The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 02 ~ Ayah Gadungan



Acasha lapar, baru menyadari belum makansiang. Perut datarnya sedari tadi keroncongan.


Sialnya si setan satu menunjukkan wajah ketidakpedulian. "Ayaaahh!" Acasha merengek, harga diri semakin jatuh ke dasar. Rencana tutup mulut sepanjang jalan gagal total.


Silver fokus mengemudikan mobil bugatti divonya melirik dingin.


"Apa?" Kening Silver berkerut. "Jangan panggil gue Ayah. Gue. Bukan. Ayah. Lo. Paham?" lanjutnya penuh penekanan.


Acasha keras kepala. "Lapar!" Acasha bergeserbmerapat pada Silver, menyentuh lengan otot Silver yang sempat Acasha kagumi, jarang-jarang dia melihat cowok atletis.


"Gue lapar, sialan. Dasar setan!" Batin Acasha mengutuk kelakuan Silver.


Sepertinya dia harus berbuat nekat. Andal saja ada Cleo, tidak mungkin Acasha dibiarkan lemas begini.


Acasha berdiri, meloncat menghapus jarak sepasang tangan mungil Acasha kemudian memeluk leher Silver dengan sengaja kepalanya bersandar di pundak Silver.


"L-lepas."


"Lapar."


Acasha mengulum senyum, menyadari mobil melaju pelan. Berarti dia berhasil agaknya Silver tak suka disentuh terbukti ekspresi Silver yang menyeramkan, seakan menahan diri tidak melemparnya ke jalan.


"Tetap di sini." Silver berkata ketus. Mobilnya benar-benar telah berhenti dan Acasha kembali duduk manis.


Tidak sampai sepuluh menit Acasha menunggu, apa yang dia mau sudah tersaji. "Makasih, Ayah..." Acasha suka rela memberikan senyum tulus usai menangkap kantong besar di lempar Silver, banyak roti sekaligus kentang goreng di dalamnya belum lagi minuman susu berbagai rasa.


Di satu sisi Acasha ingin sekali menempeleng wajah itu sekarang, namun lagi-lagi wajibmenguburnya. Nanti saja ketika Silver lengah.


"Jangan senyum, muka lo mirip banget sama dugong."


"Dugong itu apa?"


"Kucing."


Acasha memalingkan muka, Silver pasti mengira Acasha gampang dibodohi tidak tahu saja jiwa asli tubuh ini mengerti sedangkan Silver tertawa pelan untuk pertama kali Acasha dengar.


Acasha meringis. "Sakit, bangsat!" Refleks Acasha menepis jari-jari Silver. Detik ketiga dia berkedip, menoleh ragu pada Silver berharap cowok itu tak menangkap umpatannya meskipun mustahil.


*******


Setelah menjijing layaknya anak kucing, garis wajah terkesan galak tersebut melempar si balita ke arah temannya, mengabaikan bagaimana mereka yang memandangi kaget.


Acasha menjadi korban pucat pasi, Silver sangat gila. Beruntung Kallen cepat menangkap Acasha.


"Mulutnya nggak tau sopan santun." Silver bersedekap, acuh tak acuh Kallen dan Cleo duduk di seberang siap mengibarkan bendera perang.


"Kayaknya lo butuh kaca." Kallen menjawab sinis sambil membelai puncak kepala Acasha mengetahui tubuh mungil dipangkuannya gemetar. "Kalo Luka lihat habis lo, Ver."


Silver tertegun.


Kallen menyeringai kemenangan.


Acasha mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar ketakutan dia bahkan tak dibiarkan menatap takjub kediaman pemimpin hades, Luka. Sebelah tangan Silver yang lain menutup matanya saat memasuki Mansion Luka.


"Ayah..." Acasha mendongak, bermaksud hendak menanyakan keberadaan Iyan yang kali tidak ada di antara mereka namun Acasha langsung terkesiap ketika Kallen menunduk.


Acasha menahan napas, wajah Kallen terlalu dekat. Bukan cuma orang-orang ini sinting melainkan rupa mereka juga memukau.


Kallen tersipu. "Ayah? Mimpi apa gue tadi malam sampai dipanggil Ayah." Kallen terkekeh geli, mengusap kening si balita yang berkeringat.


Acasha menyerah, merasa akan ikut gila jika berlama-lama menikmati ketampanan Kallen.


#


Tinggalkan like, vote, dan komen. di like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya.


TERIMA KASIH 💋