "Bahwasanya jika aku telah memutuskan mencintainya, tidak akan pernah berubah sedikit pun. Aku punya pendirian kuat. Kamu pasti mengenaliku, bukan?"


Sang lawan bicara tidak menjawab apapun, tapi sebagai gantinya cengkeramannya pada leher Narasea semakin menguat.


*******


"Kamu baik-baik saja?"


".... "


Narasea tidak mampu berdiam diri, menunggu Silver membuka mulut sama saja mereka di luar kastil sampai matahari terbit, Narasea yakin itu.


"Silver, ak--"


"Kapan kalian berdua menikah?"


Narasea berkedip linglung karena Silver menyela.


"Di... di awal musim dingin, aku tidak paham kenapa Lukara senekat itu. Tapi untuk sekarang, aku memberikannya kesempatan untuk memperbaiki segalanya."


Silver menoleh.


Narasea mencoba tersenyum walau rasanya dia kesulitan.


"Jangan pura-pura tidak memahami, Sea. Aku mendengar pembicaraan kalian di kamar, aku masih di sana dan tentang Ariyan aku lebih dulu mengusirnya pergi." Silver menunduk, gerakan jemari Silver seperti meraih sesuatu. "Tali transparan ini sebatas pengganggu di hubungan kamu dengan Lukara."


Narasea memucat.


"Kamu ... kamu tidak salah ... paham, kan? Jangan di sentuh." Narasea bergumam gagap.


"Lagi pula yang bisa melihatnya cuma kita."


Narasea buru-buru menghentikan, sebelum sesuatu yang tak di kehendakinya sama sekali menjadi kenyataan.


Narasea belum bernapas lega karena Silver tahu-tahu berganti mengenggam tangannya yang di salah satu jari tersemat cincin. Narasea memandangi getir.


"Kita harus mengakhiri, suka tidak suka. Ini keputusanku."


Narasea tentu melawan dengan dada agak sesak Narasea berjalan mundur. "Sikap kamu sekarang justru menyakitiku, apa kamu sadar? Aku tidak mau!" Narasea membentak, matanya memanas.


Silver terperangah.


Narasea berbalik, memilih menjauh. Ditiaplangkah memasuki kastil, berharap tidak bertemu siapapun. Menjelang hari mulai pagi Narasea merasakan lelah dengan keadaan.


*******


"Aku tidak menyangka akan mendapatkan kejutan dari seseorang yang sangat aku hormati." Bibir merah muda tersebut menyunggingkan senyuman, namun jika di teliti lama, nada suaranya tertangkap ramah berbalik terbalik dengan tatapannya yang terkesan memendam emosi.


"Seharusnya aku yang lebih dulu bicara, menyambutmu. Terima kasih bersedia mendatangi kamarku." Lukara menepuk kursi empuk di sampingnya. "Duduk, Silver."


Silver tergelak hambar, menyisakan jarak sekitar tiga langkah, Silver bersedekap.


"Perlu kamu ketahui, Lukara, bukan cuma kamu yang pernah melihat secara langsung orang-orang yang kita kasihi menghilang dalam kondisi mengenaskan, aku dan enam orang sisanya pun bernasib sama."


Lukara beranjak, seolah-olah telah menduga... Silver bergeser gesit menghindari pisau perak hampir menancap di perutnya.


"Pergi!"


"Dengarkan perkataanku baik-baik."


"Kalau kamu tetap keras kepala aku mampu menghabisimu detik ini juga, Silver!"


Silver menggeleng. "Orang tua sekaligus saudara kamu yang meninggal mengenaskan, itu dampak dari kamu yang terpilih sebagai delapan bintang keberuntungan!" Silver berseru kesal. "Konsekuensi yang wajib kita terima atau tepatnya kita semua!" Dia melanjutkan terang-terangan.


Kali ini Silver tidak dapat lagi mengelak seperti sebelumnya sebab Lukara benar-benar ingin membunuhnya kemudian.


*******


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕