The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 15 ~ Terima Kasih Ayah



Bukan cuma mengagetkan Acasha, tapi Kallen dan Cleo pun sama. Keduanya kompak berdiri.


Acasha tertinggal di sofa terduduk cengo, kantuk menghilang berganti debaran jantung yang menggila. Demi apapun suaranya keras sekali.


Tidak mungkin kan pesawat jatuh lalu menimpa atap mansion Luka.


Sudut mata Acasha menemukan Kallen waspada, sebelah tangan Kallen merayap masuk ke saku celana mudahnya Acasha tebak terdapat senjata di sana.


Cleo di hadapan Acasha justru tampak tenang-tenang saja, sempat menoleh ke arah Acasha seperti biasa menunjukkan senyuman manis.


"Ayah ...." Bergerak maju, Acasha menarik ujung kaus Cleo. "Kenapa?" lanjutnya.


Cleo belum sempat menjawab, lebih dulu menyadari kehadiran dua orang berjalan cepat memasuki ruangan. Salah satunya berdarah-darah. Cleo terbelalak hendak menutup mata sang balita langsung dihentikan mendapati kode yang di lempar anak tunggal Natapraja tersebut, Luka.


"Grace!" Kallen berseru memanggil, berlari menghampiri. Sayangnya tatapan dingin Luka menghentikan Kallen yang hendak berjongkok padahal Kallen sekedar ingin memeriksa keadaan gadis itu.


Kallen menciut.


"Dia berusaha kabur terus nggak sengaja gue tabrak karena mobil mau gue mundurin ke belakang." jelas Luka datar. "Tergencet antara mobil dan gerbang."


Itu mengerikan. Acasha memandangi Grace yang terbaring lemas di lantai.


"Sini." Satu kata perintah dari Luka, buru-buru Acasha patuhi. "Grace mau minta maaf."


Grace mendongak, detik ketiga gelak tawanya mengisi ruangan yang hening.


"Aku nggak mau minta maaf! Silver sendiri memintaku untuk membuatnya nangis!" Grace membentak. Kata maaf sudah Grace doktrin sejak dahulu, kalau dia melakukan kesalahan fatal bukan hal sepele.


"Lo harusnya nurut biar selamat!" Kaki Kallen beralas sandal rumahan refleks menginjak lengan kiri Grace.


Grace terlalu berani melawan. Tak ada kesakitan di ekspresi Grace, sementara


Acasha mengerti tatapan lurus gadis bertubuh ramping itu kini tertuju untuknya menyambut dengan tersenyum polos.


"Ayah, Aca udah maafin penyihir." Acasha berdiri di tengah Kallen dan Luka, berujar halus. Jemari kecil Acasha menyentuh telapak tangan Kallen, menggengam erat.


Jangan sampai ada insiden pembunuhan malam ini.


"Pe... penyihir?" Grace terkejut sesaat lalu menunjuk muka sendiri, sorot mata Grace terang-terangan memperlihatkan kebencian.


Acasha berkedip lugu, dalam hati senang setengah mati julukannya tidak salah karena Grace sungguhan mirip penyihir sekarang.


Acasha yakin jika Luka, Kallen, dan Cleo tak didekatnya kemungkinan besar Grace akan membenturkan kepala Acasha ke tembok.


"Dasar gembel, sialan!" Berani banget kamu hina rupa cantik aku!" Dia berseru dongkol sambil menjulurkan tangan mencoba meraih Acasha.


"Baiklah, Ayahmu paling tampan ini senang hati menyelamatkan Tuan Putri," sahut Kallen membawa ringan Acasha kepelukan.


Suasana tegang itu berubah kegelian yang menggelitik hati orang-orang di sana, kecuali si korban rona merah memenuhi muka.


Melly di anak tangga terakhir sebelumnya panik menemukan Acasha menghilang di ruang bermain, seketika tertawa mengakak menonton drama keduanya.bMelly baru bungkam usai pinggangnya disikut kepala pelayan.


Grace benar-benar merasa di permalukan. "Kamu perempuan rendahan aku meminta kompensasi!"


Acasha melihat jari tengah Grace mengacung kepada pengasuhnya tersebut diam-diam mendelik kesal.


"Tiap orang bekerja di keluarga gue semuanya berlindung di belakang nama keluarga Natapraja." kata Luka, posisinya sejajar dengan Grace. Gerakan tenang rambut sebahu Grace bercampur darah yang mulai mengering Luka belai lembut. "Jadi, mereka bebas bertindak apapun."


*******


Jam setengah dua belas malam Acasha terbangun. Besok, dia akan sekolah kembali dan sekolah TK. Acasha tidak tahu itu karma baik atau buruk.


Sebenarnya ingatan kehidupan pertama tak pantas untuk di kenang, tapi Acasha terpaksa mengenangnya dalam beberapa menit ke depan.


Ibunya bilang Acasha pernah kecelakaan hampir meninggal, sang pelaku adalah anak pejabat yang gagal membedakan pedal rem dan gas. Mereka sepakat berdamai lalu bertanggung jawab penuh, singkatnya saat Acasha membuka mata dia dinyatakan sudah melewati masa koma.


Namun, walaupun selamat dokter mendiagnosis amnesia infantil padanya satu hari kemudian. Acasha melupakan masa kanak-kanaknya.


Ayah menjelaskan bahwa Acasha sudah berumur sepuluh tahun, jadi meskipun Acasha melupakan masa kecilnya itu bukan lah apa-apa kata Ayah kala itu.


Tidak usah ketakutan apalagi dipermasalahkan dan Acasha menurut.


"Padahal dua bulan lagi lo tujuh belas tahun." Acasha bergumam sangat pelan. Matanya berkaca-kaca agak menyesal memilih berdiri di depan jendela menatap langit gelap karena dia mendadak melankolis.


Acasha jenuh mendengar pertengkaran kedua orang tuanya memutuskan liburan ke rumah sang nenek pihak mamanya waktu itu, siapa yang menyangka justru perdesaan dengan area perbukitan adalah akhir dari hidupnya.


"Kenapa menangis?" Bisikan tepat di samping telinga sukses membuat Acasha terperanjat.


Acasha menoleh ke belakang mendapati Cleo berlutut menyamakannya dengan badan mungil Acasha.


Sekali melompat, Acasha berada nyaman di dekapan Cleo kemudian. "Terima kasih, Ayah." Acasha balas berbisik mengabaikan pertanyaan Cleo sebelumnya. Mustahil Acasha memberitahu dia menangis karena mengenang kehidupan pertama.


"Ayah ke bangun ya?"


Cleo mengangguk. "Jangan nangis." Jari Cleo mengusap pipi Acasha bergantian. "Kita tidur lagi, oke?"


"Oke, Ayah." Acasha beralih menggandeng tangan Cleo berjalan memimpin menuju ranjang, tanpa berlama-lama merebahkan dirinya ke kasur. "Terima kasih, Ayah. Kalian mau rawat Aca..." Acasha kembali berbisik, teramat tulus.