The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 63 ~ Dampak Dari Menghilang



Lyan melepaskan kacamata, melempar asal ke kasur, lalu berjalan mondar-mandir. Kebiasaan seseorang yang sangat lyan kenali, jika gelisah maka akan mengigit jempol tertular pada Iyan, menyadari kelakuannya, lima detik kemudian pria itu sontak berhenti. Termenung lama.


Ke mana Acasha?


Kamera pengawas tersebar di penjuru mansion Luka tidak menghasilkan titik terang. Terakhir kali, Acasha memasuki kamar tepat jam sembilan malam.


"Ini udah terlalu lama." Iyan bergumam frustasi sambil menyandarkan punggung di tembok.


Selama ini yang mampu membuat Iyan sampai kalut marut cuma segilintir penyebabnya.


Satu bulan Lukara dalam kondisi koma dan terhitung pula dua puluh satu hari Acasha menghilang.


Operasi di pimpin Cleo berhasil mengangkat patahan pisau di perut Luka, namun setelahnya tidak ada tanda-tanda Luka membuka kelopak mata.


Iyan menyapu pandangan ke seisi kamar yang jelas bukan kamarnya, melainkan tempat Iyan pijak sekarang adalah lantai atas rumah sakit yang sebelumnya ruangan kosong, berkat Silver semuanya berubah.


Iyan tersenyum masam baru menyadari terhadap sosok lain di ruangan.


"Ck, di saat kami kalang kabut cari Acasha lo malah enak-enaknya tidur!" Iyan berseru, berjalan mendekati kasur, tangan Iyan menarik kasar selimut yang membungkus postur kekar di baliknya.


Silver hampir jatuh ke lantai. "Bangsat!" Silver memaki, mata menyipit seiring mendongak.


Sesaat lyan terperangah mendapati bawah mata Silver menghitam.


"Coba lo ulangi."


"Hah?"


"Nggak usah pura-pura tolol."


Iyan ikut membaringkan tubuh di sebelah Silver yang langsung mencak-mencak, mengabaikan reaksi Silver si paling tidak suka berbagi, Iyan mengeluarkan ponsel dari saku celana.


"Bawahan kita berdua sama sekali nggak berguna, bahkan orang-orang se-kelas kakap punya keluarga Cleo gagal." Iyan berujar sinis yang jarang sekali di dengar.


Silver melirik layar ponsel terus lyan gulir. Bagian rekaman CCTV jalanan besar ibukota Orion terpampang nyata, di perbesar sekalipun tidak menemukan yang mereka cari. Silver berdecak, merampas ponsel di tangan Iyan tengah tergenggam erat.


"Acasha nggak mungkin sembunyi di tong sampah." Silver mendelik. "Jangan meremehkan bawahan keluarga Jenggala karena gue nggak suka!" ujarnya serius.


"Kita harus cari Acasha lagi, kalau perlu keluar kota." Belum sempat Iyan beranjak, lengan kirinya lebih dahulu ditahan.


"Gimana keadaan Luka?" Silver bertanya pelan, memandangi lekat-lekat Iyan yang membuat Iyan mengerutkan kening.


"Lo bisa ke sana, cuma beberapa langkah. Letak kamar rawat Luka di sebelah." Raut wajah Iyan kesal seketika. Baginya pertanyaan Silver tidak penting. "Astaga, suara tangisan Tante Gemala sampai kedengaran sampai sini. Udah pasti menjawab pertanyaan lo, Silver Jenggala!" Terselip nada gemas di suara Iyan.


Silver mengacak rambut gondrongnya hingga makin berantakan. Mendarah daging tentang mengagungkan penampilan, selama satu bulan ini terlupakan begitu saja.


Kaos putih sekaligus celana selutut melekat di badan Silver kusut bukan main, serupa isi benak yang memikirkan kemungkinan buruk terjadi nantinya.


"Lo tau, kan, ini rekor terlama Luka koma. Biasanya cuma dua minggu setelah itu pemulihan di mata Luka membosankan.


"Cara lo bicara kayaknya lo takut Luka kenapa-kenapa?"


"...... "


"Gue kira Luka di posisi sekarat itu udah terkesan familiar buat lo, tapi ternyata sebaliknya."


Silver membuang muka. Iyan akhirnya dapat beranjak menjauh.


"Percaya sama gue, Luka bakal baik-baik aja." Iyan menelan ludah, tatapan agak meredup untuk beberapa detik. "Justru yang gue takutin Acasha."


Detik berikutnya, kedua pria itu disituasi keheningan panjang.


*******


"Kamu nggak keberatan pernikahan kita di tunda?" Kallen bertanya pada sosok perempuan di sisinya sedang menghapus riasan di muka Kallen.


Sesekali Kallen berbaik hati membenarkan tangan Kalana sedang memegang tisu memeleset ke tepi atau matanya yang hampir dicolok.


Kallen tergelak merdu, menggeser kursi menghadap Kalana. Jari-jarinya membelai surai pirang Kalana. "Tadinya aku pengen denger kamu nggak setuju." Kallen menyahut lirih.


Kalana bungkam. Mengenali seorang Kallen Tamara di mulai berumur tujuh belas tahun, tentu Kalana mengenali betul bagaimana perangai Kallen sesungguhnya.


Jika di depan kamera dan para fan fanatiknya Kallen terkenal teramat baik, maka di balik orang-orang bekerja di bawah telapak tangan pria ini, indra pendengar Kalana diam-diam sering menangkap mereka semua mengeluh.


"Kira-kira bayi kita ngapain, ya, di sini?" Kallen meletakkan kepalanya di paha Kalana, satu tangan yang lain menyusup pada gaun tipis Kalana kenakan. "Bayi kita tau nggak kalau Papinya sekarang lagi cape cari kakaknya yang hilang."


Kalana terbatuk oleh tutur kata Kallen terkesan polos. "Kamu kayaknya butuh tidur." Kalana mengusap puncak kepala Kallen lalu turun di kening, memijit lembut.


Kallen menggeleng. "Aku mana bisa tidur nyenyak saat Acasha belum ketemu. Apa Acasha kabur?" tebaknya asal.


Ekspresi Kalana berubah sekejap, Kallen melihat mengulum bibir. Kekesalan Kalana adalah hal yang paling Kallen suka.


"Acasha mustahil kabur." Kalana menunduk, dari sisi manapun hanya kekosongan di netra bulat tersebut. "Acasha enggak punya siapa-siapa selain kalian, sama seperti aku. Yang aku punya cuma kamu."


Pria tampan itu kembali tertawa, sisa riasan di wajah belum terhapus seluruhnya kini terbenam di perut Kalana. Kallen beralih memeluk pinggang Kalana.


"Calon Nyonya Tamara tambah manis ....." Kallen menatap memuja, seandainya penglihatan itu mampu berfungsi, Kalana mungkin tidak pernah membayangkan bahwa sosok remaja yang dulu mengatai habis-habisan secara bersamaan merebut paksa keperawanannya di kabin kapal ialah orang yang serupa di masa sekarang.


"Bukannya hari ini kamu masih ada jadwal syuting." Kalana beringsut sedikit, merasa tak nyaman tangan Kallen mulai bergerak ke mana-mana. Meskipun posisi keduanya berada di ruangan pribadi, tetap saja Kalana dapat mendengar suara berisik di luar sana.


Menyadari penolakan dari pihak lain Kallen membasahi bibir. "Aku mau ke rumah sakit jenguk Luka terus ketemu yang lain, jadi syutingnya di tunda." Kallen memberitahu tenang. "Kamu harus ikut."


"Tapi mereka tunggu kamu udah lama."


Kallen bangkit. Memasukkan seluruh barang-barangnya sendiri ke tas mengingat manajer sekaligus kaki tangannya itu sebelumnya Kallen usir.


"Aku nggak peduli." Sahutan Kallen bernada main-main. "Mereka yang butuh aku, Kala. Dan mau nggak mau wajib sabar. Kalau marah, siap-siap sebelum sampai rumah dahinya bolong."


Kalana tidak mengatakan apapun cuma menyambut tongkat putih Kallen berikan kemudian.


"Lusa nanti kepompong belum juga ketemu, kayaknya aku bakal berubah bentuk."


"Be... berubah bentuk?"


"Iya, jadi fosil."


Kalana menelan ludah walau paham celetukan Kallen bercanda, di satu sisi suasana hati Kallen sudah jelas di tahap buruk. Orang-orang yang tak sengaja menyenggol Kallen berpeluang besar dalam bahaya.


*******


Cleo menyampirkan jas dokternya ke sandaran sofa usai meletakkan nampan makanan di temani gelas berisi minuman hangat di meja. Cleo berbalik, menghampiri wanita paruh baya yang duduk di kursi sebelah brankar.


Selama berjam-jam menangis, memohon menyayat hati dan berakhir jawaban hampa.


"Tante harus makan." Cleo berkata lembut seraya memegangi lengan kanan Gemala. "Tante enggak mau, kan, Luka mendiamkan Tante setelah sadar nanti." Cleo berhasil menuntun Gemala menuju sofa.


Gemala yang mengerti maksudnya spontan menggigil, tidak akan sanggup anak tunggalnya itu menutup mulut rapat-rapat. Luka tak menyukai dia dan Ravindra bagaikan di naungi awan duka.


"Tante masih berisi, kan?" Gemala membalas serak. "Atau jangan-jangan Tante udah kurus?" Gemala segera meraih nampan.


Cleo mengulum senyum. "Masih aman, makanya aku saranin Tante perlu banyak makan." Memastikan Gemala benar-benar mengisi perut kosongnya, barulah Cleo menempati kursi yang beberapa menit lalu Gemala duduki lama.


Cleo memusatkan perhatian terhadap Luka yang terbaring, bibir itu sungguhan tidak berwarna hampir serupa oleh kulit wajah. Rambut legam menutupi kening, kalau ada yang mengatakan Lukara Natapraja mirip visual pangeran tidur keluar dari dongeng sepertinya Cleo akan percaya saja.


"Gue penasaran gimana reaksi lo setelah tau bahwa Acasha hilang." Cleo bergumam. "Katanya Aca kabur, paling lucu lagi Iyan tebak asal-asalan Aca diculik jurik." Kala itu terucap di mulut Iyan, keadaan ketiganya mabuk-- Kallen dan Silver kompak melemparkan gelas kaca.


Beruntung, Iyan gesit menghindar. Namun, sebagai gantinya lyan mendapatkan sekali bogem mentah dihadiahi Kallen,


*******


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕