
"Tetap di bangku." Luka memperingatkan dingin tanpa mengalihkan pandangan dari buku di meja.
Iyan hampir berdiri seketika terduduk tegang. Jam pelajaran ketiga yang kosong tentu tak akan Iyan sia-siakan, intinya dia hendak ke seberang jalan. Menerobos gedung serba kuning cerah itu.
Seharusnya Kallen tidak memutar badan menghadap Luka dan Iyan karena dia tertular ngeri kemudian. Mereka bertiga sekelas, semejak masuk JHS sementara Cleo bersama Silver di kelas sebelah, 11-2.
"Gimana soal dua anak jalanan yang kenal Acasha dan pimpinan preman itu udah di basmi, kan?" tanya Luka lirih.
Iyan yang peka Luka mengobrol dengannya menyahut lugas. "Udah di panti asuhan untuk sekarang mereka perlu merasakan hidup lebih baik, baru ke tahap sangat baik. Nanti Silver bakal turun tangan mencari pasangan yang ingin mengadopsi anak." Kallen bertopang dagu mendengarkan.
"Bukan cuma pimpinan preman yang Aca panggil Bang Utan itu, para antek-anteknya udah di ruang eksekusi," lanjut Iyan.
"Ingat ke peraturan utama. Jangan sampai lupa," ucap Luka.
"Nggak boleh di habisi terlalu cepat, kan?" Iyan mencoba memastikan yang langsung Luka jawab berupa anggukan.
Luka mendongak, memandangi Iyan dan Kallenbergantian. Sadar bahwa pembicaraan akan serius, Kallen refleks semakin merapatkan kursi beruntung dia tidak punya teman sebangku karena Kallen tidak membutuhkannya.
Luka mengetuk meja pelan sementara satu tangan Luka sudah memegangi ponsel. "Gue punya tugas buat kalian, kali ini Cleo ikut... tempatnya di pelabuhan pusat kota."
Luka meletakkan ponsel ke tengah meja, suasana kelas mulai menunjukkan kebisingan sama sekali tidak mengganggu ketiganya.
"Lagi?" Bahu Iyan melemas. "Gue senang hati mengingatkan, kalau tugas selanjutnya giliran Silver. Kerjaan toh monyet selama ini lebih banyak ongkang-ongkang daripada geraknya." Kallen berdehem. Jika Iyan protes maka Kallen sebaliknya, usai membaca pesan panjang yang terpampang di layar hape Luka dia mengetahui memilih Silver serta dalam tugas pilihan salah.
"Kita berurusan sama para ******." Kallen berbisik sambil melengkungkan bibirnya tipis, hanya orang yang mengenal Kallen dengan sangat baik mampu mengartikan senyumntersebut sekaligus sorot matanya. Iyan tertegun. Baru membayangkan sukses membuat lyan bergidik. "Kenapa harus gue? Nggak ada yang lain, Ka? Serius, gue beneran anti terhadap kupu-kupu malam."
Luka bungkam justru Kallen yang mendelik kesal. "Bagian lo paling mudah, duduk anteng meretas CCTV terus memastikan internet terputus di daerah sana, berhenti bersikap seolah-olah lo menghadapi mereka."
Mereka saling berpandangan sengit. Iyanbbersedekap, tersenyum mengejek. "Gue yakin lo seneng banget, kan?! secara Kallen Tamara, penggila ****! Dan sekarang lo punya rencana lain untuk para ******-****** itu!" Iyan berujar penuh penekanan.
Kallen terbelalak. Jika di lihat dari dekat pipi Kallen sedikit merona. Belum sempat Kallen beranjak bermaksud menerjang Iyan setidaknya memberikan satu bogem mentah ke wajah menyebalkan Iyan, Kallen lebih dulu merintih.
Begitu pun Iyan memekik kesakitan. Rasanya jari-jari kakinya mau remuk oleh injakan Luka, sementara Kallen berusaha melepaskan cengkeraman Luka di lengan kirinya, namun perlawanan tersebut membuat Luka makin tidak suka.
Iyan memaksakan senyum. "Iy... iya, ngomong-ngomong lo butuh anggota hades kira-kira berapa? Biar gue pilih sesuai keahlian mereka."
"Lima." Luka melepaskan, kembali fokus dengan bukunya membawa Kallen dan Iyan kompak mengembuskan napas lega.
*******
Dia menyambut uluran tangan Acasha. "Yasa ...." Nada suara itu teramat halus. Acasha mendengar jelas sontak matanya berbinar senang.
Acasha mencubit pipi Yasa spontan tentu kelakuan bar-bar Acasha mengagetkan Yasa, tapi Acasha tak peduli. "Halo, Yasa. Cuma Yasa, kah?"
"Yasa Kalandra." Anak laki-laki berambut hitam arang yang mengingatkan Acasha pada Luka, mengikuti arah pandang Acasha. "Itu bekal aku, kamu mau?" tanyanya.
Acasha salah tingkah karena tertangkap basah telah memeloti kotak makan berwarna biru tua yang menyembul di tas kecil Yasa.
"Hehe, aku emang lapar. Pengasuh aku yang mendadak sering muncul pun hilang. Aku gak tau sekarang Melly ada di mana."
"Kita makan dulu baru setelahnya cari pengasuh kamu."
"Makasih, Yasa."
Yasa beringsut dari kursi memberikan ruang untuk Acasha duduk bersama. Acasha melihatnya nyaris menyemburkan tawa, padahal dia bisa menarik kursi lain jadi tak perlu satu kursi, berdua. Tapi tidak apa-apa, Acasha menghargai kemurahan hati Yasa.
Kotak makan itu berisi gorengan. Acasha tertegun lama dengan tatapan lurus pada Yasa.
"Ada apa?" Yasa berkata pelan sambil memilin jemari, bola matanya tampak berkaca-kaca. "Aku miskin. Mereka bilang begitu ... kamu boleh membuangnya, Aca."
Membuang? Acasha buru-buru menggeleng sebelum Yasa salah paham. "Gak mungkin aku buang, gorengan kesukaanku. Aku udah lama gak makan ini." Acasha mencomot satu lalu memasukkan ke mulut.
Giliran Yasa yang berbinar senang, menatap Acasha di sampingnya tak berkedip, lama-kelamaan Yasa mengukir senyuman lebar. Saking senangnya Yasa memeluk Acasha kemudian.