The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 05 ~ Semoga Hari Ayah, Selalu Senin



"Anjir, jangan peluk kaki gue!" Silver berkata kesal berbeda dengan Kallen dan Iyan yang kompak merentangkan tangan berdiri di sebelah Silver langsung cemberut.


Mengira Acasha berlari untuk menyambut, nyatanya balita itu hanya fokus pada satu orang.


"Pilihan lo salah tau, kepompong." Kallen menarik pelan tangan Acasha menjauhkan Acasha dari Silver yang wajahnya muram.


Seharusnya mental anak kecil semacam Acasha takut terhadap Silver yang sukanya membentak, tapi nyatanya Acasha justru selalu menempeli Silver.


Kallen tidak mengetahui saja Acasha punya alasan mengapa hobi membuat Silver jengkel.


"Ayah mana?" Mata Acasha mengitari halaman luas rumah Luka, baru menyadari kedatangan mereka tak lengkap.


Silver berkacak pinggang. "Ayah yang mana lo maksud, bocah?" tanyanya ketus.


Acasha berkedip lugu berada dalam gendongan Kallen.


"Ayah." Acasha menunjuk wajah Silver.


"Semuanya...." Jujur, Acasha ingin menjulurkan lidah merasa mual sendiri mengatakannya. Iyan tertawa sambil mencubit pipi kanan Acasha tak puas Iyan juga meraupnya.


"Luka dan Cleo masih di jalan, lebih baik anak Ayah ini sama Ayah Iyan paling tampan aja." Satu keplakan mendarat di punggung Iyan, pelakunya tentu Silver yang sungguhan jijik begitu pula Kallen.


Lain halnya Acasha yang buru-buru menyembunyikan wajah di bahu Kallen.


Dasar sinting!


Acasha ragu bahwa Iyan salah satu anak konglomerat, termasuk klan berpengaruh di Ibu Kota Orion. Kota yang kini Acasha tinggali. Sikap Iyan amat serampangan.


Buku dibaca Acasha itu benar-benar membantu dan bukunya masih tersimpan, tersembunyi di celah belakang lemari pakaian dan tembok kamar.


"Setop, jangan ngomong mendayu gitu. Geli!" Kallen melotot penuh ancaman.


Iyan menyengir. "Sori, habisnya muka kalian terlalu tegang!" Tangan Iyan terulur membalas tamparan Silver lalu berlari cepat memasuki mansion Luka, menulikan telinga teriakan marah Silver.


Acasha meliriknya skeptis, bertanya-tanya apa orang lain di luar sana tahu bahwasanya anak emas di setiap klan punya kecacatan sebab dibuku itu hanya menjelaskan kesempurnaan.


"Mereka emang gila jadi kepompong harus maklum," ujarnya.


Acasha mengangguk dalam hati mengumpati Kallen, hidungnya menghirup bau aneh sejak tadi. "Ini, apa?" Jari kecil Acasha mengusap pipi kanan Kallen.


"Oh." Kallen menurunkan Acasha. "Lo nggak takut?" tanyanya sedikit heran pasalnya ini untuk kedua kali Kallen mendapati Acasha yang memasang raut datar.


"Hidup lo pasti berat banget ya, kepompong." Kallen berjongkok.


"Enggak papa, hidup lo udah berubah kecuali..." Kallen menyeringai tipis sambil menggesekkan telapak tangan bekas jejak darah itu ke kening Acasha. "Darah, ke depannya lo bakal lihat lebih banyak darah bahkan mungkin lebih mengerikan daripada ini."


*******


"Melly, tunggu di sini. Aku mau ke sana." Langkah kaki Acasha berhenti, matanya memicing melihat keberadaan mereka masih belum lengkap padahal sudah malam hari.


"Tapi Nona belum makan."


"Dadah!"


Acasha menyela, gesit menghindar ketika wanita muda tersebut hendak menahannya. Berlari ke ruang tengah mansion yang sering inti Geng Hades jadikan tempat istirahat.


"Hai." Iyan duduk di sofa melambai padabAcasha yang larinya mulai memelan, Acasha tadinya ingin mengagetkan lyan gagal total.


Acasha cemberut, diam-diam mengutuk dirinya sendiri yang harus punya niat konyol itu.


"Ssstt, jangan berisik ... dua kalkun lagi tidur." Cowok berkacamata itu meletakkan telunjuknya ke bibir.


Acasha bungkam, nyaris tersedak memandangi pemandangan langka di hadapannya kini, di lantai marmer beralas karpet berbulu Silver berbaring bersama Kallen berdampingan, namun Kallen tertidur membelakangi Silver.


"Ayah." Tangan Acasha menarik ujung kaos Iyan mencoba menarik perhatian Iyan yang kembali fokus dengan ponsel, bermain game.


"Luka sama Cleo sibuk." Seolah mengetahui isi pikiran si balita, Iyan mengungkapnya santai merasa terganggu oleh mata bulat Acasha yangbmelotot lurus padanya. "Sibuk bunuh orang."


Perkataan Iyan kemudian sangat pelan nyaris tak terdengar untungnya Acasha memasang telinga baik-baik.


"Ayah galak lo itu kalau tidur persis kaya orang mati." Iyan tiba-tiba berbisik. "Sekarang waktunya balas dendam." Bayangan Iyan detik ini adalah Acasha yang akan mengambil pensil krayonnya lalu mengubah wajah Silver menjadi badut.


Acasha tertegun. Bukan kah ini waktu yang tepat menempeleng Silver. "Oke." Tanpa harus memikirkan ulang rencananya Acasha telah mendekati Silver yang terbaring lurus.


Acasha duduk bersila di sisi Silver, perutbdi balik kaos hitam tersebut naik turun menandakan masih hidup.


"Gimana bisa ada makhluk semacam ini di bumi." Acasha bergumam seraya tertunduk dalam, meneliti rupa Silver. Silver Jenggala kebanyakan minusnya, kesabaran Silver miliki cuma setipis tisu.


Acasha mencodongkan tubuh makin rapat. Bersiap menampar wajah Silver.


"Satu, dua, tig--aaayah ..." Acasha tercekat, menelan ludah susah payah tidak cukup dengan keterkejutan karena mata itu mendadak terbuka memperlihatkan iris coklatnya, punggung tangan Acasha ikut di cengkeram. "Semoga hari, Ayah. Selalu senin." Pada akhirnya Acasha mengutuk secara halus.