The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 03 ~ Lukara Natapraja



"Imutnya, adek manisku." Iyan tersenyum lebar, duduk di sisi ranjang sambil memainkan jemari mungil si balita yang tertidur pulas.


Ingin berlama-lama menikmati wajah bulat Acasha harus berantakan saat Silver menghampiri, menyeret paksa Iyan menjauhi kasur besar tersebut.


"Kita lagi diskusi lo malah cengar-cengir kaya orang sinting!" Silver menyembur tajam.


Mendorong Iyan ke tengah kamar di sana sudah ada Kallen dan Cleo nampak berdiam diri.


Sementara Luka di sofa tunggal mengusap-usap rubik di tangan sesekali melirik mereka bertiga seperti perkiraan akan adu mulut dan Cleo yang cuma bisa geleng kepala.


Luka berdehem agak keras hingga membuat kamar kembali hening, tersenyum simpul usai menghirup aroma lavender pengharum ruangan yang merilekskan tubuhnya.


"Lo nemu Acasha di mana?" tanya Luka berpaling pada Silver.


Ekspresi Silver sesaat jengkel seolah-olah mengingat itu akan memperpendek umur. "Bawah jembatas pas gue ambil barang, sesuai perintah lo." Silver menjetikkan jari.


"Dia muncul di balik rerumputan terus panggil gue Ayah."


"Kenapa lo enggak tinggal aja? Bersikap nggak peduli amat, tapi ini lo malah bawa dia. Orang semacam lo, cih!" Kallen bersedekap, binaran matanya penuh main-main.


"Sebenarnya kehadiran kepompong bukan masalah karena adanya kepompong gue jadi yakin gue masih manusia yang punya hati nurani."


"Itu bocil peluk kaki gue!" Silver mendesis geram.


"Manusia yang punya hati nurani." Luka tertawa merdu, iris kelabu mengarah lurus beberapa detik ke ranjang merasa tertarik mendengar perkataan terakhir Kallen, sedangkan Kallen dan Silver tadinya saling melempar aura permusuhan kompak keheranan oleh sikap Luka kemudian.


"Kita manusia berdarah dingin, hobinya membunuh orang, orang jahat. Heyyyyaaa ...." Iyan mendadak bernyanyi sambil mengangkat tangan.


Suasana kamar seketika berubah canggung tanpa sadar Iyan menelan ludah kali ini gilirannya yang jadi pusat perhatian.


"Kenapa?" Cowok berkacamata bulat itu bertanya lirih, yakin tidak melakukan. kesalahan apapun.


Silver menghela napas. "Bisa-bisa gue beneran sinting terus temenan sama lo, dasar tolol!" ujarnya.


Iyan tergelak sumbang bukan hanya Kallen yang berceletuk Silver butuh kaca melainkan semua orang mengenal Silver berucap serupa, tapi dia bosan mengingatkan.


*******


Pagi-pagi buta Acasha sudah terbangun dari tidurnya. Napas Acasha terengah setelah menaiki undakan tangga, seandainya dia bertemu pekerja rumah Luka mustahil Acasha kelelahan seperti ini.


Kallen bilang Acasha harus diperlakukan layaknya Tuan Putri dan Acasha mengangguk polos saja berbeda dengan hatinya yang berbahagia.


Keajaiban menimpa Acasha membawa keberuntungan.


Acasha menyapu pandangan di lantai dua, mulutnya terbuka kesekian kali mengagumi rumah besar Luka.


"Ayah." Sudut bibir Acasha melengkung lebar menduga kesusahan mencari kamar Luka, namun seseorang hendak ditemui telah muncul dan sekarang berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar.


Acasha berlari mendekat. "Ayah, udah bangun?" Pertanyaan macam apa itu pasti Luka menganggapnya bodoh.


Sebentar.


Berpakaian seragam, ada sisir di tangan kanan Luka.


Luka mengangguk sambil meraih pergelangan tangan kecil Acasha, menuntunnya memasuki kamar.


"Nanti siang pengasuh lo bakal datang." Luka mengangkat tubuh mungil Acasha, mendudukkannya ke meja belajar. "Gue sekolah yang lain pun juga jadi lo tetap di rumah. Jangan nakal."


Acasha tertegun untuk pertama kali mendengar ucapan Luka yang panjang. Detik ini Luka layaknya seorang Ayah sungguhan yang menasihati sang anak agar penurut.


Acasha mengacungkan jempol. "Pasti, aku nggak akan nakal kok." Sesudahnya Acasha mendapatkan tepukan di puncak kepala.


"Bagus." Luka merapatkan kursi ke meja, mengambil salah satu buku. Acasha mengamatinya. Luka sibuk membaca yang Acasha ketahui buka pelajaran melalui penerangan dia melihat garis wajah cowok itu yang serius.


"Ini, apa?" Acasha penasaran menarik di sela buku menumpuk. Sapu tangan. Acasha membuka lipatan sapu tangan tersebut.


Lukara Natapraja.


Bordir berwarna kuning keemasan membentuk nama di ujung sapu tangan, kening Acasha berkerut merasa familiar.