The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 53 ~ Bertemu Kembali



Acasha membuntuti sosok pria di depannya tengah berjalan mengelilingi kamar. Sama-sama di situasi keheningan, Acasha masih perlu memastikan... bahwa pria bersamanya sekarang adalah Hazel.


"Kalian terlihat bahagia." Hazel bergumam dengan jemari putih pucatnya mengusap polaroid menggantung di dinding lalu berhenti di pigura terletak di meja belajar Acasha. "Mungkin, satu orang pengecualian," lanjutnya.


Acasha melakukan hal serupa, memandangi pigura di pegangi Hazel. Di sana, mereka berlima berpose bebas dan pertama kalinya Acasha menemukan Silver menyunggingkan senyuman tulus. Potret itu di ambil saat Acasha berumur sepuluh tahun.


"Ternyata ada Kalana!" Nada suara Hazel bertangkap agak antusias, meraih piguran lain. Acasha sesaat tertegun. "Dia benar-benar buta."


Hazel menoleh pada Acasha yang berdiri di sisinya. Acasha mengerjap linglung. "Ma... maksud kamu? Gimana bisa kamu di sini? Kamu itu hantu jadi-jadian seharusnya aku nggak bisa liat, kan?" tanya Acasha beruntun.


Sebentar. Pertemuan pertama mereka dulu, Acasha mampu melihat Hazel bahkan menyentuhnya, tapi bukan di dimensi ini makanya Acasha tidak menduga Hazel mendatanginya langsung.


Hazel tersenyum samar, tidak tersinggung Acasha menyebutnya hantu jadi-jadian justru Hazel lebih tertarik mengamati penampilan Acasha.


"Cuma kamu dan orang-orang yang memiliki keistimewaan bisa melihatku," jawab Hazel pelan


Acasha mengangguk paham.


"Kenapa soal Kalana? Jujur, aku kaget pas baca Kalana termasuk dalam bintang keberuntungan." Acasha mengerutkan kening.


"Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, orang-orang yang selalu bersamamu, Sea. Bagian dari masa lalu." Tatapan saling bertemu. Hazel bergerak maju spontan Acasha melangkah mundur kemudian. "Kamu pasti tau, kan. Tujuan aku ke sini?" Sebelah tangan Hazel terulur.


Acasha menelan ludah. "Kalau aku ikut kamu, berarti aku bakal hilang. Sama sekali nggak ninggalin tubuh aku di sini. Emang nggak bisa kayak pertama kali kita ketemu, Hazel." Nada suara Acasha terdengar memelas.


"Aku kira kamu menunggu momen ini."


"Keraguan kamu selalu menghambat semuanya, Narasea."


"Intinya aku hilang mendadak bisa bikin mereka heboh."


"Di telingaku terdengar menyenangkan. Apa kamu tidak penasaran, nantinya mereka mengubrak-abrik satu kota?"


"Tapi, situasinya nggak memungkinkan." Acasha menghela napas, melirik Hazel yang setia dengan posisinya. "Ay-- Lukara ... keadaannya bikin aku khawatir."


"Karena itu aku datang lebih awal. Kamu ingin menyelamatkan Lukara, kan?" Mendapati cewek remaja di depannya melamun, Hazel mengambil kesempatan meraih tangan kanan Acasha yang mengantarkan Acasha kembali terkejut, hendak melepaskan. Namun, genggaman Hazel semakin mengerat.


Acasha sedikit panik. "Sebentar, kita mau ke mana dulu?!" Detik ketiga Acasha menegang apalagi menyadari warna mata biru Hazel bersinar samar, di antara penerangan temaram lampu kamar.


"Anggap saja kita nantinya seperti menonton sebuah film. Saat semuanya berakhir bukan berarti kamu mengingat." Hazel berbisik. "Pilihan terlahir kembali dan melupakan masa lampau keputusan terbaik, Narasea, mengingat kehidupan lalu menurutku terlalu kejam...."


Lidah Acasha kelu, mulutnya seolah-olah dipaksa bungkam secara bersamaan badan Acasha tidak mampu bergerak.


Acasha berdiri termangu, menyaksikan Hazel terjatuh berlutut dengan tangan tidak saling melepaskan. Paling membuat Acasha tertekan, raut wajah Hazel yang tampak sungguhan kesakitan setelahnya.


*******


Maaf ya guys chapternya singkat banget soalnya lagi bingung mikirin idenya๐Ÿ™๐Ÿ˜…


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih๐Ÿ˜˜๐Ÿ’•