The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 61 ~ Ketika Kutukan Dan Sumpah Terucap



Kejadian sekitar dua bulan lalu kembali terulang, jika pihak lain menjaga batasan maka sekarang tidak lagi. Ada banyak emosi Narasea tunjukkan, air matanya sempat mengalir yang cepat-cepat Narasea usap.


"Berhenti menghalangiku." Narasea berujar ketus. Memandangi Lukara setengah terbaring di halaman kastil sembari terbatuk-batuk.


Mereka selesai bertarung. Bagian depan kastil sudah tidak terbentuk, anak rumput habis di lalap bola api yang Lukara lemparkan dan Narasea gesit menghindar, puluhan anak panah berhamburan remuk.


Tidak ada hal baik dalam pertarungan, Narasea yang letih kedua kalinya memukul dada kiri Lukara dengan kepalan tangan alhasil pria itu terhuyung lalu jatuh menghantam tanah.


Lukara mendongak marah. "Kamu akan menyesalinya, Sea!" Lukara membentak keras.


Buku jari Narasea terkepal. "Kata-kata itu untukmu. Jangan mencoba menghalangiku, aku bukan lagi delapan bintang keberuntungan." Narasea tersenyum lurus. "Sebelum aku pergi, kamu tidak ingin meminta maaf dulu atas semuanya?"


Lukara bangkit, agak sempoyongan. Sorot matanya berkali-kali lipat murka, jadi tepat setelah Lukara berdiri, dia melesat menghapus jarak. Tanpa membiarkan Narasea menghindar kesekian, Lukara menyambar lengan Narasea, membalikkan tubuh ramping tersebut secara paksa.


Narasea tercekat.


Posisi keduanya beralih sangat dekat menyisakan napas saling beradu. Lukara semakin menempelkan punggung Narasea di dadanya, satu tangan Lukara yang lain memeluk perut rata Narasea.


"Ternyata di antara kita berdelapan kamu paling kuat. Bagus sekali, kamu pandai menyembunyikan." Lukara berbisik memuja. mengecup daun telinga Narasea.


Narasea berkedip, tahu-tahu tawa hambar mengisi ketegangan yang terjadi. Dia melirik sinis sang lawan bicara yang lancang meletakkan dagu di pundaknya.


Narasea mengiyakan. "Tapi aku bukan seseorang sepertimu. Kebaikan cuma pura-pura selama puluhan tahun, padahal kenyataan kamu licik, arogan, pengkhianat, awal kehancuran." Narasea menjawab sarkas.


Bagaikan provokasi, Lukara tak mampu lagi menahan, tetapi belum sempat tangannya berniat meremukkan tulang lengan Narasea. kaki Lukara termundur jauh.


Tidak cukup. Sapuan energi biru berpendar lurus mengenai telak Lukara, terpelanting keras menghantam dinding depan kastil.


Bergetar, retakan dinding terbentuk, tidak perlu menanti lama dinding itu hancur berkeping-keping... nyaris mengubur Lukara di bawahnya yang memuntahkan cairan merah.


Narasea berjalan menghampiri. "Kamu selalu menyiksaku sampai kulitku lecet, tulang yang bengkok, dan kamu juga pernah membuat wajah Kalana hampir hancur sebagian." Narasea menyentuh barier Lukara buat, pantas penampilan luar Lukara terlihat baik. "Bagaimana jika itu giliranmu?" tanyanya datar.


"Lakukan saja!" Lukara merentangkan tangan menantang.


"Sea!" Panggilan itu memenuhi rungu. Satu orang berlari memimpin di susul lima orang lainnya, kedatangan mereka yang dari bagian samping kastil menegaskan bahwa pintu utama rusak, tepatnya masih terbakar, terdapat api menyala di sana.


Narasea tertawa pelan. "Pertama kalinya aku melihat raut wajah mereka yang kompak panik. Semenjak menjadi dua kubu, aku hanya menemukan perang dingin." Narasea menunduk. "Merindukan lalu kembali berharap terulang seperti dulu, sama saja mencari jarum di tumpukan jerami."


Lukara mengerang setiap mencoba bangkit.


Narasea berbalik badan.


"Suka tidak suka, aku memutuskan


memisahkan diri dari kalian. Kamu, Lukara, sepantasnya menyesali perbuatan kamu." Perkataan Narasea mengantarkan yang mendengarkan terperangah.


Silver yang pertama bereaksi, matanya berkedip linglung, Buru-buru memegangi bahu Narasea.


"Apa maksud kamu, Sea?"


Narasea membuang muka.


"Kamu tidak berpura-pura bodoh, kan?"


Kalana yang awalnya terbangun keheranan karena merasakan dua energi familiar tumpah ruah kini mengerti. Dia tidak tahan lagi terus bergeming


"Semua salahmu, seharusnya kamu mati bersama keluargamu itu!" Kalana menyenggol lutut Lukara, tatapannya memperlihatkan kebencian. "Kita semua harus membunuhnya, mengambil kesempatan si bajingan ini terluka tidak apa-apa, kan?" Kalana menatap hina pria di dekat kakinya.


Narasea menoleh terkejut. Begitu pula yang lain.


Lukara menyeringai samar, mengamati perempuan bersurai perak di hadapannya. "Ap... apa yang bisa kalian lakukan? Bahkan kemampuan kamu, Kalana, terlalu lemah. Sebelum... membunuhku, aku yang lebih dahulu menikam jantungmu," balasnya sinis.


Jika Kallen terlambat, sudah pasti Kalana menerjang Lukara kemudian. Kallen menyeret Kalana menjauh.


"Nar...."


"Terima kasih." Narasea menyela Silver.


Narasea yakin melewati gerbang kastil akan semakin sulit, maka di detik ketiga dia sengaja membentuk kabut tanpa seorang pun menyadari.


Halimun tebal mengeliling seluruh kastil. Jika ada yang berusaha tetap membuka mata, berdampak pada indra penglihat yang perih setengah mati.


"Aku tidak menyesali keputusanku." Narasea mengungkapkan pelan, menyentak tangan Silver.


*******


Di kala berdiam diri di tengah hutan pikiran Narasea tidak bisa tidak merenungi tentang berapa lama dia berada di antara rimbunan pohon, berkelana tanpa tujuan.


Memasang barier kuat-kuat agar satu orang pun tidak menyadari kehadirannya. Menyaksikan jenuh api unggun, kayu yang berubah jadi abu. Menghitung kunang-kunang di malam hari.


"Entah kenapa aku semakin hari membenci kalian." Narasea bergumam, pegangannya di batang pohon sebagai alas mengencang.


"Kamu yakin membenci mereka?"


"Aku bingung."


Narasea menegang, beringsut waspada oleh kehadiran sosok asing yang duduk di sampingnya.


"Siapa kamu?!" Narasea terpekik. Bagaimana bisa barier dia pasang di sekelilingnya dapat tembus begitu saja. Tidak mungkin kemampuannya melemah.


"Dari warna mata yang terkenal langka dan cuma segelintir orang yang punya di dunia ini, aku simpulkan kamu berarti salah satu delapan bintang keberuntungan," ucapnya.


Narasea berdecak. "Ya, kamu benar. Rasanya aku ingin mencongkel mata aku miliki sekarang," beritahu Narasea datar.


Wanita tersebut terkekeh geli. "Panggil aku ... Dizelia. Suatu kehormatan bertemu kamu, selama ini aku hanya sering mendengar namamu."


Narasea sontak memicing.


"Setiap Silver beristirahat di rumahku usai menjelajah dia pasti menceritakan tentang kamu, Narasea. Paling aku ingat, rambut kamu yang cokelat terang."


Ekspresi Narasea berubah sejenak menangkap nama yang disebutkan.


"Sepertinya kamu punya energi kuat hingga mampu menerobos perisai aku buat."


"Tidak juga, mungkin karena aku terlahir punya setengah energi murni."


Dizelia tak keberatan Narasea yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


Narasea mengangguk paham. "Boleh aku tinggal bersamamu dalam beberapa hari?" tanyanya terang-terangan.


Dizelia tergelak, beranjak seraya mengulurkan tangan. "Tentu, sepertinya kamu juga terlihat butuh teman bicara. Jangan sungkan padaku."


Narasea agak salah tingkah, kesepian melandanya ternyata gagal tertutupi.


*******


Tersimpan trauma masing-masing dengan kejadian yang telah terlewati, bisa jadi mereka menyembunyikan terlalu hebat. terpampang di permukaan tampak baik.


Pengecualian untuk Hazel, jika enam orang lainnya lebih banyak bungkam setelah kejadian itu berbeda dengan Hazel berterus terang menunjukkan kebencian.


Kalana yang sebelumnya tidak berbeda jauh dari Hazel, kini bahkan berubah total. Kalana lebih sering mengurung di kamar, berjalan di lorong kastil akan melihat bawah matanya yang membengkak.


"Ada apa?" Lukara melirik dingin, tidak terkejut pintu kamarnya di tendang kasar lalu seseorang menerobos masuk.


"Tidak buruk." Lukara membalas main-main, jemarinya membenarkan tatanan rambut legamnya yang menutupi kening. Bibir pucat Lukara menerbitkan senyum miring. "Sekarang aku sangat sehat, waktu yang tepat mencari istriku yang nakal itu."


"Kamu tidak akan menemukannya!"


"Kita belum tau."


"Aku yakin!"


"Semoga keyakinan kamu itu benar adanya."


Hazel menggeram tertahan. "Perbuatan kamu, kita semua pasti cepat atau lambat mendapatkan karma buruk."


*******


"Apa kalian benar-benar sudah tidak waras?!" Kallen biasanya tenang mendadak mengebrak meja, mukanya memerah menampilkan jelas bahwa dia teramat emosi.


"Jangan membentaknya." Silver memperingatkan serius. "Rencana kami menikah berasal dariku," tutur Silver.


Kalana mengerjap linglung, kakinya sampai termundur. "Jika rencana itu bisa membuat Narasea memunculkan diri, aku setuju ... menikah dengan Silver." Kalana menoleh pada sosok pria di sampingnya.


Kallen mendelik sinis. "Lakukan, yang ada kamu semakin menyakiti Narasea. Orang seperti kamu, Silver, memang pantas menyakiti Narasea sepenuhnya. Jangan setengah-setengah!"


Sementara Ariyan masih tercengang mendengar rencana baginya tak masuk akal tersebut, berkata gagap. "Kalau kalian ... berdua tetap menikah, sama saja menjadi pengkhianat."


Tiga orang yang di depan Ariyan serempak bungkam kemudian.


*******


"Aku mulai lelah." Punggungnya bersandar di daun pintu, sepasang netra biru laut di lihat dari sisi manapun mengartikan kepedihan di mana-mana.


"Dizelia." Narasea memanggil, kesal mendapati wanita itu yang bersikap tak acuh padahal ada yang ingin dia sampaikan.


Dizelia menoleh sebentar, lalu kembali sibuk menyalakan api di tungku. Narasea tertawa paksa, memilih menghampiri dengan raut cemberut.


"Gunakan kemampuanmu, Dizelia." Sekali jentikan, api menyala di tungku. Narasea meraih tangan Dizelia lalu meletakkan sesuatu di sana.


"Berikan gelangnya saat kita kembali bertemu. Sejujurnya, aku tidak berharap pertemuan itu terjadi."


Dizelia menyambut tatapan Narasea ragu. "Kamu yakin mengakhiri segalanya?"


Narasea mengangguk. "Aku boleh meminta bantuan lagi, memberitahukan sesuatu pada seseorang untuk mendatangiku malam ini," ujarnya pelan.


"Tentu."


Narasea tersenyum tulus. "Aku sangat-sangat berterima kasih, apapun keputusan aku ambil di masa sekarang atau nantinya itu yang terbaik, Dizelia."


*******


Tidak ada dalam bayangan Narasea dia akan memilih mengakhiri eksistensinya dengan cara menghabisi diri sendiri.


Dulu, Narasea mengira kematiannya memang waktunya sudah habis, bukan justru mempercepat.


Pisau berlumuran darah Narasea pegang gemetar hebat, di atas batu karang pinggiran pantai bahu terguncang kuat. Se-berusaha apapun untuk tidak menangisi kematiannya sendiri tetap saja kalah.


"Sepantasnya kalian harus menanggung akibatnya, di tiga belas masa kehidupan. Si pembuat kehancuran ...." Tangan Narasea terkulai jatuh di atas paha. "Penderitaanmu adalah dari awal hingga akhir." Namun, saat bibir putih itu berucap air matanya bertambah deras mengalir.


Narasea menyeret kaki ke ujung batu karang, di bawah sana air laut nampak jernih. Bersinar terang oleh cahaya bulan.


Tepat, detik selanjutnya Narasea menjatuhkan diri ke laut. Batinnya memohon. "Sungguh, aku ingin kematian menjemput tanpa merasakan sedikit pun penyesalan."


*******


Silver memandangi Dizelia yang membuang muka dengan mata memerah, tidak mengatakan apapun lalu pergi meninggalkan.


Silver berdiri melamun di pinggiran pantai, Gumpalan kebahagiaan menyelimuti Silver sebab menemui sosok yang telah lama dia rindukan perlahan meluruh habis kemudian.


Bukan lagi kerinduan melainkan ketakutan. Firasatnya mendadak buruk, terkesan familiar energi yang samar-samar berasal ke satu titik. Silver buru-buru mengikuti jejaknya.


Silver berlari, punggungnya menggigil menemukan sosok perempuan yang sangat dikenali berbaring basah kuyup.


"Sea!" Silver menelan ludah, mengangkat tubuh Narasea dan meletakkan ke pinggiran pantai yang jauh dari ombak laut.


Hening.


Jemari Silver meraba wajah Narasea, air mata mulai menyusuri pipi Silver dengan pandangan berubah hampa mendapati pergelangan Narasea yang nyaris putus.


Silver menangis, pipinya menempel di perut Narasea. "Maafkan aku...." Rencana berasal darinya berakhir malapetaka, seharusnya Silver menuruti kata-kata Kallen.


Silver melirik tali ikatan suci antaranya bersama Kalana. Dia bodoh sekali.


Pada akhirnya, menyakiti Narasea. Perempuan paling dicintai.


Pria itu terisak-isak, air matanya mengalir tanpa henti menyadari tubuh di dekapan semakin mendingin.


"Maafkan aku, maaf....."


Silver tertunduk dalam, rintihan tangisan permohonan maafnya memecah kesenyapan malam. Tangannya mengusap tremor pergelangan Narasea.


Kematian Narasea bagaikan mimpi terburuk.


"Ke... kenapa?" Silver bergumam, bola matanya memburam menatap lama darah yang sama sekali tak berhenti keluar berwarna hitam pekat.


"Dia mengutuk kalian." Dizelia tidak ke mana-mana berdiri menjulang di sebelah Silver.


Silver mendongak.


"Kenapa kamu tidak menghentikannya, Dizelia, jika selama ini kekasihku tinggal bersamamu?"


"Dia punya pendirian kuat, orang sepertinya ketika telah memutuskan sesuatu terasa mustahil berubah, itu yang aku kenali selama kami tinggal di atap yang sama."


"Narasea mengutuk kalian terbukti dengan darahnya yang berubah warna, asal kamu ketahui taruhannya kematiannya agak menyiksa."


Silver menutup telinga. "Aku tidak ingin mendengar apapun, Pergi!" Silver berseru parau.


"Tiga belas kehidupan." Dizelia mengungkapkan lirih. Kali ini wanita itu patuh, melangkah menuju kegelapan hutan.


Jemari Silver terus-terusan membelai wajah Narasea tanpa rona, memastikan sendirian Silver menyatukan telapak tangan pucat Narasea padanya.


"Kutukan itu apa sungguhan terucap di bibirmu, Sea?" Napas Silver menjadi sesak.


Silver lalu terpejam. "Kutukan yang telah terucap di bibir Narasea Lotusa, diikuti aku, Silver Gelaksa. Aku bersumpah untuk tidak menyukainya di setiap masa kehidupan." Genggaman Silver mengerat, menahan sakit tulang belakangnya yang saling bergesekan dengan darah menyembur di mulut. "Tetapi, aku memohon... izinkan aku menemuinya, menemukan jiwanya."


Sekedar satu orang yang mengetahui sumpah Silver di masa itu yaitu Dizelia walau hanya sebagian, karena Silver sepenuhnya sengaja menyembunyikan.


Ketika sumpah terucap bersumber dari lubuk hati, kemungkinan di sambut baik.


Siapa yang menduga pertemuan itu memang terjadi dengan kepribadian yang sangat berbeda.


*******


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕